Entrepreneurship

image_print

Menarik bagi kita untuk menumbuhkan semangat berwirausaha terutama untuk kalangan anak muda, dimana lebih banyak dari generasi yang ada saat ini lebih didoktrin untuk menjadi pegawai dari pada menjadi “BOS” bagi diri mereka sendiri. Dibeberapa negara maju jumlah wirausaha yang rata-rata 2% dari jumlah populasi yang ada. Apa artinya? Jika ingin menjadi negara dengan perekenomian yang kuat, maka harus masyarkatnya harus diarahkan untuk dapat mandiri sehingga bukan hanya menciptakan penghasilan untuk probadi orang tersebut bahkan juga untuk orang lain.

Sejak awal mengajar di Perbanas Institute, saya dipercaya untuk mengampu mata kuliah Pengantar Bisnis yang merupakan mata kuliah wajib bagi mahasiswa program studi S1 Manajemen. Diawal kuliah saya selalu memulai dengan pertanyaan: Adakah diantara kalian yang memiliki bisnis?. Dari pertanyaan itu hanya 2% hingga 10% mahasiswa yang mengacungkan jari. Dari yang mulai dengan usaha penjualan pulsa, pakaian, makanan hingga komputer. Ada rasa bangga dalam diri saya bahwa mahasiswa yang mengikuti perkuliahan dikelas saya sudah mengetahui praktek nyata suatu bisnis. Namun selain bangga saya juga merasa kurang percaya diri atau minder karena saya sendiri sebagai dosen belum memiliki bisnis.

Akhirnya dengan semangat tersebut, saya bersama tiga rekan saya memutuskan untuk membuat usaha “Silky Puding”. Kami memulai bisnis tersebut dengan modal 500ribu rupiah kemudian bisa menghasilkan keuntungan yang membuat kami tersenyum lebar. Diawal bisnis kami agak khawatir untuk menjual produk kami namun dengan awalan yang dapat dikatkan sangat mulus karena kami menawarkan produk kepada rekan sesama dosen dan karyawan, yang diluar dugaan kami rupanya cocok dengan selera penikmat puding. Berikut merupakan sampel produk yang kami jual :

IMG_6112Silky Puding dengan 16 rasa yang familiar dengan lidah Indonesia dan dilengkapi dengan rasa yang “Kekinian” yaitu :

  1. Swiss Choco
  2. Choco Almond
  3. Hazelnut
  4. Mocca
  5. Taro
  6. Vanilla
  7. Green Tea
  8. Bubblegum
  9. Stroberi
  10. Caramel
  11. Durian
  12. Mangga
  13. Pisang (Banana)
  14. Leci
  15. Vanilla Blue
  16. Peach

 

Setelah bisnis ini dijalankan hampir tiga bulan kami telah memiliki beberapa pelanggan tetap yang secara rutin memesan silky puding sehingga secara perlahan dari awalnya selalu bingung pangsa pasar dari produk ini lama kelamaan dengan sendirinya kami berhasil menetapkan pangsa pasar yang potensial. Dalam beberapa teori pemasaran yang telah saya pelajari khususnya terkait penentuan segmentasi pasar ternyata ketika berhadapan dengan kondisi nyata menjadi sangat berbeda.

IMG_6071quotes-for-entrepreneurs index

Berdasarkan pengalaman diatas membuat saya menjadi lebih ingin mencoba berbagai bisnis dengan produk yang berbeda. Namun keinginan ini terpaksa dipendam dulu, meningat rutinitas dan pekerjaan saya yang menuntut waktu yang lebih banyak. Pada akhirnya memang sangat saya sadari bahwa memulai bisnis diperlukan keberanian untuk mengambil resiko, karena dengan adanya resiko tersebut kita akan menjadi makin terpacu untuk mengurangi resiko yang akan kita terima. Misalnya dalam bisnis silky puding ini resiko terbesar yang kami hadapai adalah puding yang kami buat tidak disukai, namun pada kenyataan kami belum pernah mengalami hal ini.

Selama tiga bulan terakhir ada keinginan kami bertiga untuk memperluas pasar misalnya berjualan di bazar atau car free day, namun karena masih ada kendala sehingga kami berharap semoga dimasa yang akan datang silky puding yang kami tawarkan tidak hanya dinikmati oleh konsumen diseputaran kampus Perbanas, namun bisa menjangkau pasar yang lebih luas lagi. Ada beberapa rencana yang akan kami realisasikan dalam waktu dekat salah satunya yaitu menawarkan produk kami melalui media sosial yang sedang booming.

Demikian pengalaman saya mencoba salah bisnis “kecil” namun dengan mimpi besar (^-^)

 

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published.