1

Mengembangkan Personal Mastery Sebagai Landasan Spiritual Learning Organization

Pendahuluan

Organisasi merupakan temuan manusia yang monumental. Hingga saat ini, keluarga sebagai organisasi paling tua di sektor kebudayaan telah menjadi basis yang tidak tergantikan di dalam hal kultivasi kehidupan dan kebudayaan umat manusia. Perusahaan-perusahaan bisnis dalam segala ukurannya telah mendorong berkembangnya perekonomian di seluruh dunia sejak kaum Quakers mempraktekkannya atau bahkan lebih tua dari itu hingga dewasa ini. Organisasi-organisasi politik-pemerintahan dalam segala bentuk dan ragamnya memainkan peranan yang sangat nyata bagi pengaturan kehidupan publik.

Organisasi boleh dibilang begitu pervasif dalam kehidupan manusia. Karya-karya besar sulit dibayangkan terlaksana tanpa organisasi dan pengorganisasian yang hebat. Bagi manusia moderen, apakah ada ruang kehidupannya yang tidak diisi dengan mengandalkan dukungan dari organisasi-organisasi? Jika dihitung-hitung sejak awal hingga penghujung hari, manakah kebutuhan manusia moderen yang tidak bergayutan dengan produk-produk atau jasa-jasa dari organisasi-organisasi? Sejak awal kehidupan hingga akhir hayat, jarang didapati ada ruang-ruang yang sungguh-sungguh bebas dari kehadiran organisasi-organisasi, entah secara langsung dan disadari maupun secara tidak langsung dan tidak disadari.

Organisasi-organisasi menentukan perkembangan peradaban umat manusia: semakin maju dan berkembang secara positif, stagnan, atau mundur dan membuat manusia terancam mengalami degradasi bahkan kehancuran. Perusahaan-perusahaan kecil dapat dibawanya bertumbuh menjadi raksasa-raksasa bisnis, tetapi dapat juga dibuatnya lenyap tanpa bekas secara mendadak. Lembaga-lembaga pendidikan yang diorganisasikan dengan baik telah menyediakan tempat pembelajaran yang mampu mengembangkan dan mendiseminsasikan ilmu pengetahuan bagi perkembangan peserta pembelajaran dan masyarakat secara keseluruhan. Sejumlah negara bertumbuh semakin makmur dan sejahtera lantaran organisasi dan pengorganisasian pemerintahannya cerdas dan selaras dengan spirit kehidupan sesuai dengan peerkembangan zamannya. Sebaliknya, negara-negara atau pemerintahan-pemerintahan duniawi tertentu di masa lampau menjadi lenyap juga karena organisasi dan pengorganisasiannya bermasalah. Keluarga-keluarga dapat menjadi tenpat persemaian kehidupan yang penuh kebahagiaan dan damai di kala pengorganisasiannya memadai dan sebaliknya menjadi sarana kehancuran mental-fisik-spiritual ketika penataannya tidak peduli dengan azas pro-life. Dunia di era globalisasi dapat dijadikan suatu desa kecil penuh harmoni, tetapi dapat juga dijadikan lautan api yang menyiksa jiwa-jiwa dari para penghuni planet bumi. Perang besar atau damai yang berdimensi luas senantiasa melibatkan organisasi dan pengorganisasian.

Mengakhiri abad keduapuluh dan memasuki abad keduapuluh satu, organisasi-organisasi dan pengorganisasian di abad keduapuluh tidak lagi memadai. Para ahli menggagas berbagai alternatif organisasi atau pengorganisasian. Semuanya pada akhirnya bermuara pada organisasi pembelajar (learning organization), yang terutama dipopulerkan oleh Peter M. Senge (1990), melalui karyanya The Fifth Discipline.

Learning organization (LO) mencerminkan organisasi dan pengorganisasian yang paling mampu menjawab kebutuhan masyarakat pengetahuan (knowledge society) seperti yang dialami saat ini. Kehidupan yang bergerak maju karena informasi dan pengetahuan sebagai modal utamanya menuntut suatu organisasi yang lebih cerdas di dalam memudahkan pengembangan, perolehan, distribusi, dan pendayagunaan pengetahuan secara unggul.

Bagi Senge (1990:14), LO merupakan “… suatu organisasi yang mampu secara terus-menerus memperluas kapasitasnya untuk menciptakan masa depannya.” Dikatakannya bahwa melalui pembelajaran, anggota-anggotanya dapat menciptakan kembali dirinya secara terus-menerus. Dengan begitu, LO mampu melakukan pembaharuan internal terus-menerus sehingga tercipta inovasi-inovasi yang memungkinkan disediakannya tanggapan-tanggapan yang paling tepat bagi masyarakat. Penggambaran seperti ini jauh mengatasi dengan tepat kelemahan-kelemahan yang ada pada organisasi birokratis  yang pernah berjaya di abad keduapuluh.

Peter M. Senge (1990) mengemukakan lima disiplin yang terpadu dari sebuah LO. Disiplin-disiplin itu terdiri dari personal mastery, model mental (mental models), pembelajaran tim (team learning), visi bersama (shared vision), dan berpikir kesisteman (sytems thinking). Disiplin di dalam hal ini dimaksudkan sebuah tingkat profesiensi tertentu. Disiplin-disiplin ini memerlukan pengembangan terus-menerus.

Tulisan ini berisi uraian tentang personal mastery. Pertama-tama akan disinggung kembali tentang apa yang dimaksdukan dengan personal mastery (PM). Selanjutnya akan diuraikan beberapa cara yang perlu dilakukan untuk mengembangkan PM secara berkelanjutan. Pada bagian akhir, akan dikemukakan beberapa implikasi bagi organisasi, dalam hal ini bagi para manajer guna mendukung perkembangan PM dari orang-orang yang terlibat.

Apa sesungguhnya Personal Mastery?

Senge (1990:126) memaksudkan personal mastery sebagai disiplin pertumbuhan dan pembelajaran pribadi. Dijelaskannya bahwa orang-orang yang memiliki tingkat PM yang tinggi sangat diperlukan bagi pembelajaran organisasi (organizational learning, OL).  Pernyataannya menarik untuk disimak. “… People with high levels of personal mastery are continually expanding their ability to create the results in life they truly seek. From their quest for continual learning comes the spirit of the learning organization.” (Senge, 1990:126).

Menegaskan pandangannya di atas, PM diyakninya sebagai sebuah landasan esensial bagi LO, bahkan dikatakan sebagai fondasi spiritual bagi LO (Senge, 1990:412). Dalam konteks ini, PM merupakan sebuah disiplin yang ditandai oleh upaya terus-menerus yang dilakukan untuk memperjelas dan memperdalam visi pribadi, memusatkan energi, mengembangkan kesabaran, dan memahami realitas dengan obyektif (Senge, 1990:142).

Menurut Senge (1990:412). ada dua gerakan di dalam diri yang akan terjadi ketika PM telah menjadi sebuah kemampuan yang tinggi. Pertama, orang akan senantiasa tergerak untuk mencari tahu apa yang hal terpenting dalam hidup seseorang dan memusatkan perhatian atau seluruh hidup untuk hal tersebut. Visi pribadi yang luhur perlu dibangun dengan sebaik-baiknya.  Kedua, orang dengan PM yang telah menyatu di dalam diri akan senantiasa berupaya untuk untuk melihat kenyataan yang ada saat ini dengan lebih jernih. Hal ini penting agar kita dapat terhindar dari kepuasan semu dan kelambanan di dalam menyadari masalah-masalah yang dapat menghambat pencapaian visi pribadi yang luhur.

Ketika terjadi kesenjangan di antara apa yang ideal, yaitu visi pribadi yang luhur dan kenyataan saat ini terjadilah situasi “tegangan kreatif” (“creative tension”). Kesenjangan ini semestinya menjadi sumber motivasi untuk pembelajaran. Kondisi yang ada perlu diubah agar semakin mendekati visi pribadi. Perubahan yang nyata bagi organisasi dapat dihasilkan ketika keinginan yang kuat untuk berubah timbul dari dalam hati dan pikiran yang jernih dari setiap pribadi yang bergabung di dalam organisasi.

Orang-orang yang memiliki PM yang tinggi tidak akan pernah berhenti belajar. Mereka tidak pernah merasa telah tuntas dalam menguasai sesuatu ketrampilan. Mereka bagaikan orang-orang yang sedang di dalam perjalanan atau pencaharian tanpa henti menuju tujuan hidup yang bermutu tinggi.

Beberapa ciri pokok dari orang-orang  yang memiliki PM tinggi di antaranya adalah adanya perasaan terpanggil untuk mengerjakan sesuatu hal penting yang dicerminkan oleh visi pribadinya; mau menerima kenyataan yang ada dan berusaha memperbaikinya terus-menerus; memiliki keinginan yang kuat untuk mencari tahu tentang keadaan yang ada dan cara-cara untuk memperbaikinya secara mendasar; merasakan satu kesatuan dengan orang-orang lain dan kehidupan itu sendiri tanpa kehilangan keyakinan diri atas keunikan dirinya; menempatkan diri sebagai bagian dari proses kreatif yang luas dan tidak dapat mengendalikannya secara sepihak (Senge, 1990:412).

Karakter orang-orang dengan PM yang tinggi menunjukkan ciri pembelajar seumur hidup. Kehidupan yang lebih baik menuntut inisiatif, ketekunan, dan kesediaan untuk melewati kesulitan-kesulitan di dalam mengusahakan perubahan. Di sisi lain diperlukan juga kemampuan untuk kemampuan untuk menghadapi ketidak-pastian di masa depan. Perubahan organisasi sering melibatkan pertimbangan mengenai kepentingan-kepentingan dari berbagai pihak yang ada kalanya bertolak belakang dan memerlukan sinkronisasi  yang tidak mudah. Semuanya ini relevan dengan situasi dunia saat ini yang lebih cednderung pada kondisi kompleksitas dinamis (dynamic complexity), terutama karena dipicu oleh perkembangan teknologi informasi dan teknologi.

Gambaran di atas menunjukkan adanya kemampuan untuk pembelajaran seumur hidup yang mengintegrasikan pembelajaran dalam konteks kecerdasan inetektual, emosional, spiritual. Adversity quotient dan kemampuan untuk memahami bekerjanya kekuasaan dan seni penggunaan politik organisasi untuk kebaikan umum pun tidak dapat diabaikan.

Bagaimana Mengembangkan Personal Mastery?

Peter M. Senge (1990) mengemukakan beberapa prinsip dan praktik yang dapat digunakan untuk mengembangkan PM. Pertama, perlu dikembangkan sebuah visi pribadi yang jelas dan menantang. Visi ini perlu dikembangkan berdasarkan misi (purpose) yang luhur. Untuk membedakan keduanya, Senge menjelaskan,

… Purpose is similar to a direc tion, a general heading. Vision is a specific destination, a picture of a
desired future. Purpose is abstract. Vision is concrete. Purpose is “advancing man’s capability to explore the heavens.” Vision is “a man on the moon by the end of the 1960s.” Purpose is “being the best I can be,” “excellence.” Vision is breaking four minutes in the mile.”(Senge, 1990:412).

Kedua, kemampuan untuk mengelola tegangan kreatif perlu ditingkatkan terus-menerus. Ketika keadaan yang ada jauh lebih rendah dari visi yang dicanangkan, orang dapat memilih untuk mengubah keadaan agar semakin menuju kondisi yang ditargetkan pada visi atau sebaliknya menurunkan visi. Pembelajaran berkembangan dengan baik pada pilihan yang pertama. Dorongan untuk menekan kesenjangan terjadi karena manusia menginginkan kondisi yang nyaman. Di sini dibutuhkan kemampuan untuk bertekun dan menunggu sampai tindakan-tindakan yang diambil memberikan hasil positif.

Ketiga, perlu dikembangkan kemampuan untuk menangani “konflik struktural” di dalam diri sendiri. Konflik ini terjadi karena di satu sisi kita berkomitmen tinggi terhadap sebuah visi yang ideal, luhur, dan mampu membawa kita kepada jati diri yang sempurna. Namun di sisi yang lain, muncul bisikan dari dalam batin kita sendiri yang menyebabkan  keragu-raguan  untuk mewujudkan visi tersebut. Sistem pendidikan kita sejak kecil tidak jarang menekankan ketidakberdayaan (powerlessness) kita untuk mencapai hal-hal besar. Juga sering ditanamkan dalam diri kita tentang  ketidak-layakan (unworthiness) kita untuk meraih visi yang besar.  Ibarat putri duyung mendamba, kita boleh saja memiliki cita-cita luhur untuk memberi dampak positif bagi lingkungan sekitar dan kehidupan tetapi suara batin kita menahan laju kita dari dalam. Diperlukan suatu upaya resolusi konflik struktural. Pemeriksaan yang cermat dapat menunjukkan mengapa kedua hal ini terjadi. Selanjutnya diperlukan suatu penyeimbangan agar beban-beban yang dialami dapat dilepaskan dan kita memasuki tingkatan baru dan merasa layak dan mampu untuk mewujudkan visi dalam kesatuan yang harmonis dengan lingkungan. Melalui latihan-latihan terus-menerus, keyakinan diri akan semakin bertumbuh dan sebaliknya ketakutan semakin dapat ditekan. sebagaimana diketahui umum, ketakutan adalah musuh utama bagi perubahan.

Keempat, perlu dikembangkan komitmen terhadap kebenaran secara terus-menerus. Upaya-upaya untuk memperbaiki pemahaman kita mengenai berbagai peristiwa sangat diperlukan agar kita dapat menemukan solusi yang tepat atas permasalahan-permasalahan. Teori-teori yang kita anut perlu dikritisi dengan menilai daya tahannya di dalam menjelaskan situasi-situasi yang terjadi berdasarkan fakta. Dinamika yang kompleks memerlukan fleksibilitas di dalam penerapan teori-teori. Sulit ditemukan satu-satunya teori yang mampu menjawab semua permasalahan secara tuntas. Kemampuan berpikir kritis-konstruktif dapat membantu kita untuk memastikan kebenaran yang dapat diterima dan dijadikan acuan di dalam menetapkan langkah untuk mewujudkan visi pribadi yang telah disusun.

Kelima, alam bawah sadar penting untuk dikenali dan didayagunakan secara optimal. Konon alam bawah sadar manusia itu seperti samudra raya dengan kekuatan yang dahsyat. Berhubung alam bawah sadar tidak memiliki tujuan sendiri, maka kekuatan ini hanya bisa dimanfaatkan jika tersambung dengan alam sadar manusia. Kegiatan-kegiatan menyepi dan bersemedi yang berkembang pada masa lalu mungkin memiliki relevansi dengan upaya peningkatan kapasitas diri ini: Pemeriksaan yang cermat atas alam bawah sadar dan pengintegrasiannya dengan alam sadar. Ketika kemampuan ini dimanfaatkan untuk mencapai visi dan misi dapat disediakan energi yang cukup untuk mencapai hasil yang optimal dengan mengatasi hambatan-hambatan yang ditemui. Per ardua ad astra!

Terakhir, PM perlu diintegrasikan dengan kamampuan berpikir kesisteman (ST). Kemampuan untuk melakukan pembelajaran terus-menerus dapat dipertahankan melalui perpaduan antara akal dan intuisi, senantiasa melihat keterkaitan diri kita dengan lingkungan yang lebih luas (dunia), pengembangan kepedulian (compassion), dan perhatian yang besar terhadap keseluruhan. Dengan cara ini, pencapaian visi pribadi memiliki makna karena adanya dampak positif yang dapat diberikan kepada sesama dan lingkungan yang lebih luas. Kesabaran, ketekunan, dan rasa syukur yang sehat juga dapat diperoleh dengan memahami bahwa tindakan-tindakan individual dapat memiliki rangkaian yang panjang agar tiba pada hasil yang nyata. Di sisi lain, perkembangan ini memberikan harapan untuk bertindak karena keyakinan bahwa setiap tindakan lokal yang positif dapat berdampak global. Oleh karena itu, masing-masing individu akan semakin terdorong untuk mengambil tanggung jawab penuh atas bagiannya masing-masing meskipun kelihatannya sederhana karena pengetahuan akan dampak luas yang akan dihasilkan pada seluruh sistem. So, think globabally, act locally!

Penutup: Implikasi Manajerial 

Para pemimpin, khususnya yang mengampu jabatan manajerial dapat menempuh dua hal untuk mendukung perkembangan PM dari para karyawan atau anggota. Pertama, perlu dikembangkan budaya organisasi yang menghargai komitmen pada peningkatan PM secara terus-menerus. Hal ini dapat diwujudkan melalui sistem pengakuan, pelatihan, dan kesejahteraan yang diberikan kepada karyawan. Perusahaan-perusahaan tertentu mulai memberlakukan pemanfaatan istirahat siang untuk saat-saat teduh atau menyediakan sesi-sesi retret, refleksi, atau cuti untuk kegiatan religius–seperti ibadah ke tanah suci dan sebagainya.

Kedua, dapat dikembangkan pendekatan pembelajaran berdasarkan model (vicarious learning). Kearifan-kearifan lokal atau tokoh-tokoh ideal dalam perkembangan PM dapat dijadikan contoh bagi para karyawan. Para pemimpin seyogyanya menjadi contoh atau model dengan pertama-tama menjadi orang yang berkomitmen pada upaya untuk memajukan PM-nya sendiri. Pengalaman-pengalaman pribadi mereka dapat dibagikan kepada para karyawan sehingga tercipta pembelajaran kelompok dalam disiplin PM. Action speaks louder than words.

Harapan saya, uraian ini dapat memberikan manfaat bagi para pembaca. Tidak ada jalan tunggal menuju kematangan pribadi, tetapi sharingini dapat berguna karena setiap pribadi memiliki tanggung jawab atas upaya menyempurnakan dirinya sendiri terus-menerus menuju tingkatan yang paling ideal. Dengan gerakan ini, niscaya semua organisasi ciptaan manusia dapat berkembang menjadi organisasi-organisasi pembelajar yang unggul. Semoga.