1

Manfaatkan makanan sisa

Manfaatkan Makanan Sisa

Faktanya, sekitar sepertiga makanan di dunia terbuang. Menurut FAO, Organisasi Pangan dan Pertanian PBB, manusia menyia-nyiakan makanan sebanyak 1,3 miliar ton per tahun di seluruh dunia. Sementara bencana kelaparan di berbagai belahan dunia jumlahnya mencapai angka yang fantastis yaitu sekitar 800 juta jiwa.[1]

 

Di lembah Salinas, California, setiap tahunnya para petani membuang ribuan ton sayuran segar yang dianggap tidak memenuhi standar supermarket. Ironisnya, jumlah itu bisa mencukupi kebutuhan pangan untuk dua miliar manusia.[2] Selain itu, di Huaral, Peru, sekitar 30 persen jeruk mandarin tidak memenuhi standar ekspor dan jika kita bicara dunia, 46 persen buah dan sayur tidak akan berpindah tangan dari pertanian ke meja makan kita.[3]

 

Membuang makanan bukan hanya bicara mengenai ironi, pemborosan dan pelanggaran moral tapi juga dampak buruknya terhadap lingkungan. Limbah makanan akan menjadi penghasil gas rumah kaca terbesar ketiga di dunia. Di planet dengan sumber daya terbatas ditambah dengan ekspektasi tambahan penduduk sebanyak dua miliar pada 2050, pemborosan ini menurut Tristram Stuart dalam bukunya Waste: Uncovering the Global Food Scandal, sungguh tidak pantas.[4]

 

Seorang relawan di wilayah Picardy, Prancis , memungut 500 kilogram kentang yang dianggap terlalu kecil. Kentang-kentang ini akan disatukan dengan wortel dan sayur mayur yang tidak memenuhi standar pungutan relawan lain di Place de la Republique. Sebuah tempat dimana para relawan bekerjasama dengan kelompok Feedback, yang digawangi Tristram Stuart, memasak semuanya menjadi hidangan untuk 6.100 orang. Sampai sekarang Feedback sudah membuat lebih dari 30 perjamuan umum semacam ini yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran akan buruknya pembuangan makanan dan menginspirasi solusi lokal.[5]

 

Di Indonesia, gerakan semacam ini sepertinya belum ada. Namun kita bisa memulai dari diri kita sendiri misalnya dengan: membeli makanan segar di pasar petani lokal, membeli makanan yang harganya dipotong karena berpenampilan cacat, membawa sisa makanan kita di restoran, memanfaatkan makanan sisa di rumah dengan membekukan dan mengkalengkan makanan yang berlebih, atau bisa juga mengolah buah-buahan yang sudah kurang segar dengan blender untuk menjadi minuman, dan masih banyak lagi.[6]

 

 

 

 

[1] National Geographic, Maret 2016. Jangan Buang Makananmu, hal. 34

[2] National Geographic, Maret 2016. Jangan Buang Makananmu, hal. 29

[3] National Geographic, Maret 2016. Jangan Buang Makananmu, hal. 34

[4] National Geographic, Maret 2016. Jangan Buang Makananmu, hal. 34

[5] National Geographic, Maret 2016. Jangan Buang Makananmu, hal. 39

[6] National Geographic, Maret 2016. Jangan Buang Makananmu, hal. 50