Petunjuk Pengisian SPT 1770 S

Bagi teman – teman yang akan melapor  SPT tahunan orang pribadi maka harus memperhatikan :

Panduan Pengisian SPT Tahunan Pribadi Form 1770 S

1 Panduan ini khusus untuk wajib pajak yang hanya mendapatkan
penghasilan dari satu pemberi kerja
2 Fille ini tidak terpisahkan dari file berbasis word dengan nama sama untuk memandu cara memindahkan nilai dari Form 1721A1 ke Form 1770S
3 Untuk mengisi lampiran I bagian C, dan lampiran II bagian B, C, dan D
panduannya dapat dilihat di kolom dibawah ‘keterangan’ di kolom
angka yang didalam kurung.
4 Mengisi SPT Tahunan dengan jujur, baik dan benar sesuai petunjuk
5 Nama dan alamat kantor pajak sesuai kode di NPWP dapat dilihat di sheet terakhir file ini
6 Menyiapkan SPT (3 halaman) beserta lampirannya 1721A1 dari perusahaan dan fotocopy KK untuk memperkuat data di 1770 halaman 3 (lampiran II bagian D), dan membuat fotocopy sebagai backup untuk disimpan sendiri
7 SPT dapat dikirimkan ke kantor pajak yang bersangkutan dengan
menggunakan pos tercatat, dengan menyimpan bukti pengiriman
sebagai bukti, atau
8 SPT diantarkan langsung ke kantor pajak masing masing paling lambat setiap tanggal  31 Maret.

; Petunjuk Pengisian SPT 1770 S




Panduan Penghargaan Terhadap Sumber Karya Ilmiah dan Penulisan Sumber Kutipan (Gaya Selingkung) IKPIA Perbanas

Kegiatan penelitian selain berisi aktifitas penelitiannya sendiri, juga disertai dengan kegiatan diseminasi hasil penelitian yang pada umumnya berupa karya ilmiah yang dipublikasikan. Salah satu bagian yang terpenting dalam penulisan karya ilmiah adalah menyebutkan dengan jelas kontribusi yang dihasilkan oleh sebuah penelitian dengan tetap memberikan penghargaan kepada hasil-hasil penelitian sebelumnya yang menginspirasi atau mendasari penelitian tersebut atau dengan kata lain melakukan pengutipan dengan menyebutkan sumbernya.

Dalam penulisan karya ilmiah, tidak memberikan penghargaan kepada karya dan/atau karya ilmiah orang lain yang mempengaruhi, menginspirasi atau menjadi dasar karya ilmiah yang ditulis, dipandang sebagai perbuatan pencurian. Oleh sebab itu, sangat penting bagi seorang peneliti untuk bersikap jujur dan menyebutkan secara jelas dalam karya ilmiah yang ditulisnya hal-hal yang menjadi kontribusinya dan hal lainnya yang merupakan kontribusi, ide atau milik orang lain.

Guna membekali civitas akademika di lingkungan IKPIA Perbanas dengan rujukan mengenai penulisan sumber kutipan pada sebuah karya ilmiah, maka dibuatlah sebuah Panduan Penghargaan Terhadap Sumber Karya Ilmiah dan Penulisan Sumber Kutipan yang tertuang dalam Surat Keputusan Rektor IKPIA Perbanas bernomor: 005/SK.P/III/ IKPIA/2015, atau yang umum dikenal sebagai Gaya Selingkung, dan selanjutnya dijadikan rujukan penulisan karya ilmiah di lingkungan IKPIA Perbanas.

Selengkapnya Panduan Penghargaan Terhadap Sumber Karya Ilmiah dan Penulisan Sumber Kutipan IKPIA Perbanas dapat diunduh di SK Gaya Selingkung




Jumlah Guru Besar Akuntan di PTN dan PTS

Majalah Akuntan terbitan Ikatan Akuntan Indonesia (IAI)  edisi Desember 2014 merilis artikel yang menurut saya sangat menarik yaitu “Guru Besar di ‘Kawah Candradimuka’ Akuntansi” karena membahas mengenai kelangkaan Guru Besar Akuntan (GBA) baik di PTN dan PTS.  Saya tidak mengerti arti istilah candradimuka. Kemudian setelah saya browsing di Internet ternyata artinya adalah tempat penggemblengan diri supaya kuat, terlatih, dan tangkas.

Artikel itu menyatakan bahwa sejak tahun 1953, baru ada 100 orang Guru Besar Akuntan di Indonesia. Dari jumlah itu, 9 orang diantaranya sudah tutup usia, dan 26 orang sudah berusia di atas 65 tahun.  Dinyatakan juga bahwa jika batas usia produktif dirata-ratakan di usia 65 tahun, maka saat ini di Indonesia hanya 65 GBA yang masih aktif.

Artikel itu juga menyoroti bahwa salah satu penyebabnya adalah banyak akuntan yang sudah nyaman dengan posisi empuk yang didapatnya di Kantor Akuntan Publik, menjadi CEO atau CFO di perusahaan swasta serta posisi penting di pemerintahan sehingga enggan untuk melanjutkan studi atau nyaris tidak memiliki waktu untuk melakukan penelitian, menulis buku, atau membuat tulisan yang dimuat di jurnal nasional atau internasional.

Saya baru menyadari bahwa ternyata kelangkaan akuntan tidak hanya pada Profesi sebagai Akuntan Publik, ternyata juga pada jenjang karir tertinggi sebagai Dosen seperti jabatan fungsional Guru Besar.  Kondisi ini tentunya berpengaruh terhadap kualitas pendidikan akuntansi itu sendiri karena lulusan terbaik akuntansi lebih banyak ingin bekerja sebagai praktisi dari pada sebagai pendidik di perguruan tinggi. Apalagi, kenyataan bahwa kompensasi sebagai akuntan diperusahaan lebih menjanjikan dibandingkan berprofesi sebagai dosen di Perguruan Tinggi dengan beban kerja dan sangsi terhadap pelanggaran nilai-nilai akademik yang semakin berat.

Hal yang menarik lagi dari artikel itu adalah STIE Perbanas Jakarta berada pada rangking kelima dengan 2 (dua) Guru Besar Akuntan dibanding se PTS Indonesia dan setara dengan PTN seperti Universitas Andalas dan Universitas Riau serta berada  diatas Universitas Hasanudin, Makasar.  Tentunya data ini adalah data yang belum update karena STIE Perbanas Jakarta sekarang telah berubah menjadi Institut Perbanas.

 




Terus Bergerak

Di Jakarta, perbedaan 5 menit saja akan bisa berbeda hasilnya. Biasanya gue dan keluarga berangkat dari rumah pukul 06.00. Tapi hari ini “sedikit” telat, yaitu berangkat pukul 06.05. Akibatnya anak-anak yang gue drop di dua sekolah berbeda lokasi — Kebayoran Lama dan Kebayoran Baru — harus menghadapi telat hampir 15-20 menit dari biasanya yang tidak telat.

Termasuk gue dan istri yang biasanya harus sudah “masuk” daerah Sudirman sebelum pukul 06.45 untuk menghindari 3in1, hari ini pukul 07.00 masih di luar kawasan pembatasan jumlah penumpang tersebut. Mau tidak mau, gue harus menggunakan jasa joki 3in1.

Namun tidak seperti biasanya gue dan istri menggunakan jasa joki 3in1 seorang ibu yang sedang menggendong anak balita, pagi ini gue menggunakan jasa seorang laki-laki yang sudah berumur. Sampai-sampai bapak joki ini untuk naik ke mobil sedikit kesulitan, mungkin punya masalah dengan kesehatan tulang belakang.

“Selamat pagi, pak…” sapa gue berbasa-basi ke bapak joki tersebut. Setelah pintu tertutup rapat, langsung pedal gas mobil gue bejek untuk memasuki kawasan 3in1. Basa-basi kedua pun berlanjut, “… tinggal di mana, pak….”

Bapak joki itu ternyata tinggal cukup jauh dari Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, tempat gue mengajak dia naik mobil barusan. Dia tinggal di Pasar Rebo, Jakarta Timur. Kesimpulan kilat langsung gue buat dan semoga tepat: berarti bapak ini pergi ke Kebayoran Baru hanya untuk mencari uang sebagai joki 3in1, karena daerah Pasar Rebo bukanlah daerah “pintu masuk” kawasan 3in1. Iya, joki lebih banyak berkumpul pada jalan-jalan dekat menuju kawasan tersebut. Ternyata kesimpulan kilat gue tadi tidak tepat.

Kejutan lain ikut berkelanjutan. Bapak joki tadi bercerita bahwa selesai pembatasan 3in1 jam 10 nanti, dia sudah ada janji dengan beberapa sopir pribadi di daerah GBK Senayan, Jakarta Selatan, untuk memberi pelatihan bahasa Inggris ke mereka yang memiliki majikan expatriat. Juga besok di jam yang sama di lokasi berbeda yaitu pada parkiran perkantoran Sudirman, pelatihan yang sama sesuai permintaan sebuah perusahan asing untuk sopir-sopir perusahaan. Honor mengajar setiap murid sekali pertemuan selama satu jam, sama dengan honor dia sebagai joki 3in1, yaitu 20 ribu rupiah.

Kejutan pun belum berhenti. Bapak joki tadi mengeluarkan sebuah cover buku dummy-print tentang kisah hidup Nabi Muhammad SAW — nabi agama Islam yang gue yakini. Karena gue hanya melirik cover buku tersebut lewat spion tengah mobil, sambil fokus menyetir gue langsung menebak sebuah buku yang pernah gue baca,

“Itu buku karangan Karen Amstrong..?” Ternyata gue salah, buku Karen Amstrong yang benar berjudul Muhammad: The Biography of the Prophet (1991). Kemudian gue mencoba lagi dengan tebakan-tebakan buah manggis ketika teringat sebuah buku lain yang pernah gue baca,

“…atau buku karangan Husein Haikal..?” Seorang penulis, juga jurnalis, sekaligus politisi, dan pernah menjadi Menteri Pendidikan Mesir, Dr. Muhammad Husein Haekal, pernah menerbitkan buku berbahasa Arab berjudul Hayat Muhammad (1935) yang terbit di Indonesia dengan judul Sejarah Hidup Muhammad.

Ternyata gue salah juga. Bapak tadi bercerita bahwa dia sendiri yang menulis buku berjudul The History of Prophet Muhammad untuk siswa usia SMP dan SMA dengan tujuan belajar sejarah agama sambil belajar bahasa Inggris. Iya, layout dari content buku tersebut 2 kolom dimana kolom kiri versi bahasa Inggris dan kolom kanan versi bahasa Indonesia. Menariknya, setiap akhir bab, terdapat daftar vocabulary agar mempermudah siswa dalam memperkaya kosa kata bahasa Inggris. Sumber penulisan dia adalah dari 8 jilid buku biografi Nabi Muhammad SAW yang dimiliki seorang ulama ahlul sunnah wal jama’ah.

Karena tengsin dua kali salah tebak, gue coba menutupi malu dengan bilang ke bapak joki bahwa banyak ulama ahlul sunnah mengingatkan kalau Karen Amstrong cenderung orientalis dan Husein Haekal cenderung liberalis. Jadi harus sedikit berhati-hati kalau membaca buku tulisan mereka.

Belum selesai, kejutan terus bertambah. Ternyata seorang pengusaha pernah menjadi donatur dengan menerbitkan 5.000 buku bapak joki tadi, termasuk pengurusan ISBN, serta distribusi ke perpustakaan sekolah-sekolah di sekitar Jakarta. Kejutan tambahan, dia sekarang sedang membangun mesin cetak manual non-digital dari komponen-komponen mesin cetak bekas, yang menurutnya sudah mencapai 70% selesai. Apabila selesai dia akan menjalankan usaha percetakan di rumahnya di Pasar Rebo.

Kejutan terakhir adalah profile dari bapak joki itu sendiri. Anak-anaknya 3 orang sudah mentas semua, sudah berkeluarga dan memberikan 6 cucu. Dia sendiri sudah ditinggalkan istri yang mendahului menghadap Tuhan. Dan sebagai kejutan pamungkas bapak joki tersebut adalah: usia dia sekarang sudah 71 tahun. What..?! Seumur segitu masih cari nafkah sebagai joki 3in1, mengajar bahasa Inggris, menulis buku sejarah agama dan pelajaran bahasa Inggris, serta masih berusaha untuk menjalankan usaha percetakan sendiri..???! Wow…!

Ada benang merah yang gue tarik dari runutan kejutan yang gue terima pagi ini:
Bahwa sebagai mahluk hidup tidak selayaknya hanya berdiam diri….
Bahwa sebagai ciptaan Tuhan sudah selayaknya berguna bagi mahluk hidup lain….
Bahwa sebagai mahluk hidup ciptaan Tuhan sudah seharusnya terus bergerak menghasilkan sesuatu yang bermanfaat ke banyak orang….

Terus bergerak, dan jangan jadikan hidup kita sekedar rutinitas hanya makan dan, maaf, berak.

HM Ihsan Kusasi
March 12, 2015

activate javascript




Yuuk Membuat Kuesioner Online

Pengumpulan data pada populasi dalam jumlah besar dapat dilakukan dengan metode kuesioner, dan dalam proses analisanya akan mudah jika menggunakan pertanyaan tertutup yang dapat diproses secara komputerisasi. Kuesioner dalam versi online akan  memudahkan proses pengumpulan dan pengolahan data  karena  responden dapat berpartisipasi dengan mengakses melalui jaringan internet. Beberapa layanan yang menawarkan pembuatan kuesioner online, salah satu yang paling populer dan mudah adalah Google Forms. Saya mencoba sharing bagaimana cara membuat kuesioner online dengan Google Forms, Membuat Kuesioner Online Dengan Google Forms mulai dari awal hingga selesai termasuk menerapkan tema yang merupakan salah satu fitur dalam layanan google forms. Semoga artikel ini bermanfaat.

Terakhir, terdapat contoh hasil kuesioner yang saya buat yaitu  Kuesioner Biometrik , mohon kesediaan bapak , ibu dan rekan-rekan untuk mengisinya. Terima kasih




Terapi Kejut

Prolog: Artikel di bawah ini ditulis sekitar 2,5 thn lalu… sekedar berbagi kembali… terkadang terapi kejut diperlukan untuk menjadi pemicu perubahan yang lebih baik… mohon maaf kalau gaya bahasanya ‘gaul’ alih alih ‘akademisi’….

Gue marah sore ini. Gimana gak marah. Sebelumnya gue harus jalan kaki sejauh 100 meter untuk menemukan tukang ojek lalu berjibaku di tengah macet selama 10 menit sampai akhirnya mendarat di parkiran kampus. Sore ini memang jadwal kasih kuliah Strategic Performance Management, namun sore ini giliran mahasiswa-mahasiswa gue yang perform di depan kelas. Iya, mereka harus presentasi group assignment tentang studi kasus sebuah bisnis yang menjalankan Balanced Score Card, yang sudah gue tugaskan dari 2 minggu lalu.

Gue pantas untuk marah. Gimana gak marah. Sebelum mahasiswa pada masuk, gue persiapkan LCD proyektor buat presentasi, menghidupkan MacBook gue untuk menilai presentasi mereka, lalu menunggu kebiasaan telat mereka selama 15 menit. Dan klimaksnya, adalah saat salah satu dari mereka menyampaikan,

“Pak, terus terang, kami semua belum tuntas mempersiapkan presentasi hari ini”….

“Owh, oke”, jawab gue menahan marah, “kalau begitu nilai presentasi kalian hari ini F semua” lanjut gue sambil menutup MacBook tanpa mematikan, langsung memasukkan ke dalam tas, dan bersiap pergi sambil menyampaikan,

“Saya kecewa dengan performance kalian semester ini…” setelah gue teringat hasil midtest mereka minggu lalu yang jauh sekali dibawah harapan gue.

Itu pun belum seberapa: ketika teringat betapa akhir-akhir ini gue harus ekstra berhemat belanja untuk bisa menabung selama 3 tahun ke depan guna persiapan biaya kuliah anak pertama gue, maka secara spontan bibir ini bergetar mengingatkan,

“Apa kalian tidak menghargai jerih payah Orang Tua kalian? Membanting tulang mencari nafkah untuk biaya kuliah, namun ternyata kalian tidak serius?!” sambil gue berjalan menuju pintu keluar ruang kuliah. Terapi sedang gue jalankan….

Terkejut dengan sikap gue yang mau pulang, mereka langsung minta izin untuk bisa presentasi apa adanya. Ok, they tried to do their best. Akhirnya gue balik ke meja dan memberikan kesempatan sekali lagi, walaupun hasil akhirnya sudah bisa ketebak: mengecewakan karena memang tidak siap.

Terkadang, terapi kejut dibutuhkan untuk menyadarkan seseorang bahwa yang sekarang dilakukan sebenarnya bisa lebih baik lagi. Terapi kejut membuat hormon adrenaline tubuh terpompa, mengirimkan sinyal-sinyal listrik ke sel-sel otak lainnya, sehingga semangat yang tiarap, kreatifitas yang terpendam, kinerja yang lemah syahwat, langsung berubah 180 derajat. Menghasilkan output yang membuat dirinya sendiri terheran. Lho, ternyata bisa ya melakukannya!

Itulah yang sekarang sedang dilakukan Gubernur DKI Jakarta yang usia jabatannya masih bisa dihitung dengan jari tangan plus jari kaki. Joko Widodo — nama gubernur tersebut — banyak melakukan inspeksi mendadak di kelurahan dan kecamatan, kemudian keluar masuk kampung kumuh mengajak jajarannya sehingga mereka tidak bisa lagi melaporkan perihal yang bagus-bagus saja, selanjutnya melepaskan pisau dan pentungan dari pinggang semua anggota satuan polisi pamong praja; yang semuanya dilakukan dalam konteks terapi kejut.

Kita semua berharap bahwa semua jajaran Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bisa berubah 180 derajat sekaligus bisa percaya diri bahwa sejatinya Jakarta bisa berubah menjadi kota metropolitan dengan kualitas hidup yang lebih layak bagi warga, pendatang, maupun turis mancanegara.

Terapi kejut juga menyadarkan manusia bahwa selama ini Tuhan Yang Maha Kaya telah memberikan banyak kebutuhan hidup kepada manusia tanpa pernah minta bayaran. Sebuah kota metropolitan di Amerika, New York, saat ini persediaan air minum kemasan dan roti di semua toko habis diborong penduduknya. Kota ini, dan penduduknya, sedang mendapatkan terapi kejut dari Tuhan Yang Maha Perkasa dengan mengirimkan badai topan Sandy.

Menurut perhitungan ahli cuaca, sepak terjang Sandy akan berlangsung selama 3 hari. Itulah kenapa isi toko diborong habis penduduk untuk bisa bertahan hidup di dalam rumah atau gedung, selama badai topan menjalankan tugas terapi kejutnya: guna menyadari bahwa ada yang lebih kaya dan lebih perkasa daripada penduduk New York yang paling kaya dan paling perkasa sekalipun — yang sejatinya hanyalah Tuhan Yang Maha Esa.

Saat kita menghadapi sebuah terapi kejut berupa musibah, yakinlah bahwa dibalik musibah itu ada kebaikan. Dan dimana bisa mengetahui letak kebaikan dibalik musibah itu? Tidak jauh dan tidak lain terletak di hati yang terbuka dan ikhlas dalam menerimanya.

HM Ihsan Kusasi
Oct 30, 2012

*note ini didedikasikan untuk warga kota metropolitan Jakarta dan New York.

http://ihsankusasi.wordpress.com/2012/10/31/terapi-kejut/




Alur dan Jadwal Penagihan Pajak

Gambar alur dan Jadwal Pelaksanaan Penagihan Pajak bila wajib pajak tidak patuh membayar kewajiban pajaknya…Pajak




Tutorial Menulis Esai Pendek

Kegiatan tulis-menulis bukanlah hal mudah untuk dilakukan, baik yang formal maupun informal. Namun siapa saja pastinya dapat menulis dengan baik apabila dia dapat menguraikan idenya dengan teratur dan terarah. Tutorial yang saya ingin sampaikan di sini adalah ide mengenai tahap-tahap menulis esai yang baik yang pernah saya pelajari, terutama jika tulisan yang ingin dibuat adalah tulisan esai formal. Walau begitu menurut saya pribadi tahap menulis yang akan saya paparkan berikut tetap akan bermanfaat untuk bentuk tulisan apapun sehingga tulisan kita dapat lebih dipahami oleh pembaca.

Esai yang baik biasanya terdiri dari 3 bagian tulisan, 1. Pendahuluan (introduction) 2. Isi (body) 3. Penutup/kesimpulan (conclusion).

Menulis Paragraf Pendahuluan
Pada bagian pendahuluan biasanya dapat ditulis hanya dalam satu paragraf mengenai ide/topik yang ingin kita tulis untuk esai tersebut, dilanjutkan dengan kalimat-kalimat yang berisi tentang ide pendukung dari topik tersebut sebagai kerangka menuju bagian paragraf isi sehingga pembaca dapat mengetahui topik yang akan mereka baca dan apa saja ide pendukung yang akan mereka baca di paragraf-paragraf selanjutnya sehingga akhirnya mereka merasa tertarik untuk terus membaca esai tersebut sampai habis.

Menulis Paragraf- Paragraf Isi
Paragraf-paragraf isi jumlahnya bergantung pada ide pendukung yang sudah disampaikan oleh penulis di paragraf pendahuluan. Misalnya topik esai adalah tentang tipe mahasiswa pada saat ujian dan paragraf isi dapat berupa tipe-tipe mahasiswa tesebut, yang kemudian tiap tipenya saya tuliskan dalan setiap paragraf dengan detil. Seandainya tipe mahasiswa tersebut ada 3, maka paragraf isi pun akan ada minimal 3 paragraf. Di paragraf isi itulah penulis akan mengembangkan ide pendukung yang sebelumnya sudah disampaikan berupa kerangka pada pargraf pendahuluan.

Menulis Paragraf Penutup/Kesimpulan
Paragraf penutup cukup ditulis dalam satu paragraf berisi kesimpulan dari hal-hal yang telah ditulis. Biasanya pada paragraf penutup akan ada pengulangan kerangka paragraf isi yang singkat, sehingga pembaca diingatkan mengenai apa saja yang telah dibacanya pada paragraf-paragraf sebelumya dan ini sangat penting bagi penulis, karena pastinya seorang penulis berharap para pembacanya dapat mengingat tulisannya dengan baik.
Demikian tutorial menulis esai yang dapat saya sampaikan. Berikut ini link ke tulisan saya yang kurang lebih mengikuti tahapan penulisan yang sudah saya jelaskan tadi (http://adelinguist.blogspot.com/2015/02/iseng-nulis-tipe-mahasiswa-saat-ujian.html), namun karena tulisannya informal, paragraf-paragraf yang saya tulis lebih bebas, panjang, dan tidak mengikuti persis aturan atau tahapan yang baku yang saya telah jelaskan. Walau begitu jika tulisannya lebih formal biasanya aturannya lebih ketat sehingga kita diharapkan dapat mematuhi tahapan yang sudah baku. Contoh lain untuk esai yang benar-benar mengikuti tahapan yang ada dapat dilihat di bawah ini
“The Hazards of Movie going”
Source: John Langan “College Writing Skills with Readings”

I am a movie fanatic. When friends want to know what picture won the Oscar in 1980 or who played the police chief in Jaws, they ask me. My friends, though, have stopped asking me if I want to go out to the movies. The problems in getting to the theater, the theater itself, and the behavior of some movie-goers are all reasons why I often wait for a movie to show up on TV.

First of all, just getting to the theater presents difficulties. Leaving a home equipped with a TV and a DVD-player isn’t an attractive idea on a humid, cold, or rainy night. Even if the weather cooperates, there is still a thirty-minute drive to the theater down a highway, followed by the hassle of looking for a parking space. And then there are the lines. After hooking yourself to the end of a human chain, you worry about whether there will be enough tickets, whether you will get seats together, and whether many people will sneak into the line ahead of you.

Secondly, once you have made it to the box office and bought your tickets, you are confronted with the problems of the theater itself. If you are in one of the run-down older theaters, you must adjust to the dusty smell of seldom-cleaned carpets. Broken springs hide in the cracked leather seats, and half the seats you sit in seem loose or tilted so that you sit at a strange angle. The newer theaters with small rooms next to each other offer their own problems.
Sitting in an area only one-quarter the size of a regular theater, movie-goers often have to put up with the sound of the movie next door. This is especially upsetting when the other movie involves racing cars or a karate war and you are trying to enjoy a quiet love story. And whether the theater is old or new, it will have floors that seem to be coated with rubber cement. By the end of a movie, shoes almost have to be ripped off the floor because they have become sealed to a deadly mix of spilled soda, hardening bubble gum, and crushed candy.

Thirdly, some of the movie-goers are even more of a problem than the theater itself. Little kids race up and down the aisles, usually in giggling gangs. Teenagers try to impress their friends by talking back to the screen, whistling, and making what they consider to be hilarious noises. Adults act as if they were at home in their own living rooms and comment loudly on the ages of the stars or why movies aren’t as good anymore. And people of all ages crinkle candy wrappers, stick gum on their seats, and drop popcorn tubs or cups of crushed ice and soda on the floor. They also cough and burp, squirm endlessly in their seats, file out for repeated trips to the rest rooms or kiosk, and elbow you out of the armrest on either side of your seat.

In conclusion, after arriving home from the movies one night, I decided that I was not going to be a movie-goer anymore. I was tired of the problems involved in getting to the movies and dealing with the theater itself and some of the patrons. The next day I arranged to have cable TV service installed in my home. I may now see movies a bit later than other people, but I’ll be more relaxed watching box office hits in the comfort of my own living room.

Semoga bermanfaat. Saya berharap apabila berkenan teman-teman dapat memberikan saran yang membangun. Terima kasih.

Jakarta, 25 Januari 2011

Adelina




DO LECTURERS NEED PREPARATION?

DO LECTURERS NEED PREPARATION?

Teaching or lecturing well is not possible without adequate preparation. Indeed, there are several teachers or lecturers, who are able to wake up, to wash my face, and instantly to be able to teach it well. However, it seems not much teachers or lecturers look like it. There are some lecturers who come to the class without any preparations. Yes, they know the materials that they teach. For some lecturers, the materials will always be the same from time to time, on the other hand other are motivated to dig out new teaching materials and methods. Preparation well before teaching is a form of a lecturer to respect himself and his students. Although teaching for only 100 minutes in a class, it is possible for some lecturers to prepare themselves for more than two hours, or even two days.

Why does a lecturer need more than two hour preparation? Although one of the tasks of teaching faculty, it does not mean that a lecturer knows all that will be lectured or taught for a long time. Science continues to evolve. Some even develops very fast. To participate in this development, and provide relevant for students, the lecturer must always learn. In wikipedia, human learning may occur as part of education, personal development, schooling, or training. It may be goal-oriented and may be aided by motivation. The study of how learning occurs is part of educational psychology, neuropsychology, learning theory, and pedagogy. Learning may occur as a result of habituation or classical conditioning, seen in many animal species, or as a result of more complex activities such as play, seen only in relatively intelligent animals. Therefore, it could be stated that learning needs motivation so that it can be a habit for the learner. A lecturer, it goes without saying, has to learn and provide himself with his teaching materials before he stands in front of his class. In fact, without having and mastering teaching materials properly, the quality of learning in the classroom does not seem to be the maximum.

It is strange if there is a lecturer teaching a course not relating his materials with the nowadays condition. The transparency of the material in class becomes more with the ideas of information technology development. Lecturers can be stated failed and old-fashioned if he does not use the nowadays materials. Preparation of a lecturer in teaching can be done in many ways. First, most of lecturers usually read textbooks that record the development of the latest science to be taught. Books are often not sufficiently advanced, sometimes a lecturer needs to be equipped with a scientific journal. A lecturer should prepare teaching materials that can be absorbed by the student. This material may include textbooks, hands-out, slide presentations, or journal / parts books / magazines scientific / other relevant materials. This material will greatly assist students in understanding the course content.

Moreover, a lecturer should prepare scenarios in the classroom. This scenario is not to be written, but how time is used in the classroom, how students are involved in the process, and how the teaching materials supplied, must have been unthinkable. But if a lecturer wants to write, it will be very good and help to transfer knowledge to his students. This becomes very important, if a lecturer says that he applies a student-centered learning.

The use of easily understood language also needs to be considered. A lecturer should remember that not all students come to the class with the same maturity level. There are lots of examples about leveling in education, they are level of knowledge, level of abilities, etc. In Perbanas Institute situation, for instance, an English lecturer usually teaches in a class that consists of 40 students. They have different levels of English ability. Perbanas Institute, likes other levels of education in Indonesia, does not want to put its students according to the students English language abilities. Therefore, an English language lecturer must work harder, for example, he must be able to deliver the materials by using simple language, even some other lecturers use Indonesian language in order to make the students understand the materials taught. Here, it can be stated that a class is unique and the teaching methods used cannot be the same from one class to another class. The materials can be the same but the way how a lecturer to deliver the materials in a class is an art. That’s why some says teaching is an art.




Create a Captivating Presentation

“Treat the presentation as a creative project in its own right”.

Don’t think about “presenting your work,” as if the creative part were limited to the work and the presentation were tacked on afterwards. Apply the same level of imagination and passion to your presentations as you do the rest of your creative work. Once you do that, you’ll start discovering all kinds of interesting ways to get your message across in a persuasive fashion. Here are some tips to help you get started – and to illustrate why your creative talents are the perfect ingredients for a killer presentation.

1. Tap your enthusiasm.

Everyone I’ve ever coached on presentation skills has told me they want to be more confident – but I tell them to forget about confidence and focus on enthusiasm. Confidence can be impressive, but it can still leave an audience cold. Enthusiasm, on the other hand, is infectious – it will be hard for audiences to resist your passion.

2. Get to the core of your message.

If you’re an information architect, you’ll know how important it is to present the most important points clearly and simply, only introducing details when people have grasped the big picture and are ready for more. If organizing information is new to you, then here’s the quick version:

Boil your presentation down to three key points your audience must understand.

This forces you to hone your message to its essence, and helps you remember the structure of your presentation (even if the worst happens and the projector fails). It will also make the message more memorable for your audience. For more detailed advice on structuring presentations, read Cliff Atkinson‘s book Beyond Bullet Points.

3. Tell a captivating story.

Next time you hear a presenter say “I’ll begin by telling you a story…” watch the audience – you’ll see them relax into their chairs. They are re-entering the pleasant “storytime trance” they knew and loved as kids. Their critical guard is down, and the speaker has a golden opportunity to engage them emotionally, by telling a powerful story that is relevant to her theme.

You have the same opportunity. Consider the message you are trying to get across. What problem does it solve? What’s the human dimension? Who does it remind you of? Once you have the seeds of a story, practice telling and retelling it until you it makes you laugh, cringe, groan, flinch or grin as you speak. When it affects you like this, it will move your audience too.

Nancy Duarte‘s new book, Resonate, will show you how to entrance audiences with storytelling.

4. Wow them with words.

You should never try to get your presentation word perfect, by memorizing every single word – that will only make for stilted delivery. But it does pay to sprinkle it with a few choice phrases and add the odd rhetorical flourish.

It’s true that “statistics can be misleading,” but saying it like that won’t get people to sit up straight. Try injecting a little more originality:

“There are three kinds of lies. Lies, damned lies, and statistics.” -Benjamin Disraeli

For a concise guide to emulating the verbal eloquence of great speakers, read chapter 4 of Max Atkinson‘s book Speech-making and Presentation Made Easy.

5. Create stunning slides.

Slides are optional, but if you’re going to use them, make them great. Even if you’re not a graphic designer, it’s relatively easy to stand out from the crowd of bullet points and PowerPoint templates, by licensing high-quality images from stock sites like istockphoto and Veer, or searching for Creative Commons-licensed photos from Flickr using Compfight (just make sure you read the licensing terms carefully, especially for commercial use!). And Garr Reynolds‘ book Presentation Zen Design will introduce you to basic design principles for creating slides from the images.

And if you are a graphic designer, check out Nancy Duarte’s beautiful book Slide:ology, for a stimulating guide to the creative possibilities of slide design. Nancy and her team designed the slides for Al Gore’s “Inconvenient Truth” presentation and feature film, so she knows a thing or two about creating slides with impact.

6. Keep it simple.

Simplicity – focusing on core themes and eliminating fluff – is the key to a lot of great design, great writing, great music, great dance, and great art of many kinds. It’s also one of the things that makes presentations powerful and memorable.

This is all you need for a truly great presentation:

  • One big idea
  • Three key points
  • One compelling story
  • One idea per slide (and no more than six words)
  • One clear call to action

As with any other creative project you’ve executed, the challenge is to pare it down to the essentials, using your critical thinking skills. Looking at the list, you can see it’s made up of the core skills of creative professionals: crafting messages; organizing information; telling stories; choosing words carefully; and creating striking visuals. You probably don’t have all of these skills, but I’m sure you have at least one or two. Start with these, then work to acquire the others using the resources I’ve listed.

For example, I’m pretty good with words, and telling stories is second nature to me, but I had to study to learn how to develop visually striking slides. But if you’re a designer, you can give yourself a head start on other presenters by creating a remarkable slide deck, which will boost your confidence – then start working on your verbal delivery and storytelling.

The ultimate test will be your audience’s response. But a sure sign that you’re on the right track will be when you start looking forward to creating your next presentation…

 

by Mark McGuinness