Self Reminder

image_print

Tulisan menarik dari penulis yg “hebat”, semoga bermanfaat dan bisaa menjadi reminder buat kita semua 😉

*Pilu Hati

Kita berfoto di depan mobil mewah, diposting di media sosial, lantas menulis: “Hidup sederhana itu sangat membahagiakan. Mobil baru nih, yang Alphard kemarin sih sudah nggak bagus modelnya.”

Kita berfoto dengan latar seluruh kemewahan, marmer kemilau, kursi mewah, diposting di media sosial, lantas dengan caption: “Alhamdulillah, meski keluarga saya kaya raya, penghasilan bisa 200 juta per bulan, hidup apa-adanya itu ternyata membahagiakan. Lihat, tas yg saya pakai ini cuma Rp 100.000, tapi tetap bagus, loh. Di lemari sih ada yang puluhan juta.”

Kita berfoto sedang pesiar di LN, persis di depan menara Eiffel, diposting di media sosial, lantas dengan tulisan: “Bukan perjalanannya yang penting, bukan foto2nya, tapi pengalamannya, pemahaman baiknya. Kemarin di London, besok di New York, saya sudah mengunjungi 12 negara, 40 kota, rencananya sih mau naik kapal pesiar, wow….”

Kita memfoto lemari buku2 kita yang penuh sesak, kita tunjukkan seluruh koleksi buku2, termasuk menunjukkan tempat kuliah, lantas diposting: “Orang berilmu itu bicara sesuai pengetahuan. Orang bodoh bicara semau mulutnya. Ini koleksi sedikit, kemarin pas saya di Universitas XYZ, buku2nya lebih banyak lagi. Juga pas belajar di abc, di Eropa, di Amerika. Ah, apalah arti baca buku 2.000 buku.”

Pamer di jaman sekarang sudah masuk versi baru. Sudah di upgrade semua. Kita bahkan tidak paham lagi perbedaannya, bahkan boleh jadi, kita merasa sedang berbuat baik, amat mulia, saat sedang sibuk pamer.

Selamat datang di gemerlap etalase pamer sedunia. Saat kita tidak bisa menahan diri untuk mengumumkan apapun “milik kita”. Termasuk hal yang sangat personal, besok2, orang akan memposting slip gaji, kuitansi pembelian perhiasan, apapun itu, agar hatinya puas. Karena kita jelas sudah pamer kamar, toilet, rumah, sedang di mana, dsbgnya. Pamer makanan? Wah, itu sudah sejak lama. Semua kehidupan kita diumumkan, jika tidak posting foto dalam periode tertentu, tidak mengumumkan lagi ngapain, rasa2nya kurang hidup ini. Pusing kepalanya.

Selamat datang di jaman modern. Saat kita merasa kebahagiaan datang dari pujian2 orang lain. Entah kenapa, nafsu artis, pengin jadi selebritis itu ada di hati kita. Bukannya berkutat dengan prestasi, karya, kita lebih berkutat dengan komentar orang, like, komen, semakin banyak yang memuji, semakin senang rasanya. Berkerumun, persis seperti lalat mengerumuni bangkai.

Selamat datang!

Dan selamat tinggal hidup bahagia

Repost : Tere Liye

Dian Kurniawati About Dian Kurniawati
Sebaik-baiknya orang adalah yang banyak memberikan manfaat buat orang lain 🙂

Dian Kurniawati

Dian Kurniawati

Sebaik-baiknya orang adalah yang banyak memberikan manfaat buat orang lain :)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *