“We are like islands in the sea, separate on the surface but connected in the deep.”

“We are like islands in the sea, separate on the surface but connected in the deep.” William James

Tanggal 12-14 November 2015 kemarin saya bersama 14 teman lainnya ikut trip Sailing Komodo. Dari awal sudah ngebayang tinggal selama 3 hari 2 malam di kapal, lengkap dengan segala aktivitasnya seperti makan dan tidur. Dan pertanyaannya adalah goyang-goyang gak sih? Hihihi…. dan ternyata asli goyang-goyang. Karena tanggal 12 itu jam 9 pagi sudah harus nyampe di Bandara Komodo, Labuan Bajo, maka saya memutuskan untuk berangkat satu hari sebelumnya dan menginap di Denpasar. Agak cemas juga sih karena beberapa penerbangan dari Bandara Ngurah Rai ini dibatalkan karena erupsi dari anak gunung Rinjani. Tapi alhamdulillah jam 6 pagi pesawat siap take off menuju Bandara Komodo di Labuhan Bajo. Ini untuk kedua kalinya saya menggunakan pesawat baling-baling, setelah sebelumnya menggunakan pesawat jenis yang sama penerbangan dari Ambon ke Sorong. Pesawat terbang rendah, dalam perjalanan menuju Bandara Komodo, landscape yang dapat dilihat dari atas pesawat sangat indah. Perjalanan dari Denpasar ditempuh dengan waktu sekitar 1 jam dan 35 menit. Sehingga pukul 7.45 sampailah kita di terminal kedatangan Bandara Komodo. And the journey start here…. 😀

Jam 9 kurang kami dijemput mas Irfan yang menjadi guide perjalanan kita mengelilingi pulau-pulau cantik yang tersebar di Taman Nasional Komodo. Kami diantar ke pelabuhan, disana sudah menunggu beberapa teman yang sudah datang terlebih dahulu, dan disambut mba Detri, guide yang juga akan bersama kita selama trip. Kapal yang akan menemani perjalanan kita sudah siap di pelabuhan. Lumayan lah, ada 4 kamar tidur (1 di atas dan 3 di bawah), 2 kamar mandi, dan bersih juga kondisinya. Apabila pintu masuk kamar di bawah ditutup, maka akan bisa digunakan sebagai geladak untuk duduk-duduk santai selama perjalanan. Jam 10 waktu NTT setelah semua peserta lengkap, mulailah kapal bergerak, menyusuri selat-selat di Laut Flores yang kala itu cukup tenang airnya. Sepanjang perjalanan kami menyaksikan puluhan kapal yang juga berlayar di sekitar kapal yang kami tumpangi. Beberapa kali melihat kapal pinisi cantik, hmm…. semoga suatu saat dapat kesempatan bisa berlayar pake pinisi yang kece badai ini, aamiin….:D

Pulau pertama yang kami kunjungi adalah Pulau Kanawa. Panas dari musim kemarau yang cukup panjang di tahun ini tidak menyurutkan kami untuk menikmati pemandangan di pulau ini. Untuk dapat melihat lanscape keseluruhan pulau maka kita harus trekking ke atas bukit. Kebayang lah ya, tanjakan terjal dan panas menyengat, tapi maju terus pantang mundur. Sampai di atas kita bisa melihat beberapa pondok penginapan yang memang disediakan di Pulau Kanawa. Pulau ini dikelola oleh perorangan. Tapi pengunjung boleh berfoto dan menikmati pemandangan di pulau tersebut.

Puas berfoto di atas, biarpun panas tetap menyengat, kami pun turun, dan mampir di satu-satunya kafe yang ada di pulau tersebut untuk melepas lelah. Saya pun memesan es teh manis, harganya? 35 ribu sajah hahhahha……, ya sutra kita nikmati ajalah.

Setelah haus hilang, kami kembali ke kapal untuk lanjut snorkeling. Mba Detri menemani saya snorkeling dan menunjukkan arah dimana tempat terumbu karang yang bagus. Jujur aja deh, saya tuh buta arah, dari dulu memang rada bego klo urusan yang beginian. Sehingga klo snorkeling pasti ngajakin bareng, soalnya klo sudah di air kagak tahu lagi tuh arahnya kemana, kudu belok mana klo mau kembali ke kapal, so takutnya begitu nongol udah di tengah laut aja, konyol kan hihihi….

Kelar snorkeling, acara makan siang pun digelar di geladak kapal. Koki yang juga merangkap ABK ternyata pinter masak. Bumbu pas, apalagi ditambah laper berat abis treking dan snorkeling. Setelah makan, kapal berjalan lagi menuju pulau kedua yaitu Gili Lawa atau Gili Laba. Sebelum berangkap trip saya sudah browsing sedikit mengenai medan trekking Gili Lawa ini. Sepertinya akan jadi medan terberat selama perjalanan. Agak menjelang sore kapal bersandar di tepi pulau Gili Lawa. Akhirnya satu persatu dari kami turun ke pantai dan terlihat jelaslah rute trekking yang aduhai itu. Awalnya sih rada ragu-ragu ya buat lanjut ke atas, tapi no way return lah. Hajar aja hihihi…, walaupun ngos-ngosan, dan beberapa kali berhenti istirahat. Rutenya memang aduhai, bahkan sering tidak menyisakan tempat landai untuk berdiri tegak, luar biasa deh. Pelan tapi pasti sampai juga di atas. Semangat yang dikobarkan pak Marco, sebutan kita buat nahkoda kapal, membuat semua tetep lanjut untuk sampai puncak. Dan, finally…., sampailah kita pada puncak Gili Lawa tersebut. Landscape yang terhampar bener-bener kece badai lah…, sepadan dengan perjuangannnya. Kita di atas sampai sunset tiba, pelan-pelan matahari turun, walaupun tidak sempurna karena tertutup awan. Tapi sensasinya luar biasa, warna orange, merah, dan biru membaur membuat lukisan yang luar biasa indah, hihihi…tiba-tiba jadi romantis ya.

Setelah puas foto dan menikmati alam yang sangat indah, akhirnya kami memutuskan untuk turun. Tapi rute yang kami lewati beda, lebih landai, dan lebih panjang. Karena sudah mulai gelap rute ini lebih tepat, karena risiko bisa jatuh kalau melalui rute awal. Malam benar-benar turun ketika kami tiba di kapal. Sampai kapal kami istirahat sambil menunggu makan malam disiapkan. Ada seekor rusa yang turun ke pantai untuk minum, ada hamparan bintang, lengkap deh cakepnya. Setelah makan satu persatu gantian mandi, bebersih, dan bersiap untuk tidur. Mabuk kah karena kapal goyang-goyang? Kayaknya udah gak sempat mikir mabuk deh, capek, jadi lanjut tidur aja.

Jam 4 pagi kita sudah dibangunkan, untuk menikmati sunrise sambil kapal terus berjalan. Hari ini tujuan kami adalah berjumpa dengan ikan pari manta. Dan kami pun beruntung karena dapat melihat ikan pari manta yang berenang naik ke permukaan. Gede banget lahh…, keren. Tapi saya gak turun snorkeling, karena arus cukup kuat, cukup menikmati dari atas kapal aja. Selain pari manta, kita juga ketemu dengan lumba-lumba dan penyu. Kapal berhenti dekat Pulau Pasir Timbul. Yang oleh ABK disebut sebagai Pulau Semtem. Saya pikir awalnya nama Semtem diambil dari bahasa lokal. Ternyata kata “semtem” plesetan dari “sometime”. Jadi itu pulau semtem timbul, semtem ilang klo laut pasang hahhahha…. Dengan menggunakan kapal kecil, 2 orang ABK mengantar saya ke Pulau Pasir Timbul. Pasirnya keren deh, gak terasa waktunya untuk kapal kembali bergerak.

Tujuan berikutnya adalah Pulau Komodo atau dikenal dengan nama Loh Liang. Pulau habitat binatang purba ini tinggal. Loh itu artinya Teluk dan Liang artinya anak Komodo. Jadi menurut cerita penduduk lokal, bahwa dulu sang raja memiliki dua anak, satu manusia, dan satunya komodo. Ditemani oleh 3 orang ranger, kami mengambil short trekking di Pulau Komodo. Panasnya oiiii luar biasa, hampir semua tanaman kering kerontang. Akhirnya kami ketemu dengan beberapa komodo selama perjalanan. Hihihi…..ngeri-ngeri sedap deh. Ranger pun mengatur posisi kita yang kepo juga mau berfoto sama binatang ini. Buat bukti, biar gak dikira hoax hahhaha….

Dari Pulau Komodo, kami mampir ke Pink Beach. Pantainya warna merah muda, karena ada serpihan karang warna merah yang terhampar sepanjang pantai. Sehingga dari jauh kliatan warna pink. Pasir pantainya halus, airnya bening. Snorkeling disini juga cakep, mba Detri yang menemani saya buat keliling, dan menunjukkan ada beberapa ikan yang perlu dihindari klo lagi snorkeling karena beracun. Visibility-nya juga bagus, air jernih, sehingga sesi foto underwater pun cakep disini.

Dari Pink Beach, kapal lanjut dan bersandar ke Pulau Padar, karena kita akan trekking ke atas untuk menikmati sunrise. Setelah makan malam dan bebersih, saya siap masuk kamar untuk tidur. Beberapa teman memutuskan untuk tidur di geladak, tapi saya memutuskan untuk tidur di kamar saja. Angin sepoi-sepoi di luar, karena perjalanan juga masih panjang, maka saya harus jaga kondisi, jangan sampai masuk angin.

Hari ketiga, jam 4 pagi kita sudah siap untuk berburu sunrise ke Pulau Padar. Kapal bersandar agak jauh dari pantai, sehingga kita bergantian diantar ke pantai dengan perahu kecil. Rute trekking Pulau Padar tidak securam di Gili Lawa, relatif lebih landai. Ada beberapa tempat yang berpasir sehingga harus tetap hati-hati. Begitu sampai atas, subhanallah cantiknya. 3 teluk yang membentuk lekukan cantik ini bener-bener membuat capeknya ilang deh. Keren bangeett…..

Balik ke kapal, bersih-bersih, sarapan, kita lanjut ke Pulau Rinca yang dikenal dengan nama Loh Buaya, yang artinya Teluk Buaya. Dilihat dari jejeran hutan mangrove sepanjang pantai dapatlah kita tebak ini adalah tempat bersemanyamnya buaya. Dan ternyata rute yang diambil di Pulau Rinca ini pun pake naik-naik ke puncak gunung lagi. Tapi trekking di Pulau Rinca juga harus ditemani ranger. Biarpun panas, ngos-ngosan tetep harus waspada karena bisa sewaktu-waktu ketemu komodo di jalan. Hihihi..keyen ya. Kita ketemu dengan 6 komodo yang lagi boci-boci di bawah dapur.

Dari Loh Buaya, kapal bergerak ke Pulau Kelor. Tapi sebelumnya mampir dulu ke salah satu perkampungan di Pulau Rinca untuk menambah persediaan air bersih. Saya gak turun ke pulau, asli panasnya kayak tepat di atas kepala. Sayup-sayup dari kapal sebelah terdengar lagu “malam-malam dingin enaknya ngapain ai..ai..ai….ai…ai..ai” padahal ini hari sedang panas-panasnya ya, kurang cocok sih lagunya. Tapi sutralah kita nikmati saja. Lirik lagu ini sangat fenomenal, sekarang justru menjadi nama group wa kami, dan bikin penasaran krn sudah dicoba browsing pun gak ketemu judul lagunya wkkwkkw….. .

Saya skip deh trekking ke pulau Kelor.. Pulaunya kecil, seperti segitiga sama kaki dengan rute trekking dengan kemiringan 45 derajat. Jalur berpasir sehingga sudah pasti ngesot-ngesot deh jalannya. Saya snorkeling aja, tapi sayang airnya agak keruh, sehingga tidak terlalu jelas keindahan terumbu karangnya. Walaupun setelah lihat hasil foto dari atas Pulau Kelor di salah satu kamera teman ternyata cakep banget. Seperti lidah yang menjulur begitu. Dan beberapa dari kami pun cukup puas mantai dan snorkeling saja.

Dari Pulau Kelor ini kami pun kembali ke Labuhan Bajo. Trip Sailing Komodo pun selesai. Ucapan terima kasih yang dalam buat nahkoda dan ABK nya yang luar biasa selama trip. Makanan yang enak, dan suasana yang akrab selama perjalanan. Malam hari setelah menikmati seafood di tepian pelabuhan Labuan Bajo, kami pun mengucapkan sayonara. Sebagian rombongan akan kembali ke kota masing-masing, dan kami berenam akan lanjut Overland Flores besok pagi. Dan komunikasi pun berlanjut melalui group wa, saling tukar foto dan itinerary perjalanan selanjutnya, how fun is it :D.

Jakarta, 3 Desember 2015
Mardiana Sukardi




“You don’t have to be rich to travel well.” – Eugene Fodor

Tulisan saya kali ini masih seputar piknik. Karena menurut saya piknik itu perlu banget. Apalagi buat bapak ibu dosen ya, setelah berkutat dengan tenggat waktu penyelesaian laporan penelitian dan jurnal, perlu recharge baterai sehingga siap untuk kegiatan berikutnya :D. Gak perlu jauh-jauh yang penting happy. Paling tidak pulau-pulau yang akan saya tulis ini, bisa jadi alternatif piknik kalau dana dan waktu terbatas, have fun :D.

Pulau Ayer
Dari data di web jakarta.go.id, wilayah administratif Kepulauan Seribu memiliki 110 pulau, nah loh terus yang 890 pulau lainnya kemana ya hihihi… Dari 110 itu sekitar 24 pulau memiliki luas lebih dari 10 Ha, jadi sebenarnya pulau-pulau ini bisa dikelilingi seharian.

Pulau pertama yang saya kunjungi adalah Pulau Ayer bulan April kemarin. Perjalanan dari Dermaga Marina Anyer ke Pulau Ayer ditempuh dengan waktu kurang lebih 20 menit dengan kondisi laut yang tenang. Tidak ada penduduk di pulau ini, karena dikelola secara pribadi oleh salah satu resort disana. Karena itu suasananya lebih nyaman, penginapan juga lebih bagus. Bahkan memiliki beberapa resort yang dibangun di atas laut. Sebenernya sih dari awal mupeng bisa dapat kamar di laut, tapi ya sudah karena jatahnya dapat di darat. Tapi tetep bisa jalan-jalan dan foto-foto (penting banget ini) di penginapan laut.

Kegiatan yang bisa dilakukan di Pulau Ayer selain jalan-jalan muterin pulau atau sepedaan, sedangkan kegiatan airnya bisa banana boat atau jetski. Gak ada jajanan ato warung jadi lebih baik perlu bw cemilan, klo belanja di toko yang dikelola resort ya siap-sia aja dengan harga yang berbeda :D.

Pulau Tidung
Sebenarnya popularitas pulau Tidung ini sudah sangat lama, gw aja yang telat kesana hihihi… Eh mendadak ada tawaran gratis, jadi deh awal Agustus kemarin kita nginep semalam di Tidung. Perjalanan dari Dermaga Marina ditempuh dengan waktu sekitar 1 jam. Perjalanan ke Tidung sekitar pukul 9 pagi, dengan kondisi laut tenang, hanya ada 1x jadwal kapal per hari dari Marina ke Pulau Tidung.

Sampai di Pulau Tidung, kondisi sangat beda dengan Ayer, karena Tidung ada penduduknya juga. Lumayan riweh keluar dari dermaga, dengan jalan yang tidak cukup lebar, penuh dengan pejalan kaki, sepeda, dan bentor, plus ada tenda kawinan. Ada banyak operator yang menyiapkan tour di Tidung, atau mau langsung cari penginapan sendiri pun bisa. Namun ternyata perlu banget untuk memastikan kontrak isi klo kita ambil paket dari Jakarta. Kejadian kemarin penginapan yang kita terima tidak sesuai dengan kontrak. Yang harusnya di tepi pantai, dapatlah kita penginapan ditengah-tengah pemukiman penduduk. Awalnya sedikit diskusi alot dengan operator disana, tapi pada akhirnya semua sepakat dengan penginapan terakhir setelah sempat pindah sekali penginapan. Itulah intinya jalan-jalan, harus siap dengan risiko, jaga mood, karena masih sampe besok. Sayang banget klo udah capek-capek pe sana trus bete, ntar fotonya gak cakep hihihi….

Abis makan siang, istirahat bentar, tim sudah siap dengan kegiatan pertama yaitu snorkeling. Biar gak bisa renang (kan ada pelampung), ini kegiatan yang sangat gw tunggu. Dari dermaga kita menuju lokasi dengan perahu nelayan bermotor. Disana sudah disiapkan peralatan snorkeling dan pelampung. Sampai di tujuan, langsung deh pada nyemplung. Untung pendamping snorkelingnya sabar. Gw yang masih kadang kesulitan nafas pake alat snorkeling, kali ini sukses. Mereka juga menyiapkan foto underwater-nya.

Kondisi koral disini sudah banyak yang rusak sih. Ikannya sih masih banyak ya, jadi foto underwater masih cukup baguslah hasilnya. Sekitar 1,5 jam kemudian semua tim naik. Barulah sampe kapal gw ngerasa perih-perih karena ternyata sempat kegores-gores karang selama snorkeling. Tapi itu mah biasa, di Raja Ampat luka jauh lebih besar dan meninggalkan kenang-kenangan sampe sekarang hikkss….

Sore abis snorkeling, lanjut dengan banana boat, tapi karena memang gw gak begitu suka (dan sudah pernah nyoba juga) gw pilih jalan-jalan aja seputaran Jembatan Cinta. Jembatan Cinta ini menghubungkan Pulau Tidung Besar dan Pulau Tidung Kecil. Jembatannya bagus, ada beberapa gazebo untuk istirahat dan menikmati laut yang bening airnya. Terapi buat matalah…., biasanya jarak pandang hanya 2 meter, sekarang biasa leluasa. Sore balik penginapan, mandi, makan malam, lanjut barbeque plus karaoke.

Besok paginya, abis subuh sambil gowes kita menyusuri pulau Tidung. Dari Ujung Jembatan Cinta, sampe Cemara Kasih (kata temen gw kenapa bukan Aura Kasih laahh….apa hubungannya ya). Cukup jauh sih, lewat pinggir pantai, alang-alang, lumayan membakar kalori dan sun bathing disana.
Puas sepedaan dan main di pantai, balik penginapan, bersih-bersih, makan siang, jam 2 kita sudah siap di dermaga untuk kembali ke Jakarta. Cuma perjalanan pulang kali ini ada sedikit cerita. Ombak yang cukup besar membuat sebagian penumpang pucat pasi dan nyaris (sebagian sudah sih) mabok laut. Apalagi pake acara mati mesin 2x hihihihi…..seru ya.

Alhamdulillah sekitar 1,5 jam kapal bersandar di Dermaga Marina Ancol. Sebagian turun dengan wajah pucat tapi happy. Toh setelah ini kita sibuk dengan rencana abis ini kemana lagi ya. Nah, sekian dulu ceritanya yaa.., moga-moga abis ini ada lanjutan ke pulau-pulau berikutnya.




I have no ipad, iphone, or even Mac, I just need more memories to keep my journey :D

Ini adalah cerita lanjutan perjalanan saya ke Indonesia bagian Timur, yaitu Misool, Raja Ampat, Papua Barat. Klo dilihat dari peta, posisi Misool ada di Semenanjung Kepala Burung yang berdekatan dengan Ora, Pulau Seram, Maluku. Berhubung belum ada operator yang menyediakan moda transportasi dari Ora langsung ke Misool, jadilah saya balik dulu ke Ambon. Dari Ambon kami terbang ke Sorong, pelabuhan terdekat menuju Raja Ampat. Penerbangan dari Ambon ke Sorong hanya ada 1x sehari pagi pukul 07.45 WIT menggunakan Wing Air, yang ditempuh kurang lebih 1 jam. Sampai di Sorong, bersama dengan 4 orang teman, kami menginap semalam di hotel Guardian Family dengan lokasi dekat bandara Dominique Edward Osok. Hotelnya bersih bisa jalan kaki dari bandara, cm sayang gak ada liftnya :D.

Hari 1. Keesokan hari kami bertemu dengan rombongan lain di pelabuhan Sorong, dan bertolak ke Misool, menggunakan kapal boat dengan kapasitas 25 penumpang, kapal lebih besar daripada yang biasa kita gunakan di Ora, Maluku. Perjalanan dari Sorong ke Misool ditempuh dengan waktu kurang lebih 4 jam. Berhubung posisi Misool ada di selatan dan berbatasan dengan laut bebas, lumayan deh gelombangnya, berasa banget kayak naik kora2, di tengah2 laut, dan gak ketemu kapal lain satupun. Yaakk…, our adventure start form today….:D

Pulau pertama yang kami kunjungi adalah Pulau Banos, pulau yang memiliki pantai landai ini menjadi tempat makan siang kami. Pulau kecil ini juga memiliki tebing karang, khas pulau2 di Raja Ampat. Dari pulau Banos lanjut ke sebuah pulau dengan gua karst yang masih sangat alami. Trekking dimulai, harus hati2 karena kepala bisa nyenggol stalagtit. Dalam gua ini ada batu yang menyerupai seorang putri yang sedang termenung, maka disebutlah gua ini Gua Putri Termenung.

Dari gua perjalanan dilanjutkan ke Kampung Harapan Jaya, tempat kami menginap. Karena di Misool penginapan sangat terbatas, kami menyewa rumah penduduk selama 5 hari 4 malam. Sampai di dermaga, kami disambut oleh rombongan anak2 yang keren (saya bilang keren karena mereka spt atlit loncat indah semua hihihi….). Setelah bebersih plus menikmati cemilan dari ibu pemilik rumah yang kami tempati, kami balik ke dermaga. Menunggu sunset, sambil menikmati suguhan loncat indah alami…, wah bener2 bikin sirik gaya renangnya :D. Disini listrik hanya nyala dari 6pm-6am saja. Jadi siapkanlah power bank yg cukup agar gadget tetap eksis selama trip. Operator satu2nya yang sampai di wilayah ini hanya Telkomsel, walaupun kadang agak lambat tetapi bisa digunakan untuk akses internet.

Hari 2. Yang membedakan trip ke Misool dari trip yang lain adalah, kemana kita akan pergi tergantung dari cuaca dan ombak laut hari ini. Excited deh pokoknya. Kami menuju gua peninggalan kerajaan Misool (Gua Keramat), menyusuri gua dengan berenang (bagi yang bisa berenang), klo saya sih sdh pasti dengan live jacket dong, menuju danau air tawar yang ada di tengah pulau dengan sedikit trekking. Setelah gua keramat ini kami kami menuju gua Tengkorak, wah gak ada pantainya, kapal merapat ke tebing dan langsung meloncat ke gua. Cuma jumlah sisa2 tulang belulang manusia purba ini makin berkurang karena ada aja yang bawa pulang. Ini bagian yang menyebalkan dari pariwisata di Indonesia. Kemudian lanjut ke pulau2 batu yang memiliki bekas2 jaman prasejarah, ada gambar telapak tangan, burung, dan benda2 lainnya. Tapi trekking yang berkesan hari ini adalah menuju danau ubur2 yang tidak menyengat seperti di Derawan. Danau air tawar yang penuh ubur2 ini luar biasa deh, dari permukaan saja sudah sangat kliatan. Begitu kami masuk dan snorkeling waahh.., keren banget dalamnya. Berenang di danau ini dilarang pakai fin karena bisa melukai ubur2. Dan disinilah saya menorehkan tanda mata, krn kaki lecet2 kena karang ketika trekking. Menurut teman yg sdh pernah ke Derawan, jumlah ubur2 di Misool ini jauh lbh banyak dan lebih cantik.

Hari 3. Cuaca lebih terang, kami menuju ke Yapap dan Balbulol (Xmas Tree). Disini spotnya luar biasa keren, batu2 karang menyerupai pohon natal, dan panorama underwater yang cantik. Mampir ke pulau Gamfi untuk makan siang, dan trekking sedikit untuk melihat danau diantara laut dari atas bukit. Perjalanan ditutup dengan trekking ke bukit Harfat Jaya. Trekking selama 30 menit ini telah menghabiskan sekian kalori deh, luar biasa lah. Apalagi buat kita yang biasa naik ojek kemana2, berasa boo…..:D. Sebenarnya saya sdh mau menyerah, tp Anis, salah satu kru kapal menyemangati saya dan menemani trekking sampe puncak. Tapi semua terbayar, pemandangan Raja Ampat Selatan terpapar sepanjang mata memandang. Cantik sekali…, 10 jempol deh buat kekayaan alam Indonesia.

Hari 4. Di Misool ini selain adventure, kami juga mampir ke SD Harapan Jaya, dan berbagi cerita serta buku dengan murid disana. Berinteraksi dengan mereka, mendengarkan apa yang menjadi cita2 mereka, diantara keterbatasan fasilitas, mereka tetap anak2 yang bersemangat.

Kami mendapat kesempatan mampir ke MER (Misool Eco Resort). Salah satu eco resort terbaik di dunia. Cuma mampir loh, karena biaya nginap disini selama 3 hari (minimal) sama dengan rate gaji LK di Perbanas. Resort ini bekerjasama dengan penduduk untuk menjadikan laut di sekitarnya menjadi sangat dilindungi. No smoking, no fishing, dan no no lain berlaku disini. Tapi lautnya keren deh, begitu ditabur ikan kecil, wooww…. hiu dan ikan2 besar lainnya betebaran. Makan siang kami bersantai di pulau Yele, snorkeling dan bermain dengan baby hiu. Pulang kita ktm dgn rombongan lumba2, keren ya. Gak sempat difoto saking takjubnya, tp terekam dengan indah di memori.

Sebelum sampai di penginapan kami mampir ke desa sebelah untuk menikmati kelapa muda. Memuaskan diri sebelum besok kembali ke Sorong. Yang seru adalah waktu guide lokal kami mengajari menggunakan panah, dan membuat lomba memanah amatiran, ternyata byk juga bakat terpendam dari peserta juga. Sebagian peserta ada juga yang belajar menggunakan perahu kayak, dan dilanjutkan dengan snorkeling. Akan tetapi karena ombak cukup besar rombongan lebih cepat kembali ke penginapan.

Malam harinya acara hiburan dengan membuat kuis buat anak2 disana dengan hadiah coklat dan permen. pertanyaan simpel seputar Misool dan Raja Ampat, supaya mereka kenal dan mencintai daerahnya, dan pasti mengingatkan mereka untuk tidak membuang sampah sembarangan. Yg paginya mereka malu2 di sekolah, malam ini byk yg mendekati saya dan bisik2 apa yg menjadi cita2 mereka besar nanti. Semoga Tuhan memberkati mereka semua.

Hari 5. Pagi jam 8 kami bersiap kembali ke Sorong, siap2 dengan perjalanan di laut selama 4 jam. Rombongan diantar oleh warga desa Misool terutama anak2 yg menjadi teman kami selama ini. Hampir 2,5 jam pertama perjalanan suasana ombak sangat aduhai. Kapten Akbar yang mengarahkan kapal terlihat santai dan sesekali berkelakar mengingat suasana kapal yg mulai sunyi senyap, antara mabuk laut, dan sibuk merapal doa :D. Mendekati pulau Salawati ombak cukup tenang sampailah siang kita di Sorong, makan siang, dan check in hotel.

Malam hari kita menikmati kota Sorong, mampir ke toko oleh2, yang didominasi dengan koteka, tas, dan asesoris. Lanjut ke toko batik dengan motif Papua, dan terakhir ke toko Icon Raja Ampat. Desainnya bagus, cm klo buat saya yg hidup di Jawa, harganya sih agak mahal ya :D>

Hari 6. Hari terakhir, kembali ke kota masing2, dengan oleh2 kenang2an yang indah selama di Misool, bersama dengan teman2 trip, guide, dan kru kapal yg luar biasa (Kapten Akbar, Amal, Anis, dkk)

Tambahan info buat yang berminat ke Raja Ampat, berapa biaya yang harus disiapkan.
– Open trip dengan biaya 5,85jt per orang utk 6 hari 5 malam, include kapal, makan, penginapan, pin Raja Ampat, dan alat snorkelling (tetapi disarankan untuk bawa sendiri)
– Sharing cost dgn estimasi biaya (saya kumpulkan dr bbrp sumber) sewa kapal (kapasitas 20 orang) selama 5 hari sekitar 45jt, penginapan sekitar 450rb sehari 3x makan per orang.
– biaya lain2: Pesawat PP Jakarta-Sorong 4-4,5jt, pin masuk Raja Ampat 500rb,plus tip buat kru dan guide lokal.

Dijamin gak nyesel, keren bingiit pokoknya.., salam Jelajah Indonesia :D.




Sepotong Surga yang tertinggal di ujung timur….

Sayup2 lagu Indonesia Tanah Air Beta lirih terdengar di telinga, tatkala pilot memberikan pengumuman bahwa tak lama lagi pesawat akan mendarat di Ambon. Ahaaiii…, rasanya tak sabar buat melanjutkan travelling ke salah satu pulau besar di Kepulauan Maluku ini. Pulau Seram, adalah tujuan travelling saya di tahun ini. Pulau yang menyimpan keindahan pantainya…, dan kini akan saya kunjungi adalah Pantai Ora di daerah Sawai. Pantai cantik dengan air yang sangat bening ini sangat terkenal di kalangan traveller jelajah Indonesia.

Dari bandara Pattimura Ambon, perjalanan dilanjutkan menuju ke Pelabuhan Tuhelu dengan pemandangan sepanjang jalan yang sangat memanjakan mata. Rombongan sempat mampir ke Pantai Natsepa untuk menikmati sarapan nasi kuning khas Ambon. Sampe di Pelabuhan Tulehu perjalanan ke Pelabuhan Amahai ditempuh sekitar 2 jam dengan kapal cepat, dimana beberapa menit diantaranya ombak berasa seperti goyang dumang…, aduhai rasanya….:D

Sampai Pelabuhan Amahai, lanjut perjalanan darat kurang lebih 2 jam dengan kondisi jalan seperti goyang itik, mantab deh pokoknya hihihi…., sampai akhirnya sampailah kita di Desa Saleman. Sudah sampaikah? Tentu belum :D. Dari Desa Saleman, kita masih lanjut dengan kapal boat sekitar 20 menit untuk sampai di lokasi.

Tapi semua itu terbayar sudah…., rasa takjub dan puji syukur yang luar biasa setelah sampe ke pantai Ora dan sekitarnya. Lautnya bening, sampai koral di dasarnya pun kelihatan. Pantai di sekitarnya memiliki gradasi warna yang keren, putih, kuning, hijau, dan biru. Sebagaian pantai memiliki gugusan karang yang tak kalah cantik.

Disana ada beberapa penginapan yang dapat dipilih, Ora Resort Beach, Lisar Bahari, dan lain sebagainya. Kesamaannya adalah penginapan ini dibangun di atas laut, dengan air yang jernih. Kalau kita tebarkan makanan dari atas maka ikan-ikan beraneka warna akan muncul berebutan, cantiiiikkk bingiit pokoknya :D.

Selain bersantai di pantai, kegiatan lain adalah snorkeling, trekking di desa Saleman untuk melihat keindahan pantai dari atas, menjelajahi gua sepanjang gugusan karang, dan mabok lobster hihihi….. Disana lobster murah banget, so puas2in deh. Karena posisi pantai ada di teluk, maka kondisi air relatif tenang, dan hampir sepanjang hari kegiatan kita selalu menggunakan kapal boat, jadi cukup tenanglah untuk manusia darat seperti kita.

Di Desa Sawai ini hanya ada SD, jadi untuk SMP dan selanjutnya maka anak-anak akan menggunakan perahu motor tiap pagi untuk sekolah. Keren banget deh semangatnya…

Saya tambahkan beberapa foto yang sempat merekam keindahan pantai Ora ini, maaf ya klo gambar saya ikutan nampang. Bukan karena mau eksis seh, cuma biar percaya klo saya beneran kesana, bukan gambar yang diambil dari Google hahhahhaa….. Setelah perjalanan dari Ora, rombongan kembali ke Ambon. Sisa hari kami lanjutkan dengan tur di Pantai Natsepa untuk menikmati rujaknya yang terkenal, menikmati senja di Pantai Liang, memberi makan belut moreo (belut raksasa), foto-foto di kawasan Ambon City of Music, Gong Perdamaian, dan belanja suvenir.

So, mau travelling ke timur? Saya rekomendasikan Maluku Trip ini buat bapak ibu semua….. Ssstttt..disini sinyal lancar loh, jadi tetap bisa mantau e-learning dan tetep bisa liburan. Jadi bu dosen tetap bs liburan dan mahasiswa bahagia. Pokoknya cantik serasa sepotong surga yang tertinggal di timur….., dan tunggu catatan perjalanan saya selanjutnya ke Misool, Raja Ampat.

Saya tambahkan estimasi biaya ke Ora, Pulau Seram, Maluku dari beberapa sumber.
Open trip dengan biaya 3,85jt selama 4H3M, tdk termsk tiket pesawat dan tip

Estimasi share Cost 12 orang.
Day 1. Sampai Ambon di Sore hari, pesawat Jakarta-Ambon PP 2-2,5jt
Day 2. Perjalanan ke P.Seram (berangkat Tulehu jam 9 dengan 3 jam perjalanan – tiket 125rb (ekonomi) 25rb (VIP), lanjut jalur darat 3 jam ke Saleman – rental mobil 700rb/car, lanjut nyebrang pake ketingting ke penginapan Lisar Bahari Sawai 40 menit – 250rb/ketingting muat sampai 15 orang jika tanpa barang)
Day 3. Hopping Island (ambil paket di Lisar Bahari, 800rb/long boat – muat sampai 20org)
Day 4. Ke Pulau 7 (ambil dari Ora Resort, 1.2jt/speed boat – muat sampai 15org) 1 jam perjalanan dr Ora Resort.
Day 5. Menikmati Ora Resort – kemudian balik ke Ambon (sewa speedboat ke saleman 150rb/speedboat, mobil ke Masohi 700rb/car, kapal 125rb/org, mobil dr Tulehu ke Ambon kota 200rb)
Day 6. Keliling Ambon (keliling kota & stop di beberapa pantainya, sewa mobil 500rb/car)
Penginapan: 2 malam di Ambon Victoria Guest house (100rb/mlm/org), 2 malam di lisar bahari (300rb/mlm/org), 1 malam di ora resort (700rb/kamar laut+250rb/org untuk makan)

Pesawat Jkt-Ambon 1,3-1,5jt sekali jalan

Note lain: listrik hanya menyala jam 6pm-6 am, so sediakan powerbank yg cukup. Operator seluler yang sampai disana adalah Telkomsel, meski lampat masih bs digunakan utk akses internet




Public Transportation in Jakarta (Part 1)

The choices of public transportation when you are in Jakarta can be chosen from the cheapest like bus and train, to the most expensive ones, for example taxi and motorcycle taxi or Indonesian people usually call it ‘Ojek/Ojeg’.

Motorcycle taxi or Ojek/Ojeg has become one of the favorites because of the bad traffic jam Jakarta usually has. Though it’s expensive and uncomfortable, people keep choosing it to help them manage their time when they want to go anywhere, even to a very far place like the airport (Soekarno-Hatta Airport in Cengkareng, Tangerang), whose distance is about 30 km from central Jakarta. Well, I have never tried it, taking the motorcycle taxi to the airport, but I know there are some people use the service to go there because many times I am offered to use the service to go to the airport. My favorite transportation to go to the airport is Damri Bus, but sometimes I also take taxi, especially when I need to catch a very early flight, or when I arrive at Soetta Airport very late at night and Damri Bus is no longer available.

For my daily transportation, I like taking bus, one of the choices is the TransJakarta bus, the one that I usually take for going home from the office. This bus is more comfortable than the regular buses available in Jakarta. When you get seat you can sit comfortably and do like what I usually do, browsing the internet, reading, even texting people. Well, I will write you more about this Trans Jakarta bus and other transportation later. See you around!!
ojek to bandara




Apa beda foto bagus dan foto indah?

Sydney Opera House

Sydney Opera House

 

Sebagai seorang fotografer amatir yang sedikit semi profesional, kami mendirikan Indonesia Australia Photography Association (IAPA). Kami sering berdiskusi, mengadakan workshop dan juga pameran foto.  Saya jadi teringat diskusi dengan seorang kawan yg sudah lama malang-melintang di dunia fotografi. Menurutnya ada perbedaan yang mendasar antara foto bagus dan foto indah. Sementara dalam satu lomba foto, juri selalu mengutamakan foto bagus yang sekaligus indah. Kalau begitu apakah perbedaan antara keduanya?

Foto indah itu enak dilihat, sedangkan foto bagus (belum tentu indah) itu sesuai targetnya. Sebagai contoh foto Opera House, Sydney yang saya ambil dari Circular Quay itu indah, tapi sudah tidak bagus lagi karena jutaan orang sudah memotret yang sama persis. Saya yakin foto saya tersebut bila saya masukkan ke salah satu lomba foto tidak akan menang untuk alasan diatas.

Pertanyaannya kemudian apakah harus dengan skill yang tinggi dan gear yang mahal untuk dapat menghasilkan karya yang bagus sekaligus indah? Jawabannya tidak. Kalau menurut saya, dibutuhkan juga “wow effect” supaya karya kita diingat orang. Untuk menghasilkan foto bagus dan indah, wow effect dibutuhkan untuk membuat foto bagus lebih berbicara.

Menurut saya wow effect bisa didapat dengan setidaknya dua cara. Pertama, dengan sedikit keberuntungan. Contohnya ketika kita sedang menjepret kembang api, tiba-tiba ada halilintar yang menyambar. Jadilah karya kita  mendapat “bonus” halilintar .

Kedua, wow effect juga bisa kita dapatkan dengan sedikit kreativitas atau bahkan rekayasa. Mungkin kita sering melihat foto gedung luluh-lantak akibat bencana alam atau perang. Di reruntuhan itu hampir selalu kita melihat ada boneka teddy bear yang mengesankan anak menjadi korban. Kalau kita jeli melihatnya, semua teddy bear itu punya kesamaan: Terlihat baru. Mengapa demikian? Karena membawa boneka teddy bear adalah salah satu trik fotografer perang/bencana alam untuk mendapatkan hasil foto yang lebih berbicara.

Selamat menjepret kamera anda untuk menghasilkan foto bagus yang sekaligus indah!




Kapuk kembange randu.., yen ra pethuk ati merindu.., sepenggal cerita dari Lasem & Rembang

Postingan saya kali ini masih seputar travelling, sepertinya saya dedikasikan bulan Maret ini sebagai Bulan Travelling, sehingga tulisan saya akan berseri mengenai berbagai tempat yang sudah saya singgahi selama ini. Dan sekarang giliran Rembang dan Lasem, dua kota yang pasti Bapak Ibu sudah sangat familiar.

Kapuk kembange randu..
Yen ra pethuk ati merindu….

Pantun asal-asalan ini saya buat begitu memasuki gerbang makam Ibu Kartini, di Desa Bulu dengan jarak tempuh sekitar 17,5 kilometer dari kota Rembang ke selatan jurusan Blora, yah sekitar kampung saya juga di Cepu. Seingat saya terakhir kesana waktu sekolah…, sudah sangat berbeda sekali. Tempat parkir dan area makam sudah direnovasi, sudah nyaman, terbayang setiap tanggal 21 April lokasi ini akan banyak dikunjungi penziarah dari penjuru kota.

Dari makam perjalanan lanjut ke kota Rembang, dan mengunjungi rumah yang pernah ditinggali oleh Kartini, yang sekarang sudah dijadikan musium. Rumah ini terletak di komplek kantor Bupati Rembang. Rumah jaman Belanda dengan atap tinggi ini berasa adem banget, dan tentunya seru buat background foto-foto (teuteup) :D.

Perut sudah mulai keroncongan, saya & rombongan pun mulai bergeser ke arah timur, tujuan selanjutnya adalah makan siang, dengan menu lontong tuyuhan di Desa Tuyuhan. Menurut teman saya yang asli Rembang, kalau berkunjung kesini jangan lupa mampir ke lontong tuyuhan, seperti opor dengan versi lebih encer, lauknya bisa pilih ayam, telor, atau jeroan. Pokoknya joss.., sayang gak ada fotonya, keburu laper hihihihi….

Setelah kenyang mulailah kita menyusuri kota Lasem. Budaya Tionghoa sangat kental di kota ini. Salah satunya yang kami kunjungi adalah Klenteng Cu An Kiong. Kletheng ini terbuka untuk umum, tapi ada area khusus yang hanya boleh digunakan untuk berdoa. Kereeennn deh…., biar usianya sudah ratusan tahun tapi klentheng ini terawat dengan baik, dan penjaganya pun ramah banget. Mereka tidak menerima uang/tiket…, tapi kita bisa membeli beberapa makanan kecil yang dijual disana.

Nah, bicara Lasem oleh-olehnya sudah jelas Batik Lasem. Batik Lasem memiliki warna dan motif yang sangat khas. Warna merahnya yang dikenal dengan warna “abang getih pithik” diambil dari akar pohon mengkudu. Konon warna ini hanya ada di Lasem, karena sangat terpengaruh dengan kandungan mineral air di daerah Lasem. Ada beberapa rumah batik besar di Lasem, seperti Katrin Bee, Maranata, dan tentunya maestro batik Lasem pak Sigit Wicaksono, yang terkenal dengan motif Sinografi. Batik Lasem Sinografi ini memiliki motif beberapa kiasan dalam bahasa Cina, seperti pada foto yang saya unggah disini. “Bila dua hati sedang membara saling menempel maka cinta kasih akan kekal dan abadi……., ciee…”

Selamat berkunjung ke Rembang dan Lasem, boleh juga kontak-kontak saya, kali pas lagi mudik jadi traveling bisa lanjut ke Blora dan Cepu, dijamin wisata kulinernya endessss……………

IMG_0945

IMG_0942

IMG_0922

IMG_0876

IMG_0886

IMG_0905

251348_2145256468143_6370193_n




Once a year, go someplace you’ve never been before

Ini adalah tulisan yang sangat santai…., tidak perlu analisa yang bikin alis berkerut. Saya pikir diantara kesibukan bapak ibu dosen, perlu sejenak untuk tarik nafas, dan menikmati betapa Allah banyak menciptakan banyak keindahan di sekitar kita. Membaca judul di atas pasti sudah sangat familiar di telinga kita. Sebuah kalimat terkenal dari Dalai Lama, yang pasti sangat merasuk di hati untuk orang yang hobi jalan seperti saya :D. Akan tetapi tempat baru tidak selalu harus jauh dan perlu biaya yang besar, yang penting kita menikmatinya. Menemukan satu warung rujak cingur yang enak pun…, sudah merupakan wisata yang akan masuk dalam daftar tempat yang sudah saya kunjungi.

Tapi kalau misalnya, teman-teman sedang ada waktu cukup, ada dana cukup, dan ingin melihat keindahan lain yang Allah ciptakan di luar Indonesia, saya rekomendasikan negara ini untuk dikunjungi. Turki…., ya Turki.., kenapa Turki? Entah kenapa sejak lama dimata saya negara ini teramat seksi. Negara yang merupakan blasteran Eropa dan Asia ini, bener-benar membuat saya rela menabung (sejenak berhenti belanja). Kalau dimisalkan seorang pria tampan, Turki akan memiliki tinggi badan dan mata biru selayaknya orang Eropa, dan kulit bersih plus rambut hitam seperti orang Asia hahahaha…..

The best time untuk datang ke Turki adalah spring. Sekitar bulan Maret-April. Bulan dimana cuaca sudah cukup bersahabat buat kita. Bulan dimana bunga Tulip (negara asal Tulip adalah Turki, bukan Belanda yang selama ini saya kira loh) bermekaran di sepanjang jalan. Bulan dimana cherry blossom (sakura) menampakkan kuncup-kuncup kecil yang siap bermekaran.

Ada beberapa tempat wajib kunjung di Turki, yang pasti adalah Istanbul. Kota ini jauh lebih terkenal dibandingkan dengan ibukotanya yaitu Ankara. Dan kalau ada waktu cukup silakan naik cruise untuk menyusuri selat Bhosporus. Dan jangan lupa mampir ke Blue Mosque, Topkapi Palace, dan Hagia Sophia. Tempat dimana kita tidak akan berhenti mengucap syukur akan kebesaran Allah SWT. Tempat dimana keagungan agama-agama besar di dunia ini dapat kita nikmati di satu tempat. Serta penjual suvenir khas Turki dan simbol berbagai agama yang saling bersanding dengan sangat harmonisnya.

Silakan mampir ke Pamukkale, Efesus, serta reruntuhan kota Troy. Dan bagi para pencinta karya-karya Jalaluddin Rumi bisa mampir untuk berziarah ke makam beliau di kota Konya. And the highlight is…..Hot Air Baloon in Cappadocia. Selama 1 jam melayang di udara sambil menikmati pemandangan rumah-rumah dari batu di Gerome dari atas. Kayak lagunya si R. Kelly…. I believe I can fly…., I believe I can touch the sky….:D

Mau belanja?? Don’t worry, Turki adalah gudangnya karpet, sajadah, produk fashion dari kulit dan keramik yang sangat cantik-cantik. Belum lagi Grand Bazaar yang akan membuat ibu-ibu akan menghilang dalam hitungan detik.

Saya cuplik sedikit foto-foto selama di Turki…, semoga bisa jadi referensi, have a nice trip :D.

IMG_0062

IMG_0099

IMG_0144

IMG_0163

IMG_0261

IMG_0300

IMG_0318




GREEN CANYON – PANGANDARAN

Hidden beauty in the Green Canyon

In the USA ? No …….

The word ”Green Canyon” definitely associates with Uncle Sam USA. While American have the Grand Canyon. There is also in Indonesians have Green Canyon, located in West Pangandaran, local people call it “Cukang Taneuh”, At Kertayasa Village, Cijulang, Pangandaran, Green Canyon is very famous in West Java. Green Canyon is very famous, among Indonesians and even foreign people. This is evidenced in the number of foreign tourists from Europe to America who have visited the Green Canyon. “The original name of this tourist attraction is Cukang Taneuh (Sundanese language, meaning “Land Bridge”), but this place changed its name to “Green Canyon” since popularized by a French citizen, in 1993.

FEELS LIKE IN HEAVEN
“Green Canyon” has its own uniqueness. One of the uniqueness is the river with little rapids of a narrow groove in which the boat was not able to cross on it . Parking capacity is also limited. That is why People could not stay too long. We could stay there in only 15 minutes.

The water is in a blue colour, and in a certain place becomes to green colour. Besides, we moved see stalagtite – stalagmite in a very unique stone , in which people could reach there by swimming. Along the way, we will continue down walls on either side; some walls resemble a cave roof collapsed by bats.

Green Canyon

1

2

3

4




Gunung Prahu: Sebuah Cerita Dari Negeri di Atas Awan

Gunung Prahu, mungkin masih asing terdengar apabila dibandingkan dengan tujuan wisata seperti gunung Bromo atau bahkan gunung merapi. Terletak di kawasan Dieng, Kabupaten Wonosobo dan Banjarnegara, Jawa Tengah, gunung Prahu merupakan alternatif wisata yang mulai naik daun bagi pecinta wisata alam. Mudah dijangkau dari Semarang maupun Yogyakarta, dengan estimasi waktu sekitar 2-3 jam menjadikan gunung Prahu semakin diminati wisatawan dalam maupun luar negeri.

Dengan ketinggian hanya sekitar 2.565 Mdpl, menjadikan gunung Prahu mudah untuk didaki meskipun bagi pendaki gunung pemula. Pendakian dari basecamp hanya sekitar 2-3 jam dan tidak memerlukan logistik yang terlalu banyak. Terdapat 2 jalur pendakian yaitu melewati jalur utara (Kabupaten Kendal), maupun dari arah selatan (kabupaten Banjarnegara).

Dari puncak gunung Prahu yang dijuluki gunung seribu bukit, anda dapat menikmati hamparan alang-alang dengan latar belakang gunung Sindoro dan Sumbing bahkan puncak gunung Merapi terlihat dari kejauhan. Sunrise (matahari terbit) yang menyembul dari belakang gunung Sindoro-Sumbing dengan dihiasi lautan kabut putih merupakan objek yang paling dicari para pendaki. Pemburu sunrise bahkan rela menunggu berhari-hari guna mengabadikan moment yang terbaik, karena memang sangat dipengaruhi oleh cuaca.

Tidak ada salahnya untuk mencoba menikmati pemandangan negeri di atas awan jika anda berkunjung ke Yogyakarta maupun Semarang untuk merasakan sensasi pemandangan yang menakjubkan karya sang pencipta. Disarankan apabila akan melakukan pendakian tidak pada hari libur sekolah, karena pada saat tersebut akan sangat banyak rombongan yang mendaki gunung Prahu. Pada saat high-season anda akan menjumpai lebih 5000 orang di puncak yang akan mengganggu kenyamanan anda. Sempatkan juga untuk mengunjungi objek wisata lain seperti candi dan kawah di kawasan Dieng untuk merasakan nuansa keindahan masa lalu yang masih terbungkus aura mistis yang kental.

prahu prahu 3 imagesprahu 2 993602_598863550135049_1181785712_nGunung_Prau_Wonosobo_Featured

 

Sumber:

jimzzz.wordpress.com

www.geonation.org

www.alidabdul.com

https://id-id.facebook.com/notes/indonesian-mountains/catper-pesona-gunung-prau-2565-mdpl/