THE USE OF E-LEARNING FOR TEACHING AND LEARNING PROCESS

e-learning 1

One of facilities that should be applied in formal education e.g. university is called E-learning. It is necessary to be understood that e-learning is able to be defined as a learning system with the use of electronics. Usually this learning uses computers. Learning system by using e-learning system can be provided as part or all of the materials being taught. For the whole materials, e-learning system is initially given in an open university. As for formal education, e-learning system is given only as a supplement outside the teaching and learning process in the classroom. E-learning is a media electronic to support the students’ facility of study. E-learning is equipped as a forum of discussion, to collect the task, and giving materials. E-learning can be an innovation to provide students’ means of learning. In addition e-learning can make the students easy to study everywhere.

A university has to have an official site that all the students are able to sign and log in if the process of teaching and learning uses e-learning system. Based on that site some of the lecturers can communicate with their students. The lecturers also use e-learning in different ways of teaching. Some of them use e-learning as a supplement of their teaching materials. Others use e-learning as a substitute way if the lecturers could not come to the class, then the process of teaching and learning is replaced by the tasks given to the students. Some other lecturers use e-learning system in the way that students have to read the materials, perform the exercises based on the materials, and submit the results to the lecturer. The lecturer checks the students’ works, returns the works, and discuss the works. Based on the students’ works, the lecturer could give the score. The process of e-learning system will be discussed in paragraphs below.

In e-learning usually lecturers give the students some introduction about the lesson that will be studied in the class. The students discuss the materials or problem that are requested by lecturers. The students can write something that relate to the topic on the discussion. In addition the students can give some explanation about the lesson. Then, the students can post it in e-learning. All of the members can read that posting. In addition the reader must give take an opinion on the other students’ explanation.

E-learning as the facility, in some cases, can make the students easy to study. Most of the students appreciate this system. Students can submit their assignment easier. This method can be faster than if they write down on paper. E-learning is also provided by due date. It makes the students be more discipline to submit their task. In addition e-learning will minimalize the use of paper. In Indonesia situation, Open University of Univeritas Terbuka has been providing e-learning facilities for its students.
e-earning 2
The Indonesia Government allows universities to use e-learning system. Republic Act no. 20 of 2003 on National Education System, article 31 states that the distance education is able to be hold on all lines, levels and types of education. Moreover, distance education organized in various forms, modes and coverage hold facilities and services supported by learning and assessment system which ensures the quality of graduates in accordance with national education standards. The form of distance education includes educational programs in writing (correspondence), radio, audio / video, TV and / or network-based computer. So e-learning system in Indonesia is a part of distance learning programs that the government has established. In its initial formation, e-learning is used as one of the systems applied by open university. It is stated that e-learning system in Indonesia can also substitute the position of a lecturer in front of the class.

e-learning 3

Many lecturers in Perbanas Institute use this system to teach their students. Some of them because of their jobs outside or their needs can not attend the class to teach their students. The students can study the material by e-learning. In fact, this method makes the lecturers leave more than 50% of the class. In average most of the students become lazier to come to the class if their lecturers are used to study using e-learning in the class. E-learning in this idea gives a bad influence to students. One lecturer who has also a position used this e-learning system when he left his class for five times. He also provides materials for students to do as homework, in fact, when the students ask for feedback, this lecturer could not give the feedback because of his job he never checked the students’ works. In Perbanas Institute the implementation of e-learning for this type of lecturer is not effective as a study method.

Perbanas Institute must be active and proactive to socialize to their students and lecturers the purpose of e-learning system. In reality both most of the lecturers and the students still do not understand the purpose of e-learning system and how to use e-learning well. A team that is responsible with the e-learning system and training must be formed. It is not just a fun idea it should be done seriously. Harvard University and MIT University are examples of universities which put e-learning system is just a complementary of the teaching and learning materials in the curriculum. However, finally e-leaning is simply a tool for students easier to study outside the class and it is not only as a substitute way if the lecturer cannot teach in front of the class. Hopefully the idea of e-learning system either in western universities or Indonesian universities will not be confused anymore.




Sedikit Cerita Tentang Film ‘Ketika Mas Gagah Pergi’

Siapa yang tak kenal Helvy Tiana Rosa? Kalau rekan-rekan belum mengenalnya, saya akan bantu rekan-rekan berkenalan dengan kakak Helvy. Saya ketemu kak Helvy beberapa kali, tapi hanya satu kali sempat berfoto bersama dengannya beberapa tahun silam saat kami sama-sama hadir menonton Teater Koma di Komunitas Salihara, Pejaten, Pasar Minggu. Kak Helvy yang saya kenal adalah seorang dosen, penulis, dan sekarang tulisannya pun diangkat ke Layar Lebar, tertuang di dalam sebuah film menarik bertemakan religi berjudul ‘Katika Mas Gagah Pergi’, sama persis dengan judul tulisan asli kak Helvy.

Film ‘Ketika Mas Gagah Pergi’ adalah sebuah film yang dibuat dengan menggunakan dana dari crowd funding (istilah ini lagi ngetren, silakan digoogle apabila belum mengenalnya^_^). Saya, walaupun belum pernah membaca bukunya, dari awal mendengar bahwa kak Helvy sedang membuat film ini sudah berniat akan menontonnya, bukan hanya karena saya ‘ngefan’ sama kak Helvy, tapi juga karena saya yakin film yang sudah ramai dibicarakan orang sejak awal proses pembuatannya ini, pasti akan menjadi sebuah tontonan menarik. Akhirnya, minggu lalu saya sempatkan menonton film ini di sebuah bioskop di daerah Kemang, Jakarta Selatan (film Indonesia masih kurang mendapat tempat di hati orang Indonesia sendiri, sehingga bioskop yang memutarnya biasanya tidak sebanyak bioskop yang memutar film film pop Amerika).

Ketika Mas Gagah Pergi adalah sebuah judul yang sederhana menurut saya, dan ternyata film ini memang mengisahkan tentang seorang Gagah yang pergi meninggalkan keluarganya ke Ternate selama beberapa bulan. Walau demikian isi cerita film kebanyakan bercerita tentang bagaimana kemudian Gagah pulang kembali ke tengah keluarganya, namun sosok Gagah yang kembali dari Ternate ini berubah menjadi seorang laki-laki yang lebih religius. Perubahan pada diri Gagah inilah yang kemudian menjadi konflik di dalam film yang berdurasi 99 menit ini. Sepanjang film diperlihatkan bagaimana reaksi keluarga, terutama respon kaget Gita, adik perempuan Gagah satu-satunya yang sejak kecil sudah sangat dekat dengan Gagah. Gita diperankan oleh seorang wanita mungil bernama Aquino Umar dengan ciamik, sementara yang berperan sebagai Gagah adalah Hamas Syahid. Mereka berdua adalah pendatang baru di dunia perfilman. Selain mereka berdua tentu saja banyak bintang film lainnya yang ikut mendukung film ini, di antaranya yang sudah lebih kita kenal ada Epi Kusnandar, Mathias Muchus, Nungky Kususmastuti, Wulan Guritno, Ustadz Salim A. Fillah, Shireen Sungkar, dan Irfan Hakim.

Jadi tunggu apalagi? Mumpung filmnya masih ada di bioskop, sok atuh ditonton filmnya, insyaa Allah bermanfaat sekalian kita mendukung perfilman Indonesia di negeri kita sendiri.

Oiya, ini laman situs kak Helvy Tiana Rosa http://sastrahelvy.com/, siapa tahu ada teman-teman yang tertarik membacanya 🙂

Jakarta, 27 Januari 2016
Adelina Fauzie




Merger

*Menurut Gitman (2003), merger adalah kombinasi dua atau lebih perusahaan, dimana perusahaan yang  dihasilkan mempertahankan salah satu identitas perusahaan, biasanya perusahaan yang lebih besar

*Adapun konsolidasi (Gitman: 2003) adalah kombinasi dua atau lebih perusahaan untuk membentuk sebuah  perusahaan yang sama sekali baru

*Merger dilakukan secara tunai atau dengan pertukaran saham

*Merger melibatkan Target Co. (Acquired Co.) dan Acquiring Co. (Acq)

*Berikut adalah beberapa perhitungan yang sering digunakan apabila merger dilakukan dengan pertukaran saham:

# Rasio merger dengan pertukaran saham:

         –  Ratio of exchange (shares = RE) = harga penawaran/harga pasar Acq

         – Exchange ratio in Market Price (MPR) = harga penawaran/harga pasar Target

atau = (harga pasar Acq x RE)/ harga pasar Target

# EPS gabungan (setelah merger/baru) = EAT gabungan/Jumlah saham gabungan

# Jumlah saham gabungan = jumlah saham baru + jumlah saham  Acq

# Jumlah saham baru = rasio pertukaran x jumlah saham Target

# EPS original Target = rasio pertukaran x EPS gabungan

# EPS original Acq = EPS gabungan

# P/E rasio untuk memperoleh Target Co. = harga penawaran/EPS Target

atau = (harga pasar Acq x RE)/EPS Targetmerger




MENYIAPKAN KEMAMPUAN BERBAHASA INGGRIS MAHASISWA & LULUSAN PERBANAS INSTITUTE DALAM MENGHADAPI MASYARAKAT EKONOMI ASEAN 2015

Dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015, salah satu yang harus dipersiapkan para pelaku bisnis adalah kemampuan berkomunikasi. Kemampuan berkomunikasi baik lisan maupun tulisan adalah suatu keharusan bagi pelaku bisnis yang harus berinteraksi dengan kolega baik lokal, nasional maupun internasional. Salah satu bahasa internasional yang pasti dipergunakan untuk berkomunikasi bagi warga bangsa ASEAN tentu saja adalah Bahasa Inggris. Oleh karena itu, salah satu kecakapan yang sangat penting dipersiapkan oleh para pelaku ekonomi, termasuk pelaku dunia perbankan, di dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015 tersebut adalah kemampuan berbahasa Inggris. Dengan kemampuan berbahasa Inggris yang memadai baik lisan dan tulisan, tentu akan sangat membantu mereka di dalam berkomunikasi dengan baik.

Sebagai salah satu perguruan tinggi yang fokus di bidang keuangan dan perbankan, Perbanas Institute diharapkan mampu menyiapkan tenaga yang handal di bidang tersebut dengan kemampuan berbahasa Inggris yang mumpuni. Berkaitan dengan penyiapan kemampuan berbahasa Inggris tersebut, Perbanas Institute mempunyai sebuah unit yaitu  Unit Lab. Bahasa Inggris (ULBI) yang diberikan tugas untuk mengelola kegiatan belajar mengajar Bahasa Inggris di Perbanas Institute. Beberapa kegiatan yang yang diorganisasikan oleh ULBI tersebut diharapkan mampu meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris mahasiswa dan lulusan di dalam menghadapi persaingan dunia kerja maupun di dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015.

Pertama, penyelenggaraan mata kuliah Bahasa Inggris sebagai salah satu mata kuliah yang wajib ditempuh oleh mahasiswa. Hal ini penting karena dengan demikian mahasiswa selama mengikuti perkuliahan akan mendapatkan kesempatan belajar Bahasa Inggris dengan syarat kelulusan tertentu. Di Perbanas Institute, mahasiswa mesti menempuh mata kuliah Bahasa Inggris I dan II yang dilanjutkan dengan mengambil mata kuliah Bahasa Inggris untuk Profesional. Di dalam mengikuti mata kuliah tersebut mahasiswa belajar materi kuliah yang dapat meningkatkan kemampuan mereka di dalam menggunakan Bahasa Inggris yang berkaitan dengan pekerjaan di masa datang seperti introducing self and others (making contacts), telephoning, business letters, job interview dan business report. Tidak hanya mahasiswa belajar menulis tetapi juga mempraktekkan kemampuan lisan mereka, karena pada saat ujian tengah atau akhir semester ada ujian yang disebut oral presentation, terutama untuk materi job interview dan business report.

Kedua, ULBI juga memberikan beberapa kegiatan yang berkaitan dengan memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk mempraktekkan Bahasa Inggris mereka baik lisan maupun tulisan misalnya dengan mengadakan English Speaking Days untuk melatih kemampuan lisan mahasiswa Perbanas Institute. Kemudian dengan Wall Gazette untuk mengasah kemampuan menulis mahasiswa. Dengan mengikuti kegiatan-kegiatan tersebut mahasiswa dapat melatih kemampuan aktif berbahasa mereka yaitu berbicara dan menulis. Seperti diketahui bersama kemampuan berbahasa yang sangat menunjang ke depan tidak lagi hanya kemampuan pasif (mendengar dan membaca) tetapi juga kemampuan aktif (menulis dan mendengar). Oleh karenanya kedua kemampuan aktif tersebut harus terus menerus dilatih karena hanya dengan latihan saja maka kemampuan seseorang akan meningkat.

Ketiga, Perbanas Institute mempersyaratkan kelulusan tes TOEFL® ITP dengan syarat kelulusan skor tertentu yaitu ≥450. Dengan mensyaratkan skor tersebut sebagai syarat menyelesaikan kuliah maka mahasiswa diharuskan menyiapkan diri untuk melatih kemampuan Bahasa Inggris terutama mendengar, tata bahasa dan membaca karena tiga kecakapan tersebut merupakan materi tes dalam TOEFL® ITP tersebut. Tanpa menyiapkan diri dengan baik sebelum menghadapi tes, mustahil bagi mahasiswa untuk mendapatkan skor yang tinggi dalam tes. Itu seperti akan mengikuti ujian praktek untuk mendapatkan SIM tanpa berlatih mengemudi terlebih dahulu. Sesuatu yang sudah dapat dibayangkan hasilnya yaitu kegagalan.

Dukungan dan keterlibatan dari semua pihak di kampus Perbanas Institute, baik pimpinan maupun karyawan tentu saja sangat diharapkan untuk keberhasilan semua usaha dalam rangka mempersiapkan kemampuan berbahasa Inggris mahasiswa dan terutama lulusan Perbanas Institute. Semua karyawan misalnya dapat mulai membiasakan penggunaan Bahasa Inggris dalam kegiatan sehari-hari di kampus terutama dalam berkomunikasi sederhana seperti greetings atau asking simple questions. Dengan demikian penggunaan Bahasa Inggris dari hari ke hari akan menjadi kebiasaan di kampus yang tentu saja akan memberikan lingkungan yang sangat baik bagi mahasiswa di dalam melatih kemampuan mereka.




Rasio Profitabilitas Bank (ROA dan ROE)

Untuk mengukur rasio profitabilitas bank, biasanya menggunakan dua rasio utama yaitu Return on Equity atau ROE dan Return On Assets atau ROA. Dalam menghitung rasio profitabilitas (Riyadi, 2016:187) dengan cara membandingkan Laba (setelah pajak) dengan Modal (Modal Inti) dikalikan 100%, maka hasilnya dalam bentuk persen (%), ini untuk perhitungan ROE. Sedangkan ROA adalah membandingkan Laba (sebelum pajak) dengan total Assets yang dimiliki Bank pada periode tertentu dikali 100%, sama halnya dengan ROE, maka hasilnyapun dalam bentuk persen (%). Untuk mendapatkan hasil perhitungan rasio agar mendekati pada kondisi yang sebenarnya (Riyadi, 2016:187), maka posisi modal atau assets dihitung secara rata-rata selama periode perhitungan.
Kedua rasio ini sering digunakan sebagai variabel dependen, yang dipengaruhi oleh banyak variabel independen lainnya, seperti Dana Pihak Ketiga (DPK), Dana Pihak Kedua (DP 2), Dana Pihak Pertama (Modal), Kredit Yang Diberikan, Giro Wajib Minimum (GWM), Loan to Deposit Rasio (LDR), Net Interest Margin (NIM), Posisi Devisa Neto (PDN), Batas Maksimal Pemberian Kredit (BMPK), Non Performing Loan (NPL), Biaya Operasional dibanding Pendapatan Operasional (BOPO), Capital Adequacy Rasio CAR), total assets, Fee Income, BI rate, Inflasi, Kurs, Jumlah Karyawan, jumlah kantor cabang dan masih banyak lagi variabel bebas lainnya.
Dalam pembahasan ini, sengaja dibatasi pada variable LDR dan NPL yang memengaruhi ROA atau ROE. Bagaimana pengaruhnya? karena terdapat beberapa peneliti yang menghasilkan bahwa LDR dan NPL berpengaruh Negatif terhadap ROA atau ROE, sementara peneliti lainnya mengatakan positif dan sebagian lagi menyatakan positif dan negatif.
Lalu yang benar yang bagaimana? Kalau kita berbicara yang benar yang seperti apa, maka, pertama harus dipahami dahulu proses atau urutan normalnya suatu Bank melakukan kegiatan usahanya, kedua pahami komponen LDR dan NPL apa saja. LDR adalah perbandingan antara Kredit yang diberikan dengan DPK atau DPK ditambah Surat Berharga yang diterbitkan (DP 2) dikalilkan 100% hasilnya dalam persen (%). Sedangkan NPL diperoleh dari perbandingan Kredit Bermasalah, yaitu Kolektibilitas 3 s/d. Kolektibilitas 5 dengan total Kredit yang diberikan dikalikan 100%, maka hasilnya dalam persen (%). Berdasarkan penjelasan tersebut maka pengaruh LDR terhadap ROA atau ROE adalah positif, artinya kenaikan LDR akan menyebabkan kenaikan ROA atau ROE. Karena dengan LDR yang tinggi (maksimal 92%), ini berarti Kredit yang diberikan juga tinggi, dengan posisi kredit yang tinggi maka akan menghasilkan pendapatan bunga yang tinggi pula dan pada akhirnya Laba (sebelum pajak) dan Laba (setelah pajak) juga tinggi, sehingga ROA atau ROE bank juga akan mengalami kenaikan secara proporsional. Lalu bagaimana jika hasil penelitian tidak menunjukan kondisi seperti itu? Disini perlu dilihat atau diteliti lebih dalam lagi, misalnya mengenai kondisi bank itu sendiri selama periode penelitian, lalu kondisi makro ekonomi negara selama periode penelitian. Sedangkan NPL (sebaiknya menggunakan NPL net), sesuai ketentuan yang berlaku NPL Net maksimal 5%, pengaruhnya terhadap ROA atau ROE adalah negatif, artinya dalam kondisi NPL turun maka ROA atau ROE naik, demikian pula sebaliknya.
Semoga ulasan yang sederhana ini dapat memberi gambaran kepada peneliti pemula untuk memudahkan pemahaman dasarnya.

Referensi :
Riyadi, Selamet (2016). Banking Assets And Liability Management, Edisi Keempat, Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi & Bisnis, Uiniversitas Indonesia




Yuuk…, nulis yuukkk….

Mau nulis apa sih? Gak ada ide deh. Hadeuhh…., stuck nie. Sering banget ya kita denger kata-kata itu. Apalagi kalau sudah ada kewajiban yang ada hubungannya dengan tulis menulis. Wah bisa mati kutu ya. Apalagi klo nulisnya kudu yang serius. Yang pake referensi panjang, butuh semedi dulu buat memahami, baru kemudian menuangkannya dalam tulisan.

Susah gak sih nulis itu. Jawabnya gampang-gampang susah. Dibilang gampang juga enggak. Tapi mo dibilang susah harusnya sih enggak ya. Pengalaman pribadi nie, sebenarnya sejak sekolah sudah sering banget nulis. Beberapa kali pernah mewakili Kecamatan Cepu untuk lomba mengarang sampai tingkat Karesidenan Pati. Lumayan kan hihihi…. Tapi ya gitu deh suka kumat malesnya.

Belajar dari Prof. Eko, bahwa menulis itu dapat diawali dengan yang paling sederhana. Misal nulis status di media sosial, yang awalnya mungkin hanya sekian karakter. Kemudian bisa nambah lebih banyak, micro blog, blog atau apalah itu. Trus Prof. Eko juga bilang, jangan pusing-pusing dengan ide, tulis aja. Tulislah sesuatu yang kamu suka. Yang gak pake baca buku pun sudah akan mengalir berkata-kata. Yang dekat dengan keseharian kita. Nah, suatu saat mungkin bisa meningkat. Ditambah dengan beberapa referensi, maka kualitas tulisan akan meningkat. Awalnya dari kebiasaan, ngomongin dulu masalah kuantitas, baru selanjutnya meningkat dari sisi kualitas.

Nah, itu yang sekarang sedang saya praktekkan. Berhubung saya suka jalan-jalan, maka saya coba menuangkan pengalaman jalan-jalan ini dalam tulisan. Bahasanya pun saya sesuaikan dengan bahasa ala-ala jalan-jalan. Simpel dan mudah dipahami. Niat awalnya cuma mau menuliskan pengalaman selama perjalanan, mumpung masih fresh, kejadian-keadian yang mungkin tidak tergambarkan dalam foto, bisa dituangkan dalam tulisan. Mungkin suatu saat dapat dibaca kembali, klo lagi kangen ngetrip (tapi gak punya ongkos). Biasanya tulisan pengalaman perjalanan ini juga saya tautkan ke link media sosial saya. Siapa tahu ada yang butuh referensi perjalanan yang pernah saya lakukan.

Menulis ini juga berbanding lurus dengan membaca. Karena kebiasaan membaca ini akan membuat kita punya banyak referensi untuk menulis. Saya memang lebih suka baca majalah karena isinya lebih bervariasi. Sekarang lagi belajar menulis artikel-artikel traveling yang biasanya dimuat di majalah. Siapa tahu suatu saat nanti pengalaman perjalanan saya dapat dimuat di majalah (ngarep :D). Sumber bacaan sekarang juga luar biasa banyak loh, baik yang hardcopy atau softcopy. Dengan modal jempol aja kita bisa menjelajahi dunia maya, yang sarat dengan info bermanfaat.

Selanjutnya adalah konsisten. Kebiasaan menulis sebaiknya memang dilakukan secara terus menerus. Itu sebabnya saya mencoba untuk terus menulis di blog dosen Perbanas ini. Temanya pun beragam, dari yang sesuai dengan background saya, sampai dengan tulisan santai ala perjalanan saya. Tiap bulan saya targetkan ada 1 ato 2 tulisan. Yang bener-bener tulisan ya, bukan sekedar copas link dari internet, trus dimasukkin ke blog. Karena disinilah sebenarnya konsistensi kita diuji. Dan saya nulis juga buka ngarep dapat reward (tapi kalo dapat ya alhamdulillah, bisa buat nambah ongkos jalan-jalan saya hahahhaha…). Reward nomor sekian lah, karena selama ini saya melihat tidak pernah ada yang rugi dalam menulis.

Jadi, yuukkk nulis yukk.., gak usah yang susah-susah dulu, yang belum-belum sudah bikin parno. Mulai dari sekarang, mulai dari tulisan yang paling sederhana, makin tambah referensi suatu saat kualitas tulisan kita pun akan bertambah. Peer besar saya sekarang adalah nulis yang bener-bener serius, yang memang menjadi tuntutan akan profesi saya sebagai dosen. Memang butuh usaha yang besar, selain harus mengumpulkan referensi yang berkualitas, juga membutuhkan waktu untuk memahaminya. Entah kenapa ya klo baca majalah dan novel itu bisa tahan berjam-jam. Coba deh baca jurnal, baru 5 menit mata langsung berasa 5 watt hahhaha…. Tapi tetep kudu cemunguuuttt….

Kamis, 21 Desember 2013
Nulisnya sambil nyemil combro dari mba Nani.




Menulis Artikel Ilmiah

Mengapa Perlu Menulis?

  • Hoby, keharusan/pekerjaan/tugas, menuangkan pikiran dan perasaan, popularitas, karir dan peluang/sumber pendapatan
  • Belum banyak orang yang tertarik menekuninya
  • Bisa menjadi lahan mendapatkan uang dan pekerjaan
    • MENULIS DAPAT MENYELAMATKAN HIDUP
    • MENULIS ITU MENYEHATKAN: menulis menjernihkan pikiran, menulis mengatasi trauma, menulis membantu mendapatkan dan mengingat informasi baru, menulis membantu memecahkan masalah, dan menulis-bebas membantu kita ketika terpaksa harus menulis.
    • MENULIS ITU SALAH SATU LANGKAH MENUJU KE KEABADIAN
    • MENULIS BERARTI MENATA DAN MENINGKATKAN KEMAMPUAN PIKIRAN
    • MENULIS DAPAT MENYEBARKAN BERKAT ROHANI
    • MENULIS MENDATANGKAN BERKAT JASMANI

    Prof. Dr. Ir. Sony Heru Priyanto, MM.

Langkah Taktis Menulis Karya Ilmiah

BHS AKADEMIK DLM ARTIKEL-2014

Hasil Penelitian

Kajian Teoretik

Kiat Menulis Artikel Ilmiah di Jurnal Nasional Terakreditasi

Literature Review 2015_a Cndi

SITASI, DAFTAR PUSTAKA, DAN ANTIPLAGIARISME-2014

 




Overland Flores: Waerebo, Bena, and Kelimutu Crater Lake

Tulisan lanjutan saya trip selama Overland Flores dengan start di Labuan Bajo, Waerebo, Ruteng, Aimere, Bajawa, Bena, Ende, dan Kelimutu. Sayang ah klo gak dishare, berhubung belum punya blog sendiri, jd nempel dulu di blog ini hihihi…., selamat membaca.

Selesai 3 hari trip Sailing Komodo, kami berenam lanjut Overland Flores. Hari keempat jam 3 pagi kami sudah siap untuk melanjutkan perjalanan menuju Denge, yang masuk dalam Kabupaten Manggarai. Tujuan utama kita adalah Desa Waerebo, desa adat yang memiliki rumah khas kerucut yang dikenal dengan nama Mbaru Niang. Perjalanan dari Labuan Bajo ke desa Denge kurang lebih 6 jam dengan beberapa kali berhenti untuk foto, sarapan, atau mencari toilet. Jam 11 kita sampai di desa Denge, makan siang di salah satu resort yang ada di tengah sawah. Setelah istirahat sejenak, kita lanjut ke tempat terakhir dapat dilalui mobil. Kami bersiap untuk melakukan trekking sejauh 9 KM, jarak dari desa Denge ke desa Waerebo. Setelah semua persiapan siap, beberapa barang kami titipan ke 2 orang porter yang sudah kami sewa.

Sebelum berangkat saya sudah sempat browsing mengenai rute trekking ini, tapi tak satupun yang menulis seperti apa medannya. Ternyata dari 9 KM, 8 KM-nya adalah tanjakan, tersisa 1 KM yang jalan landai menuju desa. Ada 3 pos yang kami lalui, POS 1 berjarak 4,5 KM dari desa Denge. Ada 2 rute yang bisa dilewati, jalan lebar dengan bebatuan atau jalan setapak yang ternyata tidak terlalu menanjak (kami tahunya setelah menggunakan jalur itu ketika balik). Kami pilih jalur dengan jalan lebar dan berbatu. Menurut informasi rencana akan dilakukan pengaspalan jalan sampai dengan POS 1 ini. Lumayan loh, separo perjalanan. Akan tetapi sepertinya masih lama, karena sempat ngobrol dengan salah satu mandornya kalau mereka kesulitan untuk mendatangkan pasir kuliatas yang bagus.

Akhirnya dengan beberapa kali berhenti, minum, meluruskan kaki, sampai kita di POS 1 kurang lebih setelah berjalan 2 jam. Di POS 1 dilewati sungai dengan air jernih dan segar. Setelah istirahat cukup, cuci muka dan minum air sungai, mengisi botol air, kami pun melanjutkan perjalanan. Menuju POS 2 kami bertemu dengan pak Sabinus dan putrinya Yuyun, yang juga akan kembali ke desa Waerobo. Mereka membawa beberapa barang, termasuk ayam dengan bulu putih untuk Upacara Penti. Soal Upacara Penti nanti akan saya bahas di satu tulisan khusus ya.

Jalur ke POS 2 dan 3 ini menyisakan jarak yang hanya bisa dilalui satu orang saja. Di beberapa tempat kami menemukan bungkus biskuit yang dibuang sembarangan. Nyebelin ya, apa sih susahnya buat dikantongin dulu, nanti sampai di tujuan baru dibuang. Akhirnya kami pungut bungkus tersebut dan kami simpan di tas, sampai di desa kami mencari tempat sampah untuk membuangnya. Selama perjalanan kami bertemu dengan sesama tamu yang akan turun kembali ke desa Denge. Dan mereka hanya cukup memberikan 1 kata “cemunguutt…..” hihihi…, dan kami pun tahu artinya 😀 Selain itu kami juga ketemu dan papasan dengan penduduk desa baik yang turun ataupun yang akan naik ke desa Waerebo. Duhh…., lincah sekali mereka ya, kitanya sudah ngos2an mereka mah nyantai, walaupun beberapa kali juga terlihat istirahat.

Oh iya, anak-anak desa Waerebo bersekolah di desa Denge. Mereka akan tinggal di Denge, akhir pekan mereka akan kembali ke Waerebo. Jadi tiap minggu setidaknya mereka akan jalan kaki PP Denge-Waerebo sejauh 18 KM. Wahh hebat ya semangatnya. Sempat kami berkelakar coba ada gojek lumayan kan hihihi… Finally, setelah 3,5 jam akhirnya kami ber 4 sampai juga di desa Waerebo. Desa yang kami sebut sebagai “Negeri di Awan”, nyuplik judul lagunya mas Katon. Desa Waerebo ini terletak di ketinggian 1200 Mdpl. Kami sempat berhenti untuk foto di jembatan bambu, sebagai penanda bahwa perjalanan ini sudah mendekati tujuan. Sampai di ujung desa kami mampir meluruskan kaki di Rumah Kasih Ibu, sambil menunggu rombongan berikutnya sampai. Disini pak Sabinus pun menawari kami untuk menunggu saja di rumahnya, sambil ngopi. Wah tawaran yang tidak boleh dilewatkan.

Setelah mengambil beberapa foto desa dari atas Rumah Kasih Ibu, kami pun mengikuti pak Sabinus ke rumahnya. Sampe rumah kami disuguhi kopi dan kue srabe bikinan bu Sabinus. Yang lucunya air yang digunakan untuk bikin kopi adalah air teh tawar, bukan air putih panas. Tapi ternyata tetep aja sedap loh, ditambah kue srabe bikinan bu Sabinus. Karena besok ada upacara Penti, warga desa Waerebo memang sedang mempersiapkan beberapa keperluan, termasuk makanan dan minuman untuk pesta besok pagi. Bu Sabinus tidak hanya menyediakan kopi dan kue, tetapi juga menawari kami makan. Karena sudah menjadi kebiasaan mereka untuk menyambut dan memperlakukan tamu dengan sangat baik. Tapi kami menolaknya, rasanya kopi dan kue ini sudah sangat cukup menemani kami sambil menunggu teman rombongan berikutnya.

Setelah satu jam kami menunggu dan ngobrol-ngobrol dengan pak Sabinus, istrinya dan bapaknya, rombongan teman kami pun datang. Setelah mengucapkan dan terima kasih atas penerimaannya, kami pun pamit. Pak Sabinus pun mengantar kami ke rumah utama. Disana kami akan disambut dengan upacara sederhana, sebagai arti bahwa kita sudah diterima sebagai bagian dari warga desa Waerebo. Setelah itu kami diantar ke penginapan khusus tamu yang posisinya lebih di atas, disana sudah ada beberapa tamu yang tiba sehari sebelumnya.

Penginapan yang disediakan di desa Waerebo cukup representatif, tikar tebal dan selimut hangat. Air teh dan kopi yang diisi ulang setiap saat. Saatnya makan malam tiba, kami bergabung dengan beberapa tamu lain, dan bertukar info asal kota dan pengalaman seputar perjalanan ke Waerebo. Selama tinggal disini menunya nasi campur jagung, cah sawi yang ditanam sendiri oleh warga, lauknya ayam. Sambil makan sempat kita sedikit bercanda, daging ayamnya agak alot, maklum ayamnya naik turun gunung jadi berotot deh hihihi…

Ada 1 kamar mandi disana, airnya dingiiinn…, dialirkan langsung dari gunung. Ada 1 kamar mandi terbuka bisa untuk cuci muka, atau berwudhu. Dapur ada di belakang rumah penginapan ini. Apabila kita datang bukan di perayaan Penti, bisa menginap di salah satu Mbaru Niang yang ada di bawah. Tapi karena dalam perayaan ini banyak yang datang, maka kami pun diinapkan di rumah yang dibangun khusus untuk tamu. Sore dan malam hari tidak banyak kegiatan yang kami lakukan disana. Selain mencoba untuk mengabadikan desa Waerobo dari atas. Kadang-kadang apabila kabut datang, desa tidak nampak sama sekali. Persis seperti negeri di awan deh.

Pekerjaan penduduk desa Waerebo adalah bertani kopi, jagung, markisa, dan beberapa lainnya. Kopinya enak banget. Ada beberapa pilihan, saya pun membeli jenis robusta. Kata teman yang alergi minum kopi pagi, katanya kopi Waerebo gak bikin perut melilit. Klo sehari-hari saya hanya ngopi pagi aja, disini saya ngopi pagi dan sore, alhamdulillah sehat wal afiat. Klo buah markisa kita gak perlu beli, banyak warga yang menawarkan buah ini untuk dicicipi. Selain bertani, maka tenun juga menjadi kegiatan warga terutama ibu-ibu. Motifnya cantik, ada beberapa model seperti kain sarung, pasmina ato shawl. Di desa ini sudah ada semacam lembaga yang mulai melakukan pendampingan kepada warga untuk keberlangsungan ekonomi warga desa Waerebo. Berbagai brosur wisata Waerebo dan desa sekitar pun tercetak dengan rapi. Beberapa jenis kopi pun sudah dikemas dengan baik. Cakep buat oleh-oleh dan souvenir.

Besok paginya, hari kelima trip, kami bangun pagi2, karena tidak ingin ketinggalan sunrise yang muncul di desa Waerebo. Kita juga sempat ngobrol-ngobrol dengan anak-anak warga desa yang sangat welcome dengan tamu yang datang. Suasana desa pagi hari sangat luar biasa indah, udara dingin berganti segar. Perlahan-lahan matahari pun muncul, sinarnya bagaikan kilauan yang jatuh dari langit.

Setelah sarapan dengan menu yang hampir mirip dari menu semalam plus tambahan kerupuk (kebayang bahagianya saya ketemu kerupuk hihihi…), kami pun bersiap turun untuk mengikuti upacara Penti. Semua yang mengikuti upacara ini diwajibkan menggunakan baju yang sopan, celana/rok panjang atau sarung. Upacara Penti dimulai di rumah besar. Ketua memimpin semacam doa dan lagu-lagu yang tentunya saya gak tau deh artinya. Setelah selesai beberapa terbagi jadi 2 kelompok. Tiap-tiap kelompok menuju ke sumber mata air terdekat. Setelah membuka sesaji di altar, maka selanjutnya adalah acara potong ayam. Saya skip dong pastinya, wuiihh bisa kacau mood saya klo liat yang berdarah-darah, hiiii……….

Selesai acara ini, lanjutannya adalah sajian tari Caci. Tarian pecut yang dibawakan oleh penduduk desa Waerebo dan beberapa desa terdekat yang diundang di acara ini. Dari motif dan warna kainnya dapat dibedakan mana yang penduduk asli Waerebo dan tamu dari desa sekitar yang diundang. Tarian ini akan berlangsung sepanjang hari. Di sela-sela acara pun disuguhkan arak lokal. Saya mah gak nyoba lah, bisa langsung mengeluarkan api kyk naga gitu dah hahhahha…, ngayal.

Waktunya makan siang kami naik kembali ke penginapan, sesi foto pun sudah puas untuk segala pose dan background :D. Setelah itu kami pun siap-siap untuk turun kembali ke desa Denge. Siap untuk menjalani 9 KM dengan jalur turunan. Porter yang menemani kami kemarin sudah turun pukul 8 pagi, karena sore mereka akan mengikuti acara Penti ini. Sehingga dari pagi kami sudah menyiapkan barang apa saja yang akan dibawa turun porter dan dititip ke mobil yang menunggu di Denge. Tipnya, bawa barang seminimal mungkin lah, cukup untuk menginap semalam disana.

Yak, akhirnya kami pun pamit, sempat mampir ke rumah pak Sabinus, untuk membeli kopi yang sudah digiling oleh bu Sabinus. Mungkin karena turun medannya tidak secapek waktu naik. Tetapi tetap hati-hati, kan sebelah kanannya jurang. Di jalan kami papasan dengan beberapa tamu yang baru akan naik, dan seperti biasa satu kata yang terucap adalah “cemunguuuttt…”. Kali ini kami lebih semangat, tanpa terasa POS 3 dan POS 2 terlewati. Kami istirahat agak lama di POS 1, seperti biasa untuk cuci muka dan minum air segar dari sungai yang mengalir di dekat POS 1.

Dari POS 1 kami turun menggunakan jalur yang berbeda dengan waktu naik. Jalurnya hanya cukup untuk 1 orang saja, tp lebih nyaman sih, walau ada beberapa tempat yang perlu meloncati pohon atau batu besar. Akhirnya 3 jam kami tiba di Denge, sehingga total 18 KM kami tempuh dalam waktu 6,5 jam. Sambil menunggu teman yang belum sampai kami mampir ke penginapan pak Blasius, untuk beli kopi dan beberapa teman pun pesan mie instan rebus. Penginapan disini biasanya digunakan bagi yang ingin naik ke Waerebo pagi hari. Per orang semalam 250 ribu, dengan 3 kali makan. Setelah teman kami sampai juga, kami pun bersiap untuk kembali ke mobil. Bersyukur banget selama trip ke Waerebo ini cuaca terang. Karena sebelum naik mendung sudah mengantung. Rasanya medan akan makin berat kalau hujan, karena pasti licin.

Keluar dari Denge, kami disambut sunset di sepanjang jalan dengan pemandangan sawah menguning yang siap di panen. Dari pak supir dengar-dengar akan dilakukan panen raya yang menghadirkan menteri pertanian. Walaupun kemarau panjang, persediaan airnya masih cukup, dilihat dari sawah yang tetap hijau di sepanjang perjalanan. Disini barulah kami mendapat sinyal walau masih belum stabil. Karena selama di Waerebo tidak ada sinyal sama sekali. Gadget hanya berfungsi untuk foto aja.

Perjalanan dari Denge dilanjutkan ke Ruteng yang mencapai hampir 6 jam. Wooww….lumayan bingit, badan udah capek, keringeten, ditemani oleh Yudika dan Ari Lasso yang sudah pasti capek karena mengulang lagunya puluhan kali hahhaha…., sampe apal deh. Untung mba Detri akhirnya mengeluarkan stok lagu di iphone-nya, terselamatkan kita semua. Dalam perjalanan ke Ruteng kami nyaris tidak ketemu dengan mobil yang lain. Sekitar pukul 9 kami sampai Ruteng, mampir ke resto untuk makan malam. Karena sudah malam, kota Ruteng ini berasa sepi sekali, hampir sudah tidak ada kendaraan yang lewat. Ternyata kotanya ini dingin, jadi suguhan menu sup ikan yang hangat plus teh amnis anget cukup menawarkan rasa dingin.

Pagi hari keenam, wah rasanya tetap sayang klo melewatkan pagi dengan tidur. Keluar kamar untuk menikmati pemandangan sekitar penginapan yang ternyata di tepi sawah. Luar biasa ya, biasanya menghadapi riwehnya pagi di Jakarta, disini disuguhi hamparan sawah yang hijau dan sejuk di mata. Setelah mandi, dannnn……….. baru kali ini saya bisa keramas pagi hari hahhaha… (penting banget), kami pun sarapan. Setelah itu kami bersiap untuk beberapa tempat yang akan kami kunjungi selanjutnya.

Danau Ranamese, adalah persinggahan kami yang pertama di hari keenam ini. Asli deh sy dengernya tuh danau wese, mana baunya juga rada-rada pesing sih, kayaknya tempat mojok buat pipis juga neh. Ternyata danau yang kliatan jauh ini nama aslinya Ranamese, dulunya adalah kawah yang berair (hasil googling ni), dan kita hanya menikmatinya dari atas saja, tidak sampai turun ke bawah.

Aimere, adalah persinggahan berikutnya. Tempat pembuatan arak yang terkenal di Flores. Disini kami dapat melihat cara pembuatan arak. Dan disini pun disediakan tester berbagai jenis arak yang dihasilkan. Dari mulai Level 1, 2, 3 sampe Premium. Wuiddihh aku pun cukup numpang ke toilet dan foto aja hahhahha…, gak nyobain ntar takut jadi naga, nyembur api :D.

Dari Aimere, kami pun lanjut ke Bajawa, makan siang sebelum ke desa Bena. Menunya kali ini masakan Padang. Dari Bajawa ke Bena tidak jauh. Dan desa Bena ini letaknya ada di pinggir jalan utamanya. Jadi gak perlu trekking atau jalan kaki jauh. Lumayan lah ya kaki istirahat sehari sebelum lanjut trekking lagi besoknya. Desa Bena ini mengingatkan kita dengan desanya Asterix. Desa dengan batu-batu besar atau Menhir yang masih terawat. Beneran loh kayak di negara antah berantah deh. Kami berjalan sampai di ujung desa. Naik ke atas semacam gazebo yang sudah disiapkan. Dari atas, kami bisa melihat landscape desa keseluruhan. Di belakang gazebo ada beberapa batu besar yang kece buat foto. Awalnya sih saya ragu-ragu, karena kebetulan pake dress yang disebut daster oleh mba Dede hihihi…. kebayang aja bakal terbang-terbang terkena angin. Tapi karena sudah jauh, akhirnya teteplah saya berfoto yang diabadikan oleh para fotografer profesional yang ada di rombongan kami hahhaha….

Turun ke desa, kami mampir ke rumah Mama Tina. Mama Tina ini marketingnya oke bingit lah. Terjadi lah tawar menawar yang alot, kain pasmina dari warna alam pun dilepas dengan harga 250 ribu, dari harga 350 ribu yang ditawarkan. Untuk sarung 500 rb dari 600 ribu yang ditawarkan. Saya sih cukup menikmati cara Mama Tina menenun, plus suguhan kopinya. Gak beli kain, inget-inget tumpukan kain di rumah yang aduhai deh 😀

Selesai dari Desa Bena kami melanjutkan perjalanan ke Ende. Karena lokasi besok yang akan kami kunjungi adalah Danau Kelimutu. Sepanjang perjalanan dari Bena ke Ende, kami disuguhi pemandangan laut yang indah. Salah satunya kami berhenti di Blue Stone Beach. Batu-batunya cakep, warna biru telor asin dan bentuknya aneka rupa. Batunya asli dari alam. Cuma sayang sih, sudah banyak penambangan batu yang kemudian dikirim ke Bali dan Jakarta. So, rumah-rumah dan restoran mewah itu impor batunya dari sini. Hikkss…, kira-kira klo 5 tahun lagi kesini masih ada gak ya batunya.

Kondisi jalan yang kami lalui dari Ruteng ke Ende sudah bagus. Jalan Trans Flores ini pun sedang diperbaiki di beberapa tempat, sehingga ada beberapa lokasi yang perlu hati-hati. Kami juga melihat ada beberapa penambangan pasir yang lokasinya dengan jalan raya. Rada ngeri sih ya, klo tiba-tiba longgor gimana. Tetapi kami jarang sekali bertemu dengan angkutan umum. Transportasi umum disana biasanya adalah bus kecil. Dimana di tiap sisi bis bisa saja ditempelin berbagai barang, seperti motor, atau bahkan ada kambing yang diikat di bis. Kadang kita ketemu juga dengan truk yang dikasih bangku dan tutup. Bahkan turun dari Bena kami melihat angkot semacam mikrolet yang pintunya di belakang. Sayang ih gak sempat moto, keburu takjub hahha….

Selepas maghrib kami tiba di Ende. Kami mampir ke supermarket terdekat untuk beli cemilan dan cari ATM terdekat plus toilet. Karena setelah ini kami akan lanjut ke desa Waratuka, desa terdekat sebelum naik ke danau Kelimutu. Sampai di desa Waratuka, kami berpisah penginapan, karena kami menginap di rumah penduduk, iihh kok lupa ya nama bapaknya. Setelah makan, mandi, kami pun pamit mandi. Tuan rumah menawari kami kain tenun Ende sebagai selimut, karena udara di Waratuka yang dingin.

Pukul 4 pagi hari ketujuh kami sudah siap bangun, karena target menunggu sunrise di puncak Danau Kelimutu. Perjalanan dari Waratuka ke Kelimutu tidak jauh hanya sekitar 30 menit. Setelah parkir kami pun mulai meniti jalan menuju danau, yang sebagian besar sudah dalam bentuk tangga. Rapi dan lebih nyaman sih, tapiiiii…. tetap aja naik dan jauh. Woooww hari terakhir pun tak lepas dari naik-naik ke puncak gunung deh. Sampai di tengah perjalanan sebagian wujud danau sudah kelihatan, jadi gak sabar untuk sampai atas. Ternyata 3 danau di Danau Kelimutu ini terpisah dalam 2 RT hihihi…, 2 danau berdekatan dan 1 nya lebih jauh lagi. Hari ini warna danaunya biru muda, hijau, dan hijau tua. Warna air di danau ini akan berubah-ubah, kadang juga berwarna merah. Wah sayang waktu kesana warnanya standar air, coba klo merah ya pasti keren. Kalau menurut kepercayaan masyarakat disana warna danau berhubungan dengan berkumpulnya jiwa-jiwa yang telah meninggal, hiiii seyem ya. Tapi kalau dari sisi ilmiah, warna ini dipengaruhi zat kimia dari unsur-unsur yang ada di dalamnya.

Sunrisenya cakep banget, cuma agak kesel banyak “cendol” alias orang yang lalu lalang. Kadang mager gak mau geser gantian foto. Alhasil harus pinter-pinter pasang posisi, begitu longgar langsung klik klik ambil beberapa pose. Di atas ada yang jualan kopi dan teh kalau ingin mengusir dingin. Beberapa motif kain Ende pun ditawarkan. Tiba-tiba kabut turun, sehingga view jadi kurang bagus buat foto. Sepertinya ni kabut gak ada tanda-tanda turun deh, akhirnya jam 8 kami pun turun. Sambil mampir di beberapa spot foto sepanjang perjalanan. Sudah ada pagar yang membatasi area untuk alasan keamanan. Cuma ada yang keluar pagar demi foto fantastik, dan salah satunya saya. Hikks…, maaf ya rada nakal juga nie. Ketika sik foto-fota tiba-tiba ada serombongan dengan baju tentara berjalan ke arah kami. Duh udah deg-degan kena tegur karena keluar pagar. Eh ternyata mereka tertarik ikutan foto di lokasi kita wkkwkkw….

Sampai kembali di penginapan kami bebersih, sarapan dan siap-siap untuk kembali ke Ende. Setelah berpamitan dan mengisi buku tamu, kami kembali ke mobil. Ternyata warga disini sudah biasa menerima tamu yang keesokan harinya akan naik ke Danau Kelimutu. Btw disini masyarakatnya juga bercocok tanam. Karena suhu udaranya maka tanaman disini tumbuh dengan baik. Kami menemukan sawah, ladang sayuran, pohon buah termasuk alpukat pun tumbuh subur. Tapi disini banyak anjing, biar gak galak, tapi takut juga.

Setelah pamit dengan warga, jam 10 kami melanjutkan perjalanan ke Ende. Karena ada perbaikan jalan maka ada lokasi yang menggunakan sistem buka tutup. Kalau kemarin kita lewat jalan ini malam hari, sekarang siang hari, wahh kliatan batu-batu besar di atas bukit selama melewati jalan yang sedang dalam proses perbaikan ini. Serem boo liatnya, kebayang lagi klo nglinding gimana. Tapi untungnya selamat dan lancar sampai Ende.

Sebelum diantar sampai bandara kami mampir makan siang ke rumah makan dengan menu masakan lokal. Kebanyakan ikan, tapi berhubungan tangan sudah mulai gatal-gatal entah alergi, saya memilih menu oseng kangkung dan bakwan jagung. Hahhaha standar banget ya, demi keamanan dan kenyaman karena perjalanan masih panjang. Setelah makan siang, akhirnya kami berenam diantar ke Bandara H. Hasan Aroeboesman. Nama bandaranya aja baru dengar sekarang, gak update banget ya. Setelah cipika cipiki sama Detri, lainnya mah salaman aja, kita masuk terminal yang awalnya kita kira seperti stasiun. Terminalnya memang kecil, jadi kita bisa lihat langsung lalu lalang pesawatnya.

Jam untuk bording pun tiba, pesawat dari Kupang datang, dan akan membawa kami terbang menuju Labuan Bajo dan kemudian terbang kembali ke Denpasar. Bye bye Ende…, sampai ketemu lagi. Rela deh kulit sampe hitam begini demi menikmati keindahan tempat demi tempat yang terbentang sepanjang Pulau Flores. Sesampainya di Labuhan Bajo, kami turun ke bandara. Cuma mba Nova dan mba Evi yang tetap tinggal di pesawat, karena kaki mba Nova ada sedikit cidera hasil dari foto loncat sewaktu sailing. Tapi ada untungnya, ternyata di Bandara Komodo ini ada toko souvenir, jadi deh berburu dl souvenir disini. Dari Labuan Bajo pesawat terbang menuju Denpasar. Tapi belum selesai karena kami harus melanjutkan penerbangan ke Jakarta. Mata rasanya sudah berat, badan capek, sehingga satu setengah jam penerbangan Denpasar – Jakarta berasa lama banget. Finally, safely landing di Jakarta. Kami pun berpisah, dan seperti biasa lanjut ngobrol di grup wa, sambil sharing foto, dan apa rencana trip berikutnya.

Jakarta, 3 Desember 2015
Mardiana Sukardi