Mencari Jurnal Terindeks dan Konferensi

ALL IN ONE (LINK INDEX JOURNAL)

No automatic alt text available.

 

Philippe Fournier-VigerHarbin & Institute of Technology (Shenzhen)




Jenis-jenis Variabel

Sila klik




Pendekatan dalam Riset Bisnis

Research process started from interesting thought about the world around us.
There are some assumptions:
– How do we see the world?
– What kind of sort do we have to investigate?
– Can we collect evidence?
– How do we collect evidence?
– Is the evidence is different between you and me if we see the same thing?
Always remember that our thoughts and ideas don’t start from a blank sheet, they start from minds which already have certain beliefs and ideas.

Gibbon, 1994:
1. Knowledge created by academic
2. Knowledge created by researcher for practical purposes
3. Huff & Huff (2001): Knowledge produced by research to understand bigger picture in relation to society

Epistemology
What kind of knowledge is acceptable in a field of study and will drive research approaches.
1. Positivist position
2. Interpretivist position

Ontology
Epistemology focuses on the feature of knowledge, ontology looks deeper at the way researchers understand the world.
Ontology asks us to identify the assumptions we have about the world we are researching.
1. Objectivist view
2. Subjectivist view

Sue Greener, https://www.youtube.com/watch?v=e99BEYU7148




Common biases Dalam Penelitian

Common
biases

  1. Ketersediaan
    Heuristik (Biases Emanating from the
    Availability Heuristic)

Heuristik
adalah seni dan ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan suatu penemuan.
Heuristik yang berkaitan dengan pemecahan masalah adalah cara menujukan pemikiran
seseorang dalam melakukan proses pemecahan sampai masalah tersebut berhasil
dipecahkan.

Individu
menilai frekuensi, probabilitas, atau kemungkinan penyebab kejadian berdasarkan
tingkat kejadian atau kejadiannya yang tersedia di memori. Suatu peristiwa yang
membangkitkan emosi dan hidup, mudah dibayangkan, dan spesifik akan lebih mudah
“tersedia” dalam ingatan. Akankah sebuah peristiwa yang bersifat
tidak emosional, hambar, sulit dibayangkan, atau terlalu banyak. Sejak kejadian
sering terjadi umumnya lebih mudah terungkap dalam diri kita, heuristik ini
sering mengarah pada penilaian yang akurat. Namun, karena ketersediaan
informasi juga dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak terkait dengan frekuensi
obyektif dari kejadian yang dihakimi, heuristik ini keliru.

  • Bias
    1 : Kemudahan recall

Individu
menilai kejadian yang lebih sering diingat dari ingatan, berdasarkan pada
keadaan hidup atau tingkat keparahan, menjadi lebih banyak daripada frekuensi
yang sama yang keadaannya kurang mudah diingat.

Misalnya :

  1. Pikirkan kebanyakan orang meninggal
    karena perang dan kelaparan daripada penyakit jantung;
  2. Membeli asuransi untuk bencana alam yang
    baru saja Anda alami.

  • Bias
    2 : pengambilan kembali (Retrievability)

Individu
bias dalam menilai frekuensi kejadian berdasarkan struktur ingatan mereka yang
mempengaruhi proses pencarian.

Misalnya :

  1. Kata-kata yang dimulai dengan huruf
    “a” yaitu Aset atau “a” sebagai huruf ke-3 yaitu Bank
  2. SPBU (di tempat yang sama): orang-orang
    ingat satu lokasi produk dan mengatur pikiran mereka sesuai dengan itu.

  • Bias
    3 : Asosiasi yang diasumsikan (Intensitivitas terhadap Ukuran Dasar =
    prevalensi atas keseluruhan)

Individu
cenderung melebih-lebihkan probabilitas dua peristiwa yang terjadi bersamaan
berdasarkan jumlah asosiasi serupa yang mudah diingat, baik dari pengalaman
atau pengalaman sosial.

Misalnya :

  1. Orang bisnis berfantasi tentang
    kesuksesan dan tidak memperhitungkan penilaian kegagalan
  2.  Universitas lebih memilih siswa dengan nilai
    tinggi, bahkan jika itu karena sistem penilaiannya lunak
  3. Orang-orang menghukum perilaku orang
    lain yang mengarah pada hal yang buruk bahkan jika hasil buruk tersebut membawa
    suatu perubahan. (Earning Management)

  • Keterwakilan
    Heuristik (Biases Emanating from the
    Representativeness Heuristic)

Individu
menilai kemungkinan terjadinya fenomena dengan kemiripan kejadian dengan
stereotip mereka pada kejadian serupa. Dalam banyak kasus, representativeness
heuristic adalah pendekatan yang baik. Namun, hal itu dapat menyebabkan
keputusan yang buruk dalam kasus bahwa informasi tidak memadai dan informasi
yang lebih baik ada (Anda tidak bisa menilai buku dari sampulnya.)

Ketidakpekaan
terhadap tingkat dasar Individu cenderung mengabaikan tingkat dasar dalam
menilai kemungkinan kejadian bila ada informasi deskriptif lain yang diberikan
walaupun tidak relevan.

  • Bias
    4 : Ketidakpekaan terhadap ukuran sampel

Individu
sering gagal untuk menghargai ukuran sampel dalam menilai kemampuan referensi
dari informasi sampel.

Misalnya :

Kesalahan yang disebabkan oleh salah
spesifikasi populasi juga umum terjadi dalam survei pemilihan konsumen, dengan
contoh umumnya hanya terdiri dari para ibu rumah tangga tidak menyertakan kaum
laki-laki, wanita yang bekerja dan mahasiswa karena keadaan mereka yang relatif
tidak memungkinkan terjangkau.

  • Bias
    5 : Kesalahpahaman tentang Peluang

Individu
mengharapkan bahwa urutan data umum oleh proses acak akan terlihat
“acak,” bahkan jika urutannya terlalu singkat untuk harapan tersebut
secara statistik tidak valid.

Misalnya :

Jika Anda memiliki 5 anak
laki-laki, kemungkinan anak laki-laki ke 6 adalah 50%. Orang menginginkan
berpeluang terlihat acak (THTHT bukan TTTHHH).

  • Bias
    6 : Regresi ke rata-rata

Individu
cenderung mengabaikan fakta bahwa kejadian luar biasa cenderung mengalami
kemunduran pada uji coba rata-rata.

Misalnya :

Jika tahun ke-1 terjadi
Keberhasilan, lalu tahun ke 2 Anda mengalami Kegagalan, Anda akan terasa
seperti tahun ‘buruk’. Terkadang kita mengharapkan terjadinya Keberhasilan, tapi
sering kali tidak.

  • Bias
    7 : Kesalahan konjungsi

Individu
secara salah menilai bahwa konjungsi (dua peristiwa terjadi bersamaan) lebih
mungkin terjadi daripada serangkaian kejadian yang lebih global dimana
konjungsinya adalah subset

Misalnya :

Seseorang berfikir saat menjadi
bankir dan feminis tidak pernah lebih mungkin daripada penilaian yang lebih
besar dari pada mengarah ke teller bank.

  • Konfirmasi
    heuristik (Biases Emanating from the
    Confirmation Heuristic
    )

Individu
melakukan penilaian dengan memulai dari nilai awal dan menyesuaikannya untuk
menghasilkan keputusan akhir. Nilai awal mungkin disarankan dari preseden
historis, dari cara mempresentasikan masalahnya, atau dari informasi acak.

  • Bias  8 : Perangkap konfirmasi

Individu
cenderung mencari konfirmasi informasi untuk apa yang mereka anggap benar dan
mengabaikan pencarian untuk bukti yang tidak dapat dikonfirmasi.

Misalnya :

  1. Ingatan kita yang dirancang untuk
    mengambil informasi dari ingatan tersebut. Jadi info yang sesuai dengan
    hipotesis mudah diakses.
  2. Selektif Waktu dan Usaha

Jadi
cari dulu info yang paling mungkin berhasil / berguna. Saat mencari informasi,
Anda memulai dengan mencari info yang mengonfirmasi pemikiran Anda (Rekomendasi
karyawan baru).

  • Bias
    9 : Penyesuaian jangkar tidak mencukupi (Anchoring and Adjustment)

Individu
membuat perkiraan untuk nilai berdasarkan nilai awal dan biasanya membuat
penyesuaian yang tidak memadai dari “jangkar” ini saat menetapkan
nilai akhir.

Misalnya :

  1. Mengembangkan perkiraan dengan memulai
    dengan menjangkarkan awal berdasarkan informasi apa saja yang disediakan (Budgeting)
  2. Pertama mencari informasi yang sesuai
    dengan jangkar daripada tidak sesuai dengan jangkar (Estimasi Penyusutan)

  • Bias
    10 : Peristiwa konjungtif dan disjungtif

Individu
menunjukkan bias terhadap perkiraan probabilitas kejadian konduktif dan
meremehkan probabilitas kejadian disjungtif.

Misalnya:

Mengambil kelereng merah dari tas
yang berisi kelereng warna warni, apa peluangnya?

  1. Melebih-lebihkan peristiwa konjungtif
    (yang terjadi bersamaan, semua kejadian perlu terjadi)
  2. Meremehkan kejadian disjungtif (yang
    terjadi secara independen, salah satu dari banyak peristiwa harus terjadi)

  • Biases
    Generally

Bias
11 :

  • Terlalu
    percaya diri

Individu cenderung terlalu percaya
diri akan kemungkinan penilaian mereka bila sering-sering menanggapi pertanyaan
yang sangat sulit.

  • Pandangan
    dan kutukan pengetahuan

Setelah
mengetahui apakah suatu peristiwa terjadi atau tidak, individu cenderung
terlalu tinggi menilai sejauh mana mereka telah menentukan hasil yang benar.




Materi Metode Kuantitatif/Operations Research

Bagi mereka yang sedang BELAJAR (tertarik secara sukarela atau terpaksa harus memenuhi SKS) metode kuantitatif (operations research, etc) yang terkait dengan topik-topik berikut TETAPI mengalami kesulitan memahami dari buku-buku teks, maka silakan download modul ringkas dan mudah tentang operations research (hanya 109 halaman) berikut.
164.100.133.129:81/econtent/uploads/operations_research.pdf
Pengalaman saya belajar metode-metode kuantitatif adalah “ketakutan mental (nyali ciut, dll) yang langsung memvonis diri kita TIDAK AKAN BISA/MAMPU”. Itu mindset yang SALAH sehingga membuat kita bermasalah terus-menerus ketika belajar metode kuantitatif.
Berusaha mencari sumber-sumber yang mudah dipelajari atau langsung berguru kepada ahlinya yang MUDAH menjelaskan dan memotivasi kita adalah jalan keluar terbaik untuk mengalahkan “ketakutan mental” itu.

Lesson 1 Introduction To Operation Research 1
Lesson 2 Models In Operations Research 3
Lesson 3 Introduction To Linear Programming 8
Lesson 4 L P Graphical Solution 10
Lesson 5 L P Simplex Method 14
Lesson 6 Simplex Method: Artificial Variable Techniques 20
Lesson 7 Sensitivity Analysis Using The Dual Simplex Method 23
Lesson 8 Group Discussion On The Topics Covered Till Date 26
Lesson 9 Transportation Problem 27
Lesson 10 Transportation Problem (Contd..) 29
Lesson 11 Degeneracy 32
Lesson 12 Assignment Problem 36
Lesson 13 Variations In The Assignment Problem 40
Lesson 14 Group Discussion/Quiz On Unit 2 Portions 43
Lesson 15 Sequencing Introduction 44
Lesson 16 Sequencing Introduction (Contd…) 46
Lesson 17 Replacement 54
Lesson 18 Replacement (Contd…) 57
Lesson 19 Queuing Theory 61
Lesson 20 Applicability Of Queueing Model To 66 Inventory Problems
Lesson 21 Group Discussion/Quiz On Unit 3 Portions 69
Lesson 22 Game Theory 70
Lesson 23 Game Theory Graphical Method 77
Lesson 24 Game Theory 80
Lesson 25 Group Discussion/Quiz On Unit 4 Portions 84
Lesson 26 Inventory Control 85
Lesson 27 Economic Ordering Quantity (Eoq) 88
Lesson 28 Economic Production Quantity And Economic 91 Order Interval
Lesson 29 Network Analysis-cpm 95
Lesson 30 Network Analysis-pert 98
Lesson 31 Group Discussion/Quiz On Unit 5 Portions 103
164.100.133.129:81/econtent/uploads/operations_research.pdf

Modul ringkas di atas HANYA digunakan sebagai PENGANTAR BELAJAR dari buku teks sesungguhnya yang menjadi referensi dalam pembelajaran mata kuliah operations research.

Sebagai misal di bagian akhir modul pengantar belajar di atas diberikan buku referensi klasik tentang Operations Research oleh Hamdi Taha.

Model pembelajaran metode-metode kuantitatif (Statistics, Mathematics, Operations Research, etc) dengan menyediakan terlebih dahulu Modul Pengantar Belajar yang RINGKAS dan MUDAH, setelah itu baru belajar berkelompok dan berdiskusi menggunakan buku-buku referensi yang pada umumnya sulit itu DAPAT ditiru dan dijadikan sebagai model yang sama di pendidikan (perguruan) tinggi Indonesia.

Silakan download buku Operations Research (Hamdi Taha, 8th Ed., 838 halaman) di sini:
www.m5zn.com/newuploads/2013/09/04/pdf/4dbf645d11b4d2f.pdf

Silakan tiru cara atau model perguruan tinggi di India mentransfer IPTEK kepada generasi muda (mahasiswa/i) mereka, yaitu: membuat Modul-modul Pengantar Belajar yang RINGKAS dan MUDAH, setelah itu baru mengajak mahasiswa/i berkelompok dan berdiskusi menggunakan buku-buku teks yang menjadi referensi.

JANGAN langsung memberikan buku-buku teks yang SULIT, apalagi JANGAN PERNAH menggunakan strategi dari dosen-dosen yang BUKAN ahli, yaitu: langsung menciptakan suasana KETAKUTAN dalam pembelajaran kepada mahasiswa/i agar TIDAK BERANI bertanya atau berdiskusi karena TAKUT tidak LULUS. Padahal itu sesungguhnya adalah STRATEGI dari pengajar yang TIDAK AHLI saja.

Bagaimana mungkin akan terjadi pembelajaran yang EFEKTIF pada suasana kelas yang penuh “KETAKUTAN”?

Silakan download materi pembelajaran operations research yang serupa di sini:
https://nandeeshreddy.files.wordpress.com/2014/04/cse-vi-operations-research-10cs661-notes.pdf

Mahasiswa yang cerdas dan melek informasi akan mencari solution manual dari buku-buku teks yang dipelajarinya. Khusus untuk Operations Research (Hamdi Taha, 8th Ed, 838 halaman) telah ada solution manual dan bisa download secara GRATIS dari penerbit, di sini:
https://www.scribd.com/document/320054317/Operations-Research-by-H-a-TAHA-Solution-Manual-8th-Edition

 

Salam SUCCESS.

Vincent Gaspersz




Bagaimana Meningkatkan Kapasitas Modal Manusia

Modal manusia (human capital) terdiri dari keterampilan, pengetahuan dan kemampuan individu yang relevan dengan pekerjaannya. Hubungan antar berbagai sumber daya (manusia, informasi, fisik, dan keuangan) dapat ditunjukkan dengan gambar berikut.

                                                        Leveraging Human Capital

McGee, J., & Channon, D. F. (2005). The Blackwell Encyclopedia of Management: Strategic Management. Blackwell.




Managerial Economics: Ilmu “Sapu Jagad”

Managerial Economics:

Ilmu “Sapu Jagad” agar Berkompetensi dalam Pembuatan Keputusan Ekonomi dan Manajemen

Oleh: Vincent Gaspersz, Lean Six Sigma Master Black Belt & Certified Management System Lead Specialist

Banyak lulusan dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), Fakultas Teknologi Industri (Teknik dan Manajemen Industri), maupun Program Pascasarjana Magister Manajemen (MM) atau Magister Teknik Industri (MT) yang seperti “kebingungan” ketika memasuki dunia PRAKTEK, seperti TIDAK TAHU apa-apa dalam membuat keputusan-keputusan manajerial yang berkaitan dengan bisnis, industri, ekonomi pembangunan, dll. Ketika disajikan data ekonomi dan bisnis, mereka seperti tidak memiliki “ilmu” apa-apa, padahal semua ilmu ekonomi (mikro dan makro), statistika, manajemen produksi, finance, accounting, marketing, decision making, dll telah dipelajari ketika mereka kuliah di perguruan tinggi.

FAKTA di atas menunjukkan bahwa meskipun kita telah belajar banyak mata kuliah TETAPI apabila pola berpikir kita ketika belajar setiap mata kuliah itu dilakukan secara PARSIAL (tidak terintegrasi dalam pola pikir SISTEM), maka tidak ada manfaat apa-apa dalam PRAKTEK di dunia nyata.

Lulusan pendidikan tinggi di atas, jika bingung ketika akan membuat keputusan-keputusan manajerial, maka saya meyakini “HAMPIR PASTI” mereka tidak pernah belajar Managerial Economics (Ekonomi Manajerial) dan/atau TIDAK MEMAHAMI secara benar serta TIDAK BERKOMPETENSI untuk mempraktekan Mangerial Economics (Ekonomi Manajerial) dalam dunia nyata untuk berbagai pembuatan keputusan ekonomi dan manajemen apa saja!

Jika demikian, apa itu Managerial Economics (Ekonomi Manajerial) yang sesungguhnya? Ekonomi Manajerial (Managerial Economics) bertujuan memberikan suatu kerangka kerja untuk menganalisis keputusan-keputusan manajerial. Paling sedikit Managerial Economics mengintegrasikan sekaligus sembilan mata kuliah inti di perguruan tinggi menjadi satu sistem pembuatan keputusan terintegrasi dalam bidang ekonomi dan manajemen (apa saja). Ke-9 mata kuliah inti itu adalah:
1. Ekonomi Makro (Macroeconomics)
2. Ekonomi Mikro (Microeconomics)
3. Matematika (Mathematics)
4. Statistika (Statistics)
5. Solusi Masalah & Pembuatan Keputusan (Problem Solving & Decision Making)
6. Manajemen Produksi dan Operasi (Production and Operations Management)
7. Manajemen Keuangan (Financial Management)
8. Manajemen Akuntansi dan Biaya (Accounting & Cost Management)
9. Manajemen Pemasaran (Marketing Management)


Daripada belajar ilmu-ilmu pengetahuan secara parsial yang TIDAK bermanfaat dalam dunia nyata (PRAKTEK), mengapa kita tidak mendesain saja kurikulum khusus untuk memperbanyak ilmu pengetahuan terintegrasi dalam sistem seperti: Ilmu “Sapu Jagad” Managerial Economics (Ekonomi Manajerial) yang bila perlu diberikan dalam bentuk: Pengantar Ekonomi Manajerial, Ekonomi Manajerial 1, Ekonomi Manajerial 2, Ekonomi Manajerial 3, Kapita Selekta Kasus-kasus Ekonomi Manajerial, dll.

Dengan demikian seorang lulusan perguruan tinggi dalam bidang Ekonomi, Manajemen, Teknik dan Manajemen Industri, akan berkompetensi menjadi manajer, karena tugas utama manajer adalah membuat keputusan yang mampu meningkatkan kinerja dari organisasi.

Pembelajaran Managerial Economics (Ekonomi Manajerial) sampai TUNTAS, apalagi ditambah metode pembelajaran modern: Problem-based Learning, akan menghasilkan lulusan S1 maupun S2 yang RUUUUAAARRR BIASA karena mampu berkompetisi secara global. Manajer di era informasi sekarang ini dituntut untuk MAMPU membuat keputusan yang EFEKTIF melalui “think through the problem” and “speak with data”!

Penggabungan 9 mata kuliah dalam sistem terintegrasi BUKAN parsial. Jika pengelola jurusan/fakultas ekonomi/manajemen/teknik industri adalah orang-orang yang memahami kebutuhan dunia nyata, maka mata kuliah managerial economics diberikan pada semester setelah 9 mata kuliah itu diberikan. Jika lebih cerdas lagi, maka 9 dosen mata kuliah akan dikumpulkan untuk pelatihan ekonomi manajerial, kemudian silabus setiap mata kuliah parsial dari 9 mata kuliah itu dirombak secara total agar semua bermuara pada pembentukan KOMPETENSI dalam managerial economics. Dengan demikian jangan ada lagi dosen matematika/statistika/teori ekonomi mikro/teori ekonomi makro/dst yang mengajar matematika/statistika/teori ekonomi mikro/teori ekonomi makro/dst TETAPI tidak berkaitan dengan managerial economics problems/issues. Demikian pula dosen-dosen mata kuliah yang lain tidak mengajar hal-hal yang tidak berkaitan dengan managerial economics problems/issues.

Jika lebih lebih cerdas lagi (cerdas kuadrat), maka semua mata kuliah dibuatkan modul pembelajaran ditambah case studies yang sesuai dengan penerapan baik pada kasus lokal (daerah) atau kasus nasional. Jika lebih lebih lebih cerdas lagi (cerdas kubik-pangkat tiga), maka metode pembelajaran berbasiskan Managerial Problem-based Learning melalui pembentukan kelompok-kelompok mahasiswa berukuran 4-5 orang untuk mendiskusikan kasus-kasus tentang managerial economics problems/issues. Jika lebih lebih lebih lebih cerdas lagi (cerdas pangkat empat), maka penulisan skripsi/tesis menggunakan studi kasus dalam managerial economics problems/issues. Hal itu baru rrruaaar biasa (lebih dari luar biasa). Tks.

Salam SUCCESS.

Vincent Gaspersz

 




Teknik Delphi: Membangun Konsensus

Teknik Delphi digunakan secara luas untuk mengumpulkan data dari responden dalam bidang keahliannya. Teknik ini dirancang untuk mencapai kesepakatan pendapat atas sutau masalah riel secara spesifik. Proses Delphi diterapkan pada berbagai bidang studi seperti perencanaan program, evaluasi kebutuhan, penentuan kebijakan, serta penggunaan sumber daya. Dalam teknik ini digunakan rangkaian kuesioner yang disampaikan kepada panel ahli dalam beberapa putaran.

1. Slide Teknik Delphi

2. Artikel: Chia-Chien Hsu and Brian A. Sandford, “The Delphi Technique: Making Sense of Consensus,” Practical Assessment, Research & Evaluation 12, no. 10 (2007): 1–8.

3. Harold A. Linstone and Murray Turoff, “The Delphi Method – Techniques and Applications,” The Delphi Method – Techniques and Applications, 2002, 1–616, doi:10.2307/1268751.

 




PENELITIAN KUALITATIF : PENDEKATAN GROUNDED THEORY

B.  GROUNDED
THEORY

1.   Pengertian
Grounded Theory

Pendekatan
grounded teori (Grounded Theory Approach) adalah metode penelitian kualitatif
yang menggunakan sejumlah prosedur sistematis guna mengembangkan teori dari
kancah. Pendekatan ini pertama kali disusun oleh dua orang sosiolog; Barney
Glaser dan Anselm Strauss. Untuk maksud ini keduanya telah menulis 4 (empat)
buah buku, yaitu; “The Discovery of Grounded Theory” (1967),
Theoritical Sensitivity (1978), Qualitative Analysis for Social Scientists
(1987), dan Basics of Qualitative Research: Grounded Theory Procedures and
Techniques (1990). Menurut kedua ilmuwan ini, pendekatan Grounded Theory
merupakan metode ilmiah, karena prosedur kerjanya yang dirancang secara cermat
sehingga memenuhi keriteria metode ilmiah. Keriteria dimaksud adalah adanya
signifikansi, kesesuaian antara teori dan observasi, dapat digeneralisasikan,
dapat diteliti ulang, adanya ketepatan dan ketelitian, serta bisa dibuktikan. Dan merekajuga
mengatakan bahwa, penelitian seharusnya memunculkan konsep-konsep (variabel)
dan hipotesis berdasarkan data-data nyata yang ada di lapangan: “de-emphasis
on the prior step of discovering what concepts and hypotheses are relevant for
the area one wished to research. …In social research generating theory goes
hand in hand with verifying it; but many sociologists have diverted from this
truism in their zeal to test either existing theories or a theory that they
have barely started to generate
”.  yang berarti pada penekanan
pada langkah sebelumnya menemukan apa konsep dan hipotesis relevan untuk satu
bidang yang ingin diteliti….. dalam teori yang menghasilkan penelitian social
yang sejalan dengan membuktikanya, tapi banyak peneliti sosial yang mengalihkan
dari kebenaran yang mungkin tidak dapat disangkal kedalam semangat mereka untuk
menguji teori yang telah ada maupun yang baru saja mereka mulai untuk generasi
teori selanjutnya.

Sesuai
dengan nama yang disandangnya, tujuan dari Grounded Theory Approach adalah
teoritisasi data. Teoritisasi adalah sebuah metode penyusunan teori yang
berorientasi tindakan/interaksi, karena itu cocok digunakan untuk penelitian
terhadap perilaku. Penelitian ini tidak bertolak dari suatu teori atau untuk
menguji teori (seperti paradigma penelitian kuantitatif), melainkan bertolak
dari data menuju suatu teori. Untuk maksud itu, yang diperlukan dalam proses
menuju teori itu adalah prosedur yang terencana dan teratur (sistematis).
Selanjutnya, metode analisis yang ditawarkan Grounded Theory Approach adalah
teoritisasi data (Grounded Theory).

Pada
dasarnya Grounded Theory dapat diterapkan pada berbagai disiplin ilmu-ilmu
sosial, namun demikian seorang peneliti tidak perlu ahli dalam bidang ilmu yang
sedang ditelitinya. Hal yang lebih penting adalah bahwa dari awal peneliti
telah memiliki pengetahuan dasar dalam bidang ilmu yang ditelitinya, supaya ia
paham jenis dan format data yang dikumpulkannya.

Grounded
Theory (GT) merupakan metodologi penelitian kualitatif yang berakar pada
kontruktivisme, atau paradigma keilmuan yang mencoba mengkontruksi atau
merekontruksi teori atas suatu fakta yang terjadi di lapangan berdasarkan pada
data empirik. Kontruksi atau rekontruksi teori itu diperoleh melalui analisis
induktif atas seperangkat data diperoleh berdasarkan pengamatan lapangan.

Dalam
buku “Metodologi Penelitian” yang ditulis,Emzir, Secara Terperinci, Strauss dan
Corbin mendefinisikan Grounded Theory sebagai berikut :

A grounded Theory is
one of that is inductively derived from the  study of phenomenon it
represents. That is, it is discovered, developed, and provisionally
verified  through systematic data collection, analysis of data
pertaining to that phenomenon. Therefore, data collection, analysis, and theory
stand in reciprocal relationship with each other. One does not begin with a
theory, then prove it. Rather  one begins with an area of study and
what is relevant to that area as allowed to emerge

Sesuai
dengan uraian diatas bahwa  Teori dasar (GT) adalah suatu teori yang
secara induktif di peroleh dari pengkajian fenomena yang mewakilinya. Teori
tersebut ditemukan, dikembangkan, dan untuk sementara waktu dibuktikan melalui
penumpulan data yang sistematis, analisis data yang menyinggung fenomena
tersebut. Oleh karena itu , pengumpulan data, analisis data, dan teori berada
di dalam hubungan timbal balik satu dengan lainnya. Orang tidak mulai dengan
teori, orang mulai dengan suatu area kasus dan apa yang berkaitan dengan area
tersebut dibiarkan muncul.

Cresswell
dalam bukunya Educational Research menuliskan :

A grounded theory
design is a systematic, qualitative procedure used to generate a theory that
explains, at a broad conceptual level, a process, an action, or an interaction
about a substantive topic. In grounded theory research, this is a “process”
theory_ it explains an educational process of events, activities, actions, and
interactions that occur over time. Also, grounded theorist proceed through
systematic procedure of collecting data, identifying categories (used synonymously
with themes), connecting these categories, and forming
 a
theory that explains the process.

     Seperti
yang telah dikemukakan oleh Creswell  diatas bahwa Grounded Theory merupakan teori
yang diperoleh secara induktif dari penelitian tentang fenomena sebuah
prosedur peneliti kualitatif yang sistematis. Pendekatan Grunded
theory merupakan suatu cara yang terdiri dari serangkaian tahap yang dilakukan
secara cermat yang dianggap memberi jaminan suatu teori yang baik sebagai hasil
atau secara kualitas dianggap baik.

2.  Ciri-Ciri
Utama Penelitian  Grounded Theory

Seperti
terungkap dari paparan latar belakang di atas, penggunaan
danpengembangan di berbagai disiplin ilmu membuat GT terbagi dalam tiga
pendekatan. Meskipun demikian, ketiga pendekatan itu, dan juga desain-desain
yang diterapkan secara khusus dalam berbagai bidang ilmu, tetap menggunakan
konsep dasar dalam The Discovery of Grounded Theory sebagai titik tolak
(Goulding, 1999). Oleh sebab itu, untuk memahami GT secara lebih komprehensif,
elemen-elemen yang terkandung dalam setiap pendekatan perlu dikaji secara
seksama. Menurut Creswell (2008: 440), ada enam karakteristik dari penelitian
Grounded Theory. Enam karakteristik tersebut adalah : Process approach,
Theoretical sampling, Constant comparative data analysis, a core category,
theory generalization, and memos.

a.  
Process approach

Dalam
penelitian GT, proses merujuk pada urutan tindakan-tindakan dan interaksi antar
manusia dan peristiwa-peristiwa yang berhubungan dengan sebuah topik, seperti
pengalihbahsaan novel Animal Farm ke dalam bahasa Indonesia. Dalam topik
seperti ini, berdasarkan transkrip wawancara atau catatan pengamatan yang
dilakukan pada partisipan, peneliti GT dapat mengidentifikasi dan mengisolasi
tindakan-tindakan dan interaksi antar manusia, seperti interaksi antara
penerbit dan penterjemah pada saat negoisasi, tindakan- tindakan yang dilakukan
penterjemah selama proses pengalihbahasaan, dan sebagainya. Aspek-paspek yang
diisolasi ini disebut kategori-kategori, yang digunakan sebagai tema-tema
informasi dasar dalam rangka memahami suatu proses.

b.  Theoretical
sampling

Sebagaimana
lazimnya dalam penelitian kualitatif, instrumen pengumpul data penelitian GT
adalah peneliti sendiri. Data-data yang dikumpulkan dapat berbentuk transkrip
wawancara, percakapan, catatan wawancara, dokumen-dokumen publik, buku harian
dan jurnal responden, dan catatan reflektif peneliti (Charmaz, dalam Creswell,
2008: 442) . Proses pengumpulan data itu dilaksanakan dengan mengunakan ada dua
metode secara simultan, yaitu observasi dan wawancara mendalam (depth
interview). Bentuk data yang paling sering digunakan berbagai peneliti adalah
hasil wawancara karena data seperti ini lebih mampu mengungkapkan pengalaman
responden dalam kata-kata mereka sendiri. Hal yang spesifik yang membedakan
pengumpulan data pada penelitian GT dari pendekatan kualitatif lainnya adalah
pada pemilihan fenomena yang dikumpulkan. Paling tidak, pada GT sangat
ditekankan untuk menggali data perilaku yang sedang berlangsung (life history)
untuk melihat prosesnya serta ditujukan untuk menangkap hal-hal yang bersifat
kausalitas. Seorang peneliti Grounded Theory selalu mempertanyakan
“Mengapa suatu kondisi terjadi?”, “Apa konsekwensi yang timbul
dari suatu tindakan/reaksi?”, dan “Seperti apa tahap-tahap kondisi,
tindakan/reaksi, dan konsekwensi itu berlangsung?”

Dalam
GT, masalah sampel penelitian tidak didasarkan pada jumlah populasi, melainkan
pada keterwakilan konsep dalam beragam bentuknya. Teknik pengambilan sampel
dilakukan dengan cara penyampelan teoritik. Penyampelan teoritik merupakan
pengambilan sampel yang dilakukan peneliti dengan cara memilih data-data atau
konsep-konsep yang terbukti berhubungan dengan dan mendukung secara teoritik
teori yang sedang disusun. Tujuannya adalah mengambil sampel peristiwa/fenomena
yang menunjukkan kategori, sifat, dan ukuran yang secara langsung menjawab
masalah penelitian. Sebagai contoh, jika peneliti sedang meneliti
“tingginya kecenderungan penerbitan novel-novel horror terjemahan”, penikmat
(pembaca) novel-novel horor merupakan kandidat yang paling sesuai untuk
diwawancarai. Penterjemah, penerbit, dan kritisi sastra memang dapat dijadikan
sumber informasi yang relevan, namun peran mereka tidak begitu sentral karena
penerbitan bahan bacaan sangat ditentukan oleh konsumen (pembaca).

Paparan
ini mengungkapkan bahwa pada dasarnya yang di sampel dalam penelitian GT bukan
obyek formal penelitian (orang atau benda-benda), melainkan obyek material yang
berupa fenomena-fenomena yang sudah dikonsepkan. Akan tetapi, karena fenomena
itu melekat dengan subyek (orang atau benda), maka dengan sendirinya obyek
formal juga ikut disampel dalam perses pengumpulan atau penggalian fenomena..
Subyek-subyek yang diteliti secara berproses ditentukan di lapangan, ketika pengumpulan
data berlangsung. Cara penyampelan inilah yang disebut dalam penelitian
kualitatif sebagai snow bowl sampling.

Sesuai
dengan tahap pengkodean dan analisis data, penyampelan dalam GT diarahkan
dengan logika dan tujuan dari tiga jenis dasar prosedur pengkodean. Ada tiga
pola penyampelan teoritik, yang sekaligus menandai tiga tahapan kegiatan
pengumpulan data; (a) penyampelan terbuka, (b) penyampelan relasional dan
variasional, serta (c) penyampelan pembeda.

c. 
Constant comparative data analysis

Dalam
penelitian GT, peneliti terlibat dalam proses pengumpulan data,
pengelompokan data ke dalam kategori-kategori, pengumpulan data tambahan, dan
pembandingan informasi yang baru itu dengan kategori-kategori yang muncul.
Proses pengembangan kategori-kategori informasi yang berlangsung secara
perlahan-lahan ini dinamai prosedur perbandingan konstan (constant comparative
procedure). Perbandingan konstan ini merupakan prosedur analisis data induktif
yang digunakan untuk memunculkan dan menghubungkan kategori-kategori dengan
cara membandingkan satu peristiwa dengan peristiwa lainnya, satu peristiwa
dengan satu kategori, dan satu kategori dengan kategori lainnya.

d. 
A core category

Dari
seluruh kategori utama yang diperoleh dari data, peneliti memilih satu kategori
sebagai inti fenomena dalam rangka merumuskan teori. Setelah mengidentifikasi
beberapa kategori (misalnya, 8 hingga 10—tergantung pada besarnya data,
peneliti memilih satu kategori inti sebagai basis penulisan teori.

Berikut
ini adalah enam kriteria untuk menentukan kategori inti (Strauss and
Corbin, dalam Creswell, 2008: 444).

(a)           It
must be central ; that is, all other major categories can relate to it.

(b)         It
must appear frequently in the data. This mean that within all or almost all
cases, there are indicators pointing to the concept.

(c)          The
explanation that evolves by relating the categories is logical and consistent,
there is no forcing of  data.

(d)         The
name or phrase used to describe the central category should be sufficiently
abstract.

(e)          As
the concept is refined, the theory grows in depth and explanatory power.

(f)          When
conditions vary, the explanation still holds, although the way in which a
phenomenon is expressed might look somewhat different. 

Pemaparan di
atas memperlihatkan bahwa memilih kategori inti terlalu awal
adalah sangat riskan. Akan tetapi, bila terlihat bahwa salah satu kategori
mucul dengan frekuensi tinggi dan terhubung dengan jelas pada
kategori-kategori lain, kategori itu dapat dipilih sebagai kategori inti.

e.  Theory
generation (Penurunan Teori)

Dalam
penelitian GT, yang dimaksud dengan teori adalah penjelasan atau
pemahaman yang abstrak tentang suatu proses mengenai sebuah topik
substantif yang didasarkan pada data. Teori ini disusun oleh peneliti
sewaktu mengidentifikasi kategori inti dan kategori-kategori proses yang
menjelaskannya. Karena teori ini dilandaskan pada fenomena yang spesifik,
teori ini tidak dapat diaplikasikan digeneralisasikan secara meluas pada
fenomena lain. Oleh karena itu, Charmaz (dalam Creswell, 2008:
446) mengatakan teori ini bersifat “middle range”, ditarik dari beberapa
individual atau sumber data dan memberi penjelasan yang akurat hanya pada
sebuah topik yang substantif.

f.   Memos

Dalam
penelitian GT, memo merupakan catatan-catatan yang dibuat peneliti
untuk mengelaborasi ide-ide yang berhubungan dengan data dan
kategori-kategori yang dikodekan. Dengan kata lain, memo merupakan catatan
yang dibuat peneliti bagi dirinya sendiri dalam rangka menyusun hipotesis
tentang sebuah kategori, kususnya tentang hubungan-hubungan antara
kategori-kategori yang ditemukan.

3.            Prinsip-Prinsip
Metodologi Grounded Theory

Haig, 2004 (dalam
Emzir, 2011: 196) mengemukakan beberapa prinsip grounded theory yaitu ;

a.   Perumusan
Masalah Penelitian

Sebagai
penelitian berparadigma kualitatif, GT mengasumsikan bahwa di
dalam kehidupan sosial selalu ditemukan regulasi-regulasi yang relatif
sudah terpola. Pola- pola regulasi yang ditemukan melalui
penelitian itulah yang dirumuskan menjadi teori. Substansi rumusan masalah
dalam pendekatan GT masih bersifatumum, yaitu dalam bentuk pertanyaan yang
masih memberi kelonggaran dankebebasan untuk menggali fenomena secara luas, dan
belum sampai menegaskanmana saja variabel yang berhubungan dengan ruang lingkup
masalah dan mana yangtidak. Demikian pula tipe hubungan antarvariabelnya belum
perlu dieksplisitkandalam rumusan masalah yang dibuat.

Seperti
lazimnya pada setiap penelitian, rumusan masalah yang disusun pada tahap awal
adalah yang memiliki substansi yang jelas serta diformulasikan dalam
bentuk pertanyaan. Ciri rumusan masalah yang disarankan dalam GT adalah;
(1) berorientasi pada pengidentifikasian fenomena yang diteliti; (2)
mengungkap secara tegas tentang obyek (formal dan material) yang akan
diteliti, serta (3) berorientasi pada proses dan tindakan. Contoh rumusan
masalah awal pada GT; “Bagaimanakah novel detektif Inggris
diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia?” Pertanyaan yang diajukan dalam rumusan
masalah ini bermaksud untuk; (1) mengenali secara tepat dan
mendalam proses penerjemahan sebuah novel detektif Inggris ke dalam bahasa
Indonesia, (2) obyek formal penelitian adalah penterjemah yang sedang
menerjemahkan sebuah novel detektif Inggris ke dalam bahasa Indonesia;
sedangkan obyek materialnya adalah metode yang dilakukan oleh penterjemah
itu dalam menyelesaikan penerjemahan novel dimaksud, dan (3) orientasi
utama yang disoroti adalah tahapan dan teknik-teknik penterjemahan yang
dipilih.

b.   Deteksi Fenomena

Fenomena
stabil secara relative, cirri umum yang muncul dari dunia yang kita lihat untuk
dijelaskan. Fenomena meliputi cakupan ontologism yang bervariasi yang
meliputi objek, keadaan, proses, dan peristiwa, serta cirri-ciri lain yang
sulit digolongkan. Oleh karena itu, lebih baik mendiskripsikan fenomena dalam
istilah perannya sebagai objek khusus pejelasan dan prediksi.

c.  Penurunan theory (theory generation)

Penurunan
teori dalam grounded theory menurut Strauss dan Glaser, bahwa grounded theory
muncul secara induktif dari sumber data sesuai dengan metode perbandingan tetap
(constant comparison). Kemudian Strauss dan Glaser juga mengkritisi teori
Logico deductive theorizing yaitu metode hipoteka-deduktif (pengambilan teori
atau hipotesis dan mengujinya secara tidak langsung dengan memperoleh
konsekuensinya yang merupakan ketersediaan mereka menguji langsung secara
empiris) bahwa pertama, teori deduktivisme melebih-lebihkan dalam penempatan
pengujian teori dalam ilmu pengetahuan, dan kedua, penalaran induktif dapat
membentuk perumusan ide-ide teoritis.

d.  Pengembangan teori

Dalam
pengembangan teori grounded theory tidak hanya berhenti dalam pengembangan
teori secara hypothetico deductive ortodoks, karena penelitian ini belum
dikembangkan secara teoritis, oleh karena itu, dalam pengembangan teori ini
seorang peneliti memiliki pengetahuan tentang hakikat mekanisme kausal dan
membangun mekanisme dengan membayangkan sesuatu yang sama dengan mekanisme
alami yang kita ketahui. Peneliti juga disarankan untuk secara konstan waspada
terhadap persepektif baru yang mungkin membantu mereka mengembangkan teori
dasar mereka, walaupun mereka tidak menyelidiki poin tersebut secara mendetail
(Strauss & Glaser dalam Emzir, 2011: 206).

e. 
Penilaian Theory

Dalam
penilaian ini, aliran empirisme yang dominan tentang penilaian teori dicirikan
dalam pertunjukan hipotetiko deduktif normal, dimana teori ditaksir kecukupan
empirisnya dengan memastikan apakah prediksi tesnya dibuktikan oleh data yang
relevan. Sedangkan Glaser & Strauss tidak menyatakan perhitungan yang tepat
menyangkut hakikat dan tempat pengujian teori dalam ilmu social, mereka
menjelaskan bahwa ada yang lebih pada penilaian teori dari pada pengujian untuk
kecukupan empiris.

f. 
Grounded theory yang direkontruksi

Pengaruh
pragmatism Amerika pada metodologi grounded theory berbagai macam, dampak
filosofi kontemporer  ilmu pengetahun pada tulisan Glaser dan Strauss
hamper tidak ada. Hal ini pun juga dirasakan oleh ahli pragmatics seperti
Dewey. Akan tetapi, Glaser & Strauss tetap mengabaikan pengembangan yang
bersangkutan didalam metodologi filosofis.perlu diingat bahwa asal ahli
pragmatism grounded theory, sebagai suatu rekontruksi filosofis, tidak harus
dipahami sebagai suatu laporan akurat dari perhitungan Glaser dan Strauss
tentang grounded theory.

4.   Metode
Pengumpulan Data

Metode
pengumpulan data dalam penelitian grounded theory adalah wawancara. Menurut
Strauss & Corbin, dalam Cresswel 1998 (Emzir, 2011: 209-210) wawancara
dilakukan untuk mengumpulkan data, dimana wawancara dilakukan untuk menyerap
(satarute) (menemukan informasi yang kontinu untuk menambah hingga tidak ada
lagi yang dapat ditemukan) kategori. Suatu kategori mewakili unit informasi
yang tersusun dari peristiwa, kejadian, dan instansi. Peneliti juga
menganalisis dan mengumpulkan pengamatan dan dokumen tetapi bentuk data ini
tidak biasa. Menurut Creswell (Emzir, 2011: 210) menyatakan pengumpulan data
dalam studi grounded theory merupakan proses zigzag, keluar lapangan untuk
memperoleh informasi, menganalisis data, dan seterusnya. Partisipan
diwawancarai secara teoritis dalam theoretical sampling untuk membentuk teori
yang paling baik. Proses pengambilan informasi melalui pengumpulan data dan
membandingkannya dengan kategori yang muncul disebut metode komparatif konstan
(constant comparative) analisis data (Creswell, 1998 dalam Emzir, 2011: 210).

5.         Proses
Analisis Data

Menurut
Emzir (2011: 210) menyatakan bahwa proses analisis data dalam penelitian
Grounded Theory bersifat sistematis dan mengikuti format standar sebagai
berikut:

a.       Pengodean
terbuka (open coding)
, peneliti membentuk
kategori awal dari informasi tentang fenomena yang dikaji dengan pemisahan
informasi menjadi segmen-segmen. Pengodean terbuka adalah bagian analisis yang
berhubungan khususnya dengan penamaan dan pengategorian fenomena melalui
pengujian data secara teliti. Ada dua prosedur analisis dasar untuk proses
pengodean, yaitu; 1) membuat perbandingan, dan 2) membuat konsep-konsep dalam
grounded theory.

Adapun prosedur
analisis data dalam pengodean terbuka adalah, sebagai berikut:

–     Pelabelan
fenomena, konsep merupakan unit analisis dalam metode grounded theory, karena
konseptualisasi data adalah langkah awal dalam analisis dengan penguraian dan
pengkonsepan, berarti kita memisah-misahkan amatan, kalimat, paragraph, dan
memahami insiden, idea tau peristiwa-peristiwa diskrit dengan sesuatu yang
mewakili suatu fenomena.

–     Penemuan
kategori, proses pengelompokan konsep-konsep yang dianggap berhubungan dengan
fenomena yang sama disebut pengkategorian (categorizing). Fenomena yang
digambarkan oleh suatu kategori adalah konseptual, meskipun nama ini harus
abstrak dari pada nama yang diberikan terhadap konsep yang dikelompokan
dibawahnya. Kategori memiliki daya konseptual karena mampu mencakup kelompok
konsep atau kategori yang lainya.

–     Penamaan
kategori, dalam penamaan sebuah kategori merupakan hal yang penting, agar anda
dapat dapat mengingatnya, membahasnya, dan mengembangkanya secara analitik.

–     Penyusunan
kategori berdasarkan sifat dan ukuranya, dalam penyusunan kategori hal yang
pertama yang harus dilakukan adalah sifatnya, kemudian diukur. Sifat
adalah karakteristik atau atribut dari suatu kategori, dan ukuran menunjukan
lokasi dari pada suatu kontinum. Proses pengkodean terbuka tidak hanya
mendorong penemuan kategori namun juga sifat dan ukurannya.

–     Variasi
cara pengodean terbuka, ada beberapa cara pendekatan terhadap proses pengodean
terbuka, yaitu; a) analisis baris per baris (menganalisis wawancara dan
pengamatan), b) pengkodean perkalimat atau paragraph, dan c) menggunakan
seluruh dokumen, pengamatan, wawancara, dan bertanya.

–     Penulisan
catatan kode, terdapat banyak cara khusus yang berbeda dalam melakukan
pencatatan ini, dan setiap orang harus menemukan metode yang bekerja paling
baik untuk dirinya. Pengkodean merupakan proses penguraian data, pengkonsepan,
dan penyusunan kembali dengan cara baru. Inilah proses utama penyusunan teori
dari data.

b.      Pengodean
berporos(axial coding),
seperangkat prosedur
penempatan data kembali dengan cara-cara baru setelah pengodean terbuka, dengan
membuat kaitan antar kategori. Ini dilakukan dengan memanfaatkan paradigm
pengodean yang mencakup kondisi, konteks, strategi aksi/interaksi, dan
konsekuensi. Adapun model paradigm dalam pengodean berporos, yaitu; 1) kondisi
kausal, peristiwa, insiden, kejadian yang menyebabkan terjadinya atau
berkembangnya suatu fenomena. 2) fenomena, gagasan utama, peristiwa, kejadian,
insiden utama di seputar aksi atau interaksi yang ditujukan untuk mengelola,
mengatasi, atau mengaitkan sejumlah tindakan. 3) konteks, sejumlah sifat
tertentu yang berhubungan dengan fenomena, yaitu lokasi kejadian atau insiden
yang terkait dengan suatu fenomena sepanjang kisaran ukuran. Konteks menunjukan
sejumlah kondisi dilaksanakannya strategi aksi/interaksi. 4) kondisi perantara,
kondisi structural yang berhubungan dengan suatu fenomena. Kondisi tersebut
dapat mendukung atau menghambat strategi yang digunakan dalam konteks tertentu.
5) strategi tindakan/interaksional, strategi yang dirumuskan untuk mengelola,
mengatasi, melaksanakan, dan menanggapi fenomena dalam sejumlaah kondisi
tertentu yang dirasan. Dan 6) konsekuensi, hasil/akibat dari tindakan, dan
interaksi.

c.       Pengodean
selektif (selective coding)
, proses pemilihan
kategori inti, pengaitan kategori inti terhadap kategori lainnya secara
sistematis, pengabsahan hubungannya, mengganti kategori yang perlu diperbaiki
dan dikembangkan lebih lanjut. Kategori inti adalah fenomena utama yang menggabungkan
kategori lainnya. adapun dalam pengodean selektif ini dapat dilakukan dengan;
1) menjelaskan dan menganalisis alur cerita (menjelaskan alur cerita,
mengidentifikasi cerita, konseptualisasi alur cerita, menentukan fenomena yang
menonjol, dan hambatan dalam menjelaskan alur cerita). 2) mengaitkan kategori
lain diseputar kategori (kembali ke cerita, dan kesulitan dalam pengurutan
kategori), 3) menentukan sifat dan ukuran inti cerita, 4) Mengabsahkan hubungan
(mengungkap pola-polanya, mensistematiskan dan menetapkan hubungan, dan
cara-cara menemukan  kombinasi tersebut, dan mengelompokan
kategori.   

d.      Akhirnya,
peneliti dapat mengembangkan dan menggambarkan secara visual suatu matrik
kondisional yang menjelaskan kondisi social, historis, dan ekonomis yang
mempengaruhi fenomena sentral.




PENELITIAN KUALITATIF : PENDEKATAN ETNOGRAFI

A.  ETNOGRAFI

1.      Pengertian
Etnografi

Etnografi
merupakan suatu metode penelitian ilmu sosial. Penelitian ini sangat percaya
pada ketertutupan, pengalaman pribadi,dan partisipasi yang mungkin, tidak hanya
pengamatan, oleh para peneliti yang terlatih dalam seni etnografi. Para
etnografer ini sering bekerja dalam tim yang multidisipliner. Di mana titik
fokus penelitiannya dapat meliputi studi intensif budaya dan bahasa, bidang
atau domain tunggal, ataupun gabungan metode historis, observasi, dan
wawancara.

Pada
awalnya etnografi berakar pada bidang antropologi dan sosiologi. Namun para
praktisi dewasa ini melaksanakan penelitian etnografi dalam segala bentuk. Ahli
etnografi melakukan studi persekolahan, kesehatan masyarakat, perkembangan
pedesaan dan perkotaan, konsumen dan barang konsumsi, serta arena manusia
manapun.

Perlu
dicatat bahwa penelitian etnografi ini juga dapat didekati dari titik pandang
preservasi seni dan kebudayaan, dan lebih sebagai suatu usaha deskriptif
daripada usaha analitis. Biasanya para peneliti etnografi memfokuskan
penelitiannya pada suatu masyarakat, namun tidak selalu secara geografis saja,
melainkan dapat juga memerhatikan pekerjaan, pangangguran, dan aspek masyarakat
lainnya. Beserta pemilihan informan yang mengetahui dan memiliki suatu
pandangan  atau pendapat tentang berbagai kegiatan masyarakat.

Beberapa
ahli mengemukakan pengertian tentang penelitian etnografi salah satunya adalah
Emzir (2011: 143) yang menyatakan Etnografi adalah suatu bentuk
penelitian yang berfokus pada makna sosiologi melalui observasi lapangan
tertutup dari fenomena sosiokultural. 

Sementara
Harris (dalam John W. Creswell; 2007) menjelaskan bahwaethnography
is a qualitative design in which the researcher describes and interprets the
shared and learned patterns of values, behaviors, beliefs, and language of a
culture-sharing group
As both a process and an outcome of research
(Agar, 1980), ethnography is a way of studying a culture-sharing group as well
as the final, written product of that research.
yang berarti penelitian
etnografi merupakan sebuah penelitian kualitatif dimana seorang peneliti menguraikan
dan menafsirkan pola bersama dan belajar nilai-nilai, perilaku, keyakinan, dan
bahasa dari berbagai kelompok. Baik sebagai proses dan hasil penelitian,
etnografi adalah sebuah cara belajar kelompok pada suatu budaya baik sebagai
akhir, dalam hasil penulisan penelitian.

Beberapa definisi lain
tentang penelitian etnografi :

1.  “When
used as a method, ethnography typically refers to field work (alternatively,
participant-observation) conducted by a single investigator who ‘lives with and
lives like’ those who are studied, ussually for a year or more”. (John Van
Maanen, 1996
). Dalam hal ini, penelitian etnografi dilakukan ketika
digunakan sebagai metode, etnografi biasanya mengacu kepada kerja lapangan
(alternative-partisipan-pengamatan) dilakukan oleh seorang peneliti tunggal
yang hidup dengan dan hidup seperti orang-orang yang diteliti, biasanya
dilakukan kurang lebih satu tahun atau lebih.

2.   “Ethnography
literally means ‘a portrait of a people’. An ethnography is a written
description of particular culture – the customs, beliefs, and behavior – based
on information collected through fieldwork.” (Marvin Harris and Orna Johnson,
2000
).Secara harfiah penelitian etnografi berarti gambaran sebuah
masyarakat. Yang berarti etnografo adalah gambaran umum suatu budaya atau
kebiasaan, keyakinan, dan perlikau yang berdasarkan atas informasi yang telah
dikumpulkan melalui penelitian lapangan.

3.   “Ethnography
is the art and science of describing a group or culture. The description may be
small tribal group in an exotic land or a classroom in middle-class suburbia
.”
(David M. Fetterman, 1998), (Genzuk, 2005:1). Etnografi adalah seni dan
ilmu yang menggambarkan tentang sebuah kelompok atau budaya. Penggambaran
mungkin mengenai tentang kelompok suku kecil dalam sebuah daerah yang menarik
atau sebuah kelas menengah maupun pinggiran kota

4.   “Etnographic
designs are qualitative research procedures for describing, analyzing, and
interpreting a culture-sharing group’s shared patterns of behavior, beliefs,
and language that develop over time.” (John W. Creswell, 2008:473)
.”
Rancangan penelotian etnografi adalah prosedur penelitian kualitatif untuk
menggambarkan, menganalisis, dan menafsirkan suatu pola kelompok berbagai
budaya yang dilakukan bersama baik perilaku, keyakinan dan bahasa yang
berkembang dari waktu kewaktu.

Dari
beberapa definisi di atas maka dapat diambil kesimpulan bahwa penelitian
etnografi adalah sebuah penelitian kualitatif yang berfokus pada makna
sosiologi dengan menggambarkan, menganalisa dan memberi penafsiran dari sebuah
pola budaya tertentu.

2.      Asumsi
Dasar Penelitian Etnografi

     Karena
cakupan penelitian etnografi yang bersumber pada budaya dan observasi serta
melakukan wawancara merupakan standar dasar pada penelitian etnografi maka perlu
kiranya dikembangkan beberapa asumsi yang menjadi dasar utama peneliti sebelum
melakukan penelitian. 

     Beberapa
asumsi dasar penelitian etnografi yang dikemukakan oleh Emzir (2011: 148-149)
adalah sebagai berikut : 1) Etnografi mengasumsikan kepentingan penelitian yang
prinsip utamanya dipengaruhi oleh pemahaman kultural masyarakat.
2) Penelitian etnografi mengasumsikan suatu kemampuan mengidentifikasi
masyarakat yang relevan dengan kepentingannya.  3) Dengan penelitian
etnografi peneliti diasumsikan mampu memahami kelebihan kultural dari
masyarakat yang diteliti, meguasai bahasa atau jargon teknis dari kebudayaan
tersebut dan memiliki temuan yang didasarkan pada pengetahuan komprehensif dari
budaya tersebut. 

     Lebih
lanjut, Gall, Gall and Borg dalam bukunya “Educational Research an
Introductioní” 
menyatakan peneliti etnografi setidaknya memiliki
beberapa pandangan tentang lintas budaya yang menjadi obyek penelitiannya
diantaranya : 1) Ethnology: mencakup teori-teori dasar budaya
yang merupakan data pembanding dari beberapa budaya yang berbeda.
2) Pemerolehan budaya: yang memfokuskan diri pada konsep, nilai-nilai
budaya, kemampuan dan tingkah laku yang merupakan budaya umum yang terjadi pada
masing-masing kebudayaan. 3) Pergeseran budaya: yang fokus pada penelitian
tentang seberapa besar struktur sosial mengintervensi kehidupan
seseorang dalam suatu kasus tertentu.

3.         Prinsip-Prinsip
Metodologi Penelitian Etnografi

Penelitian
etnografi merupakan penelitian terperinci yang dapat menggambarkan suatu
kegiatan, kejadian yang biasa terjadi sehari-hari pada suatu komunitas
tertentu. Ini merupakan dasar kekuatan penelitian etnografi yang memberikan
gambaran utuh tentang apa yang terjadi di lapangan. Berbeda halnya dengan
penelitian kuantitatif yang menangkap kebenaran hakikat perilaku sosial di
masyarakat dengan sandaran studi latar artifisial atau pada apa yang dikatakan
orang bukan melihat dan terjun secara langsung mempelajari apa yang dilakukan
oleh obyek penelitian tersebut.

     Hammersley
(1990) dalam Genzuk (2005: 3) yang tersaji dalam buku Emzir“Metodologi
Penelitian Pendidikan Kualitatif dan Kuantitatif
” (2011: 149-152) menyatakan
3 prinsip metodologis yang digunakan dalam corak metode etnografi diantaranya:

a. Naturalisme :
ini menggambarkan bahwa penelitian etnografi yang dijalankan bertujuan untuk
menangkap suatu karakter yang muncul secara alami dan didapatkan melalui kontak
langsung, bukan melalui interfensi atau rekayasa eksperimen.

b. Pemahaman:
yang menjadi landasan utama disini adalah bahwa tindakan manusia berbeda dari
perilaku objek fisik. Tindakan tersebut tidak hanya tanggapan stimulus namun
juga interpretasi terhadap suatu stimulus. Untuk itu meneliti latar budaya yang
lebih dikenal lebih baik dari pada meneliti yang masih asing agar terhindar
dari resiko kesalahpahaman budaya.

c. Penemuan:
Penelitian etnografi merupakan penelitian yang didasari oleh penemuan sang
peneliti. Ini merupakan bentuk otentik sebuah penelitian dimana suatu fenomena
dikaji tidak hanya berdasar pada serangkaian hipotesis yang mungkin bisa saja
terjadi kegagalan namun menjadi nyata setelah dibutakan oleh asumsi yang
dibangun ke dalam hipotesis tersebut.

4.         Karakteristik
Penelitian Etnografi

Creswell
dalam bukunya “Educational Research, planning, conducting and evaluating
quantitative and qualitative research” menyebutkan beberapa karakter penelitian
etnografi diantaranya:

a.  Cultural
theme
Merupakan suatu budaya yang terimplementasikan atau
tergambarkan pada suatu grup atau komunitas tertentu (Spradley:1980b.)

b.   A
Culture –sharing group
: merupakan penelitian yang dapat dilaksanakan pada 2
orang atau lebih yang memiliki kesamaan sikap, perilaku dan bahasa. 

c.   Fieldwork:
Dalam penelitian etnografi Fieldwork  bermakna tempat
dimana peneliti dapat menggabungkan data pada seting tempat dan lokasi yang
dapat dipelajari .

d.   Description
in etnography
: Merupakan gambaran terperinci dari obyek yang dilakukan
penelitian.

e.   A
Context
: merupakan seting tempat, situasi atau lingkungan yang melingkupi
kelompok budaya yang dipelajari.

f.   Researcher
Reflexivity
: Mengacu pada sebuah kondisi dimana seorang peneliti dalam
kondisi yang sadar dan terbuka atas perannya sebagai peneliti yang dengannya
dapat timbul rasa saling mempercayai antara peneliti dan obyek yang ditelitinya.

5.         Jenis
– Jenis Penelitian Etnografi

Menurut Creswell,
para ahli banyak menyatakan mengenai beragam jenis penelitian etnografi, namun
Creswell sendiri membedakannya menjadi 2 bentuk yang paling popular yaitu
Etnografi realis dan etnografi kritis. Penjelasannya sbb : 

a.          Etnografi
realis

Etnografi realis
mengemukakan suatu kondisi objektif suatu kelompok dan laporannya biasa ditulis
dalam bentuk sudut pandang sebagai orang ke -3. Seorang etnografi realis
menggambarkan fakta detail dan melaporlan apa yang diamati dandidengar dari
partisipan kelompok dengan mempertahankan objektivitas peneliti

b.         Etnografi
kritis

Dewasa ini populer juga
etnograi kritis. Pendekatan etnografi kritis ini penelitian yang mencoba merespon
isu-isu sosial yang sedang berlangsung.misalnya dalam masalah
jender/emansipasi, kekuasaan, status quo, ketidaksamaan hak, pemerataan dsb.

Jenis-Jenis etnografi
lainnya diungkapkan Gay, Mills dan Aurasian sbb:

–        Etnografi
Konfensional: laporan mengenai pengalaman pekerjaan lapangan yang dilakukan
etnografer

–        Autoetnografi:
refleksi dari seseorang mengenai konteks budayanya sendiri

–        Mikroetnografi:
studi yang memfokuskan pada aspek khusus dari latar dan kelompok budaya

–        Etnografi
feminis: studi mengenai perempuan dalam praktek budaya yang yang merasakan
pengekangan akan hak-haknya.

–        Etnografi
postmodern: suatu etnografi yang ditulis untuk menyatakan keprihatinan mengenai
masalah-masalah sosial terutama mengenai kelompok marginal.

–        Studi
kasus etnografi: analisis kasus dari seseorang, kejadian, kegiatan dalam
perspektif budaya.

6.         Prosedur
Penelitian Etnografi

Menurut Creswell,
walau tidak ada satu cara saja dalam menititi etnografi namum secara umum
prosedur penelitian etografi adalah sbb:

a.       Menentukan
apakah masalah penelitian ini adalah paling cocok didekati dengan studi
etnogafi. Seperti telah kita bahas sebelumnya bahwa etnografi menggambarkan
suatu kelompok budaya dengan mengekloprasi kepercayaan, bahasa dan 
perilaku (etnografi realis); atau juga mengkritisi isu-isu mengenai kekuasaan,
perlawanan dan dominansi (etnografi kritis).

b.      Mengidentifikasi
dan menentukan lokasi dari kelompok budaya yang akan diteliti. Kelompok
sebaiknya gabungan orang-orang yang telah bersama dalam waktu yang panjang
karena disini yang akan diteliti adalah pola perilaku, pikiran dan kepercayaan
yang dianut secara bersama.

c.       Pilihlah
tema kultural atau isu yang yang akan dipelajari dari suatu kelompok. Hal ini
melibatkan analisis dari kelompok budaya.

d.      Tentukan
tipe etnografi yang cocok digunakan untuk memlajari konsep budaya tersebut.
Apakah etnografi realis ataukah etnografi kritis.

e.       Kumpulkan
informasi dari lapangan mengenai kehidupan kelompok tersebut. Data yang
dikumpulkan bisa berupa pengamatan, pengukuran, survei, wawancara, analisa
konten, audiovisual,pemetaan dan penelitian jaringan. Setelah data terkumpul
data tersebut dipilah-pilah dan dianalisa.

f.       Yang
terahir tentunya tulisan tentang gambaran atau potret menyeluruh dari kelompok
budaya tersebut baik dari sudut pandang partisipan maupun dari sudut pandang
peneliti itu sendiri.

Siklus penelitian
etnografi

1)             Pemilihan
suatu proyek etnografi

Siklus dimulai dengan
pemilihan suatu proyek etnografi kemudian peneliti etnografi    mempertimbangkan
ruang lingkup dari penyelidikan mereka.

2)             Pengajuan
pertanyaan etnografi

Dalam
sebuah etnografi seseorang dapat mengajukan sub-sub pertanyaan yang berhubungan
dengan (1) suatu deskripsi tentang konteks, (2) analisis tentang tema-tema
utama, dan (3) interpretasi perilaku cultural.

3)             Pengumpulan
data etnografi

Cara
pengumpulan data adalah denngan cara observasi partisipan, anda akan mengamati
aktivitas orang, karakteristik fisik situasin social, dan apa yang akan menjadi
bagian dari tempat kejadian selama pelaksanaan pekerjaan lapangan, apakah
seseorang mempelajari sebuah desa suku tertentu untuk satu tahun atau pramugari
pesawat udara untuk beberapa bulan, jenis observasi akan berubah.

4)             Pembuatan
Rekaman Etnografi

Tahap
ini mencakup pengambilan cacatan lapangan, pengambilan foto, pembuatan peta,
dan penggunaan cara-cara lain untuk merekam observasi anda.

5)             Analisis
data Etnografi

Terdapat Empat Jenis
Analisis:

a)      Analisis
domain

b)      Memperoleh
gambaran umum dan menyeluruh dari objek penelitianatau situasi social.

c)      Analisis
Taksonomi

d)     Menjabarkan
domain-domain yang dipilih menjadi lebih rinci
untuk    mengetahui struktur internalnya.

e)      Analisis
komponensial

f)       Mencari
ciri spesifik pada setiap struktur internal dengan
cara  mengontraskan antarelemen.

g)      Analisis
tema budaya

h)      Mencari
hubungan di antara domain dan hubungan dengan keseluruhan, yang selanjutnya
dinyatakan ke dalam tema-tema sesuai dengan fokus dan subfokus penelitian.

6)             Penulisan
sebuah Etnografi

        Penulisan
sebuah etnografi memaksa penyelidik ke dalam suatu jenis analisis yang lebih
intensif. Peneliti etnografi hanya dapat merencanakan dari awal perjalanan penyeledikan
mereka kedalam pegertian yang paling umum.