CAR (Capital Adequacy Ratio)

image_print

Modal merupakan  faktor utama bagi suatu bank untuk dapat mengembangkan pertumbuhan usahanya. Pemenuhan kebutuhan Rasio Modal Minimal Bank atau dikenal CAR ditentukan oleh BIS (Bank for International Setlement) sebesar 8%. Rasio CAR diperoleh dengan menggunakan rumus : (Modal : ATMR) x 100%. Modal terdiri dari Modal Inti (Tier 1) dan Modal Pelengkap (Tier 2), dimana besarnya Modal Pelengkap yang diperhitungkan maksimal 100% dari besarnya ModaL Inti. Jika dimasukan risiko pasar dan risiko operasional, maka kedua risiko ini akan menambah ATMR.

Awal ketentuan yang dibuat oleh BIS ini tidak mengikat, tetapi akhirnya hampir seluruh Bank Sentral di dunia mengadopsi ketentuan BIS, di Indonesia Bank Indonesia menerapkan ketentuan ini melalui PBI menjadi KPMM (Kewajiban Pemenuhan Modal Minimum) sebesar 8%, yang secara bertahap akan disesuaikan dengan kondisi perbankan di Indonesia dan perbankan Interasional.

Tulisan ini dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan peneliti yang terkait dengan variabel CAR sebagai salah  variabel indenpenden yang mempengaruhi ROE dan atau ROA. Hampir sebagian besar penelitian mengindikasikan bahwa jika CAR (rasio CAR) naik maka ROE dan atau ROA akan naik, berpengaruh signifikan positif. Padahal seharusnya tidaklah demikian, jika CAR naik maka ROE dan atau ROA akan turun atau jika CAR turun maka ROE dan atau ROA akan naik.

Mengapa demikian? kembali ke rumus rasio CAR dimana Modal dibagi ATMR  kemudian dikalikan 100% = minimal 8%. ATMR adalah Aktiva Tertimbang Menurut Risiko, dimana Aktiva yang memiliki bobot risiko paling besar adalah Kredit, Kredit juga memberikan kontribusi pendapatan yang paling besar bagi Bank. Artinya jika Kredit naik maka pendapatan bank akan naik, berarti ROE dan atau ROA akan naik. Dengan naiknya Kredit berarti akan menaikan total ATMR, yang berarti juga akan menurunkan CAR. Nah atas dasar pemikiran itulah maka yang benar adalah bahwa jika CAR naik maka ROE dan atau ROA akan turun, demikian pula jika terjadi sebaliknya. Namun demikian Aktiva lainnya yang memiliki bobot risiko 100% adalah Fixed Assets dan Aset-aset lainya yang tidak memberikan kontribusi pendapatan bagi bank, jadi jika kenaikan ATMR karena diakibatkan oleh kenaikan aset pada kelompok ini maka dapat dibenarkan bahwa jika CAR naik maka ROE dan atau ROA akan naik demikian pula jika CAR turun maka ROE dan atau ROA akan turun karena penggunaan dana bank yang tidak memberikan kontribusi pendapatan operasional bank.

Selamat beraktivitas dan mengembangkan ilmu pengetahuan untuk kemajuan bersama.

About Selamet Riyadi

You may also like...

34 Responses

  1. safril says:

    terima kasih pak dosen sangat membantu sharing ilmunya

  2. Reza says:

    bapak slamet riyadi, saya ingin bertanya mengenai skripsi saya, hasil analisis NPL terhadap ROA, yaitu NPL berpengaruh signifikan positif, nah penjelasan nya bagaimana ya pak? masa iya kredit bermasalah nya naik tapi justru diiringi dengan kenaikan laba juga? mohon pencerahan nya bapak.

    • Selamet Riyadi says:

      Yth. Mas Reza,
      Yang benar adalah NPL berpengaruh negatif, jadi jika hasilnya menunjukkan sebaliknya, maka yang perlu dicermati adalah :
      1. Apakah data yang diambil sidah benar
      2. Apakah tidak ada kesalahan dalam mengolah datanya
      Ini perlu diteliti ulang. Sekiranya sudah benar, maka harus dilihat lebih dalam lagi :
      1. Pada periode penelitian kebijakan apa yang telah diambil oleh Manajemen
      2. Selama periode penelitian adakah income diluar aktivitas utama bank, misalnya adanya keuntungan dari perdagangan saham, forex atau sejenisnya
      Tetap semangat dan semoga berhasil dengan baik
      Salam,

    • Fahmi says:

      Mas reza, tolong dihitung ckpn nya juga

    • yoga pamungkas says:

      dalam bisnis yang namanya kredit macet (NPL) pasti berimbas pada laba
      keuntungan dari pembayaran kredit yang seharusnya menjadi laba harus tertahan karena tidak ada pembayaran
      jadi terjadi kredit macet (NPL) dipastikan laba tidak akan naik tetapi cuma tertahan sampai ada pembayaran dari kredit macet NPL
      Dalam bisnis perbankan kenaikan laba justru diiringi semakin kecil NPL karena denga semakin kecil kredit bermasalah (NPL) semakin banyak laba yang didapat dari pembayaran bunga kredit dan sedikitnya pencadangan aktiva produktif

      mohon maaf jika ada kurangnya @yogatriji

  3. meilisa says:

    Assalamu’alaikum wr.wb.
    Nm sya meilisa, saya mau bertanya kpd bapak, bagaimana cara melihat ATMR dalam laporn keuangan. Karena saya kurang mengerti dengan setiap teori yg sya baca. Saat ini saya sedng menyusun skripsi tentang CAR pd perbankan yg terdftar di BEI. Mohon penjelasnnya pak, dan terima kasih sebelumnya…

    • Selamet Riyadi says:

      Waalaikumsalam wr wb
      Yth. Mbak Meilisa
      Dalam laporan keuangan memang tidak ditampakkan perhitungan ATMR yang ada hanya hasilnya berupa rasio CAR. Cara menghitung ATMR bisa baca buku “Banking Assets And Liability Management” yang Bapak tulis, diterbitkan oleh Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Edisi Ketiga tahun 2006. Edisi terbarunya (Keempat) masih dalam proses penerbitan.
      ATMR diperoleh dari Nilai Nominal Aktiva Bank dikalikan dengan Bobot Risiko, misalsnya Kas Rp. 1.000.000,- X 0% maka ATMRnya = Rp. 0. Penempatan Pada Bank Lain Rp. 5.000.000,- X 20% = Rp. 1.000.000,- ini ATMR-nya. Kredit Rp. 12.500.000,- X 100% = Rp. 12.500.000,- ini nilai ATMR Kredit demikian seterusnya. Untuk lebih jelasnya lihat buku tsb.
      Semoga bermanfaat dan dapat memberikan sedikit gambaran, cara menghitung ATMR
      Salam

  4. YOYOK ABADI says:

    Assalamu’alaikum wr.wb. / selamat malam pak…
    Perkenalkan Yoyok pak, senada dengan pertanyaan mbak Meilisa, mohon penjelasan tentang cara melihat/membaca/menghitung Aktiva Tertimbang Menurut Resiko (ATMR), guna penyelesaian tugas kuliah kami pak, terima kasih sebelumnya…

    • Selamet Riyadi says:

      Waalaikumsalam wr wb.
      Yth. Mas Yokok Abadi,
      Sama dengan yang Bapak jelaskan ke Mbak Meilisa. Perhitungan ATMR tidak nampak pada Laporan Keuangan Bank, yang terlihat hanya hasil perhitungannya berupa rasio CAR. Cara menghitung ATMR bisa dibaca di Buku “Banking Assets And Liability Management” yang Bapak tulis, diterbitkan oleh Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, edisi Ketiga tahun 2006.
      Setelah membaca buku tersebut silahkan diskusikan lagi dengan Bapak, sekiranya belum jelas
      Semoga tetap semangat dan skripsimu cepat selesai ya.
      Salam sukses

  5. anggi tayanza says:

    ass pak, saya minta tolong untuk penjelasn tntang ATMR, soalnya sampai sekarang saya bingung untuk menghitung nilai ATMR pada perusahaan perbankan yang go publik itu gimna, ? saya berharp bpak bisa bntu penjelasn bahwa ATMR itu didapat atas penjumlahan apa ? soalnya saya lagi buat skripsi tntang nilai CAR tpi dikampus saya tidk ada mata kuliah tntang analisis laporan keuangan ? skli lagi mohon bantuannya pak ?

    • Selamet Riyadi says:

      Waalaikumsalam wr wb.
      Yth. Mbak Anggi Tayanza,
      Cara perhitungan ATMR bisa dibaca di buku “Banking Assets And Liability Management” Edisi Ketiga 2006, Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi, Universitas Indonesia.
      Penulis : Drs. Selamet Riyadi, M.Si
      Jika setelah membaca belum mendapat kejelasan, silahkan hubungi Bapak kembali.
      Semangat dan tetap semangat. Semoga lekas selesai skripsinya
      Salam,

  6. Desi says:

    Ass pak,nama saya desi. Saya mau tanya kepada bpk, setiap laporan keuangan bank kan sudah ada rasionya pak. Kalo saya menghitung sendiri rasio fdr,npf, dan bopo itu hasilnya berbeda dengan hasil rasio yang tertera di laporan keuangan bank masing2. Menurut bapak saya mengambil di laporan keuangan yang sudah tertera rasionya atau menghitung sendiri pak?
    Sebelumnya trimakasih pak. Mohon bantuannya.

    • Selamet Riyadi says:

      Waalaikumsalam wr wb
      Yth. Mbak Desi,
      Dalam laporan keuangan bank tercantum angka total secara besaran, tidak dirinci. Dengan demikian kalau mba Desi menghitung sendiri hasilnya pasti akan berbeda, karena hitungannya mengambil data-data besaran yang terdapat dalam laporan keuangan, sedangkan bank menghitung atas dasar data yang lebih rinci sehingga hasilnya lebih akurat.
      Untuk keperluan penelitian sebaiknya ambil data rasio keuangan yang sudah disajikan dalam laporan keuangan bank yang sudah dipublikasikan. Yang penting mba Desi sudah tahu bagaimana cara menghitungnya raso-rasio yang ada.
      Selama dan sukses, tetap semangat untuk hari esok yang lebih baik.
      Salam,

  7. Santi says:

    Ass. pak.. saya ingin bertanya bagaimana cara mengetahui penyebab turunnya profitabilitas (roa) disaat car bank tersebut naik? Saya menemukan permasalahan tsb pada bank uob tahun 2014-2015.. saya masih bingung pak karna harus menemukan penyebab turunnya roa tsb harus saling terkait dg kenaikan rasio car

    • Selamet Riyadi says:

      Waalaikumsalamwr wb
      Yth. Mbak Santi,
      Untuk jelasnya baca tulisan Bapak tentang Cara Perhitungan Aktiva Tetimbang Menurut Risiko (ATMR) dan buku “Banking Assets And Liability Management” yang diterbitkan oleh Lembaga Penerbit FE UI. Bedakan CAR dengan Modal, CAR dinyatakan dalam %, hasil dari rumus perhitungan CAR yaitu : (Modal : ATMR) X 100% = …%. Sedangkan Modal adalah jumlah dalam nominal rupiah, sehingga secara teori jika modal naik maka profitabilitas juga naik. Coba perhatikan rumus CAR tadi, misalnya Modal Rp. 12.500,- dan ATMR Rp. 100.000,- maka CAR = (Rp. 12.500,- : Rp. 100.000) X 100% = 12,5%. Jika ATMR nya = Rp. 125.000,- dengan rumus yang sama maka akan menghasilkan CAR = 10%. Bobot risiko terbesar dalam perhitungan ATMR ada pada “Kredit” yaitu bisa 100%, walaupun ada yang dibawah 100% tergantung pada Debitur dan jenis kredit yang diberikan bank. Untuk memudahkan perhitungan dalam contoh ini diasumsikan 100%. Dari dua contoh terlihat bahwa CAR 12,5% pada saat ATMR Rp. 100.000,- dan 10% dimana ATMR nya Rp. 125.000,-. Dari ATMR Rp. 100.000,- menjadi Rp. 125.000,- terjadi kenaikan sebesar Rp. 25.000,- dengan asumsi yang diberikan tadi, maka ketika ATMR sebesar Rp. 125.000,- telah terjadi penambahan jumlah “Kredit” yang disalurkan oleh Bank, dengan adanya penambahan penyaluran “Kredit” berarti akan meningkatkan pendapatan bunga bank, yang pada akhirnya akan meningkatkan profitabilitas bank. Demikian juga sebaliknya.
      Semoga dapat menjawab kebingungan mbak Santi.
      Salam sukses dan tetap semangat

  8. Dwitanto Agus S says:

    Assalamualaikum Wr Wb
    Pak Selamet Riyadi, saya mohon bantuan bagaimana rumus/rasio perhitungan daripada Aset Quality. Terimakasih banyak atas bantuannya.

    • Selamet Riyadi says:

      Waalaikumsalam wr wb
      Yth. Mas Dwitanto Agus S
      Sejauh ini belum ada rumus/ rasio perhitungan Asset Quality, yang ada adalah penilaian kualitas dilakukan terhadap Aset Produktif dan Aset Non Produktif. Aset Produktif adalah Aset yang menghasilkan. Sebagian besar aset produktif bank di Indonesia digunakan dalam bentuk “Kredit”. Kualitas Kredit digolongkan menjadi 5 tingkat kolektibilitas, Yaitu; 1, Lancar (Pass); 2, Dalam Perhatian Khusus (Special Mention); 3. Kurang Lancar (Substandard) ; 4. Diragukan (Doubtful) dan 5. Macet (Loss). Masing2 tingkat kolektibilitas mempunyai perhitungan cadangan yang berbeda.
      Coba cek lagi permasalah apa yang sedang dihadapi, jika terkait dengan judul skripsi atau pembahasan skipsi, sebaiknya disesuaikan dengan rumus yang ada.
      Semoga bermanfaat, harus tetap rajin membaca dan tetap semangat
      Salam,

  9. pak saya Gita, Terimakasih banyak pak atas ilmunya…
    sangat bermanfaat banget pak, apalagi saya maba
    berkah terus pak dan sehat terus …
    dan tetap berbagi ilmu….

    • Selamet Riyadi says:

      Assalamualikum wr wb
      Yth. Mbak Gita Dewi Anggraeni

      Tetap semangat dan terus belajar untuk masa depan yang lebih baik. Terima kasih do’anya.
      Aamiin… YRA. Do’a yang sama untuk Gita

      Salam sukses

  10. rasyidaa says:

    Assalamualaikum pak
    Terima kasih atas website bapa yang sangat bermanfaat bagi mahasiswa/i khususnya yang sedang melakukan penelitian.
    Saya hanya ingin menanyakan, apa ketentuan bank yang tidak ikut menyertakan perhitungan ATMR untuk risiko pasar?
    Terima kasih dan mohon bimbingannya pak.

    • Selamet Riyadi says:

      Waalaikumsalam wr wb.
      Yth. Mbak Rasyidah,
      ATMR = Aktiva Tertimbang Menurut Risiko, mengacu pada Peraturan Bank Indonesia yang merujuk pada Bassel 1 (Bassel Accord 1), saat itu hanya melihat risiko Kredit atau Penggunaan Dana Bank secara keseluruhan. Lalu disempurnakan dengan Bassel 2 yang memperhitungkan Risiko Pasar (Market Risk) dan Risiko Operasional (Operasional Risk). Jadi dalam ATMR memang belum diperhitungkan risiko pasar dan risiko operasional, tetapi ketika menghitung CAR (Capital Adequacy Rasio) baru Bank memperhitungkan kedua risiko tersebut.
      Selamat belajat, tetap semangat dan semoga sukses. Semoga dapat menjawab pertanyaan yang disampaikan.
      Terima kasih
      Salam,

  11. Surya says:

    assalamualaikum.wr.wb
    pak saya sedang melakukan penelitian di Bank BPR,,dri perhitungan saya ini nilai CAR=>100%, apakah dengan nilai CAR diatas 100% ini bisa dikatakan “sehat” untuk tingkatan BPR?..jika diasumsikan jumlah modal Rp 250,000 dengan jumlah ATMRnya sebesar Rp 220,000..Modal/ATMR x 100% = 250,000/220,000 x 100% = 113,6%..
    pertanyaanya adalah:
    Jika modal lebih besar dari ATMR apakah itu termasuk kategori wajar?dan mohon solusinya..
    terimakasih banyak sebelumnya pak..
    wassalamualaikum.wr.wb.

    • Selamet Riyadi says:

      Waalaikumsalam wr wb
      Yth. Mas Surya,
      CAR Perbankan pada umumnya dibawah 20% dan diatas 9%, walaupun BI menetepkan Car minimal 8%. Pernah ada satu Bank yang CAR nya mencapai hampir 100% yaitu Bank Ekspor Indonesia, hal ini disebabkan karena sebagian besar Kredit yang diberikan berasal dari Moalnya yang cukup besar, sementara Bank Ekspor tidak menerima simpanan dana masyarakat dalam bentuk DPK (Dana Pihak Ketiga). Demikian halnya dengan BPR, kisaran CAR sebagian besar ada diantara 30% ini tertinggi dan 14% untuk rendahnya. Jika Mas Surya mendapatkan perhitungan CAR yang melebihi 100%, coba di cek lagi apakah perhitungan ATMR nya sudah benar? Juga sebagai test case coba perhatikan perbandingan antara jumlah modal dengan dana pihak ketiga dan dana pihak kedua, biasanya akan lebih besar dana phak ketiga dita bah dana pihak kedua dibandingkan dengan modalnya.
      CAR melebihi 100% (113%) ini artinya bahwa seluruh kredit yang diberikan termasuk penempatan dana pada surat berharga dan bank menggunakan modal bank (dana pihak pertama), ini sangat janggal dilihatnya. Jadi coba di cek ulang apakah perhitungan ATMR dan Modalnya sudah benar?
      Cek memang perhitungan ATMR nya dan Modalnya sudah benar, ini dapat dikatakan wajar. Tapi yang jelas belum ada bank yang memiliki CAR melebihi 100%.
      Salam sukses dan tetap semangat….

  12. Yutika says:

    Selamat pagi Pak Selamet Riyadi.
    Mohon arahan untuk penelitian saya, yaitu Stress Test Posisi Devisa Netto terhadap Bank-bank di Indonesia, dengan sample 18 bank di Indonesia. PDN ini dikaitkan dengan kenaikan atau penurunan CAR tiap bank tsb.
    Setelah saya melakukan pengolahan data didapat data bahwa PDN/NOP di bank-bank sample saya tidak terlalu terpengaruh dengan adanya kenaikan kurs (baik itu skenario BI, maupun skenario worst, moderate, dan baseline).
    Yang ingin saya tanyakan adalah sb.
    Secara umum saya telah mengetahui bahwa hasilnya pasti akan seperti itu, yt. pengaruhnya tidak terlalu signifikan kepada CAR bank, karena tentunya bank-bank telah memperhatikan regulatory requirements dari OJK dan BI, jadi rasanya kok penelitian saya menjadi terlalu dangkal. Mohon saran ya Pak, untuk memperkaya penelitian saya tersebut.
    Terima kasih Bapak. Semoga berkenan menjawab,

    • Selamet Riyadi says:

      Yth. Mbak Yutika,

      Sesuai ketentuan BI besarnya PDN maksimal adalah 20% dari Modal Bank. Dan banyak bank yang menelola PDN-nya dibawah 10%, ini artinya bahwa jika terjadi gejolak kurs Modal bank masih bisa menanggulangi risiko. Penelitian berdasarkan data yang diteliti, jika hasil penelitian menunjukkan seperti yang Mbak Yutika sampaikan itu sangat baik jika dilihat dari sisi regulatator dalam hal ini BI yang membuat kebijakan tentang PDN sudah mencapai sasaran, dengan kata lain adalah benar. Jadi hasil penelitian yang dilakukan tetap saja bermanfaat, tidak dangkal.
      Salam sukses dan tetap semangat…

      • Ervina fauziyah destriyani says:

        Assalamualaikum…
        Selamat siang pak selamet riyadi..
        Mohon maaf menganggu waktunya pak saya ingin bertanya mengenai car bahwa formula car itu rumusnya modal yang terdiri dari modal inti ditambah dengan modal pelengkap di bagi dengan atmr..
        Namun pada saat saya melihat laporan keuangan bank victoria syariah dalam laporan tersebut hasil car di dapat dari modal yang terdiri dari modal inti di tambah dengan modal pelengkap dibagi dengan penyertaan hasil tersebut lalu di bagi dengan atmr… Bapak mohon penjelasannya mengenai bank victoria tersebut… Sebelumnya terima kasih pak

  13. Dyska says:

    Assalamualaikum pak saya dyska, mau bertanya apakah rasio CAR dapat menpengaruhi jumlah deposito ?? Moho penjelasannya ya paakk terimakasiihh

  14. Marty says:

    Assalam..
    Bapak saya ingin bertanya mengenai Modal/equity yg ada pada rumus ROE itu sama dengan Modal yg ada di rumus CAR tdk ya pak?
    Terimakasih
    Wassalam

    • marty says:

      bapak bagaimana cara mendapatkan buku bapak “banking assets and liability management” ya pak? saya dari jogja,,, dan saya sudah mencari di seluruh toko buku yang ada d jogja sudah kosong, …
      apakah bapak berkena kalau saya membeli buku tersebut melalui bapak langsung ?

  15. Ervina fauziyah destriyani says:

    Dosen Perbanas
    EDUCATION31
    CAR (Capital Adequacy Ratio)
    BY SELAMET RIYADI · 14 AUGUST 2014

    image_print
    Modal merupakan faktor utama bagi suatu bank untuk dapat mengembangkan pertumbuhan usahanya. Pemenuhan kebutuhan Rasio Modal Minimal Bank atau dikenal CAR ditentukan oleh BIS (Bank for International Setlement) sebesar 8%. Rasio CAR diperoleh dengan menggunakan rumus : (Modal : ATMR) x 100%. Modal terdiri dari Modal Inti (Tier 1) dan Modal Pelengkap (Tier 2), dimana besarnya Modal Pelengkap yang diperhitungkan maksimal 100% dari besarnya ModaL Inti. Jika dimasukan risiko pasar dan risiko operasional, maka kedua risiko ini akan menambah ATMR.

    Awal ketentuan yang dibuat oleh BIS ini tidak mengikat, tetapi akhirnya hampir seluruh Bank Sentral di dunia mengadopsi ketentuan BIS, di Indonesia Bank Indonesia menerapkan ketentuan ini melalui PBI menjadi KPMM (Kewajiban Pemenuhan Modal Minimum) sebesar 8%, yang secara bertahap akan disesuaikan dengan kondisi perbankan di Indonesia dan perbankan Interasional.

    Tulisan ini dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan peneliti yang terkait dengan variabel CAR sebagai salah variabel indenpenden yang mempengaruhi ROE dan atau ROA. Hampir sebagian besar penelitian mengindikasikan bahwa jika CAR (rasio CAR) naik maka ROE dan atau ROA akan naik, berpengaruh signifikan positif. Padahal seharusnya tidaklah demikian, jika CAR naik maka ROE dan atau ROA akan turun atau jika CAR turun maka ROE dan atau ROA akan naik.

    Mengapa demikian? kembali ke rumus rasio CAR dimana Modal dibagi ATMR kemudian dikalikan 100% = minimal 8%. ATMR adalah Aktiva Tertimbang Menurut Risiko, dimana Aktiva yang memiliki bobot risiko paling besar adalah Kredit, Kredit juga memberikan kontribusi pendapatan yang paling besar bagi Bank. Artinya jika Kredit naik maka pendapatan bank akan naik, berarti ROE dan atau ROA akan naik. Dengan naiknya Kredit berarti akan menaikan total ATMR, yang berarti juga akan menurunkan CAR. Nah atas dasar pemikiran itulah maka yang benar adalah bahwa jika CAR naik maka ROE dan atau ROA akan turun, demikian pula jika terjadi sebaliknya. Namun demikian Aktiva lainnya yang memiliki bobot risiko 100% adalah Fixed Assets dan Aset-aset lainya yang tidak memberikan kontribusi pendapatan bagi bank, jadi jika kenaikan ATMR karena diakibatkan oleh kenaikan aset pada kelompok ini maka dapat dibenarkan bahwa jika CAR naik maka ROE dan atau ROA akan naik demikian pula jika CAR turun maka ROE dan atau ROA akan turun karena penggunaan dana bank yang tidak memberikan kontribusi pendapatan operasional bank.

    Selamat beraktivitas dan mengembangkan ilmu pengetahuan untuk kemajuan bersama.

    About Selamet Riyadi
    Twitter •
    Post Views: 34,745
    YOU MAY ALSO LIKE…

    1
    Belajar Dasar Pemrograman dengan Code.org

    30 NOVEMBER 2016
    Perbandingan Riset Kualitatif & Kuantitatif
    0
    Perbandingan Riset Kualitatif & Kuantitatif

    5 JANUARY 2017
    31 RESPONSES

    Comments31
    Pingbacks0
    safril 13 February 2016 at 09:58
    terima kasih pak dosen sangat membantu sharing ilmunya

    Reply
    Selamet Riyadi 14 May 2016 at 10:41
    Semoga bermanfaat ya

    Reply
    Reza 23 September 2016 at 22:49
    bapak slamet riyadi, saya ingin bertanya mengenai skripsi saya, hasil analisis NPL terhadap ROA, yaitu NPL berpengaruh signifikan positif, nah penjelasan nya bagaimana ya pak? masa iya kredit bermasalah nya naik tapi justru diiringi dengan kenaikan laba juga? mohon pencerahan nya bapak.

    Reply
    Selamet Riyadi 14 October 2016 at 11:32
    Yth. Mas Reza,
    Yang benar adalah NPL berpengaruh negatif, jadi jika hasilnya menunjukkan sebaliknya, maka yang perlu dicermati adalah :
    1. Apakah data yang diambil sidah benar
    2. Apakah tidak ada kesalahan dalam mengolah datanya
    Ini perlu diteliti ulang. Sekiranya sudah benar, maka harus dilihat lebih dalam lagi :
    1. Pada periode penelitian kebijakan apa yang telah diambil oleh Manajemen
    2. Selama periode penelitian adakah income diluar aktivitas utama bank, misalnya adanya keuntungan dari perdagangan saham, forex atau sejenisnya
    Tetap semangat dan semoga berhasil dengan baik
    Salam,

    Reply
    Fahmi 14 November 2016 at 09:10
    Mas reza, tolong dihitung ckpn nya juga

    Reply
    yoga pamungkas 30 March 2017 at 10:49
    dalam bisnis yang namanya kredit macet (NPL) pasti berimbas pada laba
    keuntungan dari pembayaran kredit yang seharusnya menjadi laba harus tertahan karena tidak ada pembayaran
    jadi terjadi kredit macet (NPL) dipastikan laba tidak akan naik tetapi cuma tertahan sampai ada pembayaran dari kredit macet NPL
    Dalam bisnis perbankan kenaikan laba justru diiringi semakin kecil NPL karena denga semakin kecil kredit bermasalah (NPL) semakin banyak laba yang didapat dari pembayaran bunga kredit dan sedikitnya pencadangan aktiva produktif

    mohon maaf jika ada kurangnya @yogatriji

    Reply
    meilisa 1 October 2016 at 20:01
    Assalamu’alaikum wr.wb.
    Nm sya meilisa, saya mau bertanya kpd bapak, bagaimana cara melihat ATMR dalam laporn keuangan. Karena saya kurang mengerti dengan setiap teori yg sya baca. Saat ini saya sedng menyusun skripsi tentang CAR pd perbankan yg terdftar di BEI. Mohon penjelasnnya pak, dan terima kasih sebelumnya…

    Reply
    Selamet Riyadi 14 October 2016 at 12:50
    Waalaikumsalam wr wb
    Yth. Mbak Meilisa
    Dalam laporan keuangan memang tidak ditampakkan perhitungan ATMR yang ada hanya hasilnya berupa rasio CAR. Cara menghitung ATMR bisa baca buku “Banking Assets And Liability Management” yang Bapak tulis, diterbitkan oleh Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Edisi Ketiga tahun 2006. Edisi terbarunya (Keempat) masih dalam proses penerbitan.
    ATMR diperoleh dari Nilai Nominal Aktiva Bank dikalikan dengan Bobot Risiko, misalsnya Kas Rp. 1.000.000,- X 0% maka ATMRnya = Rp. 0. Penempatan Pada Bank Lain Rp. 5.000.000,- X 20% = Rp. 1.000.000,- ini ATMR-nya. Kredit Rp. 12.500.000,- X 100% = Rp. 12.500.000,- ini nilai ATMR Kredit demikian seterusnya. Untuk lebih jelasnya lihat buku tsb.
    Semoga bermanfaat dan dapat memberikan sedikit gambaran, cara menghitung ATMR
    Salam

    Reply
    YOYOK ABADI 1 October 2016 at 23:12
    Assalamu’alaikum wr.wb. / selamat malam pak…
    Perkenalkan Yoyok pak, senada dengan pertanyaan mbak Meilisa, mohon penjelasan tentang cara melihat/membaca/menghitung Aktiva Tertimbang Menurut Resiko (ATMR), guna penyelesaian tugas kuliah kami pak, terima kasih sebelumnya…

    Reply
    Selamet Riyadi 14 October 2016 at 12:54
    Waalaikumsalam wr wb.
    Yth. Mas Yokok Abadi,
    Sama dengan yang Bapak jelaskan ke Mbak Meilisa. Perhitungan ATMR tidak nampak pada Laporan Keuangan Bank, yang terlihat hanya hasil perhitungannya berupa rasio CAR. Cara menghitung ATMR bisa dibaca di Buku “Banking Assets And Liability Management” yang Bapak tulis, diterbitkan oleh Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, edisi Ketiga tahun 2006.
    Setelah membaca buku tersebut silahkan diskusikan lagi dengan Bapak, sekiranya belum jelas
    Semoga tetap semangat dan skripsimu cepat selesai ya.
    Salam sukses

    Reply
    anggi tayanza 13 October 2016 at 23:07
    ass pak, saya minta tolong untuk penjelasn tntang ATMR, soalnya sampai sekarang saya bingung untuk menghitung nilai ATMR pada perusahaan perbankan yang go publik itu gimna, ? saya berharp bpak bisa bntu penjelasn bahwa ATMR itu didapat atas penjumlahan apa ? soalnya saya lagi buat skripsi tntang nilai CAR tpi dikampus saya tidk ada mata kuliah tntang analisis laporan keuangan ? skli lagi mohon bantuannya pak ?

    Reply
    Selamet Riyadi 14 October 2016 at 11:19
    Waalaikumsalam wr wb.
    Yth. Mbak Anggi Tayanza,
    Cara perhitungan ATMR bisa dibaca di buku “Banking Assets And Liability Management” Edisi Ketiga 2006, Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi, Universitas Indonesia.
    Penulis : Drs. Selamet Riyadi, M.Si
    Jika setelah membaca belum mendapat kejelasan, silahkan hubungi Bapak kembali.
    Semangat dan tetap semangat. Semoga lekas selesai skripsinya
    Salam,

    Reply
    Desi 18 October 2016 at 10:20
    Ass pak,nama saya desi. Saya mau tanya kepada bpk, setiap laporan keuangan bank kan sudah ada rasionya pak. Kalo saya menghitung sendiri rasio fdr,npf, dan bopo itu hasilnya berbeda dengan hasil rasio yang tertera di laporan keuangan bank masing2. Menurut bapak saya mengambil di laporan keuangan yang sudah tertera rasionya atau menghitung sendiri pak?
    Sebelumnya trimakasih pak. Mohon bantuannya.

    Reply
    Selamet Riyadi 24 October 2016 at 07:29
    Waalaikumsalam wr wb
    Yth. Mbak Desi,
    Dalam laporan keuangan bank tercantum angka total secara besaran, tidak dirinci. Dengan demikian kalau mba Desi menghitung sendiri hasilnya pasti akan berbeda, karena hitungannya mengambil data-data besaran yang terdapat dalam laporan keuangan, sedangkan bank menghitung atas dasar data yang lebih rinci sehingga hasilnya lebih akurat.
    Untuk keperluan penelitian sebaiknya ambil data rasio keuangan yang sudah disajikan dalam laporan keuangan bank yang sudah dipublikasikan. Yang penting mba Desi sudah tahu bagaimana cara menghitungnya raso-rasio yang ada.
    Selama dan sukses, tetap semangat untuk hari esok yang lebih baik.
    Salam,

    Reply
    Santi 2 November 2016 at 05:18
    Ass. pak.. saya ingin bertanya bagaimana cara mengetahui penyebab turunnya profitabilitas (roa) disaat car bank tersebut naik? Saya menemukan permasalahan tsb pada bank uob tahun 2014-2015.. saya masih bingung pak karna harus menemukan penyebab turunnya roa tsb harus saling terkait dg kenaikan rasio car

    Reply
    Selamet Riyadi 2 November 2016 at 08:10
    Waalaikumsalamwr wb
    Yth. Mbak Santi,
    Untuk jelasnya baca tulisan Bapak tentang Cara Perhitungan Aktiva Tetimbang Menurut Risiko (ATMR) dan buku “Banking Assets And Liability Management” yang diterbitkan oleh Lembaga Penerbit FE UI. Bedakan CAR dengan Modal, CAR dinyatakan dalam %, hasil dari rumus perhitungan CAR yaitu : (Modal : ATMR) X 100% = …%. Sedangkan Modal adalah jumlah dalam nominal rupiah, sehingga secara teori jika modal naik maka profitabilitas juga naik. Coba perhatikan rumus CAR tadi, misalnya Modal Rp. 12.500,- dan ATMR Rp. 100.000,- maka CAR = (Rp. 12.500,- : Rp. 100.000) X 100% = 12,5%. Jika ATMR nya = Rp. 125.000,- dengan rumus yang sama maka akan menghasilkan CAR = 10%. Bobot risiko terbesar dalam perhitungan ATMR ada pada “Kredit” yaitu bisa 100%, walaupun ada yang dibawah 100% tergantung pada Debitur dan jenis kredit yang diberikan bank. Untuk memudahkan perhitungan dalam contoh ini diasumsikan 100%. Dari dua contoh terlihat bahwa CAR 12,5% pada saat ATMR Rp. 100.000,- dan 10% dimana ATMR nya Rp. 125.000,-. Dari ATMR Rp. 100.000,- menjadi Rp. 125.000,- terjadi kenaikan sebesar Rp. 25.000,- dengan asumsi yang diberikan tadi, maka ketika ATMR sebesar Rp. 125.000,- telah terjadi penambahan jumlah “Kredit” yang disalurkan oleh Bank, dengan adanya penambahan penyaluran “Kredit” berarti akan meningkatkan pendapatan bunga bank, yang pada akhirnya akan meningkatkan profitabilitas bank. Demikian juga sebaliknya.
    Semoga dapat menjawab kebingungan mbak Santi.
    Salam sukses dan tetap semangat

    Reply
    santi 2 November 2016 at 11:01
    terimakasih bapak untuk penjelasannya sangat membantu..

    Reply
    Dwitanto Agus S 8 November 2016 at 08:46
    Assalamualaikum Wr Wb
    Pak Selamet Riyadi, saya mohon bantuan bagaimana rumus/rasio perhitungan daripada Aset Quality. Terimakasih banyak atas bantuannya.

    Reply
    Selamet Riyadi 10 November 2016 at 13:54
    Waalaikumsalam wr wb
    Yth. Mas Dwitanto Agus S
    Sejauh ini belum ada rumus/ rasio perhitungan Asset Quality, yang ada adalah penilaian kualitas dilakukan terhadap Aset Produktif dan Aset Non Produktif. Aset Produktif adalah Aset yang menghasilkan. Sebagian besar aset produktif bank di Indonesia digunakan dalam bentuk “Kredit”. Kualitas Kredit digolongkan menjadi 5 tingkat kolektibilitas, Yaitu; 1, Lancar (Pass); 2, Dalam Perhatian Khusus (Special Mention); 3. Kurang Lancar (Substandard) ; 4. Diragukan (Doubtful) dan 5. Macet (Loss). Masing2 tingkat kolektibilitas mempunyai perhitungan cadangan yang berbeda.
    Coba cek lagi permasalah apa yang sedang dihadapi, jika terkait dengan judul skripsi atau pembahasan skipsi, sebaiknya disesuaikan dengan rumus yang ada.
    Semoga bermanfaat, harus tetap rajin membaca dan tetap semangat
    Salam,

    Reply
    Gita Dewi Anggraeni 15 November 2016 at 00:19
    pak saya Gita, Terimakasih banyak pak atas ilmunya…
    sangat bermanfaat banget pak, apalagi saya maba
    berkah terus pak dan sehat terus …
    dan tetap berbagi ilmu….

    Reply
    Selamet Riyadi 15 November 2016 at 05:57
    Assalamualikum wr wb
    Yth. Mbak Gita Dewi Anggraeni

    Tetap semangat dan terus belajar untuk masa depan yang lebih baik. Terima kasih do’anya.
    Aamiin… YRA. Do’a yang sama untuk Gita

    Salam sukses

    Reply
    rasyidaa 7 December 2016 at 19:17
    Assalamualaikum pak
    Terima kasih atas website bapa yang sangat bermanfaat bagi mahasiswa/i khususnya yang sedang melakukan penelitian.
    Saya hanya ingin menanyakan, apa ketentuan bank yang tidak ikut menyertakan perhitungan ATMR untuk risiko pasar?
    Terima kasih dan mohon bimbingannya pak.

    Reply
    Selamet Riyadi 20 December 2016 at 13:32
    Waalaikumsalam wr wb.
    Yth. Mbak Rasyidah,
    ATMR = Aktiva Tertimbang Menurut Risiko, mengacu pada Peraturan Bank Indonesia yang merujuk pada Bassel 1 (Bassel Accord 1), saat itu hanya melihat risiko Kredit atau Penggunaan Dana Bank secara keseluruhan. Lalu disempurnakan dengan Bassel 2 yang memperhitungkan Risiko Pasar (Market Risk) dan Risiko Operasional (Operasional Risk). Jadi dalam ATMR memang belum diperhitungkan risiko pasar dan risiko operasional, tetapi ketika menghitung CAR (Capital Adequacy Rasio) baru Bank memperhitungkan kedua risiko tersebut.
    Selamat belajat, tetap semangat dan semoga sukses. Semoga dapat menjawab pertanyaan yang disampaikan.
    Terima kasih
    Salam,

    Reply
    Surya 24 January 2017 at 17:33
    assalamualaikum.wr.wb
    pak saya sedang melakukan penelitian di Bank BPR,,dri perhitungan saya ini nilai CAR=>100%, apakah dengan nilai CAR diatas 100% ini bisa dikatakan “sehat” untuk tingkatan BPR?..jika diasumsikan jumlah modal Rp 250,000 dengan jumlah ATMRnya sebesar Rp 220,000..Modal/ATMR x 100% = 250,000/220,000 x 100% = 113,6%..
    pertanyaanya adalah:
    Jika modal lebih besar dari ATMR apakah itu termasuk kategori wajar?dan mohon solusinya..
    terimakasih banyak sebelumnya pak..
    wassalamualaikum.wr.wb.

    Reply
    Selamet Riyadi 23 February 2017 at 16:48
    Waalaikumsalam wr wb
    Yth. Mas Surya,
    CAR Perbankan pada umumnya dibawah 20% dan diatas 9%, walaupun BI menetepkan Car minimal 8%. Pernah ada satu Bank yang CAR nya mencapai hampir 100% yaitu Bank Ekspor Indonesia, hal ini disebabkan karena sebagian besar Kredit yang diberikan berasal dari Moalnya yang cukup besar, sementara Bank Ekspor tidak menerima simpanan dana masyarakat dalam bentuk DPK (Dana Pihak Ketiga). Demikian halnya dengan BPR, kisaran CAR sebagian besar ada diantara 30% ini tertinggi dan 14% untuk rendahnya. Jika Mas Surya mendapatkan perhitungan CAR yang melebihi 100%, coba di cek lagi apakah perhitungan ATMR nya sudah benar? Juga sebagai test case coba perhatikan perbandingan antara jumlah modal dengan dana pihak ketiga dan dana pihak kedua, biasanya akan lebih besar dana phak ketiga dita bah dana pihak kedua dibandingkan dengan modalnya.
    CAR melebihi 100% (113%) ini artinya bahwa seluruh kredit yang diberikan termasuk penempatan dana pada surat berharga dan bank menggunakan modal bank (dana pihak pertama), ini sangat janggal dilihatnya. Jadi coba di cek ulang apakah perhitungan ATMR dan Modalnya sudah benar?
    Cek memang perhitungan ATMR nya dan Modalnya sudah benar, ini dapat dikatakan wajar. Tapi yang jelas belum ada bank yang memiliki CAR melebihi 100%.
    Salam sukses dan tetap semangat….

    Reply
    Yutika 3 February 2017 at 08:54
    Selamat pagi Pak Selamet Riyadi.
    Mohon arahan untuk penelitian saya, yaitu Stress Test Posisi Devisa Netto terhadap Bank-bank di Indonesia, dengan sample 18 bank di Indonesia. PDN ini dikaitkan dengan kenaikan atau penurunan CAR tiap bank tsb.
    Setelah saya melakukan pengolahan data didapat data bahwa PDN/NOP di bank-bank sample saya tidak terlalu terpengaruh dengan adanya kenaikan kurs (baik itu skenario BI, maupun skenario worst, moderate, dan baseline).
    Yang ingin saya tanyakan adalah sb.
    Secara umum saya telah mengetahui bahwa hasilnya pasti akan seperti itu, yt. pengaruhnya tidak terlalu signifikan kepada CAR bank, karena tentunya bank-bank telah memperhatikan regulatory requirements dari OJK dan BI, jadi rasanya kok penelitian saya menjadi terlalu dangkal. Mohon saran ya Pak, untuk memperkaya penelitian saya tersebut.
    Terima kasih Bapak. Semoga berkenan menjawab,

    Reply
    Selamet Riyadi 23 February 2017 at 16:55
    Yth. Mbak Yutika,

    Sesuai ketentuan BI besarnya PDN maksimal adalah 20% dari Modal Bank. Dan banyak bank yang menelola PDN-nya dibawah 10%, ini artinya bahwa jika terjadi gejolak kurs Modal bank masih bisa menanggulangi risiko. Penelitian berdasarkan data yang diteliti, jika hasil penelitian menunjukkan seperti yang Mbak Yutika sampaikan itu sangat baik jika dilihat dari sisi regulatator dalam hal ini BI yang membuat kebijakan tentang PDN sudah mencapai sasaran, dengan kata lain adalah benar. Jadi hasil penelitian yang dilakukan tetap saja bermanfaat, tidak dangkal.
    Salam sukses dan tetap semangat…

    Reply
    Ervina fauziyah destriyani 12 August 2017 at 11:30
    Assalamualaikum…
    Selamat siang pak selamet riyadi..
    Mohon maaf menganggu waktunya pak saya ingin bertanya mengenai car bahwa formula car itu rumusnya modal yang terdiri dari modal inti ditambah dengan modal pelengkap di bagi dengan atmr..
    Namun pada saat saya melihat laporan keuangan bank victoria syariah dalam laporan tersebut hasil car di dapat dari modal yang terdiri dari modal inti di tambah dengan modal pelengkap dibagi dengan penyertaan hasil tersebut lalu di bagi dengan atmr… Bapak mohon penjelasannya mengenai bank victoria tersebut… Sebelumnya terima kasih pak

  16. weni says:

    Assalamualikum…
    perkenalkan nama saya weni. pak mau tanya bagaimna cara menghitung nilai kredit ROA . jika kita menggunakan rumus ROA laba sebelum pajak dibagi dengan total asset, misal nilai ROA yg didaptkan 3,67%, nah itu bagaimna cara menetukan nilai kreditnya pak. Mohon penjelasannya pak.
    Terimakasih…

  17. Putri NH says:

    Sore pak Selamet, sy Putri dan sy sdg melakukan penelitian mengenai tingkat kesehatan bank, sy mau tanya, apakah ada buku yang mengulas secara detail mengenai tatacara perhitungan per rasio CAMELS ya pak? mohon infonya pak,terimakasih.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *