Bagaimana daya saing Indonesia dan bagaiman peluangnya di MEA?

Menurut Global Competitiveness Report 2015-2016, World Bank, Daya saing global Indonesia di peringkat 37 dari 140 negara, turun tiga peringkat dari tahun sebelumnya. Jika dibandingkan negara tetangga di ASEAN, peringkat Indonesia masih kalah kompetitif dibandingkan Singapore (2), Malaysia (18), dan Thailand (32). Peringkat tersebut berdasar indikator pilar daya saing global “kebutuhan dasar, efisiensi, dan inovasi”. Variabel kebutuhan primer/dasar meliputi kelembagaan, infrastruktur, kondisi makroekonomi, kesehatan dan pendidikan dasar. Variabel efisiensi meliputi pendidikan tinggi dan pelatihan, efisiensi pasar barang dan tenaga kerja, pengembangan pasar keuangan, kesiapan teknologi, dan market size. Variabel inovasi meliputi business sophistication dan inovasi. Sedangkan dalam kemudahan melakukan bisnis di Indonesia, peringkatnya hanya naik lima peringkat dari posisi tahun sebelumnya ke peringkat 109 dan masih berada di bawah Singapore, Malaysia, Thailand, Brunei, Vietnam, dan Fillipina. artinya Indonesia di ASEAN hanya lebih baik dari Laos dan Myanmar (Doing Business 2016, World Bank). Daya saing Maritim Indonesia, dipandang dari tingkat utilisasi potensi maritim masih kalah optimal dibanding Thailand dan Myanmar yang memiliki potensi ekonomi kelautan yang relatif lebih kecil, namun mampu membangun ekonomi maritim yang lebih besar dibandingkan Indonesia. Tingkat inklusi keuangan, Indonesia hanya menempati peringkat ke empat di kawasan ASEAN  tertinggal dari Singapura, Malaysia, dan Thailand, dan Indonesia berada di peringkat 95 dari 143 negara. Dilihat dari sisi jumlah penduduk dewasa (>15 Th) yang tidak memiliki rekening di lembaga keuangan formal masih 64% dari total penduduk dewasa (artinya yang memiliki rekening di lembaga keuangan formal hanya 36%).

Selanjutnya bagaimana peluang Indonesia di MEA? Posisi Indonesia dengan pangsa pasar (40,5%) dan share PDB terbesar di kawasan ASEAN dan satu-satunya yang masuk G20, dengan peringkat 16 PDB dunia, Indonesia memiliki banyak peluang dan kesempatan untuk bersaing di MEA. Indonesia juga didukung beberapa faktor, yaitu bonus demogragi, reformasi struktural, revitalisasi industri, dan peningkatan inklusi dan literasi keuangan masyarakat. Bonus demografi, Indonesia diperkirakan akan menikmati bonus demografi pada 2020-2030. populasi kelas menengah juga tumbuh. AC Nielsen (2013) memperkirakan pertumbuhan kelas mengengah akan mencapai 147% pada 2012-2020. pertumbuhan permintaan atas produk/jasa keuangan termasuk pembiayaan konsumen, produk investasi, asuransi, dan dana pensiun. Reformasi Struktural oleh pemerintah dan otoritas terkait memerlukan dukungan dari berbagai pihak termasuk industri jasa keuangan. melalui koordinasi dengan berbagai pihak, OJK memastikan kesiapan industri Jasa Keuangan dalam mengantisipasi kebutuhan pendanaan akibat adanya reformasi struktural. Revitalisasi Industri, Indonesia diperkirakan bergera ke arah revitalisasi industri manufaktur. sejalan dengan kondisi ini, didukung oleh iklim bisnis yang lebih baik, permintaan pembiayaan terus akan tumbuh. OJK akan memastikan bahwa sektor keuangan siap untuk mengantisipasi pertumbuhan permintaan. Peningkatan Inklusi dan Literasi Keuangan, rendahnya inklusi dan literasi keuangan masyarakat menjadikan pentingnya peningkatan melek dan akses finansial. upaya peningkatan iklusi dan literasi keungan telah dilakukan OJK bersama industri jasa keuangan. tingkat melek keuangan yang lebih inggi akan meningkatkan pemanfaatan produk dan jasa keuangan. Sebagai upaya meningkatkan daya saing dan mengoptimalkan seluruh potensi sektor prioritas domestik, sektor jasa keuangan harus menjadi katalis yang signifikan dan motor penggerak perekonomian di tengah ketidakpastian pemulihan perekonomian global. Adapun pengembangan sektor prioritas meliputi sektor pertanian, perikanan dan kelautan, energi, industri, dan pariwisata.