Demarketing horrible retirement

Memasarkan ketakutan pensiun

Memasuki masa hidup tahap ketiga yang didahului dengan saat sekolah, tahap kedua  memasuki dunia kerja, dan tahap terakhir memasuki masa pensiun. Masa pensiun adalah suatu masa yang pasti akan datang, kecuali Allah swt sudah memanggil sebelum memasuki masa pensiun. Banyak pegawai yang ketakutan dalam menghadapi pensiun dengan berbagai cara misalnya meminta kepada penguasa sumber daya manusia untuk memperpanjang masa pensiun. Ketakutan itu tidak beralasan karena suatu saat manusia memasuki masa pensiun dalam segala hal, termasuk didalamnya masa pensiun sebagai manusia di bumi ini. Banyak pegawai yang tidak menyadari bahwa suatu saat akan pensiun.

Perusahaan didirikan untuk jangka waktu yang tidak terbatas, oleh karenanya pengelola perusahaan akan berganti seiring dengan selesai tugasnya di tempat kerja. Banyak pimpinan perusahaan yang beralasan bahwa tidak ada orang lain yang dapat memimpin suatu perusahaan, sehingga pegawai yang akan pensiun pun dipertahankan dengan seribu satu alasan. Kebiasaan tersebut menunjukkan bahwa perusahaan tersebut tidak dapat berubah menyesuaikan dengan perkembangan jaman yang selalu  berubah setiap saat. Mempertahankan (status quo) pegawai yang sudah saatnya dilepas menunjukkan perilaku pimpinan yang berwawasan bahwa perusahaan adalah berbentuk kerajaan atau otoriter atau perusahaan tidak dapat bertahan (survive) tanpa pegawai yang  sudah semestinya memasuki masa pensiun.   Kegagalan perusahaan mempersiapkan pegawai pengganti menunjukkan kelemahan kedua perusahaan yaitu tidak menyiapkan calaon-calon pengganti yang merupakan kelanjutan kelemahan pertama yaitu tidak dapat menyesuaikan diri dengan perkembangan jaman seperti telah dikemukakan di atas.

Persiapan pensiun merupakan kewajiban dari setiap pegawai yang akan meninggalkan perusahaan dengan membebaskan semua  tugas dan tanggung jawab, agar pada saatnya tidak mengalami “kekagetan” memasuki dunia lain atau biasa disebut jetlag untuk angkutan transportasi atau postpower syndrome. Jika atasan tetap mempekerjakan pegawai yang memasuki masa pensiun artinya atasan secara dengan sengaja menjerumuskan pegawai yang akan pensiun tersebut memasuki dunia lain dalam keadaan “kekagetan” tersebut. Atasan tetap memanfaatkan pegawai yang akan pensiun tersebut karena atasan tersebut belum pernah mengalami postpower syndrome. Banyak pegawai yang akan pensiun disela-sela kesibukan pekerjaan  kantor  mengatakan dimulutnya tetapi tidak di hati bahwa “sudah siap pensiun koq”. Pegawai tersebut mengatakan pada posisi sekarang sedang bekerja, belum mengalami masa dimana tidak harus setiap pagi bangun pergi ke kantor.

 

Memasuki Usia Pensiun Bukan Halangan Buat Bisa Produktif Lagi, Begini Caranya

GAYA HIDUP

“Tua itu pasti, tapi hepi itu pilihan.’ Bukan niat usil ingin sok bijak mengingatkan itu, tapi sekadar menegaskan memasuki usia pensiun adalah keniscayaan. Pensiun bukan suatu yang luar biasa melainkan lumrah dialami siapapun.

Bagi sebagian orang, masa pensiun adalah momen happy hours. Momen di mana menuntaskan impian yang tertunda karena kesibukan luar biasa saat bekerja.

Daripada membiarkan diri terjangkit post power syndrome. Itu lho istilah yang menggambarkan ketidaksiapan mental menghadapi masa pensiun karena tak pegang kekuasaan (bekerja).

Sindrom ini tak cuma menjangkiti mereka yang memiliki jabatan tinggi, tapi orang biasa-biasa saja juga berpotensi kena. Rata-rata karena tak siap menjadi ‘siapa-siapa’ lagi. Plus ditambah pusing memikirkan masa depan karena tak lagi punya penghasilan.

Padahal usia bukan halangan tetap produktif. Selain tetap produktif, masa pensiun pun bisa dinikmati dengan bahagia sekaligus jadi ajang refreshing atau sebutan sebelumnya happy hours.

Menekuni hobi di usia senja juga bagus banget buat mental dan fisik (Lansia Berkarya / Detik)

Alhasil, pilihan paling rasional adalah membuat diri tetap produktif di masa pensiun. Maksud produktif ini sangat luas ya. Bisa produktif menikmati masa pensiun atau produktif secara finansial.

Sudah banyak contoh orang-orang terkenal yang justru lebih produktif saat memasuki usia pensiun. Kenal penyanyi gaek Titiek Puspa? Dia justru mulai produktif berbisnis catering di usia lewat setengah abad.

Bayangkan, Titiek Puspa yang sebenarnya bisa hidup dari suaranya yang merdu, tetap ingin produktif di usia senja dengan mendirikan Puspa Catering. Bahkan awalnya cuma modal Rp 5 juta.

Menariknya lagi nih, mereka yang tetap produktif meski sudah pensiun berpotensi berumur panjang dan kehidupan masa tua yang lebih bahagia. Mengapa? Pastinya jarang stres dan tetap aktif sepanjang hari.

Tentunya ingin dong seperti Titiek Puspa. Tetap menghasilan lembaran rupiah di hari tua. So, bagi pensiunan, sah-sah saja bila berpikir untuk produktif lagi secara finansial. Caranya?

Nah ini menarik mengingat sektor formal tak lagi bisa dimasuki karena tak ada tempat bagi pensiunan. Solusi satu-satunya adalah bekerja di sektor nonformal.

Pilihan tetap produktif secara finansial

Seperti pepatah, Ada Banyak Jalan Menuju Roma. Artinya, ada banyak pilihan yang bisa dipertimbangkan agar tetap produktif di hari tua.

Jangan lupa untuk tetap menjaga kesehatan dengan berolahraga (Lansia Berolahraga / deseretdigital)

Misalnya dengan berbisnis atau memaksimalkan aset yang dimiliki agar tetap memberikan penghasilan rutin. Contohnya mengkontrakkan rumah, rentalkan mobil, atau menginvestasikan sebagian pesangon di instrumen investasi seperti deposito atau sukuk.

Pilihan lainnya adalah menjadi konsultan sesuai keahlian yang dimiliki. Seperti jadi konsultan pajak, keuangan, perbankan, copywriter dan lain sebagainya.

Bagaimana bila berbisnis? Itu pilihan yang bagus. Hanya pastikan bisnis itu berisiko rendah, tak menuntut stamina tinggi, dan yang penting sesuai minat dan keahlian.

Yang perlu diingat, berbisnis di usia pensiun mesti mencermati pengaturan keuangan. Utamanya, jangan sampai modal bisnis itu diambil dari jatah living cost sehari-hari.

Di samping itu, upayakan modal berbisnis itu tidak berasal dari utang. Ada baiknya mengambil sebagian dari kelebihan pesangon. Atau bila perlu minta bantuan kerabat untuk menggenapi.

Apa saja pilihan konkret bisnis untuk pensiunan? Banyak kok. Sebut saja di antaranya bisnis catering, laundry, rental mobil, sewa kos-kosan, franchise, sampai toko sembako.

Udah gak perlu caption lagi, gambar sudah berbicara (Lansia Main Laptop / wirabisnis)

Toh pada intinya, bisnis itu tidak semata-mata mengejar keuntungan yang besar. Buka usaha merupakan cara baru mendapatkan penghasilan ketimbang menghabiskan uang pesangon saja.

Lagi pula ini jadi ajang pembuktian masa pensiun bisa dinikmati dengan cara produktif secara finansial sekaligus menjadi ajang refresing. Terakhir, bekerja pun juga bernilai ibadah. Setuju?

https://blog.duitpintar.com/memasuki-usia-pensiun-bukan-halangan-buat-bisa-produktif-lagi-begini-caranya/

Pensiun, ………jangan takut

9082012

Tulisan ini dapat dilihat di kompasiana

Banyak orang takut menghadapi masa pensiun. Takut kehilangan jabatan, kedudukan, kekuasaan, penghormatan, status, merasa tidak dihargai lagi, merasa tidak dibutuhkan, berkurangnya pendapatan, dan mungkin juga takut kehilangan rumah dinas yang sudah bertahun-tahun ditempati. Ketakutan ini akan menimbulkan berbagai penderitaan yang dialami setelah seseorang memasuki masa pensiun atau yang disebut post power syndrome.

Kalau saja kita menyadari bahwa semua yang didapatkan sekarang adalah titipan dari Yang Maha Memiliki pastilah kita tidak akan ketakutan untuk melepasnya. Hidup di dunia ini hanyalah persinggahan, tempat kita mengumpulkan sebanyak-banyaknya amal kebaikan untuk mendapat tiket ke surga. Orang yang pandai adalah orang yang menyadari akan datangnya kematian dan mempersiapkan bekalnya untuk menemui Yang Maha Hidup.

Dan tidaklah kehidupan di dunia ini melainkan senda gurau dan permainan belaka dan sesungguhnya kampung akhirat adalah kehidupan yang sebenarnya, jika mereka mengetahui (QS. Al-Ankabut:64).

Agar tidak mengalami post power syndrome maka kita perlu mempersiapkan diri mulai dari sekarang, sejak masih aktif bekerja, yaaa .. . .  dari sekarang.

Jangan sombong

Seseorang yang sedang mendapat amanah memegang suatu jabatan maka janganlah menyombongkan diri  karena Allah tidak menyukainya. Dalam  QS. Luqman :18 Allah berfirman : Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.

Sempatkan diri melaksanakan shalat wajib berjamaah (apalagi shalat Jumat) di mesjid/mushala kantor , bersama-sama dengan karyawan kantor. Janganlah shalat sendirian di ruangan kerja walaupun ruangannya besar dan bagus. Dalam shalat berjamaah ini kepala yang tadinya mendongak dan dada yang membusung menjadi  sama-sama tersungkur  bersujud kepadaNYA. Pada saat-saat inilah semua atribut yang dipakai manusia tidak berguna, yang ada hanyalah keikhlasan, ketaqwaan, dan ketauhidan bahwa hanya Allah Yang Maha Besar, Yang Maha Berkuasa.  Allah berfirman dalam QS. Al-Hujurat : 13 ,  Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa.

Dari Haritsah bin Wahb r.a., Rasulullah bersabda “Maukah kalian aku beritahu tentang penghuni neraka? Yaitu setiap orang yang berlaku kejam, rakus, dan sombong” (HR. Bukhari dan Muslim).

Jangan selalu minta dilayani

Budaya paternalistik melahirkan perilaku  yang selalu menuntut seorang pimpinan atau pemegang jabatan untuk selalu dilayani orang lain, mulai dari dilayani sopir, pelayan di kantor, satpam, bawahan bahkan sampai untuk urusan pribadi dan keluarga sekalipun. Mulai sekarang cobalah untuk melayani orang lain, mulai dari hal yang paling mudah seperti mendahului mengucapkan salam atau terima kasih, memberikan senyuman, atau sekedar menanyakan kabar.

Dalam surat An-Nisa:86, Allah berfirman : Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik daripadanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa).

Dari Ubadah Al-Barra bin Azib ra., Rasulullah SAW menyuruh kami untuk mengerjakan tujuh perbuatan; yaitu menjenguk orang sakit, mengiringkan jenazah, mendoakan orang yang bersin, menolong orang yang lemah, membantu orang yang teraniaya, menyebarluaskan salam dan menepati sumpah (HR. Bukhari dan Muslim).

Berbuat kebaikan

Agama menganjurkan kita untuk selalu berbuat baik. Abu Dzarr r.a. berkata, Rasulullah bersabda :  Janganlah sekali-kali engkau meremehkan sesuatu kebaikan sedikitpun, sekalipun engkau hanya menemui saudara-saudaramu dengan wajah yang berseri-seri (HR. Muslim).

“………..Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya ……………….” (QS. Al-Baqarah:197).

Janganlah ragu untuk berbuat baik karena suatu kebaikan akan menemukan jalannya dan hanya diberikan kepada orang-orang yang baik, orang yang mengharapkan balasan dari Allah SWT berupa kebaikan di dunia dan akhirat.

Dan setiap manusia yang diberikan panjang umur, ia harus berusaha mengefisienkannya dengan melakukan amalan-amalan shaleh.

Dari Abu Hurairah r.a., Rasulullah bersabda : Allah telah memberi kesempatan kepada seseorang yang dipanjangkan usianya sampai berumur enam puluh tahun (HR. Bukhari).

Banyak bersyukur

Bersyukur berarti mengoptimalkan semua pemberian Allah, dan dari rasa syukur itu akan lahir rasa tanggung jawab untuk menghasilkan sesuatu yang bermanfaat.

“ ………….Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu ……..” (QS. Ibrahim:7).

Dari Abu Hurairah r.a., Rasulullah bersabda : Bukanlah yang dinamakan kaya itu karena banyak harta, tapi yang dinamakan kaya ialah yang kaya jiwanya (HR. Bukhari dan Muslim).

Mempelajari agama

Selama kita berpegang pada Al Qur’an dan Hadist Rasulullah SAW maka kita tidak akan tersesat dalam menjalani hidup ini. Tidak ada yang namanya takut menghadapi pensiun, karena  jabatan itu hanyalah sebagian kecil saja dari karunia Allah. Marilah kita mulai mempelajari dan mengamalkan ayat demi ayat mumpung masih diberi waktu.

“ ……….Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat …………….” (QS. Al-Mujadilah:11).

Dari Mu’awiyyah r.a., Rasulullah bersabda : Siapa saja yang Allah kehendaki untuknya, Allah pahamkan ia dalam urusan agama (HR. Bukhari dan Muslim).

Ya Allah, jadikanlah kami hambaMU yang selalu mengharapkan rahmat dan kasih sayangMU, dan  takut kepada siksaMU.

https://yassarlina.wordpress.com/2012/08/09/pensiun-jangan-takut/

Kecemasan Menghadapi Masa Pensiun

Banyak karyawan yang merasa cemas atau takut dengan masa-masa pensiun. Kecemasan menghadapi masa pensiun bukanlah hal yang aneh, karena banyak karyawan masih bingung dengan apa yang akan terjadi, apa yang akan dihadapi, ketidakpastian dan rasa takut karena tidak berdaya jika sudah usia lanjut.

[Baca Juga: 5 Ketakutan yang Dipikirkan Orang, saat Nanti Pensiun]

 

9 Gejala Orang yang Merasa Cemas

Tahukah Anda ciri-ciri orang yang sedang dalam kondisi kecemasan? Menurut Supratiknya dalam bukunya berjudul “Mengenal Perilaku Abnormal” disebutkan 9 gejala orang yang mengalami kecemasan:

  1. Merasa tegang, was-was dan resah yang sifatnya tidak menentu (disffuse uneasiness).
  2. Terlalu peka dan mudah tersinggung dalam pergaulan. Secara tidak sadar orang terebut akan menarik diri dari pergaulan karena sering merasa tidak mampu, minder, depresi dan serba salah.
  3. Sulit konsentrasi dan mengambil keputusan, karena takut salah.
  4. Lamban dalam bereaksi, terkadang melakukan tindakan yang berlebihan dan sering melakukan gerakan-gerakan neurotik tertentu (geleng-geleng kepala, mematah-matahkan kuku jari, mendehem dan lain sebagainya).
  5. Mengalami ketegangan ototnya (khususnya pada leher dan sekitar bagian atas bahu), diare ringan, sering buang air kecil dan menderita gangguan tidur berupa insomnia dan mimpi buruk.
  6. Mengeluarkan banyak keringat dan telapak tangannya sering basah.
  7. Sering berdebar-debar tanpa sebab yang jelas dan tekanan darahnya tinggi.
  8. Sering mengalami gangguan pernafasan.
  9. Sering mengalami “anxiety attacks” atau tiba-tiba cemas tanpa ada sebab pemicunya yang jelas.

 

Kecemasan juga sering kita jumpai pada orang-orang yang mengalami post power syndrome.

[Baca Juga: Gejala Post Power Syndrome pada Pensiunan]

 

Mengapa Karyawan Merasa Cemas Menghadapi Masa Pensiun?

Teman-teman tahukah Anda ternyata rasa kecemasan memasuki masa pensiun terjadi karena seseorang memasuki masa transisi yang tadinya produktif (setiap hari bekerja) menjadi tidak kerja. Secara psikologis ada timbul rasa “saya sudah tidak dibutuhkan lagi” dan ujung-ujungnya timbul perasaan “saya tidak berguna”. Secara tidak langsung hal tersebut menyerang rasa “pengakuan”.

 

Beberapa orang karyawan juga mengalami keresahan karena:

  1. Tidak tahu apa yang harus dilakukan setelah pensiun. Artinya orang tersebut pensiun tanpa memiliki rencana matang. Banyak pensiunan yang mencoba memulai bisnis dengan menggunakan uang pensiunnya. Banyak pensiunan yang merasa
  2. Kehilangan rekan-rekan kerja (dahulu ketemu setiap hari, sekarang jarang-jarang ketemu). Jika merujuk piramida Maslow, orang diserang pada sisi rasa cinta memiliki dan dimiliki.
  3. Kehilangan status sosial (dulu direktur, sekarang pensiunan). Jika merujuk piramida Maslow, orang diserang pada sisi harga diri dan ini sangat menjatuhkan mental setiap orang. Perasaan ini sama seperti jika seseorang dimarahi oleh atasannya, di depan orang lain.
  4. Penurunan penghasilan (jika tidak ada perencanaan dana hari tua). Masalah keuangan ini menjadi sumber kecemasan, karena berhubungan dengan masa depannya.

 

 

[Baca Juga: Perusahaan Perlu Membantu Karyawannya untuk Merencanakan Keuangan]

 

Bagaimana Cara Mengurangi Kecemasan Karyawan Saat Menghadapi Masa Pensiun?

Sebagai perencana keuangan, kami beberapa kali diundang ke perusahaan untuk memberikan wawasan atau pandangan persiapan masa pensiun. Berdasarkan pengalaman tersebut, kami akan bagikan fakta-fakta yang menarik:

  1. Beberapa perusahaan mengundang kami sebagai pembicara, untuk mempersiapkan keuangan karyawannya yang 3 – 5 tahun lagi pensiun.
  2. Banyak karyawan yang pensiun dengan hanya mengandalkan uang pensiun dari perusahaan + BPJS Ketenagakerjaan.
  3. 5 dari 6 Karyawan yang mau pensiun, belum punya rencana apa yang harus dilakukan setelah pensiun.
  4. 50% karyawan berusia muda (usia 25 – 35) tidak memprioritaskan perencanaan dana hari tua.
  5. 8 dari 10 karyawan merasa bingung, karena mereka mengira pensiun = tidak ada penghasilan (bergantung pada uang pensiun dan anak).
  6. 80% karyawan tidak pernah merencanakan dana hari tua, khususnya untuk karyawan yang sudah berusia 40 tahun ke atas. Meskipun mereka tahu, perencanaan dana hari tua penting, mereka merasa takut dan menghindari diskusi perencanaan pensiun.

 

Bagaimana solusinya?

Perusahaan perlu memberikan sosialisasi mengenai perencanaan dana hari tua, kepada karyawan-karyawan yang masih muda. Tujuannya agar mereka memiliki waktu yang cukup banyak untuk mempersiapkan dana hari tuanya. Selain itu mereka juga masih memiliki banyak waktu untuk meningkatkan penghasilan dari investasinya serta penghasilan pasif.

 

Ada dua buah informasi penting, yang banyak orang tidak sadari:

  1. Seseorang memiliki 3 potensi sumber penghasilan, yaitu penghasilan karena kerja, penghasilan dari investasinya dan penghasilan dari aset (pendapatan pasif).
  2. Ketika seseorang pensiun, orang tersebut akan kehilangan salah satu sumber penghasilannya, yaitu penghasilan karena kerja. Mereka masih bisa memiliki sumber penghasilan dari investasi dan pendapatan pasif, jika mereka sudah mulai menyiapkan dari usia muda.

https://www.finansialku.com/mengapa-banyak-karyawan-cemas-menghadapi-masa-pensiun/

Gejala Post Power Syndrome dan Solusinya

 

Dalam sebuah ceramah agama,  seorang ustadz mengatakan bahwa orang yang paling patut dikasihani adalah seseorang yang pernah mengalami kejayaan dalam suatu masa hidupnya. Namun sekarang jatuh bangkrut dan bahkan menggantungkan hidupnya dari belas kasihan orang lain. Dia yang dahulu hidupnya serba berkecukupan, memperoleh banyak kemudahan dan serba dilayani oleh para pembantunya. Kini mesti menghadapi itu semua seorang diri. Dulu banyak teman yang datang dan mengaku saudara, sekarang tidak seorangpun yang mau mengakuinya. Orang seperti inilah yang sepatutnya mendapatkan dukungan dari kita, agar mereka dapat lebih tegar dan sabar dalam menghadapi ujian hidupnya.

 

Dari Ubadah Al-Barra bin Azib ra., Rasulullah SAW menyuruh kami untuk mengerjakan tujuh perbuatan yaitu :

  1. menjenguk orang sakit, 
  2. mengiringkan jenazah, 
  3. mendoakan orang yang bersin, 
  4. menolong orang yang lemah, 
  5. membantu orang yang teraniaya,
  6. menyebarluaskan salam dan 
  7. menepati sumpah

(HR. Bukhari dan Muslim).

Banyak orang takut menghadapi masa pensiun. Takut kehilangan jabatan, kedudukan, kekuasaan, penghormatan, status, merasa tidak dihargai lagi, merasa tidak dibutuhkan, berkurangnya pendapatan, dan mungkin juga takut kehilangan rumah dinas yang sudah bertahun-tahun ditempati. Ketakutan ini akan menimbulkan berbagai penderitaan yang dialami setelah seseorang memasuki masa pensiun atau yang disebut post power syndrome.

 

Kalau saja kita menyadari bahwa semua yang didapatkan sekarang adalah titipan dari Yang Maha Memiliki pastilah kita tidak akan ketakutan untuk melepasnya. Hidup di dunia ini hanyalah persinggahan, tempat kita mengumpulkan sebanyak-banyaknya amal kebaikan untuk mendapat tiket ke surga. Orang yang pandai adalah orang yang menyadari akan datangnya kematian dan mempersiapkan bekalnya untuk menemui Yang Maha Hidup.

Dan tidaklah kehidupan di dunia ini melainkan senda gurau dan permainan belaka dan sesungguhnya kampung akhirat adalah kehidupan yang sebenarnya, jika mereka mengetahui (QS. Al-Ankabut:64).

Agar tidak mengalami post power syndrome maka kita perlu mempersiapkan diri mulai dari sekarang, sejak masih aktif bekerja, yaaa .. . . dari sekarang.

 

Alkisah…….

Lelaki paruh baya itu tampak terbaring lemah di atas pembaringannya. Matanya berkaca-kaca ketika bekas koleganya selama dia masih aktif bekerja dulu datang menjenguknya. Melihat yang dijenguk menangis, sang penjenguk yang rata-rata ibu-ibu pun ikut-ikutan menitikkan air mata. Tak pernah terbayang di benak mereka, bahawa kepala sekolah mereka yang dulu begitu garang dan berwibawa di depan anak buahnya, kini tengah terpuruk tertimpa stroke, tak lama setelah ia tak lagi menjabat sebagai kepala sekolah.

Sebutlah namanya Pak Joyo. Usianya masih 60 tahun lebih sedikit. Beberapa tahun lalu, dia menjabat sebagai kepala sekolah X. Ketika ada aturan pembatasan masa kerja kepala sekolah, beliau termasuk yang terkena aturan ini. Ia pun kembali menjadi guru biasa. Kejadian ini cukup membuatnya tertekan karena sebagai orang yang pernah berkuasa, ia tak dapat dengan mudah memposisikan dirinya sebagai anak buah. Tak lama kemudian, ia pun sakit-sakitan dan terakhir ini dia terkena stroke.

 

Berbeda dengan Pak Hasan, yang juga pensiunan. Setelah pensiun, beliau lebih sibuk mengurus tanamannya. Selain itu, dia juga disibukkan dengan kegiatan mengantar-jemput cucunya yang masih TK di sekolah. Setelah pensiun, hidupnya menjadi terasa lebih hidup, lebih ceria, dan lebih berwarna.

Yups, inilah dua kondisi yang seringkali dialami oleh pensiunan. Satu dapat menerima dan menikmatinya dengan lapang dada, sedangkan yang satu lagi belum dapat menerima bahwa dirinya sudah tak lagi memiliki kekuasaan seeperti dulu. Hal yang kedua ini disebut sebagai post power syndrome, sindroma setelah kekuasaannya berakhir. Sebenarnya tak hanya pada bekas orang yang memiliki kekuasaan saja, tetapi sindroma ini juga bisa menimpa orang-orang yang pernah berjaya pada masa lalu, misalnya pada bintang cilik yang cemerlang pada zamannya tetapi ketika dewasa tidak lagi dikenal, atau pada artis yang pernah begitu laris pada ketika mudanya tetapi tak lagi dapat job saat usia telah beranjak tua. Semua orang bisa berpotensi terkena post power sindrome.

 

Banyak orang yang terkena post power syndrome ini setelah masa kejayaannya berakhir. Gejala paling sederhana, adalah ketika dia lebih suka bercerita mengenang masa lalunya yang penuh kejayaan daripada menghadapi hari-hari yang tengah dihadapinya. Atau, justru ia menjadi orang yang sedemikian menutup diri dari lingkungannya karena merasa ia tak lagi memiliki kekuasaan sehingga orang lain tak mau menghargai dirinya. Ia menjadi orang yang pemurung dan mudah tersinggung, juga selalu menganggap negatif semua hal yang terjadi di sekitarnya.

 

Memahami Post-Power Syndrome

Post-power syndrome, adalah gejala yang terjadi di mana penderita hidup dalam bayang-bayang kebesaran masa lalunya (karirnya, kecantikannya, ketampanannya, kecerdasannya, atau hal yang lain), dan seakan-akan tidak bisa memandang realita yang ada saat ini. Seperti yang terjadi pada kebanyakan orang pada usia mendekati pensiun. Selalu ingin mengungkapkan betapa begitu bangga akan masa lalunya yang dilaluinya dengan jerih payah yang luar biasa.

 

Ada banyak faktor yang menyebabkan terjadinya post-power syndrome. Pensiun dini dan PHK adalah salah satu dari faktor tersebut. Bila orang yang mendapatkan pensiun dini tidak bisa menerima keadaan bahwa tenaganya sudah tidak dipakai lagi, walaupun menurutnya dirinya masih bisa memberi kontribusi yang signifikan kepada perusahaan, post-power syndrom akan dengan mudah menyerang. Apalagi bila ternyata usianya sudah termasuk usia kurang produktif dan ditolak ketika melamar di perusahaan lain, post-power syndrom yang menyerangnya akan semakin parah.

 

Kejadian traumatik juga menjadi salah satu penyebab terjadinya post-power syndrome. Misalnya kecelakaan yang dialami oleh seorang pelari, yang menyebabkan kakinya harus diamputasi. Bila dia tidak mampu menerima keadaan yang dialaminya, dia akan mengalami post-power syndrome. Dan jika terus berlarut-larut, tidak mustahil gangguan jiwa yang lebih berat akan dideritanya.

 

Post-power syndrome hampir selalu dialami terutama orang yang sudah lanjut usia dan pensiun dari pekerjaannya. Hanya saja banyak orang yang berhasil melalui fase ini dengan cepat dan dapat menerima kenyataan dengan hati yang lapang. Tetapi pada kasus-kasus tertentu, dimana seseorang tidak mampu menerima kenyataan yang ada, ditambah dengan tuntutan hidup yang terus mendesak, dan dirinya adalah satu-satunya penopang hidup keluarga, resiko terjadinya post-power syndrome yang berat semakin besar.

Beberapa kasus post-power syndrome yang berat diikuti oleh gangguan jiwa seperti tidak bisa berpikir rasional dalam jangka waktu tertentu, depresi yang berat, atau pada pribadi-pribadi introfert (tertutup) terjadi psikosomatik (sakit yang disebabkan beban emosi yang tidak tersalurkan) yang parah.

 

Gejala

Beberapa gejala dari post-power syndrome biasanya dapat dibagi ke dalam 3 kelompok:

  1. Gejala fisik; misalnya tampak kuyu, terlihat lebih tua, tubuh lebih lemah dan tampak kurang bergairah, sakit-sakitan.
  2. Gejala emosi; misalnya mudah tersinggung, pemurung, senang menarik diri dari pergaulan, atau sebaliknya cepat marah untuk hal-hal kecil, tak suka disaingi dan tak suka dibantah.
  3. Gejala perilaku; misalnya menjadi pendiam, pemalu, atau justru senang berbicara mengenai kehebatan dirinya di masa lalu, senang menyerang pendapat orang, mencela, mengkritik, tak mau kalah, atau menunjukkan kemarahan dan kekecewaan baik di rumah maupun di tempat umum.

Turner & Helms (dalam Supardi, 2002) menggambarkan penyebab terjadinya post power syndrome dalam kasus kehilangan pekerjaan yakni

  1. kehilangan harga diri- hilangnya jabatan menyebabkan hilangnya perasaan atas pengakuan diri);
  2. kehilangan fungsi eksekutif- fungsi yang memberikan kebanggaan diri;
  3. kehilangan perasaan sebagai orang yang memiliki arti dalam kelompok tertentu;
  4. kehilangan orientasi kerja;
  5. kehilangan sumber penghasilan terkait dengan jabatan terdahulu. Semua ini bisa membuat individu pada frustrasi dan menggiring pada gangguan psikologis, fisik serta sosial.

Ciri kepribadian yang rentan terhadap post power syndrome

Beberapa ciri kepribadian yang rentan terhadap post power syndrome di antaranya adalah mereka yang senang dihargai dan minta dihormati orang lain, suka mengatur, ‘gila jabatan’, menuntut agar permintaannya selalu dituruti, suka merasa lebih unggul daripada yang lainnya, dan suka dilayani orang lain. Orang-orang yang menaruh arti hidupnya pada prestise jabatan tertentu juga rentan terhadap syndrome ini. Istilahnya orang yang menganggap jabatan, gelar, pangkat, atau kekuasaan itu adalah segala-galanya atau merupakan hal yang sangat berarti dalam hidupnya. Secara ringkas mereka ini disebut sebagai orang-orang dengan need of power yang tinggi. Selain itu, ada pula mereka yang sebenarnya kurang kuat kepercayaan dirinya sehingga sebenarnya selalu membutuhkan pengakuan dari orang lain, melalui jabatannya dia merasa ”aman”.

Sindrom ini bisa dialami oleh pria maupun wanita, tergantung dari berbagai faktor, seperti ciri kepribadian, penghayatan terhadap apa makna dan tujuan ia mengabdi, bekerja, dan berkarya, pengalaman selama bekerja, pengaruh lingkungan keluarga, dan budaya. Syndrome ini mampu mempengaruhi konsep diri seseorang, membuat seseorang merasa kehilangan peran, status, dan identitasnya dalam masyarakat menjadi berubah sehingga dapat menurunkan harga diri.

 

Penanganan

Bila seorang penderita post-power syndrome dapat menemukan aktualisasi diri yang baru, hal itu akan sangat menolong baginya. Misalnya seorang manajer yang terkena PHK, tetapi bisa beraktualisasi diri di bisnis baru yang dirintisnya (agrobisnis misalnya), ia akan terhindar dari resiko terserang post-power syndrome.

Di samping itu, dukungan lingkungan terdekat, dalam hal ini keluarga, dan kematangan emosi seseorang sangat berpengaruh pada terlewatinya fase post-power syndrome ini. Seseorang yang bisa menerima kenyataan dan keberadaannya dengan baik akan lebih mampu melewati fase ini dibanding dengan seseorang yang memiliki konflik emosi.

Dukungan dan pengertian dari orang-orang tercinta sangat membantu penderita. Bila penderita melihat bahwa orang-orang yang dicintainya memahami dan mengerti tentang keadaan dirinya, atau ketidak mampuannya mencari nafkah, ia akan lebih bisa menerima keadaannya dan lebih mampu berpikir secara dingin. Hal itu akan mengembalikan kreativitas dan produktifitasnya, meskipun tidak sehebat dulu. Akan sangat berbeda hasilnya jika keluarga malah mengejek dan selalu menyindirnya, menggerutu, bahkan mengolok-oloknya.

Post-power syndrome menyerang siapa saja, baik pria maupun wanita. Kematangan emosi dan kehangatan keluarga sangat membantu untuk melewati fase ini. Dan satu cara untuk mempersiapkan diri menghadapi post-power syndrome adalah gemar menabung dan hidup sederhana. Karena bila post-power syndrome menyerang, sementara penderita sudah terbiasa hidup mewah, akibatnya akan lebih parah.

 

Cerdas Menghadapi “Post Power Syndrome”

Post Power Syndrome tak akan menghinggapi kita jika kita menganggap kekuasaan yang sedang kita pegang ini hanyalah sementara. Jika hanya sementara, maka kita tak akan mengejar kekuasaan itu dan bahkan menyalahgunakan kekuasaan itu untuk kepentingan dirinya sendiri.

Selain itu, saat kita sedang berjaya, kita mestilah menyediakan rencana cadangan jika tak lagi memiliki jabatan. Paling tidak, kita memiliki rencana tentang apa yang akan kita lakukan jika masa kekuasaan itu berakhir. Untuk yang purnatugas bisa merencanakan kegiatan hariannya.

Tetap bergaul seperti biasa. Bergaul merupakan salah satu ciri kita sebagai makhluk sosial. Kalau kita mengasingkan diri, tentu kehidupan kita akan terasa suram. Beberapa orang mungkin akan berubah sikap ketika kita tak lagi punya kekuasaan. Tetapi yakinlah, akan banyak orang yang lebih menghargai kita ketika kita mampu untuk tetap bersosialisasi. Bahkan, akhirnya kita tahu mana orang yang tulus, mana orang yang tak tulus terhadap kita.

 

Melakukan kegiatan bermanfaat yang dulu tak bisa sering kita lakukan. Tanpa kekuasaan, mungkin kita akan memiliki pemasukan yang lebih sedikit. Namun, tanpa kekuasaan, kita jadi punya lebih banyak waktu luang. Jika dulu kita tak sempat untuk sekadar berhandai-handai dengan tetangga atau keluarga, sekarang waktu yang terluang lebih banyak sehingga kita bisa melakukan apa yang dulu tak kita lakukan.

Menghadapi semuanya dengan sudut pandang positif sangatlah penting. Dengan demikian, kita terhindar dari sikap berburuk sangka yang justru bisa merusak nood kita. Kita pun tetap bahagia dengan apa yang kita punya sekarang.

Kekuasaan bukanlah segalanya. Berakhirnya kekuasaan juga bukan akhir segalanya. Banyak orang yang tak bisa mengatasi post power syndrome, tetapi banyak pula yang cerdas menghadapinya sehingga hidupnya menjadi lebih baik meskipun tak lagi berjaya. Semuanya tergantung pada caranya menghadapi kenyataan.

http://sijalupangna.blogspot.co.id/2012/11/gejala-post-power-syndrome-dan-solusinya.html