Apakah Sistem Informasi SDM diperlukan?

Peran Sumber Daya Manusia
Seperti yang kita tahu sekarang ini perguruan tinggi bukan lagi hanya merupakan institusi penyedia layanan pendidikan saja, tetapi sudah menjadi suatu kegiatan bisnis yang cukup menjanjikan. Sebagai suatu organisasi yang bergerak dibidang jasa maka perguruan tinggi berusaha untuk meningkatkan kepuasan pelanggan, melalui penerapan sistem yang efektif, dan terus melakukan perbaikan pada semua proses yang ada. Agar semua proses berjalan dengan baik perlu ditunjang oleh sumber daya manusia, infrastruktur, dan lingkungan perkuliahan. Sumber daya manusia mencakup pimpinan pengelola, karyawan, dan dosen. Penyediaan sumber daya harus memadai baik dari sisi kualitas maupun kuantitas.

Banyak perubahan terjadi dalam lingkungan sumber daya manusia yang menuntutnya untuk memainkan peranan yang penting dalam suatu organisasi seperti perkembangan teknologi informasi yang pesat, globalisasi, dan perubahan dalam dunia jabatan dan kerja. Tren teknologi akan mendorong suatu usaha bisnis menjadi lebih kompetitif. Dimana komputer pribadi (PC), pengolah kata, dan sistem informasi manajemen terus mengubah dunia kerja. Pemanfaatan teknologi informasi dalam proses-proses yang dijalankan membutuhkan sumber daya manusia yang terlatih dengan baik.

Semua pekerjaan, sampai yang paling sederhana sekalipun, membutuhkan karateristik masing-masing. Karateristik pekerjaan dapat dikelompokkan menjadi tiga yaitu: skill, knowlegde, dan orientation. Skills adalah kemampuan atau kompetensi khusus yang dibutuhkan oleh suatu pekerjaan. Secara umum kemampuan ini membutuhkan pelatihan dan pengalaman. Knowledge adalah informasi, pengetahuan dan wawasan, yang secara umum diperoleh lewat pendidikan, dan diperluas oleh pengalaman. Sedangkan orientation adalah sikap, kepercayaan dan pilihan yang dimiliki oleh karyawan.
Sumber daya manusia dengan gabungan ketiga karateristik pekerjaan di atas merupakan aset yang bernilai bagi suatu perusahaan atau organisasi. Aset ini perlu dipertahankan untuk kelangsungan hidup organisasi dan untuk terus bersaing di dunia bisnis. Pengembangan (development) sumber daya manusia mempunyai ruang lingkup yang lebih luas dalam upaya memperbaiki dan meningkatkan pengetahuan, kemampuan, sikap, dan sifat-sifat kepribadian.

Ketika suatu Perguruan Tinggi berkembang menjadi makin besar, dengan jumlah mahasiswa yang makin banyak, tentu akan dituntut untuk dapat memberikan pelayanan yang makin baik, cepat, dan akurat. Dengan jumlah sumber daya manusia yang terbatas semua proses harus dapat ditangani dengan baik. Hal ini tentu membutuhkan suatu proses pengelolaan sumber daya manusia yang tepat, dengan tujuan untuk meningkat kepuasan dan kenyamanan sumber daya manusia yang terlibat, sehingga mereka dapat bekerja lebih baik.

Ada beberapa masalah yang sering muncul dalam proses pengelolaan sumber daya manusia antara lain; proses rekruitmen memakan waktu yang sangat lama kurang lebih 3 bulan dari mulai pengajuan sampai diterimanya SK pengangkatan. Pelatihan karyawan untuk meningkatkan kemampuan karyawan belum merata dan terencana tiap unit, sehingga ada karyawan yang sering dikirim untuk mengikuti pelatihan dan ada yang belum pernah sama sekali dikirim untuk pelatihan. Selain itu terdapat data karyawan dan dosen dengan banyak versi.

Sistem Informasi Manajemen Sumber Daya Manusia (SIM-SDM)
Dalam strategi bisnis dengan orientasi pelanggan, proses mengelola dan mengembangkan sumber daya manusia merupakan salah satu ”critical process”, disamping proses-proses lain. Sistem Informasi Manajemen sendiri dibangun untuk mendukung semua proses tersebut, dimana tercakup didalamnya antara lain: proses perencanaan, pengorganisasian, dan pengendalian, serta dapat memberikan informasi mengenai kondisi riil organisasi.

Sistem Informasi Sumber Daya Manusia merupakan salah satu bagian dari Sistem Informasi Manajemen yang dibangun dalam keseluruhan organisasi. Sumber daya manusia merupakan aset yang sangat berharga bagi organisasi, sehingga manajemen sumber daya manusia merupakan salah satu pilar utama organisasi dalam mendukung pola penentuan strategi dan kebijakan secara terpadu. Keputusan-keputusan sumber daya manusia yang sehat harus didukung oleh informasi mengenai sumber daya manusia yang baik. SIM-SDM merupakan prosedur sistematik untuk mengumpulkan, menyimpan, mengambil, dan memvalidasi data oleh organisasi mengenai sumber daya manusia, dan kegiatan-kegiatan personalia.

Mengingat betapa pentingnya mengelola sumber daya manusia dengan tepat, maka sudah sewajarnya Sistem Informasi Manajemen Sumber Daya Manusia di Perguruan Tinggi menjadi salah satu hal yang perlu untuk dibangun dan dipelihara dengan baik.




“You don’t have to be rich to travel well.” – Eugene Fodor

Tulisan saya kali ini masih seputar piknik. Karena menurut saya piknik itu perlu banget. Apalagi buat bapak ibu dosen ya, setelah berkutat dengan tenggat waktu penyelesaian laporan penelitian dan jurnal, perlu recharge baterai sehingga siap untuk kegiatan berikutnya :D. Gak perlu jauh-jauh yang penting happy. Paling tidak pulau-pulau yang akan saya tulis ini, bisa jadi alternatif piknik kalau dana dan waktu terbatas, have fun :D.

Pulau Ayer
Dari data di web jakarta.go.id, wilayah administratif Kepulauan Seribu memiliki 110 pulau, nah loh terus yang 890 pulau lainnya kemana ya hihihi… Dari 110 itu sekitar 24 pulau memiliki luas lebih dari 10 Ha, jadi sebenarnya pulau-pulau ini bisa dikelilingi seharian.

Pulau pertama yang saya kunjungi adalah Pulau Ayer bulan April kemarin. Perjalanan dari Dermaga Marina Anyer ke Pulau Ayer ditempuh dengan waktu kurang lebih 20 menit dengan kondisi laut yang tenang. Tidak ada penduduk di pulau ini, karena dikelola secara pribadi oleh salah satu resort disana. Karena itu suasananya lebih nyaman, penginapan juga lebih bagus. Bahkan memiliki beberapa resort yang dibangun di atas laut. Sebenernya sih dari awal mupeng bisa dapat kamar di laut, tapi ya sudah karena jatahnya dapat di darat. Tapi tetep bisa jalan-jalan dan foto-foto (penting banget ini) di penginapan laut.

Kegiatan yang bisa dilakukan di Pulau Ayer selain jalan-jalan muterin pulau atau sepedaan, sedangkan kegiatan airnya bisa banana boat atau jetski. Gak ada jajanan ato warung jadi lebih baik perlu bw cemilan, klo belanja di toko yang dikelola resort ya siap-sia aja dengan harga yang berbeda :D.

Pulau Tidung
Sebenarnya popularitas pulau Tidung ini sudah sangat lama, gw aja yang telat kesana hihihi… Eh mendadak ada tawaran gratis, jadi deh awal Agustus kemarin kita nginep semalam di Tidung. Perjalanan dari Dermaga Marina ditempuh dengan waktu sekitar 1 jam. Perjalanan ke Tidung sekitar pukul 9 pagi, dengan kondisi laut tenang, hanya ada 1x jadwal kapal per hari dari Marina ke Pulau Tidung.

Sampai di Pulau Tidung, kondisi sangat beda dengan Ayer, karena Tidung ada penduduknya juga. Lumayan riweh keluar dari dermaga, dengan jalan yang tidak cukup lebar, penuh dengan pejalan kaki, sepeda, dan bentor, plus ada tenda kawinan. Ada banyak operator yang menyiapkan tour di Tidung, atau mau langsung cari penginapan sendiri pun bisa. Namun ternyata perlu banget untuk memastikan kontrak isi klo kita ambil paket dari Jakarta. Kejadian kemarin penginapan yang kita terima tidak sesuai dengan kontrak. Yang harusnya di tepi pantai, dapatlah kita penginapan ditengah-tengah pemukiman penduduk. Awalnya sedikit diskusi alot dengan operator disana, tapi pada akhirnya semua sepakat dengan penginapan terakhir setelah sempat pindah sekali penginapan. Itulah intinya jalan-jalan, harus siap dengan risiko, jaga mood, karena masih sampe besok. Sayang banget klo udah capek-capek pe sana trus bete, ntar fotonya gak cakep hihihi….

Abis makan siang, istirahat bentar, tim sudah siap dengan kegiatan pertama yaitu snorkeling. Biar gak bisa renang (kan ada pelampung), ini kegiatan yang sangat gw tunggu. Dari dermaga kita menuju lokasi dengan perahu nelayan bermotor. Disana sudah disiapkan peralatan snorkeling dan pelampung. Sampai di tujuan, langsung deh pada nyemplung. Untung pendamping snorkelingnya sabar. Gw yang masih kadang kesulitan nafas pake alat snorkeling, kali ini sukses. Mereka juga menyiapkan foto underwater-nya.

Kondisi koral disini sudah banyak yang rusak sih. Ikannya sih masih banyak ya, jadi foto underwater masih cukup baguslah hasilnya. Sekitar 1,5 jam kemudian semua tim naik. Barulah sampe kapal gw ngerasa perih-perih karena ternyata sempat kegores-gores karang selama snorkeling. Tapi itu mah biasa, di Raja Ampat luka jauh lebih besar dan meninggalkan kenang-kenangan sampe sekarang hikkss….

Sore abis snorkeling, lanjut dengan banana boat, tapi karena memang gw gak begitu suka (dan sudah pernah nyoba juga) gw pilih jalan-jalan aja seputaran Jembatan Cinta. Jembatan Cinta ini menghubungkan Pulau Tidung Besar dan Pulau Tidung Kecil. Jembatannya bagus, ada beberapa gazebo untuk istirahat dan menikmati laut yang bening airnya. Terapi buat matalah…., biasanya jarak pandang hanya 2 meter, sekarang biasa leluasa. Sore balik penginapan, mandi, makan malam, lanjut barbeque plus karaoke.

Besok paginya, abis subuh sambil gowes kita menyusuri pulau Tidung. Dari Ujung Jembatan Cinta, sampe Cemara Kasih (kata temen gw kenapa bukan Aura Kasih laahh….apa hubungannya ya). Cukup jauh sih, lewat pinggir pantai, alang-alang, lumayan membakar kalori dan sun bathing disana.
Puas sepedaan dan main di pantai, balik penginapan, bersih-bersih, makan siang, jam 2 kita sudah siap di dermaga untuk kembali ke Jakarta. Cuma perjalanan pulang kali ini ada sedikit cerita. Ombak yang cukup besar membuat sebagian penumpang pucat pasi dan nyaris (sebagian sudah sih) mabok laut. Apalagi pake acara mati mesin 2x hihihihi…..seru ya.

Alhamdulillah sekitar 1,5 jam kapal bersandar di Dermaga Marina Ancol. Sebagian turun dengan wajah pucat tapi happy. Toh setelah ini kita sibuk dengan rencana abis ini kemana lagi ya. Nah, sekian dulu ceritanya yaa.., moga-moga abis ini ada lanjutan ke pulau-pulau berikutnya.




Sudah siapkah SDM kita menerapkan e-Business?

Strategi Penyiapan SDM
Pengembangan SDM merupakan salah satu kunci strategis yang tidak dapat ditinggalkan begitu saja. Untuk mempercepat pengembangan SDM di bidang TIK perlu ada sebuah proses learning based education dimana SDM langsung terlibat secara aktif dalam proses pengembangan dan implementasi TIK. Akan tetapi hal ini sangat tergantung dari sumber pendanaan yang akan diberikan pemerintah untuk pendayagunaan TIK. Selama belum ada pendanaan yang sifatnya terpadu untuk TIK, maka Kota/Kabuptan hanya dapat mengandalkan sukarelawan yang mau berkecimpung di dalam TIK yang pada saat ini terdapat di Bagian Pengolahan Data dan Elektronik di pemerintahan daerah baik di kota maupun di pedesaan. Konsekuensi yang harus diambil dengan kondisi ini adalah setiap daerah harus menyiapkan sendiri operator dan SDM untuk mengoperasikan jaringan komputernya.

Pada saatnya keadaan masyarakat Indonesia sudah sampai pada tahap menganggap e-Business itu sebagai hal yang biasa dan lumrah. Maka untuk mencapai hal tersebut harus dilakukan melalui tahapan-tahapan yang terencana. Di samping itu perlu dikaitkan dengan definisi e-Business itu sendiri. Pada dasarnya dilihat dari kosa katanya e-Business terdiri dari 2 kata, yaitu electronic dan business. Electronic merujuk pada sarananya yaitu penggunaan infrastruktur digital, sedangkan business sendiri merujuk pada aktivitas yang melibatkan pada berbagai pihak. Mulai dari pihak produsen, kemudian institusi, point of sale, sampai pada konsumennya. Komponen yang mengikat konsumen dan produsen dalam aktivitas ini adalah barang/produk, informasi, dan keuangan. Untuk itu ada 3 (tiga) komponen yang terkait dengan e-Business yang masuk dalam kerangka informasi atau infrastruktur informasi yaitu: 1) alur produk jasa overing; 2) alur informasi; dan 3) alur uang. Dan aktivitas terjadi di atas tulang punggung infrastruktur digital. Jika dilihat dari kondisi tersebut maka kesiapan SDM dapat diartikan bagaimana masyarakat dapat menggangap bahwa ketiga alur tadi sebagai hal biasa atau lumrah dan sudah menjadi kebutuhan dalam kehidupan sehari-hari dan tidak lagi menganggap sebagai teknologi.

Kenyataan pada saat ini e-Business di Indonesia dapat digambarkan masih sebagai topi, artinya dari sisi tingkat kedewasaan (maturity), kepedulian (awareness), dan penggunaan masih beragam. Langkah yang wajar dan masuk akal adalah tidak menggunakan langkah yang liniear. Artinya tidak menyiapkan kesiapan orang dengan suatu kerangka pikir dari tidak mengetahui dan perduli (aware) kemudian dari aware menjadi menggunakan dan selanjutnya menjadi kebiasaan yang pada akhirnya menjadi bagian dari gaya hidup (life style). Penyiapan SDM ini tidak demikian, karena kenyataan di lapangan, kondisi di Indonesia mensyaratkan untuk melihat daerah secara berbeda dan melihat transaksi e-Business secara berbeda-beda pula, karena pendekatan e-Business sifatnya tidak monolitik atau tidak tunggal tetapi sifatnya tersebar. Jadi tantangan dalam penyiapan SDM adalah untuk pemahaman terlebih dahulu terhadap peta dari kondisi e-Business.

Identifikasi Stakeholder
Terdapat beberapa stakeholder atau pemangku kepentingan utama yaitu yang bertindak sebagai regulator. Disini harus dilihat bagaimana peran regulator untuk menjadi siap dalam e-Business. Stakeholder yang kedua adalah pelaku bisnis itu sendiri. Disini harus dilihat bagaimana pelaku bisnis ini siap untuk menjalankan e-Business. Stakeholder yang ketiga adalah masyarakat atau komunitas. Juga harus dilihat kesiapan masyarakat dalam menjalankan e-Business. Namun pada stakeholder yang ketiga ini perlu dipetakan lagi mengingat masing-masing komponen masyarakat memiliki perannya sendiri yang lebih khusus.

Pemerintah tidak hanya berperan sebagai regulator namun juga berperan sebagai inisiator, koordinator, dan fasilitator, sehingga bagaimana mendidik dan menyiapkan SDM untuk inisiator, reguator, dan fasilitator. Kesiapan SDM dari sisi ini dapat dilihat dari bagaimana di dalam pemerintah ada kelompok yang selalu siap sebagai inisiator dan fasilitator pekerjaan-pekerjaan e-Business, dan bagaimana pemerintah menyiapkan kelompok yang akan menjadi koordinator. Dalam hal ini perlu ada kebijakan khusus tentang peningkatan SDM disisi pemerintah, berdasarkan empat peran tersebut.

Dari pelaku bisnis, diperlukan kepastian, baik kepastian produk barang atau jasa, kepastian perlindungan terhadap kepentingan bisnisnya baik dari transaksi dan delivery produknya. Dalam hal ini yang paling penting adalah mengenai transaksi elektroniknya, yaitu bagaimana mempersiapkan transaksi ini dapat berlangsung. Kuncinya ada pada kepercayaan. Diperlukan SDM yang memang bekerja untuk membangun dan mengembangkan kepercayaan.

Kepercayaan di dalam e-Business itu adalah suatu masalah yang tidak mudah dengan bisnis biasa. Diketahui bahwa di dalam bisnis biasa berlaku kaidah pasar dan istilah ”Buyer Beware” atau “teliti sebelum membeli”. Teliti sebelum membeli menunjukkan bahwa ada faktor-faktor yang harus disepakati dulu. Dalam sistem bisnis internasional sudah ada mekanisme trust yakni mekanisme menggunakan kartu kredit. Kartu kredit ini dapat dipakai sebagai indikator trust. Dimana kalau orang bepergian kemana-mana di seluruh dunia, maka kartu kredit dapat digunakan untuk melakukan transaksi. Kartu kredit ini menunjukkan worthiness apakah seseorang itu layak untuk memperoleh hutang atau tidak. Jadi dalam kartu kredit tersebut sudah berlaku garansi dengan sebuah institusi yang sangat besar. Kartu kredit ini memberikan arti bahwa kalau seseorang memegang kartu kredit maka dengan sendirinya layak hutang. Dan data di kartu kredit tersebut sangat sederhana, ada Nama, kemudian ada Bank yang mengeluarkan kartu kredit tersebut, kemudian ada tanggal berlaku dan terakhir adalah kredit limit. Disini ada pola pikir yang terbentuk yaitu mengenai kepercayaan yang perlu dibangun dan disiapkan. Untuk keperluan tersebut perlu dilihat kesiapan SDM secara berkesinambungan melakukan agar kredit worthiness Indonesia terlindungi.

Pada kenyataannya kartu kredit Indonesia belum berlaku secara keseluruhan untuk melakukan transaksi e-Business, kalaupun berlaku masih terbatas. Dan ini menjadi masalah yang sangat riil didepan mata bahwa ini kembali pada penyiapan SDM yaitu orang-orang yang dapat melakukan pendekatan bisnis untuk mengembangkan trust ini. Orang-orang ini akan menjadi garantor atau assurance dan hal ini adalah yang paling pokok dibanding yang lain-lain. Ada perbedaan pokok bisnis tradisional dan bisnis elektronik. Bisnis elektronik tidak lagi mengenal batas-batas geografis atau batas-batas negara. Karena itu salah satu strategi dalam e-Business adalah menyiapkan orang-orang yang dapat membuat Indonesia menjadi salah satu respect countries. Dari sisi pelaku bisnis yang lain adalah penyiapan SDM yang siap menjalankan e-Business Supply Chain. Yang dimaksud dengan e-Business Supply Chain adalah seluruh mata rantai nilai, bagaimana produk atau jasa itu berpindah dari satu tempat ke tempat lain dan bagaimana ini dapat diikuti dari kerangka e-Business.

Kemudian SDM lain yang perlu dipersiapkan adalah komunitas-komunitas e-Business dalam pengertian sebagai konsumennya. Hal berkaitan sekali dengan kegiatan SDM yang dapat membantu menyiapkan perilaku. Pengertian menyiapkan perilaku adalah menyiapkan sosial ekosistem untuk e-Business secara intensif. Karena sebetulnya kalau bicara e-Business, apa yang dilakukan adalah membuat rekayasa sosial, dimana life style atau gaya hidup itu diubah, dengan memanfaatkan kantung-kantung atau hot spot yang cocok untuk persiapan life style ini. Life style e-Business ini akan mudah dilakukan untuk tempat-tempat yang memang bisnis intensif. Karena itu perlu kesiapan SDM untuk mengetahui konservasi gaya hidup dari business to business, business to consumer, dan consumer to consumer.

Pada prinsipnya penyiapan SDM dilakukan dengan dua kelompok aktivitas, yaitu bersifat reaktif dan proaktif. Reaktif artinya e-Business sudah terjadi kemudian masyarakatnya baru disiapkan. Proaktif artinya sambil e-Business disiapkan masyarakatnya juga disiapkan. Hal tersebut tentu berkaitan dengan masalah usaha dan biaya. Pendekatan reaktif memerlukan platform teknologi dan offering-nya dilakukan terlebih dahulu baru kemudian masyarakat didisain untuk itu.

Sumber gambar: Google
Daftar Pustaka
Laudon, Kenneth dan Carol Traver. 2002. E-Commerce: Business, Technology, Sosiety. Prentice Hall
Groff, Todd R. dan Jones, Thomas P. 2003. Introduction to Knowledge Management: KM in Business. Butterworth-Heinemann
Depkominfo. 2003. Kebijakan dan Strategi Nasional Pengembangan e-Government (Inpres no. 3 Tahun 2003). Depkominfo
Drucker, Peter Ferdinand, dkk. 1998. Harvard Business Review on Knowledge Management. Harvard Business School Press
Weill, Peter dan Michael R. Vitale. 2001. The E-Business Revolution. Harvard Business School Press
Dessler, Gary. 1997. Human Resource Management. Prentice Hall Inc., USA.




I have no ipad, iphone, or even Mac, I just need more memories to keep my journey :D

Ini adalah cerita lanjutan perjalanan saya ke Indonesia bagian Timur, yaitu Misool, Raja Ampat, Papua Barat. Klo dilihat dari peta, posisi Misool ada di Semenanjung Kepala Burung yang berdekatan dengan Ora, Pulau Seram, Maluku. Berhubung belum ada operator yang menyediakan moda transportasi dari Ora langsung ke Misool, jadilah saya balik dulu ke Ambon. Dari Ambon kami terbang ke Sorong, pelabuhan terdekat menuju Raja Ampat. Penerbangan dari Ambon ke Sorong hanya ada 1x sehari pagi pukul 07.45 WIT menggunakan Wing Air, yang ditempuh kurang lebih 1 jam. Sampai di Sorong, bersama dengan 4 orang teman, kami menginap semalam di hotel Guardian Family dengan lokasi dekat bandara Dominique Edward Osok. Hotelnya bersih bisa jalan kaki dari bandara, cm sayang gak ada liftnya :D.

Hari 1. Keesokan hari kami bertemu dengan rombongan lain di pelabuhan Sorong, dan bertolak ke Misool, menggunakan kapal boat dengan kapasitas 25 penumpang, kapal lebih besar daripada yang biasa kita gunakan di Ora, Maluku. Perjalanan dari Sorong ke Misool ditempuh dengan waktu kurang lebih 4 jam. Berhubung posisi Misool ada di selatan dan berbatasan dengan laut bebas, lumayan deh gelombangnya, berasa banget kayak naik kora2, di tengah2 laut, dan gak ketemu kapal lain satupun. Yaakk…, our adventure start form today….:D

Pulau pertama yang kami kunjungi adalah Pulau Banos, pulau yang memiliki pantai landai ini menjadi tempat makan siang kami. Pulau kecil ini juga memiliki tebing karang, khas pulau2 di Raja Ampat. Dari pulau Banos lanjut ke sebuah pulau dengan gua karst yang masih sangat alami. Trekking dimulai, harus hati2 karena kepala bisa nyenggol stalagtit. Dalam gua ini ada batu yang menyerupai seorang putri yang sedang termenung, maka disebutlah gua ini Gua Putri Termenung.

Dari gua perjalanan dilanjutkan ke Kampung Harapan Jaya, tempat kami menginap. Karena di Misool penginapan sangat terbatas, kami menyewa rumah penduduk selama 5 hari 4 malam. Sampai di dermaga, kami disambut oleh rombongan anak2 yang keren (saya bilang keren karena mereka spt atlit loncat indah semua hihihi….). Setelah bebersih plus menikmati cemilan dari ibu pemilik rumah yang kami tempati, kami balik ke dermaga. Menunggu sunset, sambil menikmati suguhan loncat indah alami…, wah bener2 bikin sirik gaya renangnya :D. Disini listrik hanya nyala dari 6pm-6am saja. Jadi siapkanlah power bank yg cukup agar gadget tetap eksis selama trip. Operator satu2nya yang sampai di wilayah ini hanya Telkomsel, walaupun kadang agak lambat tetapi bisa digunakan untuk akses internet.

Hari 2. Yang membedakan trip ke Misool dari trip yang lain adalah, kemana kita akan pergi tergantung dari cuaca dan ombak laut hari ini. Excited deh pokoknya. Kami menuju gua peninggalan kerajaan Misool (Gua Keramat), menyusuri gua dengan berenang (bagi yang bisa berenang), klo saya sih sdh pasti dengan live jacket dong, menuju danau air tawar yang ada di tengah pulau dengan sedikit trekking. Setelah gua keramat ini kami kami menuju gua Tengkorak, wah gak ada pantainya, kapal merapat ke tebing dan langsung meloncat ke gua. Cuma jumlah sisa2 tulang belulang manusia purba ini makin berkurang karena ada aja yang bawa pulang. Ini bagian yang menyebalkan dari pariwisata di Indonesia. Kemudian lanjut ke pulau2 batu yang memiliki bekas2 jaman prasejarah, ada gambar telapak tangan, burung, dan benda2 lainnya. Tapi trekking yang berkesan hari ini adalah menuju danau ubur2 yang tidak menyengat seperti di Derawan. Danau air tawar yang penuh ubur2 ini luar biasa deh, dari permukaan saja sudah sangat kliatan. Begitu kami masuk dan snorkeling waahh.., keren banget dalamnya. Berenang di danau ini dilarang pakai fin karena bisa melukai ubur2. Dan disinilah saya menorehkan tanda mata, krn kaki lecet2 kena karang ketika trekking. Menurut teman yg sdh pernah ke Derawan, jumlah ubur2 di Misool ini jauh lbh banyak dan lebih cantik.

Hari 3. Cuaca lebih terang, kami menuju ke Yapap dan Balbulol (Xmas Tree). Disini spotnya luar biasa keren, batu2 karang menyerupai pohon natal, dan panorama underwater yang cantik. Mampir ke pulau Gamfi untuk makan siang, dan trekking sedikit untuk melihat danau diantara laut dari atas bukit. Perjalanan ditutup dengan trekking ke bukit Harfat Jaya. Trekking selama 30 menit ini telah menghabiskan sekian kalori deh, luar biasa lah. Apalagi buat kita yang biasa naik ojek kemana2, berasa boo…..:D. Sebenarnya saya sdh mau menyerah, tp Anis, salah satu kru kapal menyemangati saya dan menemani trekking sampe puncak. Tapi semua terbayar, pemandangan Raja Ampat Selatan terpapar sepanjang mata memandang. Cantik sekali…, 10 jempol deh buat kekayaan alam Indonesia.

Hari 4. Di Misool ini selain adventure, kami juga mampir ke SD Harapan Jaya, dan berbagi cerita serta buku dengan murid disana. Berinteraksi dengan mereka, mendengarkan apa yang menjadi cita2 mereka, diantara keterbatasan fasilitas, mereka tetap anak2 yang bersemangat.

Kami mendapat kesempatan mampir ke MER (Misool Eco Resort). Salah satu eco resort terbaik di dunia. Cuma mampir loh, karena biaya nginap disini selama 3 hari (minimal) sama dengan rate gaji LK di Perbanas. Resort ini bekerjasama dengan penduduk untuk menjadikan laut di sekitarnya menjadi sangat dilindungi. No smoking, no fishing, dan no no lain berlaku disini. Tapi lautnya keren deh, begitu ditabur ikan kecil, wooww…. hiu dan ikan2 besar lainnya betebaran. Makan siang kami bersantai di pulau Yele, snorkeling dan bermain dengan baby hiu. Pulang kita ktm dgn rombongan lumba2, keren ya. Gak sempat difoto saking takjubnya, tp terekam dengan indah di memori.

Sebelum sampai di penginapan kami mampir ke desa sebelah untuk menikmati kelapa muda. Memuaskan diri sebelum besok kembali ke Sorong. Yang seru adalah waktu guide lokal kami mengajari menggunakan panah, dan membuat lomba memanah amatiran, ternyata byk juga bakat terpendam dari peserta juga. Sebagian peserta ada juga yang belajar menggunakan perahu kayak, dan dilanjutkan dengan snorkeling. Akan tetapi karena ombak cukup besar rombongan lebih cepat kembali ke penginapan.

Malam harinya acara hiburan dengan membuat kuis buat anak2 disana dengan hadiah coklat dan permen. pertanyaan simpel seputar Misool dan Raja Ampat, supaya mereka kenal dan mencintai daerahnya, dan pasti mengingatkan mereka untuk tidak membuang sampah sembarangan. Yg paginya mereka malu2 di sekolah, malam ini byk yg mendekati saya dan bisik2 apa yg menjadi cita2 mereka besar nanti. Semoga Tuhan memberkati mereka semua.

Hari 5. Pagi jam 8 kami bersiap kembali ke Sorong, siap2 dengan perjalanan di laut selama 4 jam. Rombongan diantar oleh warga desa Misool terutama anak2 yg menjadi teman kami selama ini. Hampir 2,5 jam pertama perjalanan suasana ombak sangat aduhai. Kapten Akbar yang mengarahkan kapal terlihat santai dan sesekali berkelakar mengingat suasana kapal yg mulai sunyi senyap, antara mabuk laut, dan sibuk merapal doa :D. Mendekati pulau Salawati ombak cukup tenang sampailah siang kita di Sorong, makan siang, dan check in hotel.

Malam hari kita menikmati kota Sorong, mampir ke toko oleh2, yang didominasi dengan koteka, tas, dan asesoris. Lanjut ke toko batik dengan motif Papua, dan terakhir ke toko Icon Raja Ampat. Desainnya bagus, cm klo buat saya yg hidup di Jawa, harganya sih agak mahal ya :D>

Hari 6. Hari terakhir, kembali ke kota masing2, dengan oleh2 kenang2an yang indah selama di Misool, bersama dengan teman2 trip, guide, dan kru kapal yg luar biasa (Kapten Akbar, Amal, Anis, dkk)

Tambahan info buat yang berminat ke Raja Ampat, berapa biaya yang harus disiapkan.
– Open trip dengan biaya 5,85jt per orang utk 6 hari 5 malam, include kapal, makan, penginapan, pin Raja Ampat, dan alat snorkelling (tetapi disarankan untuk bawa sendiri)
– Sharing cost dgn estimasi biaya (saya kumpulkan dr bbrp sumber) sewa kapal (kapasitas 20 orang) selama 5 hari sekitar 45jt, penginapan sekitar 450rb sehari 3x makan per orang.
– biaya lain2: Pesawat PP Jakarta-Sorong 4-4,5jt, pin masuk Raja Ampat 500rb,plus tip buat kru dan guide lokal.

Dijamin gak nyesel, keren bingiit pokoknya.., salam Jelajah Indonesia :D.




Sepotong Surga yang tertinggal di ujung timur….

Sayup2 lagu Indonesia Tanah Air Beta lirih terdengar di telinga, tatkala pilot memberikan pengumuman bahwa tak lama lagi pesawat akan mendarat di Ambon. Ahaaiii…, rasanya tak sabar buat melanjutkan travelling ke salah satu pulau besar di Kepulauan Maluku ini. Pulau Seram, adalah tujuan travelling saya di tahun ini. Pulau yang menyimpan keindahan pantainya…, dan kini akan saya kunjungi adalah Pantai Ora di daerah Sawai. Pantai cantik dengan air yang sangat bening ini sangat terkenal di kalangan traveller jelajah Indonesia.

Dari bandara Pattimura Ambon, perjalanan dilanjutkan menuju ke Pelabuhan Tuhelu dengan pemandangan sepanjang jalan yang sangat memanjakan mata. Rombongan sempat mampir ke Pantai Natsepa untuk menikmati sarapan nasi kuning khas Ambon. Sampe di Pelabuhan Tulehu perjalanan ke Pelabuhan Amahai ditempuh sekitar 2 jam dengan kapal cepat, dimana beberapa menit diantaranya ombak berasa seperti goyang dumang…, aduhai rasanya….:D

Sampai Pelabuhan Amahai, lanjut perjalanan darat kurang lebih 2 jam dengan kondisi jalan seperti goyang itik, mantab deh pokoknya hihihi…., sampai akhirnya sampailah kita di Desa Saleman. Sudah sampaikah? Tentu belum :D. Dari Desa Saleman, kita masih lanjut dengan kapal boat sekitar 20 menit untuk sampai di lokasi.

Tapi semua itu terbayar sudah…., rasa takjub dan puji syukur yang luar biasa setelah sampe ke pantai Ora dan sekitarnya. Lautnya bening, sampai koral di dasarnya pun kelihatan. Pantai di sekitarnya memiliki gradasi warna yang keren, putih, kuning, hijau, dan biru. Sebagaian pantai memiliki gugusan karang yang tak kalah cantik.

Disana ada beberapa penginapan yang dapat dipilih, Ora Resort Beach, Lisar Bahari, dan lain sebagainya. Kesamaannya adalah penginapan ini dibangun di atas laut, dengan air yang jernih. Kalau kita tebarkan makanan dari atas maka ikan-ikan beraneka warna akan muncul berebutan, cantiiiikkk bingiit pokoknya :D.

Selain bersantai di pantai, kegiatan lain adalah snorkeling, trekking di desa Saleman untuk melihat keindahan pantai dari atas, menjelajahi gua sepanjang gugusan karang, dan mabok lobster hihihi….. Disana lobster murah banget, so puas2in deh. Karena posisi pantai ada di teluk, maka kondisi air relatif tenang, dan hampir sepanjang hari kegiatan kita selalu menggunakan kapal boat, jadi cukup tenanglah untuk manusia darat seperti kita.

Di Desa Sawai ini hanya ada SD, jadi untuk SMP dan selanjutnya maka anak-anak akan menggunakan perahu motor tiap pagi untuk sekolah. Keren banget deh semangatnya…

Saya tambahkan beberapa foto yang sempat merekam keindahan pantai Ora ini, maaf ya klo gambar saya ikutan nampang. Bukan karena mau eksis seh, cuma biar percaya klo saya beneran kesana, bukan gambar yang diambil dari Google hahhahhaa….. Setelah perjalanan dari Ora, rombongan kembali ke Ambon. Sisa hari kami lanjutkan dengan tur di Pantai Natsepa untuk menikmati rujaknya yang terkenal, menikmati senja di Pantai Liang, memberi makan belut moreo (belut raksasa), foto-foto di kawasan Ambon City of Music, Gong Perdamaian, dan belanja suvenir.

So, mau travelling ke timur? Saya rekomendasikan Maluku Trip ini buat bapak ibu semua….. Ssstttt..disini sinyal lancar loh, jadi tetap bisa mantau e-learning dan tetep bisa liburan. Jadi bu dosen tetap bs liburan dan mahasiswa bahagia. Pokoknya cantik serasa sepotong surga yang tertinggal di timur….., dan tunggu catatan perjalanan saya selanjutnya ke Misool, Raja Ampat.

Saya tambahkan estimasi biaya ke Ora, Pulau Seram, Maluku dari beberapa sumber.
Open trip dengan biaya 3,85jt selama 4H3M, tdk termsk tiket pesawat dan tip

Estimasi share Cost 12 orang.
Day 1. Sampai Ambon di Sore hari, pesawat Jakarta-Ambon PP 2-2,5jt
Day 2. Perjalanan ke P.Seram (berangkat Tulehu jam 9 dengan 3 jam perjalanan – tiket 125rb (ekonomi) 25rb (VIP), lanjut jalur darat 3 jam ke Saleman – rental mobil 700rb/car, lanjut nyebrang pake ketingting ke penginapan Lisar Bahari Sawai 40 menit – 250rb/ketingting muat sampai 15 orang jika tanpa barang)
Day 3. Hopping Island (ambil paket di Lisar Bahari, 800rb/long boat – muat sampai 20org)
Day 4. Ke Pulau 7 (ambil dari Ora Resort, 1.2jt/speed boat – muat sampai 15org) 1 jam perjalanan dr Ora Resort.
Day 5. Menikmati Ora Resort – kemudian balik ke Ambon (sewa speedboat ke saleman 150rb/speedboat, mobil ke Masohi 700rb/car, kapal 125rb/org, mobil dr Tulehu ke Ambon kota 200rb)
Day 6. Keliling Ambon (keliling kota & stop di beberapa pantainya, sewa mobil 500rb/car)
Penginapan: 2 malam di Ambon Victoria Guest house (100rb/mlm/org), 2 malam di lisar bahari (300rb/mlm/org), 1 malam di ora resort (700rb/kamar laut+250rb/org untuk makan)

Pesawat Jkt-Ambon 1,3-1,5jt sekali jalan

Note lain: listrik hanya menyala jam 6pm-6 am, so sediakan powerbank yg cukup. Operator seluler yang sampai disana adalah Telkomsel, meski lampat masih bs digunakan utk akses internet




Strategies and Implementation Steps Green ICT Campus

Team of Connection Reseach and RMIT University in Melbourne, preparing a Green ICT Framework, which defines the concept of Green ICT and as well as provide an understanding of the components involved in the concept of Green ICT. This framework, known as Connection Reseach-RMIT Green ICT Framework, in which there are four (4) categories of Green ICT area known as the “pillar”, namely: Lifecycle, End Users, Enterprise, and Enablement. And each pillar will be broken down into several categories again. Besides these pillars there are five (5) the action is: Attitude, Policy, Behavior, Technology, and Metric (Philipson, 2010).

Here’s an explanation of the Pillar and Action by one existing on-RMIT Reseach Connection Green ICT Framework (Philipson, 2010).
1) Pillar 1: Equipment Lifecycle
This pillar includes the procurement of ICT equipment, disposal, and recycling activities. All ICT equipment will pass through the “lifecycle”, starting from the production, sale, use (and even reused), also ultimately discarded. ICT equipment disposal process can be a way tampered with, or can be given to an individual or another company, or sale. Thus that a “lifecycle” can be the the part of other “lifecycle”. Equipment Lifecycle pillar consists of:

a. Procurement
Two aspects are considered in green procurement is the nature of the equipment itself and the nature of the company or supplier of such equipment. Aspects of the nature of the equipment itself one can use the Energy Star label, indicating that the equipment meets the standards of Green ICT, tested, and certified or official label. As for the company or supplier of such equipment is already implementing regulations and standards that apply in Green ICT, including the tender, the manufacture of ICT equipment, up to distribution. To ensure that the regulations and standards is done, the company uses a measuring instrument that has been tested and using the applicable certification system.
b. Recycle and Reuse
Each company has a regular schedule to perform the replacement of ICT components (hardware or software). Replacement is done periodically, or wait until the condition of these components can not be reused, or can no longer meet the needs of the company. But sometimes the replacement is done too quickly, especially for software, because the speed out the latest software version. To overcome this, then during the process of updating the system (hardware and software) can be considered to not do a whole replacement. Eg by maintaining hardware can still function properly, and the software still has the support of the vendor.
c. Disposal of ICT System
At the end of the ICT equipment will be disposed of when physically been damaged or have been unable to function. Thus need to be considered garbage disposal due to ICT systems (electronic waste or e-waste). In order not to pollute the environment then the garbage can be sent to the e-waste management company.

2) Pillar 2: End User Computing
This pillar is part of a framework that directly relate to the control exercised by the ICT system users (end user).
a. Personal Computing
Personal computing include: Desktop Computing and Mobile Computing. Desktop computing will be related to the number of users in the enterprise, the greater user will generate greater carbon footprint. PC Power Management technology usage or thin client computing can be used to reduce the number of desktop PCs. The increase of the number of users within a company are not always directly proportional to the increase in the number of PCs because most companies provide an opportunity for employees to work in mobile. However, the use of multiple mobile devices simultaneously for each user is ultimately also be a separate issue to the problem of electrical energy consumption and environmental impact.
b. Departemental Computing
In large organizations, computers used by an end user away from the supervision of the Department of Computing, so it needs to be setup. While at the Department of Computing own, ICT equipment such as servers and various ancillary equipment being targeted priority setting and resource use energy more efficiently.
c. Printing and Consumables
The printer is the amount of equipment that is widely used in the enterprise, uses the electric power inefficient, because when idle, the printer still uses power. In addition, the printer also uses paper and ink, which in the manufacture of paper and ink have an impact on the environment. And waste paper and ink to give a bad impact on the environment too. There needs to be setting the number of the printer (printer sharing mechanism), paper consumption wisely, and distribution of data in softcopy can reduce this risk.

3) Pillar 3: Enterprise Computing
a. Data Centre ICT Equipment
Two major equipment at Data Centre is a server (including mainframes) and storage devices. The server consumes a large electric power consumption, and increased when working processor is also increasing. When the processor increases, the required cooling equipment using greater power. While the use of storage rose exponentially as the price of storage are getting cheaper, so its use is also increasingly ineffective.
b. Data Center Enviromental
Power consumption issues relating to the Data Center Environmental was higher than the power consumption of ICT equipment it’s own, namely: 1) Power supply, including the backup process; 2) Cooling and Lighting, also the equipment outside the ICT equipment that uses a lot of power; and 3) special building for a separate data center.
c. Networking and Communication
Are included in this area are: 1) Local Area Network, which typically use a lot of wires, it is necessary to more efficient cable management; 2) Wide Area Network, often using a VPN or leased line facilities, so it is necessary to control the use of the network as a whole; 3) Wireless communication, this technology reduces the amount of cable in the LAN, but the wireless equipment that stays on when not in use also affect the use of electrical power.
d. Outsourcing and Cloud Computing
Cloud concept is to store the data in the “cloud” that is not known to exist, and whether the company is also using the concept of Green ICT, is also a consideration in the concept of Green ICT.
e. Software Architecture
Software architecture is often determine the hardware architecture used. If the new software requires new hardware specs, then the use of electric power and the old hardware that is no longer used should be considered. In software development, programmers can use the code / syntax that is more efficient, speeding up the execution of the program, to reduce power consumption. Murugesan (2013) also makes the classification on the green software into four categories, namely: 1) software that is more environmentally friendly by consuming less energy; 2) integrated software that helps other work being environmentally friendly; 3) Carbon Management Software (CMS); and 4) a software that can adapt to changes in the weather, estimates the implications and provide thoughtful responses.

4) Pillar 4: ICT as Low-Carbon Enabler
a. Governance and Compliance
Some Green ICT standards may be issued by the association or government. Some countries are already making policy on Green ICT is India by issuing the Green India Mission Under the National Action Plan on Climate Change (NAPCC) in 2011. Britain became the first country to make use of Green ICT policy in education institutions. The Climate Change Act, which came out in 2008 requires universities and large schools to monitor the electrical energy uses (Suryawanshi & Narkhede, 2013). Although Indonesia there are no specific regulations on Green ICT, but has the Government Regulation No. 70 of 2009 on Energy Conversion.
b. Teleworking and Collaboration
The concept of teleworking is used to work remotely, so no need to use the long journey to get to the workplace. With collaboration, the work can be carried out including meetings via teleconference or other technologies. Use of this telecommunication devices still need to be monitored to make it more efficient.
c. Business Process Management (BPM)
BPM will review a series of business processes from start to finish, the process is not effective, redundancies, and unnecessary can be cut / removed to shorten the business process through.
d. Business Application
Many companies use a variety of business applications with large scale such as ERP (Enterprise resourse Planning), SCM (Supply Chain Management), or CRM (Customer Relationship Management). In the selection of business applications should be noted that this application can cut or reduce the data processing time and what hardware needs to be prepared.
e. Carbon Emission Management
By using Carbon Emissions Management Software, the company can consistently measure the carbon emissions resulting from the activities undertaken by the company.

5) Action 1: Attitude
The concept of Green ICT can not be separated from a consistent attitude, and the “environmentally friendly” should be done daily. This attitude also influenced the culture, so it is necessary for organizations to establish environmentally friendly organizational culture.

6) Action 2: Policy
Green ICT policy in the organization must be made from the standpoint of a thorough, consistent, and carefully monitored. Also prepared a methodology for the measurement if the policy is implemented effectively or not.

7) Action 3: Practice
Practice is something that should be done. Small practices but have a significant impact eg turn off the computer when it is not needed, use scrap paper and reduce the amount of paper printed, and perform hardware maintenance well so general a longer battery life, a simple act that can be done.

8) Action 4: Technology
Most think that Green ICT always use the latest technologies, which would add to the cost. The use of ICT equipment is still functioning, the action is better than replacing it with equipment with new technology.

9) Action 5: Metric
Using tools to measure, monitor, control, and mitigation of electric power consumption and carbon emissions, both inside and outside the Department of ICT.

References
Alena, Buchalcevova and Gala Libor. Green Ict Adoption Survey Focused On Ict Lifecycle From The Consumer’s Perspective (SMEs). Journal Of Competitiveness Vol. 4, Issue 4, Pp. 109-122, December 2012 ISSN 1804-171x (Print), Issn 1804-1728 (On-Line), Doi: 10.7441/Joc.2012.04.08
Banerjee, Snehasish, Et Al. “Motivations To Adopt Green Ict: A Tale Of Two Organizations.” International Journal Of Green Computing (Ijgc) 4.2 (2013): 1-11.
Brennan, David and Graeme Philipson. “What Is Green It? Why Now?”. Commsday Melbourne Congress, 14 October 2009
Chen, A.J.W, Boudreau, M., and Watson, R.T. Information Systems And Ecological Sustainability. Journal Of Systems And Information Technology 10(3), 186-201. 2008.
Hodges, Richard, and W. White. “Go Green In Ict.” Green Tech News .2008.
Molla, Alemayehu, and Ahmad Abareshi. “Green It Adoption: A Motivational Perspective.” Pacis. 2011.
Murugesan, San dkk. “Foresting Green It”. IEEE Computer Society, IT Pro Edisi January/Pebruari 2013.
Murugesan, San. “Harnessing Green It: Principles And Practices”. Ieee Computer Society, It Pro Edisi January/Pebruari 2013.
Shelly, Gary B. Dan Misty E. Vermaat. “Discovering Computing 2010: Living In A Digital World”. Cengage Learning, 2010.
Philipson, Graeme. “A Green ICT Framework: Understanding And Measuring Green ICT”. Connection Research, 2010
Suryawanshi, Kavita, and Dr. Sameer Narkhede. Evolution Of Green ICT Implementation In Education Sector: A Study Of Developed And Developing Country. International Journal of Management (IJM) Volume 4, Issue 2, March- April (2013), Pp. 91-98
Visser, Joost. “What Can Be Green About Software”. Workshop Green Software Architecture – Green It Amsterdam And Sig, 2011

Source picture: http://icaresociety.yolasite.com/




PORTAL UKM, MEMBUKA PELUANG AKSES INFORMASI BAGI PENGUSAHA UKM

Beberapa tahun ini informasi di sejumlah media didominasi dengan berita diberlakukannya perjanjian AFCTA yang sebenarnya sudah ditandatangani oleh Pemerintah Indonesia sejak November 2002. Banyak pihak yang terkaget-kaget melihat serbuan produk China membanjiri pasar di Indonesia dari mulai pasar tradisional sampai dengan mall dan supermarket. Padahal ini bukan baru terjadi pada tahun-tahun ini saja, tetapi dengan diberlakukanya ACFTA maka produk-produk China ini pun seperti mendapat tempat yang lebih besar lagi.

Gencarnya serbuan produk-produk China ini ternyata melumpuhkan sebagian pengusaha Indonesia. Hal ini disebabkan karena nilai produk kita ternyata masih kalah bersaing dengan produk China jika pertimbangan dalam membeli produk tersebut adalah harga. Daya beli masyarakat Indonesia untuk kelas menengah ke bawah masih mengutamakan barang dengan harga yang murah. Untuk pasar yang mempunyai daya beli terbatas tersebut, harga menjadi acuan utama dalam membeli tanpa ada pilihan lain. Baru kemudian mutu dan desain sebuah produk menjadi pilihan selanjutnya.

Akan tetapi tidak selamanya ACFTA adalah mimpi buruk. Apabila dicermati lebih dalam banyak peluang yang sangat potensial tentunya bagi pengusaha Indonesia untuk bersaing dan unggul. ACFTA membuka kesempatan untuk akses pasar dan kerjasama yang lebih luas, dan meningkatkan volume perdagangan produk unggulan setiap negara, tak terkecuali Indonesia. Hal ini dapat terlihat pada acara tahunan pameran kerajinan yang dikemas dalam International Handicraft Trade Fair (INACRAFT) yang pada tahun 2015 ini dibuka langsung oleh Presiden Joko Widodo dan berlangsung dari 8-12 April 2015 di JCC. Dari informasi yang diperoleh di Kementrian Perindustrian RI, diharapkan tahun 2020 kontribusi industri non-migas terhadap PDB telah mampu mencapai 30%, dimana kontribusi industri kecil (IK) ditambah industri menengah (IM) sama atau mendekati kontribusi industri besar (IB). Selama kurun waktu 2010 s.d 2020 industri harus tumbuh rata-rata 9,43% dengan pertumbuhan IK, IM, dan IB masing-masing minimal sebesar 10,00%, 17,47%, dan 6,34%. Pameran tahunan ini tidak hanya diikuti oleh peserta dari dalam negeri, namun beberapa negara juga terlibat dalam pameran tersebut, yang membuka kesempatan luas bagi pengusaha Indonesia untuk bekerjasama dengan para pengusaha dan buyer dari mancanegara.

Kemudahan Akses Informasi melalui Portal UKM
Kesempatan yang luas bagi para pengusaha Indonesia untuk memperkenalkan produknya perlu mendapat perhatian yang serius. Selain pameran yang digelar tahunan secara rutin, akses informasi berkaitan dengan produk dan pemasaran harusnya dapat dilakukan secara intensif kapan aja. Hal ini dapat dilakukan dengan bantuan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) melalui penetrasi akses internet yang makin luas dan memiliki wadah melalui suatu Portal yang komprehensif. Portal di dalam dunia internet dapat dianalogikan sebagai sebuah “pintu masuk” menuju “sesuatu”. Dikatakan sebagai pintu masuk karena biasanya para pelanggan atau calon pelanggan terlebih dulu harus mengunjungi situs portal tertentu terlebih dahulu sebelum menjelajahi lebih lanjut dunia maya yang sedemikian luas.

Pengusaha Indonesia yang banyak berkecimpung di usaha kecil menengah (UKM) masih perlu mendapat bimbingan dan pendampingan dalam memanfaatkan peluang-peluang baru yang tercipta dengan perkembangan TIK yang luar biasa, yang utamanya adalah untuk kemudahan akses informasi, dan memanfaatkannya sebagai media dalam menjalan usahanya atau dikenal dengan istilah e-Business.

Penetrasi jaringan internet di Indonesia semakin luas dan murah. Prospek penggunaan TIK khususnya internet mengalami tren naik. Menurut riset Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet (APJI), hampir separo dari jumlah pengguna internet yaitu 43% berasal dari sektor swasta. Selain warnet yang tumbuh subur di berbagai pelosok, persaingan antar provider penyedia akses internet pun membuat harga pulsa mulai dapat dijangkau masyarakat kelas menengah ke bawah, tak terkecuali pengusaha UKM. Dari hasil survei yang pernah dilakukan Depkominfo pada tahun 2008 menunjukkan bahwa UKM memiliki peran unik dalam pengembangan e-Business karena di satu sisi merupakan suatu model untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi UKM dengan menerapkan TIK, tetapi di sisi lain UKM harus difasilitasi sepenuhnya oleh Pemerintah karena tidak memiliki skala ekonomi untuk membiayai pemakaian TIK. Hampir di semua negara di dunia penerapan e-Business oleh UKM memerlukan intervensi pemerintah agar dapat memperoleh akses internet dan aplikasi secara murah sehingga dapat melakukan akses ke pasar global. Saat ini sudah banyak individu di UKM yang memanfaatkan internet melalui dial up maupun langganan bulanan. Mereka sudah menggunakan email, website, dan berbagai media sosial untuk bertukar informasi dan melakukan kontak dengan para pembeli dan calon pembeli

Tak kenal maka tak sayang, adalah pepatah lama yang tepat dengan langkah di atas. Produk-produk unggulan dari UKM yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia saat ini belum semuanya dapat diakses dengan mudah. Akan tetapi apabila tiap UKM harus membangun TIK-nya sendiri, tentunya dirasa berat, baik dari segi pengadaan hardware, software, maupun SDM-nya. Untuk UKM yang menjadi binaan perusahaan besar hal ini tidak menjadi masalah, karena perusahaan yang membinanya memberikan bantuan untuk akses informasi dan pemasaran yang memadai. Seperti halnya yang dilakukan oleh PT. Telkom yang baru-baru ini meluncurkan portal baru yang diharapkan bisa dimanfaatkan sekitar 30.000 mitra binaan aktif usaha kecil dan menengah (UKM) di seluruh Indonesia. Portal baru ini diharapkan dapat menggairahkan pelaku UKM dalam memanfaatkan internet sebagai media promosinya, menjalin kerjasama yang lebih intens dengan para calon pembeli baik lokal, maupun international. Para mitra binaan yang aktif mengikuti berbagai pameran, dapat menjaring mitra atau rekanan bahkan calon pembeli melalui pameran tersebut dan kerjasama setelahnya dapat dilanjutkan dengan lebih mudah dengan memanfaatkan TIK yang sudah disediakan. Keterbatasan produk yang dapat di-display saat pameran berlangsung dapat diatasi dengan menampilkannya dalam portal tersebut. Sehingga melalui portal ini para mitra binaan dapat mempromosikan produknya secara mudah dan murah.

Lalu bagaimana dengan UKM yang bukan merupakan binaan suatu perusahaan besar, yang sudah menyediakan portal bagi mitra binaannya. Portal yang merupakan bantuan teknis Asian Development Bank ini dapat dijadikan solusi. Portal dengan alamat “www.info-ukm.com” itu dimaksudkan sebagai gerbang satu pintu yang menyediakan segala kepentingan informasi dunia UKM, sebagai salah satu upaya meningkatkan akses informasi kepada UKM. Diharapkan dengan adanya portal ini dapat meningkatkan nilai jual dari hasil produksi UKM baik di tingkat lokal maupun internasional. Portal ini akan menyediakan berbagai informasi, konsultasi, forum diskusi antar pengusaha kecil dan menengah. Target kedepan portal ini adalah menyediakan virtual mall, dimana semua UKM yang tergabung dalam portal ini dapat menampilkan produknya, sehingga mudah menjaring calon pembeli maupun calon investor. Karena di satu sisi lain portal ini juga menyediakan informasi satu pintu secara detail profil tiap UKM bagi para calon investor atau penanam modal baik swasta maupun perbankan. Untuk bergabung dalam portal ini UKM dibebankan biaya yang sangat murah, karena dibantu dengan iklan, banner, dan sponsor sebagai sumber pemasukan lain.

Satu lagi media untuk menjaring pasar internasional juga disediakan oleh SMESCO Indonesia Company. Menempati gedung 4 lantai di kawasan bisnis Jakarta, SMESCO Indonesia, menawarkan produk-produk eksklusif dan unggulan dari UMKM seluruh Indonesia. Tatanan galeri yang dibuat eksklusif yang menerapkan standar international dan website portal yang dibuat dalam dua bahasa (Indonesia dan Inggris), menunjukkan bahwa perusahaan ini dikelola secara profesional. Dibuka dan diresmikan pada tanggal 3 April 2009 oleh Menteri Negara Koperasi Usaha Kecil dan Menengah saat itu – Suryadharma Ali, galeri yang disediakan oleh website SMESCO Indonesia ini sekarang menjadi salah satu rujukan bagi buyer dan investor baik dari lokal, maupun mancanegara untuk melirik produk-produk UKM unggulan Indonesia. Kekayaan budaya dan kerajinan Indonesia yang dikemas dalam produk-produk berkualitas ini, akhirnya dapat menempatkan Indonesia sebagai salah satu produsen produk yang layak mendapat tempat di ranah internasional.




Kapuk kembange randu.., yen ra pethuk ati merindu.., sepenggal cerita dari Lasem & Rembang

Postingan saya kali ini masih seputar travelling, sepertinya saya dedikasikan bulan Maret ini sebagai Bulan Travelling, sehingga tulisan saya akan berseri mengenai berbagai tempat yang sudah saya singgahi selama ini. Dan sekarang giliran Rembang dan Lasem, dua kota yang pasti Bapak Ibu sudah sangat familiar.

Kapuk kembange randu..
Yen ra pethuk ati merindu….

Pantun asal-asalan ini saya buat begitu memasuki gerbang makam Ibu Kartini, di Desa Bulu dengan jarak tempuh sekitar 17,5 kilometer dari kota Rembang ke selatan jurusan Blora, yah sekitar kampung saya juga di Cepu. Seingat saya terakhir kesana waktu sekolah…, sudah sangat berbeda sekali. Tempat parkir dan area makam sudah direnovasi, sudah nyaman, terbayang setiap tanggal 21 April lokasi ini akan banyak dikunjungi penziarah dari penjuru kota.

Dari makam perjalanan lanjut ke kota Rembang, dan mengunjungi rumah yang pernah ditinggali oleh Kartini, yang sekarang sudah dijadikan musium. Rumah ini terletak di komplek kantor Bupati Rembang. Rumah jaman Belanda dengan atap tinggi ini berasa adem banget, dan tentunya seru buat background foto-foto (teuteup) :D.

Perut sudah mulai keroncongan, saya & rombongan pun mulai bergeser ke arah timur, tujuan selanjutnya adalah makan siang, dengan menu lontong tuyuhan di Desa Tuyuhan. Menurut teman saya yang asli Rembang, kalau berkunjung kesini jangan lupa mampir ke lontong tuyuhan, seperti opor dengan versi lebih encer, lauknya bisa pilih ayam, telor, atau jeroan. Pokoknya joss.., sayang gak ada fotonya, keburu laper hihihihi….

Setelah kenyang mulailah kita menyusuri kota Lasem. Budaya Tionghoa sangat kental di kota ini. Salah satunya yang kami kunjungi adalah Klenteng Cu An Kiong. Kletheng ini terbuka untuk umum, tapi ada area khusus yang hanya boleh digunakan untuk berdoa. Kereeennn deh…., biar usianya sudah ratusan tahun tapi klentheng ini terawat dengan baik, dan penjaganya pun ramah banget. Mereka tidak menerima uang/tiket…, tapi kita bisa membeli beberapa makanan kecil yang dijual disana.

Nah, bicara Lasem oleh-olehnya sudah jelas Batik Lasem. Batik Lasem memiliki warna dan motif yang sangat khas. Warna merahnya yang dikenal dengan warna “abang getih pithik” diambil dari akar pohon mengkudu. Konon warna ini hanya ada di Lasem, karena sangat terpengaruh dengan kandungan mineral air di daerah Lasem. Ada beberapa rumah batik besar di Lasem, seperti Katrin Bee, Maranata, dan tentunya maestro batik Lasem pak Sigit Wicaksono, yang terkenal dengan motif Sinografi. Batik Lasem Sinografi ini memiliki motif beberapa kiasan dalam bahasa Cina, seperti pada foto yang saya unggah disini. “Bila dua hati sedang membara saling menempel maka cinta kasih akan kekal dan abadi……., ciee…”

Selamat berkunjung ke Rembang dan Lasem, boleh juga kontak-kontak saya, kali pas lagi mudik jadi traveling bisa lanjut ke Blora dan Cepu, dijamin wisata kulinernya endessss……………

IMG_0945

IMG_0942

IMG_0922

IMG_0876

IMG_0886

IMG_0905

251348_2145256468143_6370193_n




Once a year, go someplace you’ve never been before

Ini adalah tulisan yang sangat santai…., tidak perlu analisa yang bikin alis berkerut. Saya pikir diantara kesibukan bapak ibu dosen, perlu sejenak untuk tarik nafas, dan menikmati betapa Allah banyak menciptakan banyak keindahan di sekitar kita. Membaca judul di atas pasti sudah sangat familiar di telinga kita. Sebuah kalimat terkenal dari Dalai Lama, yang pasti sangat merasuk di hati untuk orang yang hobi jalan seperti saya :D. Akan tetapi tempat baru tidak selalu harus jauh dan perlu biaya yang besar, yang penting kita menikmatinya. Menemukan satu warung rujak cingur yang enak pun…, sudah merupakan wisata yang akan masuk dalam daftar tempat yang sudah saya kunjungi.

Tapi kalau misalnya, teman-teman sedang ada waktu cukup, ada dana cukup, dan ingin melihat keindahan lain yang Allah ciptakan di luar Indonesia, saya rekomendasikan negara ini untuk dikunjungi. Turki…., ya Turki.., kenapa Turki? Entah kenapa sejak lama dimata saya negara ini teramat seksi. Negara yang merupakan blasteran Eropa dan Asia ini, bener-benar membuat saya rela menabung (sejenak berhenti belanja). Kalau dimisalkan seorang pria tampan, Turki akan memiliki tinggi badan dan mata biru selayaknya orang Eropa, dan kulit bersih plus rambut hitam seperti orang Asia hahahaha…..

The best time untuk datang ke Turki adalah spring. Sekitar bulan Maret-April. Bulan dimana cuaca sudah cukup bersahabat buat kita. Bulan dimana bunga Tulip (negara asal Tulip adalah Turki, bukan Belanda yang selama ini saya kira loh) bermekaran di sepanjang jalan. Bulan dimana cherry blossom (sakura) menampakkan kuncup-kuncup kecil yang siap bermekaran.

Ada beberapa tempat wajib kunjung di Turki, yang pasti adalah Istanbul. Kota ini jauh lebih terkenal dibandingkan dengan ibukotanya yaitu Ankara. Dan kalau ada waktu cukup silakan naik cruise untuk menyusuri selat Bhosporus. Dan jangan lupa mampir ke Blue Mosque, Topkapi Palace, dan Hagia Sophia. Tempat dimana kita tidak akan berhenti mengucap syukur akan kebesaran Allah SWT. Tempat dimana keagungan agama-agama besar di dunia ini dapat kita nikmati di satu tempat. Serta penjual suvenir khas Turki dan simbol berbagai agama yang saling bersanding dengan sangat harmonisnya.

Silakan mampir ke Pamukkale, Efesus, serta reruntuhan kota Troy. Dan bagi para pencinta karya-karya Jalaluddin Rumi bisa mampir untuk berziarah ke makam beliau di kota Konya. And the highlight is…..Hot Air Baloon in Cappadocia. Selama 1 jam melayang di udara sambil menikmati pemandangan rumah-rumah dari batu di Gerome dari atas. Kayak lagunya si R. Kelly…. I believe I can fly…., I believe I can touch the sky….:D

Mau belanja?? Don’t worry, Turki adalah gudangnya karpet, sajadah, produk fashion dari kulit dan keramik yang sangat cantik-cantik. Belum lagi Grand Bazaar yang akan membuat ibu-ibu akan menghilang dalam hitungan detik.

Saya cuplik sedikit foto-foto selama di Turki…, semoga bisa jadi referensi, have a nice trip :D.

IMG_0062

IMG_0099

IMG_0144

IMG_0163

IMG_0261

IMG_0300

IMG_0318




Our digital world is changing. Are you?

“Selamat pagi Pak, bahan untuk presentasi sudah saya kirim ke surel, mohon responnya, thx”, sebuah pesan singkat masuk ke ponsel pak Achmadi, Account Manager sebuah perusahaan telekomunikasi. Segera dibukanya laptop yang sedari tadi dibawanya, dan setelah membaca file yang dikirim tersebut serta memberi sejumlah arahan, file tersebut dikirim kembali untuk diperbaiki. Hanya dalam waktu hitungan detik file tersebut sudah diterima oleh pengirim dan siap dipresentasikan di hadapan klien sebuah bank swasta ternama minggu depan.

Lain lagi cerita pak Khairul, wajahnya tampak bersungut-sungut ketika melihat ada setumpuk surat yang tergeletak di mejanya. Entah berapa lembar surat undangan yang dia terima hari ini, baik dari internal maupun dari luar. Sebagai kepala divisi Pengolahan Data suatu departemen pemerintahan, agaknya usaha pemakaian media elektronik yang selama ini disosialisasikannya belum membuahkan hasil yang optimal. Bahkan beberapa kepala divisi yang lain sepertinya sangat anti dengan teknologi ini. Undangan rapat internal masih saja menggunakan berlembar-lembar kertas, yang ujung-ujungnya akan menjadi penghuni tempat sampah. Komunikasi atau rapat pun masih harus menggunakan cara konvensional, yaitu tatap muka. Padahal departemen tersebut sudah mengeluarkan uang ratusan juta untuk mengimplementasikan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) di setiap unit usaha. Memang, investasi TIK yang tidak didukung dengan perubahan perilaku manajemen, hasilnya pasti akan sia-sia. Padahal salah satu kunci utama yang harus dilakukan oleh departemen baik tingkat kota maupun kabupaten dalam menerapkan TIK, terlebih lagi e-government, adalah dengan disertai change management.

Di sudut salah satu cafe di bilangan Jakarta Selatan, Nadia asik menikmati kopi sambil menunggu kemacetan yang diharapkan segera teruai. Sebuah notifikasi terdengar tanda ada sebuah surel baru masuk. Wajahnya terlihat sumringah, surel yang sudah lama dinantikannya pun tiba. Panggilan interview online dari perusahaan yang berpusat di Singapura yang sudah lama diimpikannya. Interview ini akan dilakukan menggunakan aplikasi Skype, sesuai dengan tanggal dan jam yang sudah ditentukan. Nadia meletakkan smartphone yang sejak tadi ada di genggamannya. Membayangkan mungkin ini terakhir kali dia akan duduk di cafe ini untuk menunggu macet.

Tiga cerita di atas merupakan gambaran nyata, bagaimana teknologi informasi dan komunikasi (TIK) berkembang di berbagai perusahaan di Indonesia. Barangkali bagi sejumlah perusahaan swasta yang cukup ternama, TIK sudah menjadi satu media komunikasi yang sangat diandalkan. Kehadiran TIK bukan hanya sebagai pengikut tren saja, tetapi sudah menjadi bagian dari kegiatan operasional perusahaan sehari-hari. Dalam perusahaan-perusahaan ini, dapat dikatakan peran TIK menjadi sangat vital, terlebih jika dikaitkan dengan pelayanan kepada pelanggan atau klien yang menuntut ketepatan dan kecepatan.

Akan tetapi di sisi lain, masih banyak badan usaha milik pemerintah atau departemen, ataupun perusahaan swasta baik di kota maupun di daerah, yang justru dirasa lambat dalam menggunakan TIK. Entah karena biaya investasi yang mahal, atau alasan sumber daya manusia (SDM) yang kurang menguasai TIK ini, atau bahkan budaya TIK yang belum menjadi budaya keseharian dalam lembaga tersebut. Sangat disayangkan, mengingat mereka adalah garda terdepan yang menjadi pelayan bagi masyarakat banyak, malahan tidak dapat memanfaatkan TIK yang memiliki keunggulan dalam pengaksesan data yang cepat, tepat, dan akurat.

Sumber foto:Google