Menulis Bagian Diskusi

Dalam mengerjakan naskah karya ilmiah, bagian diskusi dapat ditulis dengan pendekatan bola salju. Hal ini dilakukan dengan menggunakan Google Scholar.

Image may contain: text

Image may contain: text

Image may contain: text

Image may contain: text

No automatic alt text available.

Image may contain: text

Image may contain: text

Image may contain: text

Syahrir Bin Zaini 




Memahami Regresi Berganda Secara Mudah

Gulden Kaya Uyanik & Nese Guler. 2013. A Study on multiple regression analysis. In 4th International Conference on New Horizons in Education. Procedia-Social and Behavioral Sciences 106, 234-240.




Mencari Tahu Jurnal berindeks ERA

Image may contain: text

Image may contain: text

ERA Journal Rankings Access




MINIMUM SAMPLE SIZE UNTUK EXPLORATORY FACTOR ANALYSIS (EFA)

1. GUILFORT (1954) RECOMMEND MINIMUM SAMPLE SIZE 200 FOR CONSISTENT FACTOR RECOVERY.

2. COMREY (1973) SUGGEST A RANGE MINIMUM SAMPLE SIZES, FROM 50 (VERY POOR) TO 1000 (EXCELLENT) AND ADVISED TO RESEARCHER SAMPLE SIZE LARGER THAN 500.

3. GORSUCH (1974) SAMPLE SIZE BELOW 50 (SMALL) & ABOVE 200 (LARGER).

4. CATTELL (1978) PROPOSED 500 WOULD BE A GOOD SAMPLE SIZE & HOWEVER 200 OR 250 COULD BE ACCEPTABLE.

5. BOOMSMA (1982) SAMPLE SIZE LESS 100 (DANGEROUS) & RECOMMEND 200 (SAFE) SAMPLE SIZE.

6. MACCALLUM ET AL., (199) & MACCALLUM ET AL., (2001) MINIMUM SAMPLE SIZE OF 60.

7. SAPNAS AND ZELLER (2002) SAMPLE SIZE RANGE 50-100 WAS ADEQUATE.

DAN BANYAK LAGI JUSTIFICATION OF SAMPLE SIZE MINIMUM & RECOMMENDED

Joost de Winter, Dimitra Dodou, Peter A Wiering. “Exploratory factor analysis with small sample sizes.” Multivariate behavioral research 44, no. 2 (2009): 147-181.

Nurul Fadly Habidin




Reborn of College in 4.0 : Kampus Mahasiswa & Lulusan Milenial di Era Digital

Nama
Lengkap            : Rizal Mawardi, S.E.,
Ak., M.A

Profesi                         : Dosen Tetap Perbanas
Institute

Personal Branding      : Educator Finance Accounting & Auditing, Researcher, Ex-Analyst Business  and Credit 

Peringatan Hari
Dies Natalis Emas Perbanas Institute ke-50 yang dibarengi oleh fenomena
Revolusi Industri 4.0 menjadi suatu momentum yang tepat untuk berbenah diri
demi menjadi kampus yang menghasilkan lulusan di era milenial ini. Revolusi
industri 4.0 secara umum diketahui sebagai perubahan cara kerja yang
menitikberatkan pada pengelolaan data, sistem kerja industri melalui kemajuan
teknologi, komunikasi dan peningkatan efisiensi kerja yang berkaitan dengan
interaksi manusia. Data menjadi kebutuhan utama organisasi dalam proses
pengambilan keputusan korporat yang didukung oleh daya komputasi dan sistem
penyimpanan data yang tidak terbatas.

Perguruan Tinggi
merupakan lembaga formal yang diharapkan dapat melahirkan tenaga kerja kompeten
yang siap menghadapi industri kerja yang kian berkembang seiring dengan
kemajuan teknologi. Keahlian kerja, kemampuan beradaptasi dan pola pikir yang
dinamis menjadi tantangan bagi sumber daya manusia, di mana selayaknya dapat
diperoleh saat mengenyam pendidikan formal di Perguruan Tinggi.

Tantangan & Peluang Perguruan Tinggi di Era
Revolusi Industri 4.0

Kuantitas bukan
lagi menjadi indikator utama bagi suatu perguruan tinggi dalam mencapai
kesuksesan, melainkan kualitas lulusannya. Kesuksesan sebuah negara dalam
menghadapi revolusi industri 4.0 erat kaitannya dengan inovasi yang diciptakan
oleh sumber daya yang berkualitas, sehingga Perguruan Tinggi wajib dapat
menjawab tantangan untuk menghadapi kemajuan teknologi dan persaingan dunia
kerja di era globalisasi.

Dalam
menciptakan sumber daya yang inovatif dan adaptif terhadap teknologi,
diperlukan penyesuaian sarana dan prasarana pembelajaran dalam hal teknologi
informasi, internet, analisis big data dan komputerisasi. Perguruan tinggi yang
menyediakan infrastruktur pembelajaran tersebut diharapkan mampu menghasilkan
lulusan yang terampil dalam aspek literasi data, literasi teknologi dan
literasi manusia. Terobosan inovasi akan berujung pada peningkatan
produktivitas industri dan melahirkan perusahaan pemula berbasis teknologi,
seperti yang banyak bermunculan di Indonesia saat ini.

Tantangan
berikutnya adalah rekonstruksi kurikulum pendidikan tinggi yang responsif
terhadap revolusi industri juga diperlukan, seperti desain ulang kurikulum
dengan pendekatan human digital dan
keahlian berbasis digital. Persiapan
dalam menghasilkan lulusan yang mampu beradaptasi dengan Revolusi Industri 4.0
adalah salah satu cara yang dapat dilakukan Perguruan Tinggi untuk meningkatkan
daya saing terhadap kompetitor dan daya tarik bagi calon mahasiswa.

Selain lambat,
geliat perubahan kampus masih sebatas prosedural seperti menambah instrumen Learning Objective dan Learning Outcome di kurikulum, fasilitas
gedung AC, koneksi internet hingga penyelenggaraan kompetisi hibah pembelajaran
digital. Sayangnya, perubahan itu tidak diikuti 
cara berpikir atau paradigma pendidikan yang baru, kultur atau proses
belajarnya masih Teacher Centered,
serta Learning Environment yang tidak
mendorong kemandirian mahasiswa memiliki pengalaman belajar sendiri.

Saya teringat
suatu artikel populer yang ditulis oleh Terry Eagleton berjudul ”The Slow Death of the University
(2015). Artikel itu mempertanyakan eksistensi perguruan tinggi jika tidak
tanggap menghadapi perubahan yang sangat cepat dan bersifat disruptif. Seperti
diungkapkan pendidik lain, Terry berargumen bahwa tujuan perguruan tinggi
terlalu berorientasi pada kebutuhan ekonomis yakni menyiapkan mahasiswa untuk
mendapatkan pekerjaan yang terbaik. Tujuan ini mengakibatkan tradisi belajar
serta hubungan dosen dan mahasiswa sebatas hubungan “manajer” dan
“konsumen”.

Selain itu,
kriteria kesuksesan dosen terlalu berfokus pada jurnal publikasi riset, dan
cenderung menihilkan esensi pendidikan untuk kemanusiaan dan kehidupan,
seaperti yang pernah diungkapkan oleh Robert Menzies. Bahkan, di Indonesia
kualitas pengajaran akan dikalahkan oleh kebutuhan dosen meng-update berbagai
evaluasi seperti Laporan Kinerja Dosen (LKD), Beban Kinerja Dosen (BKD), dan
laporan lainnya yang berkaitan dengan tunjangan kinerja dosen.

Kondisi ini akan
membawa pendidikan tinggi menuju proses kematiannya karena abai melakukan tugas
utamanya yakni membangun peradaban. Jika tujuan perguruan tinggi sekedar pintu
masuk mahasiswa mencari pekerjaan, tidakkah perusahaan besar seperti Google,
Facebook, Erns & Young mulai menihilkan syarat ijazah untuk bekerja di
tempat mereka?

Lalu, peluang
apa yang bisa diambil oleh setiap Perguruan Tinggi? Mengutip pada salah satu
media literasi kampus di Australia, Perguruan Tinggi bisa mendesain kampusnya
dengan gaya modern, green building,
warna-warni, banyak co-working space
bagi mahasiswa dan dosen, serta tata letak kelas terbuka untuk workshop, untuk
apa kampus membangun gedung yang begitu mahal dan modern, bukankah menjamurnya
platform pembelajaran digital Massive
Open Online Course
(MOOC) akan memungkinkan siapa saja dapat kuliah online sehingga tidak lagi memerlukan
gedung atau ruangan kuliah baru?

Saya mengutip
kembali sebuah artikel yang ditulis Jim Clifton berdasarkan survei yang
dilakukan Gallup US yang menyarankan Perguruan Tinggi segera mengubah budaya
organisasinya agar tidak ditinggalkan oleh generasi millennial. Temuan Gallup
menyatakan bahwa generasi millennial akan mendisrupsi tatanan sosial lama di
berbagai bidang, baik kesehatan, bisnis, industri, pertanian, perbankan hingga
pendidikan tinggi. Mahasiswa Generasi Milenial tidak akan terikat pada sebuah
tradisi, institusi bahkan identitas agama atau politik. Mereka sangat berbeda
dalam berkomunikasi, membangun relasi, bekerja hingga pada lingkungan sekolah
(kampus).

Prinsip yang harus diterapkan Perguruan Tinggi

Saya mendasar
pada artikel Clifton serta paparan Prof. Clayton dari Harvard University
tentang era disrupsi dan pendidikan masa depan, maka langkah yang dilakukan
oleh kampus yaitu upaya untuk berbenah diri agar survive menghadapi perubahan
yang disruptif. Perguruan Tinggi harus memiliki konsep green building, open
space, inklusivitas, dan fancy adalah bentuk komitmen segenap civitas akademika
dalam menyediakan metode pengajaran dan pembelajaran yang lebih baik serta
adaptif dengan tuntutan perubahan generasi millennial.

Saya menyatakan
terdapat tiga prinsip utama bagi Perguruan Tinggi di generasi millennial,
antara lain Pertama, penciptaan
kultur kampus yang positif, kekinian serta partisipatif untuk membantu
mengembangkan potensi mahasiswa, Dosen, Karyawan di generasi zaman sekarang. Kedua, learning environment yang sesuai
untuk pengembangan student centered learning yang mendorong proses pendampingan
oleh dosen, teman atau peer sehingga relasi belajar yang terjadi akan setara,
inovatif dan inisiatif bukan berdasarkan perintah. Ketiga, iklim pembelajaran yang mengganti sistem penilaian (ujian
konvensional) dengan feedback yang
bermanfaat dalam memgembangkan potensi, bukan untuk menakar kelemahan.

Ketiga Prinsip
ini tidak dapat terfasilitasi oleh lingkungan kampus jika masih mengikuti pakem
dengan setting abad 19 atau abad 20 yang teacher
centered
.

Key Success
untuk IKPIA Perbanas sebagai PT yang merespons Revolusi Industri 4.0

Penciptaan
lingkungan baru yang dinamis dan interaktif akan merefleksikan perubahan pada
paradigma pendidikan, dimana arsitektur akademiknya memungkinkan mahasiswa
memiliki kebebasan pilihan atas konten kurikulum yang diingininya meskipun
dengan lintas disiplin ilmu. Hal ini penting karena era disrupsi mensyaratkan
pendidikan tinggi lebih fleksibel dalam sistem pengajaran dan pembelajaran.
Revolusi internet wajib dikelola menjadi “enabler” percepatan untuk membangun sumber daya manusia yang
kritis, kreatif. Tujuannya agar lubernya informasi dapat dimanfaatkan menjadi
nilai tambah, yang pada gilirannya dapat memecahkan persoalan kemanusiaan yang
semakin kompleks.

Kultur atau
ekosistem kampus di era disrupsi perlu membangun pendekatan “lateral”
dimana solusi atas satu persoalan perlu didekati dengan ragam pendekatan
keilmuan.  Hal itu memerlukan landskap kampus
yang terintegrasi satu sama lain, mulai dari lingkungan belajar, kurikulum yang
fleksibel, metode pengajaran hingga sistem pengelolaan kampus agar adaptif
terhadap tuntutan perubahan.

Tata ruang
terbuka dan dinamis akan mengubah cara lama dosen mengajar, mahasiswa akan
menjadi desainer atas kurikulum serta proses belajarnya sendiri sehingga
pembelajarannya tidak lagi sebatas prosedural untuk menggugurkan kewajiban
administrasi saja. Penciptaan tata ruang atau ekosistem yang fleksibel maka
akan dapat mendorong perubahan pada landskap akademik secara keseluruhan. Dosen
akan bergeser peran sebagai fasilitator atau inspirator, mahasiswa akan tumbuh
menjadi pembelajar mandiri, saling berkolaborasi bukan berkompetisi serta
kreatif atau inovatif dalam menyelesaikan berbagai persoalan.

Dengan
lingkungan kampus yang encouragement
akan menjadi sangat relevan bagi generasi milenial, karena mereka tidak ingin
terikat, sebaliknya menginginkan kebebasan untuk meracik materi hingga metode
belajarnya sendiri. Kemandirian ini pada akhirnya dapat melahirkan pengembangan
keilmuan baru yang dibutuhkan di masyarakat berbasiskan interdisiplin ilmu.

Jika demikian,
kekhawatiran akan masa suram pendidikan tinggi tidak akan terjadi. Pendidikan
tinggi justru akan menjadi agen utama dalam mengokohkan demokrasi dan peradaban
kemanusiaan di masa depan. Namun siapkah regulator, Perguruan Tinggi, dan
masyarakat bersinergi menghindarkan lonceng kematian pendidikan tinggi?

How (Bagaimana Caranya) ?

Perubahan dunia
kini tengah memasuki era revolusi industri 4.0 atau revolusi industri dunia
keempat dimana teknologi informasi telah menjadi basis dalam kehidupan manusia.
Segala hal menjadi tanpa batas (borderless)
dengan penggunaan daya komputasi dan data yang tidak terbatas (unlimited), karena dipengaruhi oleh
perkembangan internet dan teknologi digital yang masif sebagai tulang punggung
pergerakan dan konektivitas manusia dan mesin. Era ini juga akan mendisrupsi
berbagai aktivitas manusia, termasuk di dalamnya bidang ilmu pengetahuan dan
teknologi (iptek) serta pendidikan tinggi.

Kebijakan
strategis perlu dirumuskan oleh Perguruan Tinggi dalam berbagai aspek mulai
dari kelembagaan, bidang studi, kurikulum, sumber daya, serta pengembangan cyber university, riset dan pengembangangan
hingga inovasi. Ada lima elemen penting yang harus menjadi perhatian dan akan
dilaksanakan oleh Perguruan Tinggi untuk mendorong pertumbuhan dan daya saing Perguruan
Tinggi di era Revolusi Industri 4.0, yaitu:

  1. Persiapan
    sistem pembelajaran yang lebih inovatif di perguruan tinggi seperti penyesuaian
    kurikulum pembelajaran, dan meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam hal data Information Technology (IT), Operational Technology (OT), Internet of Things (IoT), dan Big Data Analitic, mengintegrasikan
    objek fisik, digital dan manusia untuk menghasilkan lulusan perguruan tinggi
    yang kompetitif dan terampil terutama dalam aspek data literacy, finance and
    banking literacy
    , technological
    literacy
    and human literacy;
  2. Rekonstruksi
    kebijakan kelembagaan pendidikan tinggi yang adaptif dan responsif terhadap
    revolusi industri 4.0 dalam mengembangkan transdisiplin ilmu dan program studi
    yang dibutuhkan. Selain itu, mulai diupayakannya program Cyber University,
    seperti sistem perkuliahan distance learning, sehingga mengurangi intensitas
    pertemuan dosen dan mahasiswa. Cyber University ini nantinya diharapkan menjadi
    solusi bagi anak bangsa di pelosok daerah untuk menjangkau pendidikan tinggi
    yang berkualitas;
  3. Persiapan
    sumber daya manusia khususnya dosen dan peneliti serta perekayasa yang
    responsive, adaptif dan handal untuk menghadapi revolusi industri 4.0. Selain
    itu, peremajaan sarana prasarana dan pembangunan infrastruktur pendidikan,
    riset, dan inovasi juga perlu dilakukan untuk menopang kualitas pendidikan,
    riset, dan inovasi;
  4. Terobosan
    dalam Tri Dharma yang mendukung Revolusi Industri 4.0 dan ekosistem riset dan
    pengembangan untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas pendidikan dan
    pengajaran, riset dan pengembangan serta pengabdian masyarakat di Perguruan
    Tinggi;
  5. Terobosan
    inovasi dan perkuatan sistem inovasi untuk meningkatkan produktivitas tenaga
    kependikakan (karyawan administratif Perguruan Tinggi).

Achievment IKPIA Perbanas sebagai Langkah Awal Perguruan
Tinggi Milenial

Berbagai upaya
dan usaha telah ditempuh serta beragam prestasi yang diperoleh oleh Perbanas
Institute demi mengejar cita-cita sebagai Perguruan Tinggi yang eksis di era
digitalisasi. Upaya tersebut antara lain :

  1. Literasi
    Keuangan Syariah Berbasis Digital DPP Ikatan Ahli Ekonomi Islam (IAEI) bekerja
    sama dengan Komisariat Perbanas Institute
  2. Literasi
    Keuangan Digital Konventional dengan OJK berbasis Lab. Perbanas Institute
    bekerjasama dengan OJK, PT. XDana Investama Indonesia
  3. Literasi
    Perbankan Konventional Mandiri dengan Perbanas Institute Pembukaan Kelas Kriya
    Mandiri kerjasama antara Perbanas Institute dengan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk
  4. Literasi
    Keuangan Pembukaan Galeri Investasi Kerjasama Perbanas Institute Dengan Mnc
    Securitas
  5. Penghargaan
    Dari Kemenristek Dikti atas diraihnya penghargaan Perbanas Institute sebagai
    Perguruan Tinggi Peringkat Pertama Apresiasi Riset dan Pengembangan Kategori
    Institut dari Direktorat Sistem Riset dan pengembangan Dirjen Penguatan Riset
    dan Pengembangan bekerjasama dengan Lembaga layanan Pendidikan Tinggi Wilayah
    III
  6. Penggunaan
    Sistem E-Learning untuk Proses
    Perkuliahaan
  7. Penggunaan
    Sistem Terintegrasi Portal Akademik, Keuangan dan Registrasi Mhs
  8. Penggunaan
    Akses Jurnal Ilmiah Online yang terbaru saat ini adalah Emerald
  9. Kerjasama
    Pengabdian Masyrakat dengan Instansi Pemerintah, Perbankan, Korporat, dan IKM
  10. Proses
    Update Kurikulum atas Usulan dari User/Alumni dengan memasukan Bahan Kajian
    FinTech, TechFin dan Pokok Ajaran Berbasis IT
  11. Ketersediaan
    Data Management System [DMS] dan
    Evaluasi Kinerja Mutu Terintegrasi

Demikian gagasan
atau ide yang bisa saya paparkan selaku Alumnus Perbanas Institute S-1
Akuntansi Angkatan 2009, juga menempatkan posisi saya selaku Dosen Tetap
Perbanas Institute. Semoga Gagasan dan ide yang saya sampaikan menjadi secercah
cahaya untuk kita semua melakukan perubahan besar bukan hanya wacana semata.

Selamat Ulang
Tahun Perbanas, Barakallah Fii Umrik.
Semoga Tahun ini menjadi awal perubahan bagi Kampus tercinta kita menuju Kampus
yang mampu berkompetisi dan berprestasi, baik dari Dosen, Karyawan, Mahasiswa
maupun Lulusan di era Digitalisasi.




Nama-nama Tuhan dan Penerapannya dalam Manajemen

 

Abuznaid, S. (2006). Islam and Management: What Can Be Learned? Thunderbird International Business Review, 48(1), 125–139. http://doi.org/10.1002/tie




Nilai Sebuah IPK di Mata Pemberi Kerja

Seperti yang (mungkin:-)) sudah menjadi pengetahuan umum, Grade Point Average (GPA/IPK (Indeks Prestasi Kumulatif) hanya menempati urutan ke-17 dari kemampuan apa saja yang diharapkan oleh calon majikan (pemberi kerja) dari calon pekerja.

Ini bukan “sentimentalitas” ala debat kusir “mana yang lebih penting IQ vs EQ vs SocC vs SpiQ vs TQ”, namun merupakan kutipan ilmiah dari kitab karya William (Bill) Coplin (guru besar Public Affairs di Syracuse University). 😉

Sepuluh kemampuan yang paling diharapkan para pemberi kerja dari calon pekerja adalah sbb:
(1) komunikasi
(2) integritas
(3) kerjasama dalam tim
(4) kecerdasan interpersonal
(5) etos kerja
(6) motivasi
(7) kemampuan adaptasi
(8) kemampuan analitis
(9) kecakapan menggunakan komputer dan teknologi informasi
(10) kecakapan berorganisasi

Dari poin (1) hingga (10), hanya dua poin (yakni poin (8) dan (9)) yang lebih banyak diperoleh dari kegiatan perkuliahan. Delapan lagi cenderung lebih banyak didapatkan dari kegiatan ekstrakurikuler.

Dan menurut alm. Om Bob Sadino yang suka bercanda-tapi-serius, orang bodoh sulit mendapat kerja sehingga akhirnya berusaha sendiri untuk bisa hidup dengan berbisnis. Dan ketika bisnisnya makin melebar, orang bodoh pun akhirnya menggaji orang-orang pintar — yang tentu saja jamak dipersepsikan dengan IPK tinggi. 🙂

Karena itu, para pendidik dapat memberikan lebih banyak lagi fleksibilitas bagi para mahasiswa untuk memperoleh kecerdasan intra & antarpersonal di luar perkuliahan melalui organisasi mahasiswa dan kegiatan di luar kampus yang bermanfaat.

Tentu saja, para pendidik sudah cukup maklum bahwa kegiatan seperti perpeloncoan dan aksi anarkis ala panasbung (pasukan nasi bungkus) tidak termasuk dalam kategori aktivitas mahasiswa bermanfaat. 🙂

Sebenarnya, di dalam bangku perkuliahan kecerdasan intra & antarpersonal juga dapat diperoleh di bangku perkuliahan dengan cara menyesuaikan teknik pembelajaran dari teacher-centered menjadi student-centered yang tersupervisi.

Alhamdulillâh, Permen Mendikbud No. 49 tahun 2014 tentang Standar Nasional Perguruan Pendidikan Tinggi sudah ditunda implementasinya oleh keputusan Menristek Dikti melalui Surat Edaran No. 01/M/SE/V/2015 pada tanggal 20 Mei 2015 sehingga para pendidik masih punya waktu berpikir dan bekerja dalam rangka memberikan masukan kepada pihak yang terkait tentang apa saja yang perlu dijadikan standar, sesuai dengan apa yang dialami oleh para pendidik di lapangan.

Hal yang perlu diubah adalah memberikan kesempatan yang seluas-luasnya bagi para mahasiswa untuk memperoleh skills yang bermanfaat melalui kegiatan ekstrakurikuler dan lebih menyesuaikan kurikulum sesuai dengan demand. Supply lulusan PT tanpa demand dari pasar tentu saja hanya akan menciptakan lebih banyak lagi penganggur-penganggur yang apatis.

Ya, ini sebuah tantangan besar, karena sekali lagi idealisme “science comes first” dibentrokkan dengan realitas “my stomach comes first”. 😉

“Let us be about setting high standards for life, love, creativity, and wisdom. If our expectations in these areas are low, we are not likely to experience wellness. Setting high standards makes every day and every decade worth looking forward to.”
~Greg Anderson

Kredit: http://www.esf.edu/pbe/scott/class/reference/Resumes/10Things.pdf

Mohammad Andri Budiman

10 Juni 2015

 




Sidiq, Amanah, Tabligh & Fathonah

Siddiq (truthfulness):True to yourself, be honest to others, to peace and primarily honest to Allah.
Amanah (trustworthiness): Unbelievable attitude, respect, and honored at the value that trust there is some inherent value which includes the sense of responsibility (piety)
Al-amin- credible: trustworthy and trusting with courtesy and respect (honorable).
Tabligh (advocacy): Convey the truth with a deep feeling of love. The value includes aspects of: the ability to communicate (communication skills ), leadership ( leadership ) expansion and enhancement of the quality of human resources ( human resource development ) and ability to organize( managerial skills ) .
Fathonah (wisdom): Wisdom in the perspective of being Intelligent intellectually, emotionally, and spiritually plus having a great sense of discipline and proactive attitude as well as be able to make wise decision and eventually choosing the best options.

Siddiq
1. I often contemplate about the relationship between men and Allah.
2. I believe that work is a religious obligation.
3. I attend sermons and prayers to enhance my knowledge about Islam.
4. I am able to emphasize Islamic values and ethics in my daily routine
5. I believe that fulfilling Islamic obligation as a priority than making money
6. I put emphasize on my subordinates to adhere with Islamic values in their jobs

Amanah
1. I take accountable to my decision making
2. I treat employees problems fairly
3. I treat each employee’s problems as confidential as possible
4. I am fair when giving assessment
5. I recognize my employees qualities
6. I keep personal issues to myself

Tabligh
1. I make time for my subordinates to consult with me at any time.
2. I encourage employees to voice out their opinions to me
3. I have no problems to tell my subordinates what is right and wrong according to Islam
4. I consider myself as someone who is high in patience
5. I believe that I am being honest in my work
6. I am totally forthright delivering message to my subordinates to adhere with Islamic values

Fatanah
1. I consider myself as someone who is professional when making decision
2. I can anticipate problems before it arise
3. I turn to Allah when I cannot solve any problems
4. I will remain patience when facing any situation
5. I always try to find new ways or methods to run the organization better
6. I consider myself as someone who is dynamic in thinking and making decision

Siddiq items number 1-6; Amanah items number 7-12; Tabligh items number 13-18 and Fathanah items number 19-24.

Rahman, Zanariah Abdul, and Ishak Md Shah. “Measuring Islamic spiritual intelligence.” Procedia Economics and Finance 31 (2015): 134-139.
bin Mat Zin, Zakaria, and Faridah Hj Hassan. “Attributing Contemporary Leadership Models In Rasulullah (Peace Be Upon Him).” Journal of Islamic Management Studies 1, no. 2 (2018): 35-39.
Kusumastuti, Fitri Anisa, and Yusuf Fuad. “PROFILE OF MATHEMATICS ACHIEVEMENT OF EIGHTH-GRADE STUDENTS BASED ON ISLAMIC SPIRITUAL INTELLIGENCE.” MATHEdunesa 3, no. 6 (2017).

SATF: Sidiq/Shidiq/Sidiq, amanah, tabligh, fathonah/fatonah




Artikel Kajian Literatur

Cara melakukan literature review dalam rangka menemukan knowledge gaps dan future research.

Aguinis, Herman, and Ante Glavas. “What we know and don’t know about corporate social responsibility: A review and research agenda.” Journal of management 38, no. 4 (2012): 932-968.

Hoque, Zahirul. “20 years of studies on the balanced scorecard: trends, accomplishments, gaps and opportunities for future research.” The British accounting review 46, no. 1 (2014): 33-59.

Trianaputri, Anisa Ramadhini, Dodik Siswantoro, and Miranti Kartika Dewi. “CSR in Islamic Financial Institution: A Literature Review.” Tazkia Islamic Finance and Business Review 11, no. 2 (2018).

Zahirul Hoque. Celebrating 20 years of the Balanced Scorecard: relevance lost or relevance gained and sustained?




Peraturan Penilaian Angka Kredit

Slide PPT PAK

Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. 2014. Pedoman Operasional Penilaian Angka Kredit Kenaikan Pangkat/Jabatan Akademik Dosen