Qualitative Inquiry And Research Design : Studi Kasus

Creswell  dalam 
bukunya  yang  berjudul 
“Qualitative  Inquiry  And Research Design” mengungkapkan lima
tradisi penelitian, yaitu: biografi, fenomenologi,  grounded 
theory study,  studi kasus dan
etnografi.  Salah satu tradisi yang akan
dikaji dalam tulisan ini adalah studi kasus yang telah lama dipandang sebagai
metode penelitian yang “amat lemah”. Para peneliti yang menggunakan studi kasus
dianggap melakukan “keanehan” dalam disiplin akademisnya karena tingkat
ketepatannya (secara kuantitatif), objektivitas dan kekuatan penelitiannya
dinilai tidak memadai.1  Walaupun
demikian, studi kasus tetap dipergunakan secara luas dalam penelitian ilmu-ilmu
sosial, baik dalam bidang 
psikologi,  sosiologi,  ilmu 
politik,  antropologi,  sejarah 
dan  ekonomi maupun dalam bidang
ilmu-ilmu praktis seperti pendidikan, perencanaan wilayah perkotaan,  administrasi 
umum,  ilmu-ilmu  manajemen 
dan  lain  sebagainya. Bahkan  sering 
juga  diaplikasikan  untuk 
penelitian  evaluasi  yang 
menurut sebagian pihak merupakan 
bidang metode yang sarat dengan kuantitatifnya.

Semuanya
ini merupakan suatu fenomena yang menarik untuk dipertanyakan bahwa  apabila 
studi  kasus  itu 
memiliki  kelemahan,  mengapa 
para  peneliti menggunakannya ?.
Oleh karena itu makalah ini akan mengkaji: Apakah itu studi kasus ?; Bagaimana
menggunakan teori dan pertanyaan penelitian dalam studi kasus ?; Bagaimana
pengumpulan data studi kasus ?; Bagaimana analisis data studi kasus ?;
Bagaimana penulisan laporan studi kasus ?; Bagaimana melakukan standar kualitas
dan verifikasi dalam studi kasus ? berdasarkan buku John W. Creswell.

Apakah
Studi Kasus itu ?

Creswell
memulai pemaparan studi kasus dengan gambar tentang kedudukan studi kasus dalam
lima tradisi penelitian kualitatif yang dikemukakan Foci berikut ini:

Dari
gambar di atas dapat diungkapkan bahwa fokus sebuah biografi adalah  kehidupan 
seorang  individu,  fokus 
fenomenologi  adalah  memahami sebuah konsep atau fenomena, fokus
suatu teori dasar adalah seseorang yang mengembangkan sebuah teori, fokus
etnografi adalah sebuah potret budaya dari suatu  kelompok 
budaya  atau  suatu 
individu,  dan  fokus studi kasus adalah spesifikasi
kasus  dalam  suatu 
kejadian  baik  itu 
yang  mencakup  individu, kelompok budaya  ataupun 
suatu  potret  kehidupan.2  
Lebih  lanjut  Creswell mengemukakan beberapa karakteristik
dari suatu studi   kasus yaitu : (1)
mengidentifikasi  “kasus”  untuk 
suatu  studi;  (2) 
Kasus  tersebut  merupakan sebuah  “sistem 
yang  terikat”  oleh 
waktu  dan  tempat; 
(3)  Studi  kasus menggunakan  berbagai sumber informasi dalam pengumpulan
datanya untuk memberikan gambaran secara terinci dan mendalam tentang respons
dari suatu peristiwa dan (4) Menggunakan pendekatan studi kasus, peneliti akan
“menghabiskan waktu” dalam menggambarkan konteks atau setting untuk suatu
kasus.3   Hal ini mengisyaratkan bahwa
suatu kasus dapat dikaji menjadi sebuah objek studi (Stake, 1995) maupun
mempertimbangkannya menjadi sebuah metodologi (Merriam, 1988).

Berdasarkan
paparan di atas, dapat diungkapkan bahwa studi kasus adalah sebuah eksplorasi
dari “suatu sistem yang terikat” atau “suatu kasus/beragam  kasus” yang dari waktu ke waktu melalui
pengumpulan  data yang mendalam serta
melibatkan berbagai sumber informasi yang “kaya” dalam suatu konteks.
Sistem  terikat  ini diikat oleh waktu dan tempat sedangkan kasus
dapat dikaji dari suatu program, peristiwa, aktivitas atau suatu individu.

Dengan  kata 
lain,  studi  kasus 
merupakan  penelitian  dimana 
peneliti menggali suatu fenomena tertentu (kasus)  dalam suatu waktu dan kegiatan (program,  even, proses, 
institusi  atau kelompok  sosial) serta mengumpulkan informasi secara
terinci dan mendalam dengan menggunakan berbagai prosedur pengumpulan data
selama periode tertentu.

Selanjutnya
Creswell mengungkapkan bahwa apabila kita akan memilih studi untuk suatu kasus,
dapat dipilih dari beberapa program studi atau sebuah program studi dengan
menggunakan berbagai sumber informasi yang meliputi: observasi, wawancara,
materi audio-visual, dokumentasi dan laporan. Konteks kasus dapat
“mensituasikan” kasus di dalam settingnya yang terdiri dari setting fisik
maupun setting sosial, sejarah atau setting ekonomi. Sedangkan fokus  di dalam 
suatu  kasus  dapat 
dilihat  dari  keunikannya, 
memerlukan  suatu  studi (studi kasus intrinsik) atau dapat pula
menjadi suatu isu (isu-isu) dengan menggunakan 
kasus  sebagai  instrumen 
untuk  menggambarkan  isu 
tersebut (studi kasus instrumental). Ketika suatu kasus diteliti lebih
dari satu kasus hendaknya mengacu pada studi kasus kolektif.5    Untuk itu Lincoln Guba mengungkapkan bahwa
struktur studi kasus terdiri dari masalah, konsteks, isu dan pelajaran yang
dipelajari.

Menurut   Creswell,  
pendekatan   studi   kasus  
lebih  disukai   untuk penelitian kualitatif. Seperti yang
diungkapkan oleh Patton bahwa kedalaman dan detail suatu metode kualitatif
berasal dari sejumlah kecil studi kasus.7 
Oleh karena  itu  penelitian 
studi  kasus  membutuhkan 
waktu  lama  yang 
berbeda dengan disiplin ilmu-ilmu lainnya.8 Tetapi pada saat ini,
penulis studi kasus dapat memilih pendekatan kualitatif atau kuantitatif dalam
mengembangkan studi kasusnya. Seperti yang dilakukan oleh Yin (1989)
mengembangkan studi kasus kualitatif deskriptif dengan bukti kuantitatif.
Merriam (1988) mendukung suatu pendekatan 
studi  kasus  kualitatif 
dalam  bidang  pendidikan. 
Hamel  (1993) seorang sosiolog
menunjukkan pendekatan studi kasus kualitatif untuk sejarah. Stakes   (1995)  
menggunakan   pendekatan   ekstensif  
dan  sistematis   untuk penelitian studi kasus. Untuk itu
Creswell menyarankan bahwa peneliti yang akan mengembangkan penelitian studi
kasus hendaknya pertama-tama, mempertimbangan  
tipe  kasus   yang  
paling   tepat.   Kasus  
tersebut   dapat merupakan suatu
kasus tunggal atau kolektif, banyak tempat atau di dalam- tempat,  berfokus 
pada  suatu  kasus 
atau  suatu  isu 
(instrinsik-instrumental). Kedua, dalam memilih kasus yang akan diteliti
dapat dikaji dari berbagai aspek seperti beragam perspektif dalam
permasalahannya, proses atau peristiwa. Ataupun dapat dipilih dari kasus biasa,
kasus yang dapat diakses atau kasus yang tidak biasa.

Lebih
lanjut Creswell mengemukakan beberapa “tantangan” dalam perkembangan studi
kasus kualitatif sebagai berikut :

1.  Peneliti hendaknya dapat mengidentifikasi
kasusnya dengan baik

2.  Peneliti 
hendaknya  mempertimbangkan  apakah 
akan  mempelajari  sebuah kasus tunggal atau multikasus

3.  Dalam memilih suatu kasus  diperlukan dasar pemikiran dari peneliti
untuk melakukan strategi sampling yang baik sehingga dapat pula mengumpulkan
informasi tentang kasus dengan baik pula

4.  Memiliki banyak informasi untuk
menggambarkan  secara mendalam suatu
kasus tertentu. Dalam merancang sebuah studi kasus, peneliti dapat
mengembangkan   sebuah   matriks  
pengumpulan   data  dengan  
berbagai informasi yang dikumpulkan mengenai suatu kasus

5.  Memutuskan “batasan” sebuah kasus.
Batasan-batasan tersebut dapat dilihat dari aspek waktu, peristiwa dan proses.

Bagaimana
penggunaan  teori dan pertanyaan
penelitian dalam studi kasus ?

Studi
kasus kualitatif menerapkan teori dalam cara yang berbeda. Creswell  mengungkapkannya  dengan 
contoh  studi kasus kualitatif  dari Stake (1995) tentang reformasi di
Sekolah Harper yang menggambarkan sebuah studi kasus   deskriptif  
dan   berorientasi   pada  
isu.   Studi   ini 
dimulai   dengan mengemukakan isu
tentang “reformasi sekolah”, kemudian dilanjutkan dengan deskripsi  sekolah, 
komunitas  dan lingkungan.  Selama 
isu suatu  kasus masih
berkembang,  teori  belum 
dapat  digunakan  dalam 
studi  kasus  ini. 
Menurut Creswell sebuah teori membentuk arah studi (Mc Cormick, 1994).
Studi dimulai dengan definisi “non pembaca”, kemudian dilanjutkan pada dasar
teori bagi studi yang “dibingkai” dalam sebuah teori interaktif. Studi
berlanjut dengan melihat kemampuan dan ketidakmampuan membaca siswa akan
memprediksi kegagalan dan keberhasilan siswa dalam membaca dan menulis. Hal ini
berhubungan erat dengan faktor internal dan eksternal. Kemudian studi berlanjut
dengan mengeksplorasi  pengalaman  seorang 
siswa  yang  berusia 
81/2  tahun.  Dalam kasus penembakan di kampus, kita tidak
memposisikan studi di dalam dasar teori tertentu   sebelum pengumpulan data, tetapi setelah
pengumpulan data sehingga acapkali dikenal dengan teori-setelah.

Menurut
Creswell dalam studi kasus kualitatif, seseorang dapat menyusun pertanyaan
maupun sub pertanyaan melalui isu dalam tema yang dieksplorasi,  juga 
sub  pertanyaan  tersebut 
dapat  mencakup  langkah-langkah dalam prosedur pengumpulan
data, analisis dan konstruksi format naratif. Sub pertanyaan  yang 
dapat  memandu  peneliti 
dalam  melakukan  penelitian 
studi kasus sebagai berikut :

•   Apa yang terjadi ?

•   Siapa yang terlibat dalam respons terhadap
suatu peristiwa tersebut ?

•   Tema respons apa yang muncul selama 8 bulan
mengikuti peristiwa ini ?

•   Konstruksi 
teori  apa  yang 
dapat  membantu  kita 
memahami  respons  di kampus ?

•   Konstruksi apa yang unik dalam kasus ini ?

Sedangkan
pertanyaan-pertanyaan prosedural adalah sebagai berikut :


Bagaimana  suatu  kasus 
dan  peristiwa  tersebut 
digambarkan  ?  (deskripsi kasus)


Tema apa yang muncul dari pengumpulan informasi tentang kasus ? (analisis
materi kasus)


Bagaimana peneliti menginterpretasikan 
tema-tema dalam teori sosial dan psikologi yang lebih luas ? (pelajaran
yang dipelajari dari kasus berdasarkan literatur).

Bagaimana
pengumpulan data studi kasus ?

Pengumpulan  data 
dalam  studi  kasus 
dapat  diambil  dari 
berbagai sumber informasi, karena studi kasus melibatkan pengumpulan
data yang “kaya” untuk membangun gambaran yang mendalam dari suatu kasus. Yin
mengungkapkan bahwa terdapat enam bentuk pengumpulan data dalam studi kasus
yaitu: (1) dokumentasi  yang terdiri dari
surat, memorandum,  agenda, laporan-laporan
suatu peristiwa, proposal, hasil penelitian, hasil evaluasi, kliping, artikel;
(2)  rekaman arsip yang terdiri dari
rekaman layanan, peta, data survei, daftar nama, rekaman-rekaman pribadi
seperti buku harian, kalender dsb; (3) wawancara biasanya bertipe open-ended;
(4) observasi langsung; (5) observasi partisipan dan (6)   perangkat fisik atau kultural yaitu
peralatan teknologi, alat atau instrumen, pekerjaan seni. Lebih lanjut Yin
mengemukakan  bahwa keuntungan dari
keenam sumber bukti tersebut dapat dimaksimalkan bila tiga prinsip berikut ini
diikuti, yaitu: (1) menggunakan bukti multisumber; (2) menciptakan data dasar
studi kasus, seperti : catatan-catatan studi kasus, dokumen studi kasus,
bahan-bahan tabulasi, narasi; (3) memelihara rangkaian bukti.

 Sedangkan 
Asmussen  &  Creswell 
menampilkan  pengumpulan  data melalui matriks sumber informasi untuk
pembacanya. Matriks ini mengandung empat tipe data yaitu: wawancara, observasi,
dokumen dan materi audio-visual untuk kolom dan bentuk spesifik dari informasi
seperti siswa, administrasi untuk baris. Penyampaian data melalui matriks ini
ditujukan untuk melihat kedalaman dan banyaknya bentuk dari pengumpulan data,
sehingga menunjukkan kekompleksan dari kasus tersebut. Penggunaan suatu matriks
akan bermanfaat apabila diterapkan dalam suatu studi kasus yang kaya informasi.
Lebih lanjut Creswell mengungkapkan bahwa wawancara dan observasi merupakan
alat pengumpul data yang banyak digunakan oleh berbagai penelitian. Hal ini
menunjukkan  bahwa  kedua 
alat  itu  merupakan 
pusat  dari  semua 
tradisi penelitian kualitatif sehingga memerlukan perhatian yang
tambahan dari peneliti.

Bagaimana
analisis data studi kasus ?

            Menganalisis 
data  studi  kasus 
adalah  suatu  hal 
yang  sulit  karena strategi  dan 
tekniknya  belum  teridentifikasikan  secara 
baik.  Tetapi  setiap penelitian hendaknya dimulai dengan
strategi analisis yang umum yang mengandung prioritas tentang apa yang akan
dianalisis dan mengapa. Demikian pun 
dengan  studi  kasus, 
oleh  karena  itu 
Creswell  memulai  pemaparannya dengan mengungkapkan tiga
strategi analisis penelitian kualitatif, yaitu: strategi analisis menurut
Bogdan & Biklen (1992), Huberman & Miles (1994) dan Wolcott
(1994).14        Menurut  Creswell, 
untuk  studi  kasus 
seperti  halnya  etnografi analisisnya  terdiri 
dari  “deskripsi  terinci” 
tentang  kasus  beserta 
settingnya. Apabila  suatu  kasus 
menampilkan  kronologis  suatu 
peristiwa  maka menganalisisnya
memerlukan banyak sumber data untuk menentukan bukti pada setiap  fase 
dalam  evolusi  kasusnya. 
Terlebih  lagi  untuk 
setting  kasus  yang “unik”, kita hendaknya menganalisa
informasi untuk menentukan bagaimana peristiwa itu terjadi sesuai dengan
settingnya.

            Stake mengungkapkan empat bentuk analisis data beserta
interpretasinya   dalam   penelitian  
studi   kasus,   yaitu:  
(1)  pengumpulan kategori,  peneliti 
mencari  suatu  kumpulan 
dari  contoh-contoh  data 
serta berharap menemukan makna yang relevan dengan isu yang akan muncul;
(2) interpretasi  langsung, peneliti
studi kasus melihat pada satu contoh serta menarik makna darinya tanpa mencari
banyak contoh. Hal ini merupakan suatu proses dalam menarik data secara
terpisah dan menempatkannya kembali secara bersama-sama agar lebih
bermakna;  (3) peneliti membentuk pola
dan mencari kesepadanan   antara   dua  
atau   lebih   kategori.  

Kesepadanan   ini 
dapat dilaksanakan  melalui  tabel 
2×2  yang  menunjukkan 
hubungan  antara  dua kategori; 
(4)  pada  akhirnya, 
peneliti  mengembangkan  generalisasi naturalistik melalui analisa
data, generalisasi ini diambil melalui orang-orang yang dapat belajar dari
suatu kasus, apakah kasus mereka sendiri atau menerapkannya  pada 
sebuah  populasi  kasus. 
Lebih  lanjut  Creswell menambahkan deskripsi kasus sebagai
sebuah pandangan yang terinci tentang kasus. Dalam studi kasus “peristiwa penembakan”,
kita dapat menggambarkan peristiwa itu selama dua minggu, menyoroti pemain
utamanya, tempat dan aktivitasnya. Kemudian mengumpilkan data ke dalam 20
kategori dan memisahkannya ke dalam lima pola. Dalam bagian akhir dari studi
ini kita dapat mengembangkan generalisasi tentang kasus tersebut dipandang dari
berbagai aspek,  dibandingkan,  dibedakan 
dengan  literatur  lainnya 
yang  membahas tentang kekerasan
di kampus.

Dari
paparan di atas dapat diuraikan bahwa “persiapan terbaik” untuk melakukan analisis
studi kasus adalah memiliki suatu strategi analisis. Tanpa strategi yang baik,
analisis studi kasus akan berlangsung sulit karena peneliti “bermain dengan
data” yang banyak dan alat pengumpul data yang banyak pula. Untuk Robert K. Yin
merekomendasikan enam tipe sumber informasi seperti yang telah dikemukakan pada
bagian pengumpulan data. Tipe analisis dari data ini dapat berupa analisis
holistik, yaitu analisis keseluruhan kasus atau berupa analisis terjalin, yaitu
suatu analisis untuk kasus yang spesifik, unik atau ekstrim. Lebih lanjut Yin
membagi tiga teknik analisis untuk studi kasus, yaitu (1) penjodohan pola,
yaitu dengan menggunakan logika penjodohan pola. Logika seperti ini
membandingkan pola yang didasarkan atas data empirik dengan pola yang diprediksikan
(atau dengan beberapa prediksi alternatif). Jika kedua pola ini ada persamaan,
hasilnya dapat menguatkan validitas internal studi kasus yang
bersangkutan;  (2) pembuatan  eksplanasi, 
yang bertujuan untuk menganalisis data studi kasus dengan cara membuat
suatu eksplanasi tentang kasus yang bersangkutan dan (3) analisis deret waktu,
yang banyak dipergunakan untuk studi kasus yang menggunakan pendekatan
eksperimen dan kuasi eksperimen.

Creswell
mengemukakan bahwa dalam studi kasus melibatkan pengumpulan  data yang banyak karena peneliti mencoba
untuk membangun gambaran  yang
mendalam  dari suatu kasus. Untuk
diperlukan  suatu analisis yang baik agar
dapat menyusun suatu deskripsi yang terinci dari kasus yang muncul. Seperti
misalnya analisis  tema atau isu, yakni
analisis suatu konteks kasus atau setting dimana kasus tersebut dapat
menggambarkan dirinya sendiri. Peneliti mencoba untuk menggambarkan studi ini
melalui teknik seperti sebuah kronologi peristiwa-peristiwa  utama yang kemudian diikuti oleh suatu
perspektif yang terinci tentang beberapa peristiwa. Ketika banyak kasus yang
akan dipilih, peneliti sebaiknya menggunakan analisis dalam-kasus yang kemudian
diikuti oleh sebuah  analisis  tematis 
di  sepanjang  kasus 
tersebut  yang  acapkali 
disebut analisis silang kasus untuk menginterpretasi makna dalam kasus.

Bagaimana
penulisan laporan studi kasus ?

Keseluruhan
Struktur Retorika

Peneliti
dapat membuka dan menutup dengan suatu gambaran untuk menarik pembaca ke dalam
suatu kasus. Pendekatan ini disarankan oleh Stake (1995) yang memberikan
gambaran umum bagi penyerapan ide-ide dalam suatu studi kasus sebagai berikut :

• Penulis  hendaknya 
membuka  dengan  sebuah 
gambaran  umum  sehingga pembaca    dapat 
mengembangkan  sebuah  pengalaman 
yang  mewakilinya untuk
mendapatkan suatu “feeling” dari waktu dan tempat yang diteliti

• Kemudian, penulis
mengidentifikasi isu-isu, tujuan dan metode studi sehingga pembaca dapat
mempelajari mengenai bagaimana studi tersebut, latar belakang dan isu-isu seputar
kasus

• Hal  ini 
kemudian   diikuti   oleh 
deskripsi   ekstensif   tentang  
kasus  dan konteksnya

• Agar pembaca dapat
memahami kompleksitas dari suatu kasus, penulis agar menampilkan beberapa
isu-isu kunci. Kekompleksan ini dibangun melalui referensi hasil penelitian
maupun pemahaman pembaca terhadap suatu kasus

• Kemudian beberapa isu
diteliti “lebih jauh”. Pada poin ini penulis hendaknya memilah dengan baik data
yang terkumpul

• Penulis menyusun
suatu ringkasan tentang apakah penulis memahami kasus itu, apakah melakukan
generalisasi naturalistik awal, kesimpulan yang diambil apakah merupakan
pengalaman pribadi atau pengalaman yang mewakili bagi pembacanya yang kemudian
membentuk persepsi pembaca

• Pada akhirnya penulis
mengakhiri pemaparannya dengan sebuah gambaran penutup, sebuah catatan
pengalaman yang mengingatkan pembaca bahwa laporan ini adalah pengalaman
seseorang yang mengalami suatu kasus kompleks

Creswell
mengungkapkan bahwa ia menyukai gambaran umum di atas, karena memberikan
deskripsi kasus dengan menampilkan tema, pernyataan atau interpretasi  pembaca 
serta  memulai  dan 
mengakhiri  dengan  skenario 
yang realistis.  Sebuah  model 
laporan  kasus  lain 
adalah  laporan  kasus 
substantif Lincoln dan Guba (1985) yang menggambarkan sebuah deskripsi
dengan teliti mengenai konteks atau setting, sebuah deskripsi transaksi  atau proses yang diamati  dalam 
konteks,  isu yang diteliti dan
hasil penelitian  (pelajaran  yang dipelajari).  Sedangkan 
pada tingkat  yang lebih umum  pelaporan 
studi kasus dapat ditemukan pada matriks 2×2 dari Yin (1989). Matriks
tersebut didasarkan pada asumsi bahwa studi kasus tunggal dan multikasus
mencerminkan pertimbangan desain yang berbeda yaitu: desain kasus tunggal
holistik, desain kasus tunggal terjalin, desain multikasus holistik dan desain
multikasus terjalin. Desain kasus tunggal dipergunakan apabila mengkaji suatu
kasus unik atau beberapa sub-unit analisis seperti studi kasus yang berkenaan
dengan program publik tunggal, sedangkan desain holistik digunakan untuk
mengkaji sifat umum dari suatu program. Desain holistik mungkin bersifat lebih
abstrak karena desain ini mencakup keseluruhan kasus yang lebih baik daripada
desain terjalin.

Struktur Retorika
Terjalin

Desain  terjalin 
merupakan  suatu  perangkat 
penting  guna memfokuskan suatu
inkuiri studi kasus.  Asmussen dan
Creswell mencontohkan “peristiwa 
penembakan  di kampus”.  Pertama-tama 
dimulai  dari  kota 
dimana situasi dikembangkan, kemudian diikuti oleh kampus dan ruangan
kelas. Pendekatan “menyempitkan” setting dari sebuah lingkungan kota yang
tenang pada ruangan kelas di kampus akan memudahkan peneliti melihat kedalaman
studi ini dengan sebuah kronologi peristiwa yang terjadi. Dalam membandingkan
deskripsi vs analisis, Merriam (1998) menyarankan keseimbangan  yang tepat seperti  : 
60%  –  40% 
atau  70%  – 
30%  antara  sebuah 
deskripsi  kongkrit mengenai
setting dengan peristiwa sebenarnya. Studi tentang peristiwa insiden penembakan
di kampus juga menampilkan sebuah studi kasus tunggal dengan naratif tunggal
tentang kasus tersebut, temanya maupun interpretasinya.

Bagaimana  melakukan 
standar  kualitas  dan 
verifikasi  dalam  studi kasus?

Stake
(1995) menyatakan bahwa suatu studi kasus memerlukan verifikasi   yang 
ekstensif   melalui   triangulasi  
dan   member   chek.  
Stake menyarankan triangulasi informasi yaitu mencari pemusatan informasi
yang berhubungan secara langsung pada “kondisi data” dalam mengembangkan suatu
studi kasus. Triangulasi membantu peneliti untuk memeriksa keabsahan data
melalui pengecekan dan pembandingan terhadap data. Lebih lanjut Stake
“menawarkan” triangulasi dari Denzin (1970) yang membedakan empat macam
tringulasi sebagai teknik pemeriksaan yang memanfaatkan penggunaan  sumber data, peneliti, teori dan metodologi.

Untuk
member check, Stake merekomendasikan peneliti untuk melakukan  pengecekan 
kepada  anggota  yang 
terlibat  dalam  penelitian 
studi kasus ini dan mewakili rekan-rekan mereka untuk memberikan reaksi
dari segi pandangan dan situasi mereka sendiri terhadap data yang telah
diorganisasikan oleh peneliti. Lebih lanjut Stake memberikan sebuah “daftar cek
kritik” untuk laporan studi kasus dan membaginya ke dalam 20 kriteria untuk
menilai sebuah laporan studi kasus yang baik sebagai berikut:

•   Apakah laporan itu mudah di baca ?

• Apakah laporan itu
tepat secara umum, yaitu tiap kalimat berkontribusi pada keseluruhan laporan ?

•   Apakah laporan tersebut memiliki sebuah
struktur konseptual (misalnya tema atau isu) ?

•   Apakah isu-isunya dikembangkan secara serius
dan ilmiah ?

•   Apakh kasusnya didefinisikan secara baik ?

•   Apakah terdapat cerita pada presentasi ?

•   Apakah pembaca memberikan  masukkan 
dari beberapa  pengalaman  yang mewakilinya ?

•   Apakah kutipan-kutipan digunakan secara
efektif ?

•   Apakah heading, angka-angka, instrumen,
lampiran, indeks digunakan secara efektif ?

•   Apakah laporan tersebut diedit dengan baik ?

• Apakah pembaca
disarankan untuk membuat pernyataan baik itu lewat atau di bawah interpretasi ?

•   Apakah perhatian yang memadai telah dibayar
pada beragam konteks ?

•   Apakah data mentah yang baik akan
ditampilkan ?

•   Apakah sumber data dipilih dengan baik dan
jumlahnya memadai ?

•   Apakah observasi dan interpretasi yang
muncul telah ditriangulasi ?

•   Apakah peranan dan sudut pandang peneliti
muncul dengan baik ?

•   Apakah “sifat” audiens yang dimaksud akan
nampak ?

•   Apakah empati ditujukan untuk semua aspek ?

•   Apakah maksud pribadi penulis dikaji ?

•   Apakah laporan tersebut muncul dan beresiko
pada individu ?

Sedangkan
Robert K.Yin mengemukakan prosedur laporan studi kasus sebagai  berikut 
:  (1)  kapan 
dan  bagaimana  memulai 
suatu  tulisan;  (2) identifikasi kasus: nyata atau tersamar
?; (3) tinjauan ulang naskah studi kasus: suatu 
prosedur  validasi.22   Untuk 
menyusun  suatu  cerita 
pada  studi  kasus, Asmussen & Creswell (1995) mencoba
mengkaji studi kasus kualitatif tentang “respon kampus pada seorang siswa
penembak” melalui laporan kasus substantif dari Lincoln & Guba. Format
Lincoln & Guba ini dimulai dengan :

• membuktikan
penjelasan masalah, sebuah deskripsi yang terinci mengenai konteks  atau 
setting  serta  proses 
yang  diamati,  sebuah 
diskusi  tentang elemen  penting 
dan  pada  akhirnya 
menyusun  hasil  penelitian 
melalui “pelajaran yang dipelajari”.

• setelah
memperkenalkan studi kasus dengan masalah kekerasan di kampus, kemudian penulis
memberikan deskripsi secara terinci mengenai setting dan kronologis peristiwa.
Kemudian beralih kepada tema penting yang muncul dalam   analisis.  
Tema   ini   terbagi  
ke  dalam   dua  
tema   yakni:   tema organisasional dan tema psikologis atau
sosio-psikologi.

• mengumpulkan   data  
melalui   wawancara   dengan  
informan,   observasi, dokumentasi
dan materi audio-visual. Dengan menanyakan hal-hal sebagai berikut : Apa yang
terjadi ?; Apa yang dilibatkan dalam respon peristiwa tersebut ?; Tema respon
apa yang muncul selama 8 bulan ?; Konstruksi teoritis apa yang dikembangkan
secara unik pada kasus ini ?

• naratif  menggambarkan 
peristiwa  dengan  menghubungkan 
konteks  pada bingkai kerja yang
lebih luas

• melakukan  verifikasi 
kasus  dengan  menggunakan 
beberapa  sumber  data untuk suatu tema melalui triangulasi dan
pengecekkan anggota.




Perjalanan Sekolah Pascasarjana

PhD survival tips.
Based on my experienced as GOT recipient.

By Dr Hj Abdul Rahim Hj Ridzuan (UiTM)
Phase 1: The most crucial one. At this stage, you will be drown by mountains of information. You are proned to be easily swayed from the direction. Some PG experienced changing their proposal a few times. This is the stage that requires you to read and discuss your ideas with SV rapidly. The good thing at this stage is your motivation level is still high. So, you need to work hard to write your proposal. Most importantly, learn to control your stress and emotions. Do not ever give up at this stage!

Tips: 😁 For scholarship student, the stress level is somehow accumulated because you are racing with the time given to you. Having a solid proposal with the guide of your potential SV would really help a lot before you can officially begin your PhD journey!

Phase 2: At this stage, you might have a clearer idea on your study. Your mission is to complete your proposal writing. For secondary data user, you have to ensure that all proposed models have the completed dataset. You should seek ideas or comments from any experts in your field to enhance your proposal. This can also be done by participating in any postgraduate conference. The main goal is to ensure that your proposal is recognized and passed during the defense session.

Phase 3: Yeah..if you have managed to pass your proposal defense…people said that you have already completed half of your Phd journey! Keep your spirit up to write your thesis. Some PG might have to change certain research objectives..some can just proceed with the original objectives. That is why it is important to produce a solid proposal, where you want to avoid from rewriting it after proposal defense. At this stage, students need to focus on writing research paper extracted from their thesis.

Phase 4: The stage is where you have to complete your thesis writing. Bear in mind, there is no such thing as the perfect thesis. Always focus on finishing the writing of the thesis first..then you can polish your work later. At this stage, you are astute about your research, you have built more confidence in regards to the novelty of your thesis, and most importantly, your SVs have aware and acknowledged your novelty before you get the permission to submit thesis for VIVA. Don’t be afraid..VIVA is simply to test either the thesis was produced by you or other people. If you have gone thorough all the process of learning and writing, you would be able to answer the questions raised by the panel. 💪

Congratulations..you are now known as PhD survivor! There is always up and down during the journey. Your true strength is reflected when you managed to overcome all the challenges. Remember, you are not alone. You can always seek help from the others. All is well. Best wishes~




Cek Plagiat

Plagiarism Detector Online
http://alimsumarno.com/anti-plagiat/
Caranya
https://www.youtube.com/watch?v=LoQIUFzOMHI&app=desktop




Penelitian Ilmiah (Lynch, 2013)

Menurut Lynch scientific research (penelitian ilmiah) adalah proses
(1) developing an empirically answerable question,
(2) deriving a falsifiable hypothesis derived from a theory that purports to answer the question,
(3) collecting (or finding) and analyzing empirical data to test the hypothesis,
(4) rejecting or failing to reject the hypothesis, and
(5) relating the results of the analyses back to the theory from which the question was drawn.

Berdasarkan definisi tersebut maka yang tidak termasuk riset adalah:

  1. Kajian pustaka bukan merupakan riset
  2. Keterkaitan antar teori atau perspektif tanpa data empiris bukanlah riset.
  3. Pengumpulan dan analisis data tanpa landasan teori (misalnya, tanpa pertanyaan riset) kemudian tanpa ada penjelasan, bukanlah riset.


Apa yang dimaksud dengan

  • perspektif
  • teori
  • pertanyaan riset
  • hipotesis

 

Lynch, Scott M. Chapter 2  Overview of the Research Process. in “Using statistics in social research: A concise approach.” Springer Science & Business Media, 2013.




Exchange Rate and Trade Dynamics in Indonesia: Connecting The Dots

Sharing materi “19th BI Institute Open Lecture Series: Exchange Rate and Trade Dynamics in Indonesia: Connecting The Dots”.

Semoga bermanfaat,
Salam.




BAURAN KEBIJAKAN BANK SENTRAL: PARADIGMA KEBIJAKAN BANK SENTRAL PASCA KRISIS

https://dosen.perbanas.id/wp-content/uploads/2019/05/BAURAN_KEBIJAKAN_BANK_SENTRAL-min.pdf




Mencari Jurnal Terindeks dan Konferensi

ALL IN ONE (LINK INDEX JOURNAL)

No automatic alt text available.

 

Philippe Fournier-VigerHarbin & Institute of Technology (Shenzhen)




Jenis-jenis Variabel

Sila klik




Pendekatan dalam Riset Bisnis

Research process started from interesting thought about the world around us.
There are some assumptions:
– How do we see the world?
– What kind of sort do we have to investigate?
– Can we collect evidence?
– How do we collect evidence?
– Is the evidence is different between you and me if we see the same thing?
Always remember that our thoughts and ideas don’t start from a blank sheet, they start from minds which already have certain beliefs and ideas.

Gibbon, 1994:
1. Knowledge created by academic
2. Knowledge created by researcher for practical purposes
3. Huff & Huff (2001): Knowledge produced by research to understand bigger picture in relation to society

Epistemology
What kind of knowledge is acceptable in a field of study and will drive research approaches.
1. Positivist position
2. Interpretivist position

Ontology
Epistemology focuses on the feature of knowledge, ontology looks deeper at the way researchers understand the world.
Ontology asks us to identify the assumptions we have about the world we are researching.
1. Objectivist view
2. Subjectivist view

Sue Greener, https://www.youtube.com/watch?v=e99BEYU7148




Common biases Dalam Penelitian

Common
biases

  1. Ketersediaan
    Heuristik (Biases Emanating from the
    Availability Heuristic)

Heuristik
adalah seni dan ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan suatu penemuan.
Heuristik yang berkaitan dengan pemecahan masalah adalah cara menujukan pemikiran
seseorang dalam melakukan proses pemecahan sampai masalah tersebut berhasil
dipecahkan.

Individu
menilai frekuensi, probabilitas, atau kemungkinan penyebab kejadian berdasarkan
tingkat kejadian atau kejadiannya yang tersedia di memori. Suatu peristiwa yang
membangkitkan emosi dan hidup, mudah dibayangkan, dan spesifik akan lebih mudah
“tersedia” dalam ingatan. Akankah sebuah peristiwa yang bersifat
tidak emosional, hambar, sulit dibayangkan, atau terlalu banyak. Sejak kejadian
sering terjadi umumnya lebih mudah terungkap dalam diri kita, heuristik ini
sering mengarah pada penilaian yang akurat. Namun, karena ketersediaan
informasi juga dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak terkait dengan frekuensi
obyektif dari kejadian yang dihakimi, heuristik ini keliru.

  • Bias
    1 : Kemudahan recall

Individu
menilai kejadian yang lebih sering diingat dari ingatan, berdasarkan pada
keadaan hidup atau tingkat keparahan, menjadi lebih banyak daripada frekuensi
yang sama yang keadaannya kurang mudah diingat.

Misalnya :

  1. Pikirkan kebanyakan orang meninggal
    karena perang dan kelaparan daripada penyakit jantung;
  2. Membeli asuransi untuk bencana alam yang
    baru saja Anda alami.

  • Bias
    2 : pengambilan kembali (Retrievability)

Individu
bias dalam menilai frekuensi kejadian berdasarkan struktur ingatan mereka yang
mempengaruhi proses pencarian.

Misalnya :

  1. Kata-kata yang dimulai dengan huruf
    “a” yaitu Aset atau “a” sebagai huruf ke-3 yaitu Bank
  2. SPBU (di tempat yang sama): orang-orang
    ingat satu lokasi produk dan mengatur pikiran mereka sesuai dengan itu.

  • Bias
    3 : Asosiasi yang diasumsikan (Intensitivitas terhadap Ukuran Dasar =
    prevalensi atas keseluruhan)

Individu
cenderung melebih-lebihkan probabilitas dua peristiwa yang terjadi bersamaan
berdasarkan jumlah asosiasi serupa yang mudah diingat, baik dari pengalaman
atau pengalaman sosial.

Misalnya :

  1. Orang bisnis berfantasi tentang
    kesuksesan dan tidak memperhitungkan penilaian kegagalan
  2.  Universitas lebih memilih siswa dengan nilai
    tinggi, bahkan jika itu karena sistem penilaiannya lunak
  3. Orang-orang menghukum perilaku orang
    lain yang mengarah pada hal yang buruk bahkan jika hasil buruk tersebut membawa
    suatu perubahan. (Earning Management)

  • Keterwakilan
    Heuristik (Biases Emanating from the
    Representativeness Heuristic)

Individu
menilai kemungkinan terjadinya fenomena dengan kemiripan kejadian dengan
stereotip mereka pada kejadian serupa. Dalam banyak kasus, representativeness
heuristic adalah pendekatan yang baik. Namun, hal itu dapat menyebabkan
keputusan yang buruk dalam kasus bahwa informasi tidak memadai dan informasi
yang lebih baik ada (Anda tidak bisa menilai buku dari sampulnya.)

Ketidakpekaan
terhadap tingkat dasar Individu cenderung mengabaikan tingkat dasar dalam
menilai kemungkinan kejadian bila ada informasi deskriptif lain yang diberikan
walaupun tidak relevan.

  • Bias
    4 : Ketidakpekaan terhadap ukuran sampel

Individu
sering gagal untuk menghargai ukuran sampel dalam menilai kemampuan referensi
dari informasi sampel.

Misalnya :

Kesalahan yang disebabkan oleh salah
spesifikasi populasi juga umum terjadi dalam survei pemilihan konsumen, dengan
contoh umumnya hanya terdiri dari para ibu rumah tangga tidak menyertakan kaum
laki-laki, wanita yang bekerja dan mahasiswa karena keadaan mereka yang relatif
tidak memungkinkan terjangkau.

  • Bias
    5 : Kesalahpahaman tentang Peluang

Individu
mengharapkan bahwa urutan data umum oleh proses acak akan terlihat
“acak,” bahkan jika urutannya terlalu singkat untuk harapan tersebut
secara statistik tidak valid.

Misalnya :

Jika Anda memiliki 5 anak
laki-laki, kemungkinan anak laki-laki ke 6 adalah 50%. Orang menginginkan
berpeluang terlihat acak (THTHT bukan TTTHHH).

  • Bias
    6 : Regresi ke rata-rata

Individu
cenderung mengabaikan fakta bahwa kejadian luar biasa cenderung mengalami
kemunduran pada uji coba rata-rata.

Misalnya :

Jika tahun ke-1 terjadi
Keberhasilan, lalu tahun ke 2 Anda mengalami Kegagalan, Anda akan terasa
seperti tahun ‘buruk’. Terkadang kita mengharapkan terjadinya Keberhasilan, tapi
sering kali tidak.

  • Bias
    7 : Kesalahan konjungsi

Individu
secara salah menilai bahwa konjungsi (dua peristiwa terjadi bersamaan) lebih
mungkin terjadi daripada serangkaian kejadian yang lebih global dimana
konjungsinya adalah subset

Misalnya :

Seseorang berfikir saat menjadi
bankir dan feminis tidak pernah lebih mungkin daripada penilaian yang lebih
besar dari pada mengarah ke teller bank.

  • Konfirmasi
    heuristik (Biases Emanating from the
    Confirmation Heuristic
    )

Individu
melakukan penilaian dengan memulai dari nilai awal dan menyesuaikannya untuk
menghasilkan keputusan akhir. Nilai awal mungkin disarankan dari preseden
historis, dari cara mempresentasikan masalahnya, atau dari informasi acak.

  • Bias  8 : Perangkap konfirmasi

Individu
cenderung mencari konfirmasi informasi untuk apa yang mereka anggap benar dan
mengabaikan pencarian untuk bukti yang tidak dapat dikonfirmasi.

Misalnya :

  1. Ingatan kita yang dirancang untuk
    mengambil informasi dari ingatan tersebut. Jadi info yang sesuai dengan
    hipotesis mudah diakses.
  2. Selektif Waktu dan Usaha

Jadi
cari dulu info yang paling mungkin berhasil / berguna. Saat mencari informasi,
Anda memulai dengan mencari info yang mengonfirmasi pemikiran Anda (Rekomendasi
karyawan baru).

  • Bias
    9 : Penyesuaian jangkar tidak mencukupi (Anchoring and Adjustment)

Individu
membuat perkiraan untuk nilai berdasarkan nilai awal dan biasanya membuat
penyesuaian yang tidak memadai dari “jangkar” ini saat menetapkan
nilai akhir.

Misalnya :

  1. Mengembangkan perkiraan dengan memulai
    dengan menjangkarkan awal berdasarkan informasi apa saja yang disediakan (Budgeting)
  2. Pertama mencari informasi yang sesuai
    dengan jangkar daripada tidak sesuai dengan jangkar (Estimasi Penyusutan)

  • Bias
    10 : Peristiwa konjungtif dan disjungtif

Individu
menunjukkan bias terhadap perkiraan probabilitas kejadian konduktif dan
meremehkan probabilitas kejadian disjungtif.

Misalnya:

Mengambil kelereng merah dari tas
yang berisi kelereng warna warni, apa peluangnya?

  1. Melebih-lebihkan peristiwa konjungtif
    (yang terjadi bersamaan, semua kejadian perlu terjadi)
  2. Meremehkan kejadian disjungtif (yang
    terjadi secara independen, salah satu dari banyak peristiwa harus terjadi)

  • Biases
    Generally

Bias
11 :

  • Terlalu
    percaya diri

Individu cenderung terlalu percaya
diri akan kemungkinan penilaian mereka bila sering-sering menanggapi pertanyaan
yang sangat sulit.

  • Pandangan
    dan kutukan pengetahuan

Setelah
mengetahui apakah suatu peristiwa terjadi atau tidak, individu cenderung
terlalu tinggi menilai sejauh mana mereka telah menentukan hasil yang benar.