1

Edhi Juwono – Belajar Rendah Hati untuk Terus Maju

Kerendahan hati adalah kunci untuk membuat kita terus maju. Kerendahan hati membuat kita terus move on. 

Artikel pada tautan berikut mengingatkan kita bahwa memandang remeh dan “keras kepala” sering kali membawa kehancuran.




Edhi Juwono – Sekilas tentang Infrastruktur Teknologi Informasi

Sampai saat ini infrastruktur teknologi informasi dapat dikategorikan ke dalam lima jenis, yaitu

  1. teknologi perangkat keras komputer,
  2. teknologi perangkat lunak
  3. teknologi manajemen data dan informasi,
  4. teknologi jaringan, dan
  5. teknologi layanan.

Pengetahuan tentang infrastruktur teknologi informasi diperlukan oleh kalangan praktisi bisnis atau para mahasiswa yang mempelajari manajemen bisnis ketika mereka akan mengembangkan sebuah sistem informasi. Infrastruktur yang memadai akan menentukan efektivitas atau keberhasilan impelementasi sebuah sistem informasi.




Edhi Juwono – Jangan Terlalu Mudah Mengambil Kesimpulan

Ada sebuah pelajaran moral yang patut disimak untuk menjadi arif di dalam menyikapi kejadian-kejadian yang berkembang di dalam masyarakat kita yang dewasa ini, yaitu mudahnya orang mengambil kesimpulan dari peristiwa yang dilihat atau didengar olehnya.

 

TENGGELAMNYA KAPAL PESIAR

Seorang guru menceritakan sebuah kisah kepada murid-muridnya di kelas. Kisahnya dimulai dengan sebuah kapal pesiar yang mengalami kecelakaan di laut dan akan segera tenggelam. Sepasang suami istri berlari menuju skoci untuk menyelamatkan diri. Sampai di sana, mereka menyadari bahwa anak mereka sudah berada di skoci, dan hanya ada tempat untuk satu orang yang tersisa. Segera sang suami melompat mendahului istrinya untuk mendapatkan tempat itu. Sang istri hanya dapat menatap kepada suaminya sambil meneriakkan sebuah kalimat sebelum skoci menjauh dan kapal itu benar-benar menenggelamkannya.

Setelah menceritakan kisah itu, guru itu bertanya pada murid-muridnya, “Menurut kalian, apa yang sang istri itu teriakkan kepada suaminya?”

Sebagian besar murid-murid itu menjawab,
“Aku benci kamu!”
“Kamu tahu aku buta!!”
“Kamu egois!”
“Tidak tahu malu!”

Namun, guru itu kemudian menyadari bahwa ada seorang murid yang diam saja. Guru itu meminta murid yang diam itu untuk menjawab. Kata si murid, “Guru, saya yakin si istri pasti berteriak, ‘Tolong jaga anak kita baik-baik.”

Guru itu terkejut dan bertanya, “Apa kamu sudah pernah mendengar cerita ini sebelumnya?”

Murid itu menggeleng. “Belum. Namun, hal itu yang dikatakan oleh ibu saya kepada ayah saya sebelum dia meninggal karena penyakit kronis.”
Guru itu menatap seluruh kelas dan berkata, “Jawaban ini benar.”

Kemudian, sang guru melanjutkan kisahnya. Kapal itu kemudian benar-benar tenggelam dan sang suami membawa pulang anak mereka sendirian.

Bertahun-tahun kemudian setelah sang suami meninggal, anak itu menemukan buku harian ayahnya. Di sana dia menemukan kenyataan bahwa, saat orangtuanya naik kapal pesiar itu, mereka sudah mengetahui bahwa sang ibu menderita penyakit kronis dan akan segera meninggal. Oleh karena itu, pada saat darurat itu, ayahnya memutuskan untuk mengambil satu-satunya kesempatan untuk bertahan hidup. Dia menulis di buku harian itu, “Betapa aku berharap untuk mati di bawah laut bersama denganmu. Tapi demi anak kita, aku harus membiarkan kamu tenggelam sendirian untuk selamanya di bawah sana.” Cerita itu selesai. Dan seluruh kelas pun terdiam.

Guru itu tahu bahwa murid-murid sekarang mengerti moralitas dari cerita tersebut, bahwa kebaikan dan kejahatan di dunia ini tidak sesederhana yang sering kita pikirkan. Ada berbagai macam komplikasi dan alasan di baliknya yang terkadang tidak mudah untuk dimengerti. Oleh karena itulah, kita sebaiknya jangan pernah melihat setiap peristiwa hanya dari luar dan kemudian langsung menghakimi, apalagi tanpa tahu apa-apa.

Mereka yang sering membayar untuk orang lain, mungkin bukan berarti mereka kaya, melainkan karena mereka lebih menghargai hubungan daripada uang.

Mereka yang bekerja tanpa ada yang menyuruh, mungkin bukan karena mereka bodoh, melainkan karena mereka lebih menghargai konsep tanggung jawab.

Mereka yang minta maaf duluan setelah bertengkar, mungkin bukan karena mereka bersalah, melainkan karena mereka lebih menghargai orang lain.

Mereka yang mengulurkan tangan untuk menolongmu, mungkin bukan karena mereka merasa berhutang, melainkan karena menganggap kamu adalah sahabat.

Mereka yang sering mengontakmu, mungkin bukan karena mereka tidak punya kesibukan, melainkan karena kamu ada di dalam hatinya.

Mereka yang sering menyanjungmu setinggi langit, mungkin bukan karena engkau pahlawan, melainkan mungkin karena mereka memaafkan keburukanmu.

Mereka yang selalu menghinamu dan menghakimimu, mungkin bukan karena mereka membencimu, melainkan karena mereka ingin menguji ketulusan cintamu.




Edhi Juwono – Encouraging and Discouraging

We cannot expect people will encourage us for what will do or for what we have done. Encouraging and discouraging are not the matter. What we received from the others are not the important thing. The matter is how we can capitalize what we have received.

We need both encouragement and discouragement. Encouragement can be considered as a booster for accomplishing a better performance, but discouragement can be considered as a push for achieving a tougher performance.




Edhi Juwono – Mistisisme dan Empirisme

Tidak semua orang menyadari bahwa kita hidup di dalam dunia yang dipenuhi oleh persepsi. Persepsi tentang dunia memengaruhi pola berpikir dan berperilaku. Paling kurang ada dua madzab yang mempengaruhi persepsi kita yang pada gilirannya membentuk pola berpikir dan berperilaku, yaitu madzab mistisisme (mysticism) dan empirisme (empiricism).

Mistisisme berkeyakinan bahwa dunia ini dipengaruhi oleh kekuatan di luar entitasnya. Dengan kata lain dunia bukan bersifat independen, melainkan dependen. Lebih jauh, diyakini bahwa kehidupan atau keberadaan sebuah entitias bergantung pada kekuatan lain atau entitas lain yang berada di luar jangkauan sebuah entitas. Contohnya, dunia bergantung pada sebuah bimasakti (galaxy), dan bimasakti bergantung pada alam semesta (universe). Keyakinan ini yang melahiran agama-agama yang mempercayai bahwa kehidupan manusia bergantung dan ditentukan oleh kekuatan lain (outer power), terutama, oleh Yang Ilahi. Dipercayai bahwa manusia adalah citra dari Yang Ilahi sehingga keberhasilan dan kebahagiaan seseorang ditentukan oleh kerahiman Yang Ilahi.

Empirisme berkeyakinan bahwa dunia adalah sebuah entitias yang berdiri sendiri (independen), berbeda dari entitas lain. Hal itu menjelaskan mengapa sebagai sebuah planet, bumi ini memiliki makhluk hidup, sedangkan planet lain tidak memiliki makhluk hidup. Empirisme meyakini bahwa kehidupan manusia ditentukan oleh manusia itu sendiri atau keuatannya sendiri (inner power). Dipercayai bahwa setiap manusia akan membangun atau membentuk citranya masing-masing (self-image) sehingga keberhasilan dan kebahagiaan seseorang dipengaruhi oleh dirinya sendiri.

Di samping tesis dan antitesis itu, muncullah konvergensi yang mencoba untuk menyelaraskan kedua madzab itu. Aliran ini mempercayai bahwa pada kebanyakan entitas yang dependen terdapat ruang “kebebasan” sehingga keberhasilan dan kebahagiaannya ditentukan juga oleh kemampuan memaknai “kebebasan” yang diberikan sebagai bagian dari kerahiman Yang Ilahi.




Edhi Juwono – Dilakukannya vs Dilakukan olehnya

Sering kali kita mendengar kata seperti “dilakukannya” di dalam sebuah kalimat seperti, “Pengembangan aset telah dilakukannya.”

Apakah sudah tepat penggunaan kata “dilakukannya” di dalam kalimat itu? Salah satu cara yang paling mudah untuk mengetahui apakah kata “dilakukannya” sudah tepat adalah dengan mengubah urutan kata sebagai bagian dari upaya memberikan tekanan pada kata tertentu. Misalnya kita akan memberikan tekanan pada siapa yang melakukan pengembangan aset, kalimatnya akan berubah menjadi, ” Nya telah dilakukan pengembangan aset” (?). Kalimat tersebut jelas tidak berterima. Oleh karena itu, pasti ada yang salah di dalam penggunaan kata “dilakukannya”. Alih-alih kata “dilakukannya”, adalah frasa “dilakukan olehnya” sehingga jika kita memberikan tekanan kepada siapa yang melakukan, kalimatnya menjadi, “Olehnya telah dilakukan pengembangan aset”

Dengan demikian, yang harus dicermati di dalam pengalimatan adalah menambahkan kata “oleh” di belakang verba atau kata kerja pasif. Jadi, frasa verbal kalimat aktif “melakukannya”  akan berubah menjadi verba berbentuk frasa atau gabungan kata verbal”dilakukan olehnya” di dalam kalimat pasif.




Edhi Juwono – Aset = Keberhasilan?

Dulu kebanyakan orang melihat keberhasilah sebuah organisasi atau individu di dasarkan pada aset yang dimiliki olehnya. Namun, artikel yang ditulis oleh Prof. Rhenald Kasali berikut ini mungkin dapat mengubah pandangan tersebut.

Coba Simak artikelnya tersebut                                                                                                                                   di sini: http://www.rumahperubahan.co.id/blog/2016/12/01/memanfaatkan-bukan-memiliki/ 




Edhi Juwono – Masukan dan Luaran?

Belakangan ini beredar penggunaan istilah “luaran” sebagai istilah atau kata yang diterjemahkan dari “output‘”

Coba kita telaah apakah penggunaan istilah “luaran” tepat untuk “output“. Salah satu cara yang paling mudah adalah dengan melihat antonim atau lawan katanya. Antonim dari “output” adalah “input“.

Istilah “input” diterjemahkan sebagai “masukan”. Selanjutnya, kata masukan berasal dari kata masuk, dan antonim dari kata “masuk” adalah “keluar”. Jika kita menggunakan kata “luaran”, kata istilah ini berasal dari kata “luar”. Antonim dari kata “luar” adalah “dalam”. Jadi, jika kita menggunakan istilah “luaran” sebagai terjemahan dari “output“, seyogianya kita akan menggunakan istlah “dalaman” sebagai penerjemah kata “input“.

Berdasarkan uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa, selama kita masih menggunakan istilah “masukan”–untuk menerjemahkan kata input, seyogianya kita menggunakan istilah “keluaran” sebagai kata terjemahan dari “output‘.




Tips Menggunakan Smartphone

http://menjadiwirausaha.com/tips-bagaimana-menggunakan-smartphone-secara-smart/




Pangan, Papan, Akal Budi

Seorang filsuf Cina, Konfusius pernah menyampaikan ungkapan yang jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia akan berbunya seperti berikut. “Jika kamu membuat rencana untuk satu tahun, tanamlah padi. Jika kamu membuat rencana untuk 10 tahun, tanamlah pohon. Jika kamu menbuat rencana untuk 100 tahun, didiklah anak-anakmu”.

Jika ungkapan itu dijabarkan lebih jauh, tampaknya apa yang diungkapkan oleh Konfusius itu tidak jauh berbeda dengan apa yang dipaparkan oleh Maslow beberapa ratus tahun kemudian. Paling tidak ada tiga tahapan di dalam membangun sebuah masyarakat. Tahap yang paling dasar adalah memenuhi kebutuhan pangan, kemudian memenuhi kebutuhan papan, dan terakhir adalah memenuhi kebutuhan akal budi.

Untuk mengembangkan pangan tidak diperlukan perencanaan jangka panjang, cukup perencanaan jangka pendek saja. Namun, untuk mengembangkan akal budi dibutuhkan perencanaan jangka panjang, dan untuk itu, pendidikan menjadi hal yang berperan di dalamnya. Sebuah bangsa yang masih berorientasi kepada pangan cenderung melakukan kegiatan-kegiatan jangka pendek, sedangkan bangsa yang berorientasi kepada akal budi, akan cenderung melakukan kegiatan-kegiatan jangka panjang.

Pemenuhan pangan dan papan terwujud pada kesejahteraan (welfare), sedangkan pemenuhan akal budi terwujud pada kebahagiaan (well-being). Dengan demikian, bangsa yang menetapkan kesejahteraan sebagai tujuan utamanya cenderung berorientasi kepada pencapaian tujuan jangka pendek, sedangkan bangsa yang menetapkan kebahagiaan sebagai tujuan utamanya cenderung berorientasi kepada pencapaian jangka panjang.