Berselancar di dunia maya

image_print

Kata berselancar merujuk pada sebuah aktivitas yang menggairahkan, meliuk-liuk di permukaan air. Aktivitas berselancar ini merupakan sebuah daya tarik, terutama bagi saudara-saudara kita yang berasal dari sebuah negara dengan empat musim.
Namun, sekarang ini aktivitas berselancar jamak pula dilakukan oleh setiap orang di dunia maya, dunia internet. Coba tengok kanan kiri kita. Kolega di kampus mengutamakan membuka laptop begitu nyampe di ruang kerjanya. Mahasiswa sambil menunggu aktivitas perkuliahan, sibuk memainkan jari jemarinya di gadget yang ada di genggamannya. Teman kost masih asik tertawa-tawa di kasurnya, karena chatting, padahal hari sudah larut. Randi, anak tetangga, umur 3 tahun, diam tak bersuara, karena perhatiannya terpaku pada handphone ibunya yang sedang bersih-bersih rumah.
Siapa lagi? Pak Kasman, menyempatkan menengok handphone di saat sedang mengecat dinding tetangga. Pak Badu, pedagang sayur keliling, tampak asik main game, sambil melepas lelah, sesaat setelah daganggannya terjual. Siapa tidak “berselancar”?
Handphone menjadi sarana berjalan yang sudah jamak dipakai orang-orang di sekitar kita, sehingga tampak banyak orang lebih sibuk dengan aktivitasnya masing-masing, berinteraksi dengan gadgetnya. Pertanyaannya, apakah itu salah?
Tak ada yang mengatakan salah, sejauh kita bisa menggungkan fasilitas yang kita punya secara proporsional. Berselancar di dunia maya, mengasikkan. Namun, ingatlah, bagaimanapun secara alam kodrati, kita adalah makhluk sosial, sekaligus makhluk individu. Sejatinya, ada kerinduan mendasar untuk dapat berinteraksi dengan sesama. Melihat tawa Indah yang renyah, menyaksikan Tio yang bolak-balik ke kamar mandi, makan singkong rame-rame dengan teman-teman tetangga di rumah sore-sore, makan malam bersama dengan anak di rumah tanpa chatting, ngobrol santai dengan teman sekelas setelah kuliah selesai… Nah, dekat di mata dekat di hati, bukan?

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published.