Kepemimpinan itu…

Kepemimpinan itu…

  1. Dimulai dari diri sendiri,
  2. banyak mendengar
  3. Dari atas ke bawah, sampaikan wawasan
  4. Dari bawah ke atas adalah untuk sehari-hari berkegiatan
  5. Bantu rekan-rekan dengan peningkatan sikap dan keterampilan
  6. Fikirkan bila berakhir jabatan, siapa yang akan meneruskan?




Bagaimana Meningkatkan Kapasitas Modal Manusia

Modal manusia (human capital) terdiri dari keterampilan, pengetahuan dan kemampuan individu yang relevan dengan pekerjaannya. Hubungan antar berbagai sumber daya (manusia, informasi, fisik, dan keuangan) dapat ditunjukkan dengan gambar berikut.

                                                        Leveraging Human Capital

McGee, J., & Channon, D. F. (2005). The Blackwell Encyclopedia of Management: Strategic Management. Blackwell.




Managerial Economics: Ilmu “Sapu Jagad”

Managerial Economics:

Ilmu “Sapu Jagad” agar Berkompetensi dalam Pembuatan Keputusan Ekonomi dan Manajemen

Oleh: Vincent Gaspersz, Lean Six Sigma Master Black Belt & Certified Management System Lead Specialist

Banyak lulusan dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), Fakultas Teknologi Industri (Teknik dan Manajemen Industri), maupun Program Pascasarjana Magister Manajemen (MM) atau Magister Teknik Industri (MT) yang seperti “kebingungan” ketika memasuki dunia PRAKTEK, seperti TIDAK TAHU apa-apa dalam membuat keputusan-keputusan manajerial yang berkaitan dengan bisnis, industri, ekonomi pembangunan, dll. Ketika disajikan data ekonomi dan bisnis, mereka seperti tidak memiliki “ilmu” apa-apa, padahal semua ilmu ekonomi (mikro dan makro), statistika, manajemen produksi, finance, accounting, marketing, decision making, dll telah dipelajari ketika mereka kuliah di perguruan tinggi.

FAKTA di atas menunjukkan bahwa meskipun kita telah belajar banyak mata kuliah TETAPI apabila pola berpikir kita ketika belajar setiap mata kuliah itu dilakukan secara PARSIAL (tidak terintegrasi dalam pola pikir SISTEM), maka tidak ada manfaat apa-apa dalam PRAKTEK di dunia nyata.

Lulusan pendidikan tinggi di atas, jika bingung ketika akan membuat keputusan-keputusan manajerial, maka saya meyakini “HAMPIR PASTI” mereka tidak pernah belajar Managerial Economics (Ekonomi Manajerial) dan/atau TIDAK MEMAHAMI secara benar serta TIDAK BERKOMPETENSI untuk mempraktekan Mangerial Economics (Ekonomi Manajerial) dalam dunia nyata untuk berbagai pembuatan keputusan ekonomi dan manajemen apa saja!

Jika demikian, apa itu Managerial Economics (Ekonomi Manajerial) yang sesungguhnya? Ekonomi Manajerial (Managerial Economics) bertujuan memberikan suatu kerangka kerja untuk menganalisis keputusan-keputusan manajerial. Paling sedikit Managerial Economics mengintegrasikan sekaligus sembilan mata kuliah inti di perguruan tinggi menjadi satu sistem pembuatan keputusan terintegrasi dalam bidang ekonomi dan manajemen (apa saja). Ke-9 mata kuliah inti itu adalah:
1. Ekonomi Makro (Macroeconomics)
2. Ekonomi Mikro (Microeconomics)
3. Matematika (Mathematics)
4. Statistika (Statistics)
5. Solusi Masalah & Pembuatan Keputusan (Problem Solving & Decision Making)
6. Manajemen Produksi dan Operasi (Production and Operations Management)
7. Manajemen Keuangan (Financial Management)
8. Manajemen Akuntansi dan Biaya (Accounting & Cost Management)
9. Manajemen Pemasaran (Marketing Management)


Daripada belajar ilmu-ilmu pengetahuan secara parsial yang TIDAK bermanfaat dalam dunia nyata (PRAKTEK), mengapa kita tidak mendesain saja kurikulum khusus untuk memperbanyak ilmu pengetahuan terintegrasi dalam sistem seperti: Ilmu “Sapu Jagad” Managerial Economics (Ekonomi Manajerial) yang bila perlu diberikan dalam bentuk: Pengantar Ekonomi Manajerial, Ekonomi Manajerial 1, Ekonomi Manajerial 2, Ekonomi Manajerial 3, Kapita Selekta Kasus-kasus Ekonomi Manajerial, dll.

Dengan demikian seorang lulusan perguruan tinggi dalam bidang Ekonomi, Manajemen, Teknik dan Manajemen Industri, akan berkompetensi menjadi manajer, karena tugas utama manajer adalah membuat keputusan yang mampu meningkatkan kinerja dari organisasi.

Pembelajaran Managerial Economics (Ekonomi Manajerial) sampai TUNTAS, apalagi ditambah metode pembelajaran modern: Problem-based Learning, akan menghasilkan lulusan S1 maupun S2 yang RUUUUAAARRR BIASA karena mampu berkompetisi secara global. Manajer di era informasi sekarang ini dituntut untuk MAMPU membuat keputusan yang EFEKTIF melalui “think through the problem” and “speak with data”!

Penggabungan 9 mata kuliah dalam sistem terintegrasi BUKAN parsial. Jika pengelola jurusan/fakultas ekonomi/manajemen/teknik industri adalah orang-orang yang memahami kebutuhan dunia nyata, maka mata kuliah managerial economics diberikan pada semester setelah 9 mata kuliah itu diberikan. Jika lebih cerdas lagi, maka 9 dosen mata kuliah akan dikumpulkan untuk pelatihan ekonomi manajerial, kemudian silabus setiap mata kuliah parsial dari 9 mata kuliah itu dirombak secara total agar semua bermuara pada pembentukan KOMPETENSI dalam managerial economics. Dengan demikian jangan ada lagi dosen matematika/statistika/teori ekonomi mikro/teori ekonomi makro/dst yang mengajar matematika/statistika/teori ekonomi mikro/teori ekonomi makro/dst TETAPI tidak berkaitan dengan managerial economics problems/issues. Demikian pula dosen-dosen mata kuliah yang lain tidak mengajar hal-hal yang tidak berkaitan dengan managerial economics problems/issues.

Jika lebih lebih cerdas lagi (cerdas kuadrat), maka semua mata kuliah dibuatkan modul pembelajaran ditambah case studies yang sesuai dengan penerapan baik pada kasus lokal (daerah) atau kasus nasional. Jika lebih lebih lebih cerdas lagi (cerdas kubik-pangkat tiga), maka metode pembelajaran berbasiskan Managerial Problem-based Learning melalui pembentukan kelompok-kelompok mahasiswa berukuran 4-5 orang untuk mendiskusikan kasus-kasus tentang managerial economics problems/issues. Jika lebih lebih lebih lebih cerdas lagi (cerdas pangkat empat), maka penulisan skripsi/tesis menggunakan studi kasus dalam managerial economics problems/issues. Hal itu baru rrruaaar biasa (lebih dari luar biasa). Tks.

Salam SUCCESS.

Vincent Gaspersz

 




Teknik Delphi: Membangun Konsensus

Teknik Delphi digunakan secara luas untuk mengumpulkan data dari responden dalam bidang keahliannya. Teknik ini dirancang untuk mencapai kesepakatan pendapat atas sutau masalah riel secara spesifik. Proses Delphi diterapkan pada berbagai bidang studi seperti perencanaan program, evaluasi kebutuhan, penentuan kebijakan, serta penggunaan sumber daya. Dalam teknik ini digunakan rangkaian kuesioner yang disampaikan kepada panel ahli dalam beberapa putaran.

1. Slide Teknik Delphi

2. Artikel: Chia-Chien Hsu and Brian A. Sandford, “The Delphi Technique: Making Sense of Consensus,” Practical Assessment, Research & Evaluation 12, no. 10 (2007): 1–8.

3. Harold A. Linstone and Murray Turoff, “The Delphi Method – Techniques and Applications,” The Delphi Method – Techniques and Applications, 2002, 1–616, doi:10.2307/1268751.

 




Research Onion

Saunders, Lewis, & Thornhill (2009) mengemukakan research onion dalam memahami metodologi penelitian. Dari filsafat hingga teknik dan prosedur diumpamakan seperti bawang, lalu ada lapisan-lapisannya yang meliputi.

  1. Philosophy
  2. Approaches
  3. Strategies
  4. Choices
  5. Time horizon
  6. Techniques & procedures

 

No automatic alt text available.
Saunders, M., Lewis, P., & Thornhill, A. (2009). Research methods for business students (5th ed.). Essex, England: Pearson Education Limited.




Menulis Bagian Diskusi

Dalam mengerjakan naskah karya ilmiah, bagian diskusi dapat ditulis dengan pendekatan bola salju. Hal ini dilakukan dengan menggunakan Google Scholar.

Image may contain: text

Image may contain: text

Image may contain: text

Image may contain: text

No automatic alt text available.

Image may contain: text

Image may contain: text

Image may contain: text

Syahrir Bin Zaini 




Memahami Regresi Berganda Secara Mudah

Gulden Kaya Uyanik & Nese Guler. 2013. A Study on multiple regression analysis. In 4th International Conference on New Horizons in Education. Procedia-Social and Behavioral Sciences 106, 234-240.




Ekonomi Mikro

Buku dan powerpoint

Pindyck, Robert S., and Daniel L. Rubinfeld. “Microeconomics.” (2013). Pearson Education, Inc.

I. Introduction: Markets and Prices

1.Preliminaries

2. The Basics of Supply and Demand

II. Producers, Consumers, and Competitive Markets

3. Consumer Behavior

4. Individual and Market Demand

4. Uncertainty and Consumer Behavior

6. Production

7. The Cost of Production

8. Profit Maximization and Competitive Supply

9. The Analysis of Competitive Markets

III. Market Structure and Competitive Strategy

10. Market Power: Monopoly and Monopsony

11. Pricing with Market Power

12. Monopolistic Competition and Oligopoly

13. Game Theory and Competitive Strategy

14. Markets for Factor Inputs

15. Investment, Time, and Capital Markets

IV. Information, Market Failure, and the Role of Government

16. General Equilibrium and Economic Efficiency

17. Markets with Asymmetric Information

18. Externalities and Public Goods

.

.

.

  POKOK BAHASAN

Presentasi kelompok

UTS

Pasar persaingan sempurna

Pasar monopoli

Pasar persaingan monopolistik, oligopoli dan teori permainan

Pasar faktor produksi

Risiko dan nilai waktu

Ketidakadilan pasar

Tujuan kesejahteraan

Presentasi kelompok

Presentasi kelompok




Mencari Tahu Jurnal berindeks ERA

Image may contain: text

Image may contain: text

ERA Journal Rankings Access




MINIMUM SAMPLE SIZE UNTUK EXPLORATORY FACTOR ANALYSIS (EFA)

1. GUILFORT (1954) RECOMMEND MINIMUM SAMPLE SIZE 200 FOR CONSISTENT FACTOR RECOVERY.

2. COMREY (1973) SUGGEST A RANGE MINIMUM SAMPLE SIZES, FROM 50 (VERY POOR) TO 1000 (EXCELLENT) AND ADVISED TO RESEARCHER SAMPLE SIZE LARGER THAN 500.

3. GORSUCH (1974) SAMPLE SIZE BELOW 50 (SMALL) & ABOVE 200 (LARGER).

4. CATTELL (1978) PROPOSED 500 WOULD BE A GOOD SAMPLE SIZE & HOWEVER 200 OR 250 COULD BE ACCEPTABLE.

5. BOOMSMA (1982) SAMPLE SIZE LESS 100 (DANGEROUS) & RECOMMEND 200 (SAFE) SAMPLE SIZE.

6. MACCALLUM ET AL., (199) & MACCALLUM ET AL., (2001) MINIMUM SAMPLE SIZE OF 60.

7. SAPNAS AND ZELLER (2002) SAMPLE SIZE RANGE 50-100 WAS ADEQUATE.

DAN BANYAK LAGI JUSTIFICATION OF SAMPLE SIZE MINIMUM & RECOMMENDED

Joost de Winter, Dimitra Dodou, Peter A Wiering. “Exploratory factor analysis with small sample sizes.” Multivariate behavioral research 44, no. 2 (2009): 147-181.

Nurul Fadly Habidin