Efektivitas Gelar

image_print

Dewasa ini pendidikan semakin berkembang dan manfaat ilmu pengetahuan juga semakin dirasakan oleh manusia.  Untuk menyongsong peradaban baru yang membutuhkan penguasaan pengetahuan yang lebih luas, orang pun senantiasa suka belajar supaya “mumpuni” dan meraih banyak gelar.  Yang menjadi pertanyaan usil saya, betulkah orang yang sudah banyak gelar itu betulan pintar ?  Kali ini saya hanya mencoba menelaah pertanyaan tersebut dari sudut pandang saya yang berlatar belakang sarjana ekonomi jurusan akuntansi – notabene ilmu sosial.  Namun, untuk mengkaji itu sebelumnya sedikit akan saya ceritakan sekilas sosok akuntansi dalam rumpun pendidikan ekonomi di Indonesia.  Apa yang saya kemukakan belum tentu 100% benar sebab sebatas mengandalkan daya ingat – maklum. saya lahir di Orde Lama, besar di Orde Baru, uzur di Era MEA.

Dulu dalam pembukuan perusahaan dikenal Tata Buku – Bon A, Bon B yang dianggap tinggalan Belanda dan ini lumrah karena data sejarah menyebutkan negeri kita dijajah Belanda sekitar tiga setengah abad (untuk akuratnya Walahuallam !).  Akuntansi mulai hadir di Indonesia saat Orde Baru berkuasa.   Para akuntan Indonesia kala itu lebih berkiblat kepada akuntansi Amerika ketimbang Eropa.  Argumentasinya karena akuntansi Amerika dianggap lebih maju daripada Eropa sebab Akuntansi Amerika disusun oleh profesi, sedang akuntansi Eropa yang dipelopori oleh Jerman, Inggris dan Perancis  disusun oleh negara.  Kala itu diasumsikan yang disusun oleh profesi lebih bagus dan profesional karena lebih obyektif sedang yang disusun oleh negara lebih lemah tersirat intrik.

Dengan berlalunya waktu lahirlah Eropa bersatu terutama yang menyangkut denominator moneter yakni Euro.  Kendati awalnya lemah namun lambat laun nilai tukarnya semakin menguat terhadap dollar Amerika.  Realitas itu menstimulus harmonisasi akuntansi eropa dengan lahirnya International Financial Reporting Standard (IFRS).  Jepang sebagai negeri Asia yang kuat secara ekonomi meneguhkan lebih mengakomodir IFRS ketimbang Financial Accounting Standard Board (FASB) produk akuntan Amerika.  Di samping itu terjadinya skandal Enron kian meruntuhkan dominasi akuntansi versi Amerika.  AS merupakan negeri yang tahu diri dan di benaknya fakta menunjukkan Eropa dan Jepang memang sudah maju dan untuk itu lebih bijak berteman akrab ketimbang bermusuhan, oleh sebab itu AS pun akhirnya mengakomodir IFRS.  Indonesia yang sepenuhnya waras pada akhirnya juga mengakomodir IFRS.

Kembali lagi ke isu utama yakni gelar, betulkah gelar mencerminkan “kompetensi” seseorang?  Tempo hari saya berkenalan dengan akuntan yang kebetulan aktif di Ikatan Akuntan Indonesia (IAI).  Namanya sebut saja Autan.  Sewaktu saya bertukar kartu nama tertera jelas atribut yang menyertainya tertulis:

M. Autan, DR., SE., MM., MKn., MEcDev., MSi., Ak., CA., CPA., CTA., CLA

Salahkah yang bersangkutan mencantumkan gelar sebanyak itu ? Setelah saya merenung dalam, hemat saya itu boleh dan sah-sah saja.  Toh nama dan atribut tersebut bukan obyek pajak !  Namun otak usil saya kembali mencuat, kira-kira jika Autan dibandingkan Steve Jobb atau Einstein atau Robert N. Anthony atau Kenneth A. Merchant atau Nurcholis Majid atau Gus Dur atau MH Ainun Najib atau Mahatma Gandhi atau Mohammad Hatta atau Wahyudi Prakarsa atau Newton atau Benjamin Franklin atau Margareth Thacher atau Basuki Cahaya Purnama alias Ahok mana yang lebih mumpuni ??? Yang pasti setiap orang punya kelebihan dan kekurangan masing-masing, tapi di jalur mainstream yang sejati dipastikan tidak membutuhkan sosok orang yang lihai atau doyan menerakan BANYAK atribut gelar di sekitar namanya.  Saatnyalah setiap insan paham bahwa nilai-nilai luhur dan kompetensi diri bukan tercermin dari pajangan gelar, namun kecerdasan memposisikan talentanya di alam fana nan baka !

Semoga para penyandang gelar semakin pintar mencantumkan gelarnya sehingga tidak mengundang tanya orang-orang Asia Tenggara yang berkenalan dan berteman dengan kita.  Sebab kini Era MEA kan yang dapat diplesetkan kepanjangannya menjadi Mbok Eling Allah yang tak memproklamirkan asmaNya dengan macam-macam gelar….

 

Edy Sukarno About Edy Sukarno

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *