BELAJAR BERPIKIR OUT OF THE BOX

BELAJAR BERPIKIR OUT OF THE BOX
I Hardhy Winarta

Seorang Guru yang akan mengajarkan Pendidikan Moral Pancasila, mengawalinya dengan membuat garis lurus sepanjang 10 cm di papan tulis, kemudian meminta murid-muridnya untuk menemukan cara bagaimana memperpendek garis tersebut.
Murid pertama maju ke depan lalu menghapus sekitar 2 cm pada garis tersebut, sehingga menjadi sekitar 8 cm. Murid-murid yang lain menganggukkan kepala, tanda mereka menyetujui tindakan murid tersebut. Guru tersebut lalu mempersilakan dua murid berikutnya. Kedua murid tersebut melakukan hal yang sama, yaitu masing-masing menghapus 2 cm dari garis yang masih tersisa, sehingga akhirnya tinggal tinggal 4 cm.
Kemudian Guru tersebut bertanya apakah ada acara lain bagaimana memperpendek garis tersebut selain dengan cara menghapusnya sedikit demi sedikit seperti yang telah dilakukan oleh ketiga orang murid tersebut. Kebanyakan murid menggelengkan kepala, menandakan bahwa mereka tidak lagi mengetahui cara lain yang diminta sang Guru tersebut.
Secara tidak disangka-sangka majulah seorang murid perempuan ke depan kelas. Ia tidak menghapus garis yang masih tersisa, namun ia membuat garis yang lebih panjang sejajar dengan garis pertama yang tinggal 4 cm itu.
Melihat apa yang dilakukan murid perempuan tersebut, murid-murid yang lain terpana. Kemudian Guru itu pun berkata: “Kau memang bijak. Untuk membuat garis itu menjadi pendek, tak perlu menghapusnya, namun cukup dengan cara membuat garis yang lebih panjang. Dengan cara begitu, garis pertama akan menjadi lebih pendek dengan sendirinya.”

Bermula dari pengalaman itu, Guru tersebut kemudian meneruskan pelajaran hari itu dengan menyampaikan pesan moral yang dapat dipetik dari peristiwa tadi. Pancasila, kata Guru tersebut, memuat ajaran moral bahwa dalam kehidupan bersama, kita tidak dibenarkan untuk mengecilkan orang lain, apalagi menghapus keberadaannya. Menghapus garis lurus tadi ibarat mengecilkan atau menghapus eksistensi orang lain. Untuk menjadikan “lebih besar” dibandingkan dengan orang lain, tidak harus dengan “mengecilkan” orang lain, melainkan dengan “memperbesar” diri kita.  Kalau terpaksa kita harus menunjukkan bahwa perbuatan, tindakan atau pekerjaan orang lain itu masih banyak kekurangannya, kita cukup melakukan perbuatan yang lebih baik, maka perbuatan orang lain yang kita anggap kurang baik tersebut akan nampak ketidakbaikannya atau kekurangannya. Untuk tidak membuat lingkungan hidup kita menjadi lebih kotor, kita tidak selalu harus dengan menyapunya seperti yang dilakukan oleh petugas kebersihan, namun sekurang-kurangnya kita tidak membuang sampah seenaknya di lingkungan tersebut. Menjaga kebersihan lingkungan tidak harus dengan menunggu terciptanya sistem pembersihan yang canggih, namun dapat dimulai dengan menumbuhkan kesadaran pada diri sendiri untuk tidak menambah sampah di lingkungannya sendiri. Sayangnya kebanyakan dari kita, terutama generasi muda kita, justru lebih cenderung untuk melakukan hal yang sama atau bahkan meniru apa yang telah dilakukan orang terdahulu, padahal kita tahu bahwa hal itu tidak benar.

Proses pendidikan, melalui pembelajaran di kelas, sebetulnya merupakan upaya untuk mengubah cara berpikir peserta-didik. Istilah kerennya, mengubah mindset atau paradigma. Dengan adanya perubahan berpikir dari yang biasanya, kita berharap akan terjadi pula perubahan tidakan atau perbuatan yang lebih baik.

Upaya menumbuhkan cara berpikir out of the box sering saya lakukan pada mahasiswa melalui proses perkuliahan. Pada setiap pertemuan pertama matakuliah Manajemen Strategik di awal semester, kepada mahasiswa saya minta untuk mengisi kotak-kotak berikut ini dengan angka atau bilangan yang tepat agar hasilnya sesuai dengan yang diharapkan.

Sejauh ini, belum pernah ada mahasiswa kita yang dapat memecahkan atau mengerjakan soal tersebut dengan cepat dan benar. Agaknya mahasiswa terbiasa berpikir secara linier dan jarang sekali yang berpikir secara out of the box. Barangkali karena hasil yang diharapkan berupa bilangan yang utuh, mereka lupa bahwa ada bentuk bilangan decimal.  Ketika saya katakan bahwa mereka perlu mencoba cara berpikir yang lain atau secara lebih kreatif, bahkan dengan cara yang keluar dari batas-batas kerangka pemikirannya; mereka pun belum mampu menemukan caranya. Setelah mereka menyatakan menyerahkan, kemudian diberitahukan cara pemecahannya atau jawaban berikut ini.

Reaksi atas solusi atau cara memecahkan persoalan tersebut bisa bermacam-macam. Ada mahasiswa yang menyesal kenapa cara tersebut tidak terpikirkannya, ada mahasiswa yang heran kepada bisa demikian, namun ada pula yang terkesan bersikap biasa saja.

Bermula dari sikap tersebut, kemudian dapat dijelaskan pengertian strategi, pentingnya strategi bagi suatu perusahaan, juga pentingnya belajar Manajemen Strategik. Mereka perlu disiapkan untuk belajar berpikir secara strategik atau berpikir secara out of the box, baru kemudian dapat belajar Manajemen Strategi, karena pada dasarnya strategi itu, meminjam istilah yang dikemukakan oleh Michael E. Porter (1985), bahwa “Strategy is about making necessary choices to perform different activities from rivals’ or perform similar activities in different ways.”




Syukur, Bersyukur, Disyukuri

Pada Kamis, 23 Februari 2017 saya bertemu seorang alumni STIE Perbanas Jurusan Manajemen, angkatan 1993, Mbak Fitria. Kami sering bertemu karena anak kami bersekolah di tempat yang sama dengan level yang sama walaupun tidak selalu sekelas. Saat itu dia bercerita bahwa dia sudah pindah ke tempat kerja yang baru dan menceritakan pekerjaannya.

Disela-sela cerita dia menyampaikan bahwa dia sangat bersyukur diberi kesempatan untuk pindah pekerjaan karena ternyata tempat kerja yang sebelumnya sudah tidak beroperasi tepat di hari pertama dia bekerja di tempat baru. Sungguh satu kejadian yang harus disyukuri mengingat tanpa pengetahuan akan ditutupnya tempat kerja dia sudah memikirkan untuk pindah pekerjaan.

Saya bersyukur karena Mbak Fitria pernah meminta tenaga alumni untuk ditempatkan di tempat kerjanya sebelum dia pindah ke tempat yang baru. Memang harus disyukuri alumni yang di seleksi belum lolos.Demikian juga saat akan pindah ke tempat kerja yang baru, dia tidak jadi meminta alumni untuk menggantikannya.

Dengan pengalaman Mbak Fitria saya merasa sangat bersyukur karena permintaan alumni mendapat referensi dari saya dan saya tidak membuat alumni mengalami kesulitan dengan ditutupnya perusahaan.




Karakter Individu

Menurut  Stonner  dan  Freeman  (Saryathi,  2003)  Karakteristik individu adalah penjabaran dari sikap, minat, dan kebutuhan yang dibawa oleh seseorang atau  individu dalam melaksanakan kerja. Karakteristik individu adalah perilaku atau karakter yang ada pada diri seorang karyawan, baik positif  maupun  negatif  (Thoha,  2003).

Karakteristik individu  ini  sangat  beragam.  Setiap  perusahaan  dapat  memilih karyawan yang mempunyai kriteria yang  sesuai dengan  apa  yang  diinginkan  perusahaan.  Menurut  Simamora  (2003)  karakteristik  individu dapat diidentifikasi melalui indikator‐indikator berikut ini:

  1. Keahlian

Keahlian yang terdiri atas pengetahuan kerja dan kepemilikan sertifikat kompetensi. Keahlian teknis adalah keahlian pokok pekerjaan dan kemampuan menerapkan teknik dan prosedur mengenai bidang kegiatan tertentu.

Keahlian interaksi atau hubungan antarmanusia adalah keahlian untuk bekerja sama dengan orang lain, mengenai pikiran dan perasaan orang lain serta mampu merangsang dan mendorong orang lain termasuk rekan sekerja.

Keahlian  konseptual  adalah  keahlian  mental  dalam  mendukung  seluruh  kegiatan  organisasi agar organisasi dapat mencapai tujuan.

  1. Kemampuan

Kemampuan  adalah  suatu  kapasitas  individu  untuk  melaksanakan  berbagai  tugas  dalam suatu  pekerjaan  yang  terdiri  dari  kekuatan  fisik,  dan  kemampuan  intelektual  (Robbins, 2006). Kemampuan  fisik  adalah kemampuan yang diperlukan untuk melaksanakan  tugas‐tugas  yang  menuntut  stamina  dan  kecekatan.

Kemampuan  intelektual adalah Analisis Karakteristik Individu, Komitmen Organisasi Beban Kerja dan kemampuan untuk  menjalankan kegiatan mental (Robbins, 2006). Kemampuan intelektual didapat dari tes IQ dan  dari pendidikan formal.

  1. Kebutuhan

Kebutuhan adalah jumlah keperluan baik yang dapat bersifat fisiologis, psikologis, maupun sosiologis yaitu tingkat kebutuhan pangan, sandang, papan, rohani, dan tingkat sosial.

  1. Sikap

Sikap adalah kesiapsiagaan mental yang dipelajari dan diorganisasi melalui pengalaman dan memiliki pengaruh tertentu atas cara tanggap terhadap objek dan situasi yang berhubungan dengannya  yaitu  sikap  dalam  mendukung  usaha  pencapaian  tujuan  organisasi.

Menurut Robbins (2006) sikap adalah pernyataan  evaluatif, baik  menguntungkan  atau  tidak menguntungkan–berhubungan dengan objek, orang, atau peristiwa.  Sikap akan difokuskan bagaimana seseorang merasakan atas pekerjaan, kelompok kerja, penyedia dan organisasi.

Kepribadian individual melekat pada individu yang sifatnya dapat berubah-ubah atau stabil. Kepribadian merupakan salah satukepribadian individual yang bersifat stabil dari waktu ke waktu.

The big five factor merupakan konsep paling populer dalam membagi dimensikepribadian. Istilah lain yang sering digunakan adalah five factor model (FFM). Konsep ini paling sering digunakan dalam berbagai penelitian tentang perilaku keorganisasian dan sering dikaitkan dengan pencapain kinerja atau prestasi seseorang. Hasil penelitian memang menunjukan bahwa dimensi tertentu dari kepribadian memiliki pengaruh yang signifikan dan konsisten dengan prestasi seseorang, baik dalam bekerja maupun dalam proses pembelajaran.

Stanton dan Matthews (1995) menyatakan bahwa konsep kepribadian dapat digunakan untuk beberapa tujuan seperti: seleksi karyawan atau mahasiswa, pengembangan kepribadian, team building, penelitian tentang kepribadian, bimbingan karir dan proses pembelajaran.

John, Donahue, dan Kentle (1991) membagi dimensi kepribadian menjadi lima yaitu openness to experience, conscientiousness, extraversion, agreeableness dan neuroticism (OCEAN).

Kepribadian openness to experience atau keterbukaan terhadap pengalaman hidup antara lain penuh dengan ide baru, imajinasi yang aktif, cerdik dan mendalam, suka refleksi diri, penasaran dengan banyak hal, inovatif, dan artistik. Individu dengan openness to experience yang rendah atau closed to experience memiliki kepribadian yang berkebalikan dari karakter tersebut, seperti tidak inovatif, suka sesuatu yang rutin, praktis, dan cenderung tertutup.




SAKTINYA TIME VALUE OF MONEY (Lanjutan)

Bagaimana kita bisa menentukan berapa jumlah uang yang harus disimpan dan diinvestasikan untuk mewujudkan tujuan keuangan kita ? Berapa tahun waktu yang dibutuhkan untuk mencapainya ? Informasi apa yang dibutuhkan agar pengambilan keputusan itu valid dan bisa mencapai tujuan keuangan tersebut ?
Ada beberapa faktor yang harus dipertimbangkan dalam pengambilan keputusan investasi, antara lain adalah waktu yang tepat, jumlah dana yang dibutuhkan, uang yang tersedia untuk diinvestasikan dan profil risiko dari individu itu sendiri. Selain itu asumsi tingkat pengembalian investasi (Rate of Return/ assumption) dan faktor Inflasi juga berpengaruh terhadap pencapaian rencana keuangan.
Sebagai seorang perencana keuangan tentunya saya sangat berhati-hati dan konservatif dalam penentuan asumsi laju inflasi, dan tingkat suku bunga pengembalian investasi (Rate of Return) dalam memberikan proyeksi atas perhitungan jumlah uang yang harus diinvestasikan untuk mencapai tujuan klien di masa depan.
Oleh karena itu perlu kita pahami beberapa konsep dalam TVM, yaitu:
1. Nilai Masa Depan (Future Value)
Yang terbagi atas: – Nilai masa depan dari investasi tunggal (Future Value of a Single Sum)
– Nilai masa depan dari sebuah anuitas dengan pembayaran di awal
periode (Future Value of An Annuity Due)
2. Nilai Masa Kini (Present Value)
Yang terbagi atas: – Nilai Masa Kini dari Investasi Tunggal (Present Value of a Single Sum)
– Nilai masa Kini dari Investasi Berkala/ Annuitas (Present Value of
Annuity).
Sedangkan Nilai Masa Kini dari Investasi Berkala/ Annuitas (Present Value of Annuity) terbagi lagi menjadi:
• Nilai Masa Kini dari Anuitas Umum (Present Value of An Ordinary Annuity)
• Nilai Masa Kini dari Anuitas dengan Pembayaran pada Awal Periode (Present Value of An Annuity Due).
Untuk mengetahui lebih jelasnya perlu diberikan beberapa contoh sehingga para pembaca dapat memahami dan mengaplikasikannya di kehidupan sehari-hari. Anda dapat menghitung, mengelola dan merencanakan keuangan anda dengan metode-metode yang akan saya jelaskan pada episode berikutnya.




SAKTINYA TIME VALUE OF MONEY (Bagian I)

Time Value of Money (TVM) merupakan salah satu materi yang diajarkan dalam mata kuliah Manajemen Keuangan. Materi TVM ini memegang peranan penting dan menjadi dasar dalam sebagian besar perhitungan dalam setiap pokok bahasan. Kalau dilihat dari Rencana Pembelajaran Semester (RPS) Manajemen Keuangan I dan II, maka hampir sebagian besar materi yang diberikan mengacu atau mendasari atas perhitungan dan konsep dasar TVM. Sebutkanlah misalnya Valuation of Securities (Bonds dan Stocks), Capital Budgeting (Penganggaran Modal), Cost of Capital (Biaya Modal),dan Term Loans (Pinjaman Berjangka). Tanpa penguasaan yang baik tentang konsep TVM, maka mustahil hasil luaran dari pokok-pokok bahasan yang disebutkan diatas dapat dikuasai dengan baik.
Begitu pula dalam perencanaan keuangan, konsep TVM memiliki begitu banyak aplikasinya yang saling terkait. Ketika kita mempelajari modul di bidang Asuransi yang berkaitan dengan persiapan untuk bea siswa putra-putri bapak/ ibu, maka dapat diperhitungkan berapa jumlah dana yang harus ditabung saat ini untuk mempersiapkan masa depan putra putri bapak/ ibu dimasa mendatang ? Mungkin ada yang berkeinginan melanjutkan studinya ke Perguruan Tinggi di luar negeri ? Sebaliknya, berapa jumlah dana yang akan diterima di masa mendatang, atas sejumlah dana yang sudah dipersiapkan dari sekarang untuk membiayai bea siswa putra-putri anda. Masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang muncul ketika kita mempelajari TVM, tidak hanya berhubungan dengan masalah investasi, dan asuransi saja, namun dapat berhubungan dengan perhitungan hukum waris, pengambilan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) atau Kredit Pemilikan Apartemen (KPA), misalnya.
Secara sederhana konsep ini dapat digunakan untuk menentukan berapa banyak jumlah uang yang harus diinvestasikan untuk mewujudkan objektivitas/tujuan keuangan. Bagi seorang Investor yang memiliki dana lebih, tentunya akan bertanya berapa besar tingkat pengembalian investasi (Rate of Return/assumption) yang diaplikasikan terhadap setiap nilai rupiah yang ditabung/diinvestasikannya.
Untuk mengetahui lebih lanjut bagaimana aplikasi dan kesaktian TVM dalam memecahkan setiap persoalan, akan dilanjutkan pada edisi berikutnya.




Apa itu The Three Pilars of Satanic Finance?

Bermula dari Profesor Kameel Mydin Meera dari Malaysia menggagas 3 unsur utama ketidak-adilan yang telah berlangsung berabad abad lamanya sejak uang kertas diberlakukan maka terjadi ketimpangan antara negara yang mata uangnya termasuk kategori hard currency vs negara negara yang mata uamgnya masuk kategori soft currency.

Menurut Profesor Kameel Mydin Meera gagasan beliau inilah yang telah menginspirasi sebuah buku yang berjudul Satanic Finance yang ditulis oleh A. Riawan Amin. Menurut saya buku tersebut sangat berguna dan sangat mudah untuk  dimengerti baik oleh para pakar maupun bagi orang awam sekalipun. Saat ini tidak sedikit yang masih  menganggap sistem perbankan konvensional modern adalah merupakan suatu sistem pengelolaan keuangan yang tanpa cacat dan sangat diperlukan untuk membangun perekonomian suatu negara, tetapi ternyata sistem perbankan yang sudah dianggap mapan ini adalah sistem yang membuat sebagian
orang menjadi kaya raya dan sebagian besar lainnya malah jadi terjerat dalam suatu vicious circle yang merupakan suatu siklus kemiskinan yang tidak berakhir, kecuali salah satu mata rantainya dihilangkan yang berupa 3 pilar setan tsb.

Masih menurut buku tersebut sistem perbankan konvensional modern adalah suatu alat dari suatu sistem yang melegalkan terjadinya exploitation de’lome par’ lome  yaitu merupakan sistem perbudakan manusia atas manusia bahkan dapat juga merupakan alat yang dapat digunakan suatu negara untuk menjajah negara lain. Dimana pada kenyataannya ada segelintir elit penguasa keuangan dunia yang menguasai pusat pusat bank sentral yang mengatur semua sistem perbankan yang berlaku di seluruh dunia.

Untuk jelasnya apa yang disebut dengan  the three pilars of satanic finance tsb. Adalah sbb.:
1. Fiat Money (uang kertas)
2. Fractional Reserve Requirement (cadangan minimal uang di Bank)
3. Interest (Bunga atau Riba)

Hal-hal yang disebut di atas  inilah yang merupakan tiga fondasi utama yang telah menjadi benalu bagi kehidupan ummat manusia selama ini:

Fiat Money (uang kertas).
Henry Ford yaitu pendiri perusahaan mobil Ford dan salah satu tokoh terpenting dalam sejarah Amerika modern pernah mengatakan bahwa sebaiknya bangsa Amerika tidak mengetahui asal-usul uang negara mereka, karena bila mereka tahu maka besok akan terjadi revolusi besar-besaran. Timbul pertanyaan mengapa dia berkata begitu?

Hal ini tentunya tidaklah terlepas dari sejarah uang itu sendiri

Awal mulanya uang dapat berwujud dalam berbagai bentuk, antara lain pernah berupa kulit kerang, garam dll. Pada dasarnya alat tukar seperti ini pada prakteknya mudah rusak dan tidak tahan lama. Puncaknya penemuan bentuk uang yang paling ideal adalah ditemukan uang dalam bentuk  emas, maka emas menjadi alat tukar yang dapat dipakai lebih dari 12 abad. Dengan ditemukannya emas sebagai mata uang maka terjadi keadaan dimana uang menemukan bentuknya yang relatif lebih sempurna dan adil sehingga juga menjadikan keadaan perekonomian relatif lebih stabil. Permasalahan mulai timbul ketika bangsa Yahudi mulai memperkenalkan uang kertas melalui ksatria templar ketika perang salib, dimana peziarah yang membawa emas harus menitipkan emasnya pada mereka dan peziarah diberikan surat jaminan dan dapat mencairkan emasnya kembali setelah sampai di kota yang dituju, tentunya dengan potongan pelayanan dengan besaran tertentu. Surat jaminan inilah yang merupakan cikal bakal uang kertas.
Pada awal kemunculan uang kertas, masyarakat menyimpan emasnya dengan surat jaminan dapat menukarkan surat jaminan itu setiap saat, sehingga masyarakat percaya akan kertas surat jaminan yang tidak bernilai secara intrinsik tersebut. Setelah masyarakat menjadi lebih percaya, emas yang mereka simpan menjadi sangat jarang mereka ambil karena yakin emasnya akan dapat diambil bila sewaktu-waktu dibutuhkan. Para bankir yang tamak dan jahat melihat suatu peluang untuk melipat gandakan hartanya dengan suatu taktik licik yang sekarang menjadi kurikulum yang dipelajari oleh semua mahasiswa ekonomi dan perbankan. Taktik ini disebut Fractional Reserve Requirement.

Fractional Reserve Requirement
Fractional Reserve Requirement adalah suatu peraturan pada perbankan yang mengharuskan setiap bank memiliki minimal 10% dari uang yang dikreditkan/dipinjamkan, artinya bila jumlah yang dikreditkan sebesar 100 juta, maka bank harus tetap memiliki dana cadangan yang dapat dicairkan sewaktu-waktu sebesar 10 juta (10%).

Interest (Bunga/Riba)

Mengenai riba AlQuran dalam ayat-ayatnya antara lain dalam surat Al Baqoroh dari ayat 275 sampai dengan ayat 279 sangat jelas mengharamkan riba dan meghalakan jual beli. Riba secara  linguistik berarti tumbuh dan membesar; dalam bahasa Arab bermakna ziyadah atau tambahan.

Secara teknis riba berarti pengambilan tambahan dari harga pokok atau modal secara batil.

Yusuf Al Qardhawi dalam salah satu kitabnya, mengatakan : ”Setiap pinjaman yang mensyaratkan di dalamnya tambahan adalah riba”.

Menurut Mazhab Syafi`I
Riba Dibagi Menjadi 3

Riba al yad

Riba al fadl

Riba an-nasi`ah

Syafi`ǐ Antonio Membedakan
Riba Atas Beberapa Jenis:

Riba Qardh, riba jahiliyah, yaitu uang dibayar lebih dari pokoknya. Karena si peminjam tak mampu membayar hutangnya tepat waktu.

Riba al-fadl, yaitu pertukaran antar  barang sejenis dengan kadar atau takaran yg berbeda, dan barang  tsb termasuk  jenis barang ribawi

Riba an-nasi`ah yaitu penangguhan penyerahan atau penerimaan jenis barang ribawi yang dipertukarkan dgn jenis barang ribawi.

Sebelum dikeluarkannya fatwa haramnya bunga bank oleh MUI bunga bank hanya dianggap syubhat belaka tetapi dengan dikeluarkannya Fatwa MUI Nomor 1 Tahun 2004 Tentang Bunga Bank, maka bunga bank dianggap sama dengan riba yang diharamkan AlQuran artinya dianggap sama dengan praktek riba di jaman Nabi SAW

Walhasil ketiga sumber masalah di atas itulah yang menjadi tugas bersama ummat Islam dan ummat manusia seluruhnya dalam memerangi kebathilan bersama sepanjang jaman di bidang ekonomi dan keuangan baik secara mikro maupun secara makro ekonomi.

 

 




8 Alasan Ikut Konferensi Ilmiah

1. Bertemu dengan peneliti/profesor di bidangnya
2. Mengembangkan jejaring
3. Untuk yang baru lulus, kemungkinan memperoleh peluang kerja
4. Untuk konferensi yang baik, ada kemungkinan karya ilmiah diperiksa dan diberi masukan dengan teliti, sehingga    kualitasnya dapat diperbaiki
5. Memperoleh ide baru dari diskusi-diskusi dengan para peneliti
6. Jalan-jalan 🙂
7. Berpeluang mendapatkan penghargaan jika makalahnya bagus, sehingga dapat memperbaiki riwayat hidup
8. Memperbaiki makalah untuk publikasi jurnal

Thavamaran Kanesan




HOW TO USE A DICTIONARY By Ignatius Septo Pramesworo

HOW TO USE A DICTIONARY By Ignatius Septo Pramesworo

If you want to use a dictionary, you should know some ideas. For example:

  1. A dictionary will give the idea how to spell a word and its special plural form.
  2. It gives the idea, whether or not the word is capitalized or abbreviated.
  3. A dictionary will show you how to break the word into syllables.
  4. You can also know how to pronounce the word.
  5. A dictionary will give you the part of speech of a word.
  6. It also shows different meanings that the word has, as well as synonyms (same meaning) and antonyms (opposite meaning).
  7. In a dictionary, you can see a sentence or expression with the word used correctly.
  8. There are some meanings of important prefixes and suffixes.
  9. In a dictionary, you can find special uses of the word.
  10. Moreover, in some dictionaries, you can read the history of the word.
  11. You see also other words that are derived from the main word.

 

In special sections in some dictionaries you can also find:

  1. Foreign words and phrases;
  2. Abbreviations;
  3. Addresses of colleges or government offices; and
  4. The population of cities and countries.

 

If you implement the following ideas, you will save your time when you use a dictionary:

  1. Know and use proper alphabetical order;
  2. Use guide words to save time; and
  3. Check all abbreviations and symbols in the special sections

 

If at first you do not  succeed in finding the word, don’t give up. You might need to check several possible spellings before finding the word. You can substitute the meaning you find for the word in the sentence. Be sure you select the most appropriate meaning, not merely the first one you come to.

Moreover, you should try saying the word aloud after you look at the pronunciation key.

The idea of this paper was taken from The University of Alabama-Center for Academic Success




CRITICAL REVIEW. Tantangan Pedagogik pada organisasi pembelajaran . Bagian 2

Analisa dan Hasil Penelitian
Ketidaksesuaian proses pengelolaan dan otonomi guru cenderung menghambat kepala sekolah dan guru mewujudkan tindakan berdasarkan makna penafsiran kolektif dan pengetahuan yang dilembagakan dalam organisasi. Dalam beberapa contoh, para guru memberikan alasan yang terperinci mengapa mereka tidak mengikuti kolaborasi yang disyaratkan dalam tim, atau menolak untuk menggunakan kuesioner. Pertentangan lainnya, seperti dilema dari para guru terhadap hal kualitas atau ketidaksesuaian mengenai proses pengelolaan, yang dilakukan dengan cara menghindari adanya refleksi kolektif. Kecenderungan untuk tidak membicarakan aspek kualitas, kolaborasi atau proses pengelolaan menunjukkan adanya mekanisme pertahanan sosial dan emosional yang penting yang menutupi pertentangan sehingga menghalangi potensi belajar mereka. Kondisi struktural ini umumnya tidak ditangani secara tegas atau secara konseptual dalam komunikasi antara para guru dan kepala sekolah.

Kesesuaian Topik
Topik yang dibahas pada penelitian sudah sesuai dengan judul penelitian ini.

KRITIKAN
1.Topik pada tulisan
a) Jurnal (Jon Ohlsson) ini sangat menarik mengangkat pentingnya tantangan pedagogik pada organisasi pembelajaran di bidang pendidikan (sekolah), yaitu dengan diberikannya intervensi pada proses pembelajaran sehingga organisasi menjadi lebih belajar dan menjadi lebih baik.
b)Pada Jurnal (Hussain et all, 2014) ini topik yang diangkat pada penelitian ini kurang menarik, karena bersifat umum.
c)(Rus et all, 2014) topik jurnal ini menarik sekali yaitu mengenai hubungan antara organisasi belajar dan tanggung jawab sosial universitas. Tidak hanya membahas mengenai intern sekolah saja namun lebih luas.
–> kesimpulan : Dalam hal topik tulisan jurnal (Jon Ohlsson) sudah baik dan menarik ditambah dengan adanya intervensi pada proses pembelajarannya.

2.Bagian pendahuluan
a) pada Jurnal ini ditulis dengan baik dan jelas apa yang melatar belakangi adanya penelitian, dan juga apa tujuan serta masalahnya. Uraian disampaikan dengan sangat jelas. , runut , ceritanya mengalir, sehingga menarik pembaca untuk mengetahui lebih dalam isi dari tulisan jurnal.
b) Pada Jurnal (Hussain et all, 2014) ini dalam uraiannya menyatakan bahwa PIHE (lembaga pendidikan tinggi Malaysia), latar belakang mengenai masalah penelitian tidak jelas, hanya dituliskan tujuan penelitian yaitu agar PIHE dapat menjadi organisasi belajar agar menjadi lebih baik, lebih inovatif.
c) Jurnal (Rus et all, 2014) membahas latar belakang masalah dengan sangat baik, penulisannya sangat runut, demikian juga tujuan penelitian ditulis dengan jelas yaitu pertama, melakukan penyelidikan mengenai hubungan antara persepsi anggota dari organisasi belajar dan tanggung jawab sosial pada dua universitas di Rumania. Kedua, mempelajari hubungan dalam tiga kelompok pemangku kepentingan internal yang berbeda. Pada penelitian ini peneliti mengharapkan dengan adanya dimensi yang berbeda dari organisasi belajar akan menyajikan hubungan yang berbeda dengan tanggung jawab sosial universitas . Hubungan ini akan bervariasi sesuai dengan status organisasi.
–> Kesimpulan : Pendahuluan pada jurnal ini sudah baik dibandingkan dengan jurnal (Hussain et all, 2014). Walaupun jurnal (Rus et all, 2014) ditulis lebih detail, namun jurnal ini lebih menarik dibaca karena memiliki ke khasan dalam hal intervensi dan tacit knowledgenya.

3.metode penelitian
a) pada jurnal ini dijelaskan dengan sangat gamblang yaitu dimulai dengan menganalisa melakukan intervensi proses pembelajaran, hingga dilakukan 39 wawancara secara mendalam kepada guru dan kepala sekolah .
b) Pada jurnal (Hussain et all, 2014) metode penelitian yang digunakan hanyalah berupa studi literature sehingga kurang menarik.
c) (Rus et all, 2014) Para peserta berjumlah 536 anggota dari dua universitas negeri di Rumania, Lebih dari setengah jumlah peserta (64,9%) adalah perempuan. Dalam hal status organisasi, 227 (44,2%) adalah siswa, 234 (45,6%) staf yang terlibat dalam pengembangan program studi, sebagain besar guru, dan 52 (10,1%) staf dengan peran kepemimpinan, pemantauan, evaluasi dan pengendalian. Peserta ini dianggap sebagai pemangku kepentingan internal dari dua universitas, yang memiliki pengaruh besar terhadap kualitas proses pendidikan dan pembentukan serta pengembangan profesional pada organisasi-organisasi ini. Dijelaskan pula instrumen penelitian, serta tata cara pengisian instrumen.
–> Kesimpulan : metode penelitian pada jurnal (Rus et all, 2014) dijelaskan sangat detail dan baik sekali dibandingkan jurnal ini dan jurnal (Hussain et all, 2014)

4.Prosedur penelitian
a) pada jurnal ini dijelaskan dengan rinci tahapan-tahapannya dan dipertegas dengan disertai gambar.
b) Jurnal (Hussain et all, 2014), prosedur penelitian literatur ini adalah mengumpulkan bahan-bahan literatur yang terkait dengan topik penelitiannya kemudian dipetakan adanya hubungan yang potensial antara organisasi yang belajar, kinerja organisasi dan inovasi organisasi dalam konteks PIHEs
c)(Rus, et all, 2014) prosedur penelitian dibuat untuk memudahkan pengisian instrumen penelitian.
–> Kesimpulan : prosedur penelitian pada jurnal ini sudah rinci dan jelas, namun prosedur penelitian ini tidak ditulis point tersendiri seperti pada (Rus et all, 2014).

5. Kepemimpinan
a) Jurnal ini membahas bahwa kepala sekolah sebagai pemimpin organisasi yang awalnya selalu menghindar dari tanggung jawab dengan adanya intervensi proses pembelajaran sekarang mengalami perbaikan dalam kepemimpinannya.
b) Jurnal (Hussain et all, 2014). Pemimpin pada PIHE saat ini dalam mengambil keputusan tidak menyertakan karyawannya, hal ini karena karyawan dianggap kurang pengalaman dan pengetahuannya.
c) (Rus et all, 2014) pada penelitiannya menyatakan bahwa Pimpinan di kampus memberdayakan orang lain untuk membantu melaksanakan visi organisasi; diketahui pula bahwa pemimpin organisasi mendorong adanya belajar yang berkelanjutan, selain itu pemimpin juga memiliki tanggung jawab sosial universitas.
d) Senge (1990) menaruh perhatian pada dialog, pembelajaran tim dan peran pemimpin sebagai guru.
e) Marquardt (1996:1-2) kemampuan organisasi beradaptasi dengan lingkungannya ditentukan oleh keberadaan suprastruktur yaitu sumber daya manusia (SDM), dan infrastruktur berupa iklim organisasi. Organisasi akan beradaptasi secara cepat bila memiliki SDM yang sensitif terhadap perubahan diluar organisasi dan mampu belajar secara cepat, serta apabila organisasi memiliki lingkungan yang kondusif untuk mendorong proses belajar.
–> Kesimpulan : Pada jurnal ini terlihat bahwa sekolah kasus dan pembanding dengan adanya intervensi proses pembelajaran mulai menjadi organisasi pembelajaran. Dimana Pemimpin/ kepala sekolah yang awalnya menghindar dari tanggung jawab sekarang telah ada perbaikan yaitu menjadi lebih bertanggung jawab. Dalam hal kepemimpinan sekolah kasus telah berupaya melalui proses belajar untuk menjadi organisasi yang belajar.

6.organisasi belajar
a) Dengan adanya organisasi yang belajar maka pada penelitian jurnal ini diketahui bahwa: para guru dan kepala sekolah sudah terjalin adanya kolaborasi/kerjamasa tim yang baik, telah terjalin komunikasi yang baik, diskusi serta umpan balik dari para guru dan kepala sekolah, demikian pula para guru telah terbuka wawasannya lebih luas. Dengan demikian, banyak organisasi yang berusaha untuk menjadi organisasi belajar (Senge, 1990).
b) (Rus et all, 2014) pada penelitian ini diketahui bahwa budaya belajar dari universitas terletak pada pemangku kepentingan internal yang berbeda, seperti mengungkapkan pandangan pribadi, mendengar dan menyelidiki pandangan orang lain, menanamkan nilai-nilai yang secara strategis mendukung pembelajaran dan merangsang kolaborasi antara anggota yang berbeda, mengajukan pertanyaan, umpan balik, dan melakukan eksperimentasi terhadap pengetahuan individu dan kolektif merupakan hal yang penting bagi suatu organisasi dalam rangka  mengembangkan dan memelihara hubungan yang benar di dalam dan dengan lingkungan internal dan eksternal. Pada penelitian ini juga ditemukan adanya tingkat yang moderat dari karakteristik organisasi belajar menurut “pandangan” dari tiga kategori pemangku kepentingan internal.
c) (Senge, 1990) Tradisi organsasi yang belajar sering digambarkan sebagai struktur/konstruksi yang bersifat metafora dan visioner berdasarkan teori sistem dan berbagai macam teori pembelajaran dan pengetahuan. Lima pilar yang membuat suatu Organisasi menjadi organisasi pembelajaran yaitu: Personal Mastery (Penguasaan Pribadi), Mental Models (Model Mental) – Shared Vision (Visi bersama), team Learning (Belajar beregu), System Thinking (Berpikir sistem)
d) (Marquardt, 2002) menyatakan bahwa tampaknya ada banyak hal yang harus dilakukan dalam menginformasikan perguruan tinggi sebagai organisasi mengenai cara belajar, berkembang memiliki suatu bentuk kemampuan belajar yang lebih tinggi yang memungkinkan mereka untuk belajar lebih baik dan lebih cepat dari keberhasilan dan kegagalan yang mereka alami.
–> Kesimpulan: Jurnal ini membahas mengenai organisasi pembelajaran, berdasarkan intervensi yang dilakukan pada sekolah kasus maka telah berjadi banyak perubahan dan sekolah kasus menjadi organisasi yang belajar yang meliputi 5 disiplin seperti dikemukakan (Senge, 1990), seperti adanya dialog dan interaksi tatap muka, anggota tim diharapkan belajar bersama-sama, tindakan bersama untuk mencapai tujuan organisasi, adanya guru dapat melihat kompleksitas kualitas kerja dalam organisasinya dan meningkatkan kepeduliannya terhadap tantangan dan kesulitan yang dihadapi. Sekolah kasus terus belajar untuk menjadi lebih baik, walaupun mereka pernah gagal (Marquardt, 2002).

7.Referensi yang digunakan
a) jurnal ini sebanyak 28 artikel .
b)Jurnal (Hussain et all, 2014) digunakan referensi sebanyak 25 artikel,
c)(Rus et all, 2014) menggunakan referensi sebanyak 33 artikel
–> Kesimpulan : dalam hal referensi, jurnal Rus et all, menggunakan lebih banyak artikel pendukung untuk mendukung kelengkapan jurnalnya.

Referensi

1.C. L. Rus, S. Chirică, L. Raţiu, and A. Băban.(2014). Learning Organization and Social Responsibility in Romanian Higher Education Institutions. Procedia – Soc. Behav. Sci., vol. 142, pp. 146–153
2.J. Ohlsson. (2014).Pedagogic challenges in the learning organization,” Learn. Organ., vol. 21, no. 3, pp. 162–174
3.Marquardt, M. J. (2002). Building the learning organization: Mastering the 5 elements for corporate learning (2 nd edition). Palo Alto, CA: Davies-Black Publishing. edition). N. Boston: Bealey Publishing.
4.N. Hussein, A. Mohamad, F. Noordin, and N. A. Ishak. (2014).Learning Organization and its Effect On Organizational Performance and Organizational Innovativeness: A Proposed Framework for Malaysian Public Institutions of Higher Education, Procedia – Soc. Behav. Sci., vol. 130, pp. 299–304
5. Senge, P. (1990), The Fifth Discipline. The Art and Practice of the Learning Organization,Doubleday, New York, NY.




CRITICAL REVIEW Tantangan Pedagogik pada organisasi pembelajaran . Bagian 1

PROFIL JURNAL
Judul : Tantangan Pedagogik pada organisasi pembelajaran
Penulis : Jon Ohlsson.
Jon Ohlsson has a PhD degree and is an Associate Professor. His main research interests are issues on adults’ learning processes in teams and organizations and pedagogic interventions.
Jon Ohlsson can be contacted at: jon.ohlsson@edu.su.se
Institusi Departemen Pendidikan, Stockholm University, Stockholm, Swedia
Publikasi The Learning Organization Vol. 21 No. 3, 2014 pp. 162-174
© Emerald Group Publishing Limited 0969-6474.
DOI 10.1108/TLO-09-2013-0045
Kata Kunci : pembelajaran di tempat kerja, Perubahan organisasi, organisasi pembelajaran, pembelajaran Tim, Kontradiksi, tantangan Pedagogik

PENDAHULUAN
Jurnal dengan judul tantangan pedagogik pada organisasi pembelajaran adalah merupakan hasil penelitian yang dilakukan pada sekolah tingkat menengah di kota kecil Swedia, yang bertujuan mengetahui secara konsep mengenai organisasi pembelajaran. Dalam penelitian ini metode yang digunakan adalah wawancara dengan para guru dan kepala sekolah.

Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian adalah untuk menjelaskan pemahaman konseptual mengenai tantangan masalah pendidikan dalam organisasi pembelajaran, pada penelitian ini diusulkan adanya suatu model intervensi pedagogik untuk memudahkan pembelajaran mengenai organisasi dan mengelola pengetahuan yang belum dapat diungkapkan/tacit knowledge.

Metode Penelitian
Organisasi pedagogik pada peneliti ini meliputi analisa dan intervensi terhadap proses pembelajaran pada pengembangan kualitas organisasi sekolah lokal. Penelitian empiris ini secara khusus difokuskan pada adanya ketidaksesuaian dan tantangan mengenai pembelajaran dalam organisasi. Penelitian ini menggunakan desain penelitian multi-kasus, dimana dilakukan 39 wawancara secara mendalam dengan para kepala sekolah dan guru, dan digunakan analisa tematik kualitatif.

Materi Pelajaran
Isi materi pada penelitian ini adalah mengenai pembelajaran organisasi yang diperlukan untuk penciptaan tradisi organisasi belajar (TLO). Yaitu dimana Guru dan Kepala Sekolah menganalisa kualitas kerja dalam aktivitas sekolah, dan tim guru belajar bersama untuk menciptakan pengetahuan bersama baik yang bersifat implisit maupun eksplisit, dan juga kontribusi dan intervensi untuk pengembangan praktek di sekolah.

Alat
Analisis pedagogik organisasi menyediakan alat konseptual untuk mengenali adanya ketidaksesuaian dan tantangan lainnya yang berkaitan dengan proses pembelajaran. Intervensi pedagogis ini memberikan kemudahan untuk pembelajaran masyarakat dan membantu mereka dalam mengatur aktivitas secara lebih baik.

Kesimpulan Penelitian
Kesimpulannya adalah bahwa dilema dan paradoks, merupakan hal yang sulit untuk dikonsepkan dan dijelaskan secara tegas/eksplisit untuk menciptakan pengetahuan bersama. Pada penelitian ini diajukanlah suatu model perulangan intervensi pedagogik, yang bertujuan memfasilitasi proses pembelajaran kolektif yang kontinyu dan mengelola pengetahuan yang belum dapat diungkapkan (tacit knowledge).

ANALISIS
Analisa Umum Penelitian
Penelitian mengenai organisasi pembelajaran telah banyak dilakukan baik di sekolah, di perusahaan, di pemerintahan, maupun organisasi-organisasi lainnya. Beberapa penelitian organisasi pembelajaran ini menggunakan metode penelitiannya dengan wawancara, kuesioner ataupun literatur. Pada penelitian ini dilakukan penelitian organisasi pembelajaran pada sekolah tingkat menengah dan metode penelitiannya menggunakan wawancara.

Obyek yang diteliti : guru dan kepala sekolah pada sekolah kasus dan sekolah pembanding
Metode Penelitian
Penelitian yang dilakukan ini adalah penelitian kasus satu sekolah dan dua sekolah lainnya yang digunakan sebagai tim pembanding. Pada penelitian ini dilakukan intervensi pedagogik sehubungan dengan proses pembelajaran dalam organisasi di sekolah kasus tersebut, dengan menggunakan 39 wawancara.

Materi Pelajaran
Materi pelajaran pada penelitian ini adalah pentingnya diskusi dengan sesama guru mengenai analisa kualitas dan kerja kolaboratif tim, perlunya komunikasi dan berbagi pengalaman juga gagasan dengan rekan tim, pemberian internvensi kegiatan dan seminar refleksi, serta kesempatan untuk mengambil bagian dalam diskusi yang berkualitas.

Prosedur Penelitian
Model loop intervensi pedagogik disarankan sebagai alat untuk mengelola pengetahuan tacit. Temuan dalam penelitian ini menunjukkan perlunya teknik intervensi yang menyeluruh yang menggabungkan dialog, refleksi kolektif pada tindakan nyata dan kejadian penting serta perbaikan struktur. Gerakan loop dialogis terdiri atas tantangan untuk menangani dilema, konflik dan ketidaksesuain yang diketahui sebagai potensi kemampuan untuk pembelajaran (Gambar 1). Sehubungan dengan Albinsson dan Arnesson (2012), model pedagogik ini menyiratkan adanya kepemimpinan pedagogik dan kegiatan tim pembelajaran. Temuan pada penelitian ini menjadi penting terutama dalam konteks sekolah dan guru.