Sedikit Cerita Tentang Film ‘Ketika Mas Gagah Pergi’

image_print

Siapa yang tak kenal Helvy Tiana Rosa? Kalau rekan-rekan belum mengenalnya, saya akan bantu rekan-rekan berkenalan dengan kakak Helvy. Saya ketemu kak Helvy beberapa kali, tapi hanya satu kali sempat berfoto bersama dengannya beberapa tahun silam saat kami sama-sama hadir menonton Teater Koma di Komunitas Salihara, Pejaten, Pasar Minggu. Kak Helvy yang saya kenal adalah seorang dosen, penulis, dan sekarang tulisannya pun diangkat ke Layar Lebar, tertuang di dalam sebuah film menarik bertemakan religi berjudul ‘Katika Mas Gagah Pergi’, sama persis dengan judul tulisan asli kak Helvy.

Film ‘Ketika Mas Gagah Pergi’ adalah sebuah film yang dibuat dengan menggunakan dana dari crowd funding (istilah ini lagi ngetren, silakan digoogle apabila belum mengenalnya^_^). Saya, walaupun belum pernah membaca bukunya, dari awal mendengar bahwa kak Helvy sedang membuat film ini sudah berniat akan menontonnya, bukan hanya karena saya ‘ngefan’ sama kak Helvy, tapi juga karena saya yakin film yang sudah ramai dibicarakan orang sejak awal proses pembuatannya ini, pasti akan menjadi sebuah tontonan menarik. Akhirnya, minggu lalu saya sempatkan menonton film ini di sebuah bioskop di daerah Kemang, Jakarta Selatan (film Indonesia masih kurang mendapat tempat di hati orang Indonesia sendiri, sehingga bioskop yang memutarnya biasanya tidak sebanyak bioskop yang memutar film film pop Amerika).

Ketika Mas Gagah Pergi adalah sebuah judul yang sederhana menurut saya, dan ternyata film ini memang mengisahkan tentang seorang Gagah yang pergi meninggalkan keluarganya ke Ternate selama beberapa bulan. Walau demikian isi cerita film kebanyakan bercerita tentang bagaimana kemudian Gagah pulang kembali ke tengah keluarganya, namun sosok Gagah yang kembali dari Ternate ini berubah menjadi seorang laki-laki yang lebih religius. Perubahan pada diri Gagah inilah yang kemudian menjadi konflik di dalam film yang berdurasi 99 menit ini. Sepanjang film diperlihatkan bagaimana reaksi keluarga, terutama respon kaget Gita, adik perempuan Gagah satu-satunya yang sejak kecil sudah sangat dekat dengan Gagah. Gita diperankan oleh seorang wanita mungil bernama Aquino Umar dengan ciamik, sementara yang berperan sebagai Gagah adalah Hamas Syahid. Mereka berdua adalah pendatang baru di dunia perfilman. Selain mereka berdua tentu saja banyak bintang film lainnya yang ikut mendukung film ini, di antaranya yang sudah lebih kita kenal ada Epi Kusnandar, Mathias Muchus, Nungky Kususmastuti, Wulan Guritno, Ustadz Salim A. Fillah, Shireen Sungkar, dan Irfan Hakim.

Jadi tunggu apalagi? Mumpung filmnya masih ada di bioskop, sok atuh ditonton filmnya, insyaa Allah bermanfaat sekalian kita mendukung perfilman Indonesia di negeri kita sendiri.

Oiya, ini laman situs kak Helvy Tiana Rosa http://sastrahelvy.com/, siapa tahu ada teman-teman yang tertarik membacanya 🙂

Jakarta, 27 Januari 2016
Adelina Fauzie

Adelina Fauzie About Adelina Fauzie

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *