Logika Filsafat Ilmu Akuntansi Negara Timur

image_print

A.    PENDAHULUAN

Penerapan sistem akuntansi negara satu dengan yang lainnya berbeda-beda. Hal ini dikarenakan setiap negara memiliki beberapa faktor yang dapat mempengaruhi praktik penerapan ilmu akuntansi seperti adanya faktor budaya dan tradisi, agama dan kepercayaan serta pengaruh logika turun-temurun dari nenek moyang seperti ajaran dan adat istiadat (kebiasaan). Inilah yang menyebabkan secara tidak langsung adanya karakteristik perbedaan situasi dan kondisi dalam penerapan kebijakan akuntansi di setiap negara belahan dunia.

B.     FILSAFAT ILMU DAN PERKEMBANGAN AKUNTANSI

Ilmu Pengetauan merupakan pengabungan antara rasionalisme dan empirisme karena itu akuntansi merupakan ilmu yang menggunakan pemikiran untuk menganalisis data transaksi akuntansi dalam membuatan laporan keuangan dimana data transaksi akuntansi merupakan hal yang kongkrit dapat di respon oleh panca indera manusia.

Ilmu akuntansi digunakan sesuai dengan keperluan dalam suatu profesi tertentu sebagai aspek dalam axiology atau bagaimana ilmu akuntansi tersebut digunakan. Dalam aspek epistemology, ilmu akuntansi menjabarkan bagaimana langkah langkah atau proses dalam pembuatan suatu laporan keuangan dan bagaimana suatu transaksi saling mempengaruhi dalam suatu laporan keuangan. Sedangkan dalam aspek ontology, ilmu akuntansi menjelaskan apa isi atau hal yang di telaah dalam ilmu akuntansi tersebut.

C.    LOGIKA FILSAFAT AKUNTANSI NEGARA TIMUR

  1. Filosofi Akuntansi Negara Jepang
  • Sejarah Akuntansi Jepang

Jepang merupakan masyarakat tradisional dengan akar budaya dan agama yang kuat. Kesadaran kelompok dan saling ketergantungan dalam hubungan pribadi dan perusahaan berlawanan dengan hubungan independen yang wajar diantara individu-individu dan kelompok di negara-negara barat. Perusahaan Jepang saling memiliki ekuitas saham satu sama lain, dan sering kali bersama-sama memiliki perusahaan lain. Investasi yang saling bertautan ini menghasilkan konglomerasi industri yang meraksasa yang disebut sebagai keiretsu. Bank sering kali menjadi bagian dari kelompok industri besar ini.

Jepang merupakan masyarakat tradisional dengan akar budaya dan agama yang kuat. Kesadaran kelompok dan saling ketergantungan dalam hubungan pribadi dan perusahaan berlawanan dengan hubungan independen yang wajar diantara individu-individu dan kelompok di negara-negara barat. Sosial budaya masyarakat Jepang memiliki beberapa kekhasan atau keunikan tersendiri yaitu memiliki ikatan sosial masyarakat yang kuat antar sesamanya, memiliki budaya kerja keras dalam keseharian maupun profesionalitas kerja, memiliki budaya kerjasama atau hubungan yang lebih bersifat kooperatif dan saling menghormati terhadap sesama. Masyarakat Jepang sangat mengenal istilah “Nihonjinron” yang dimana memiliki definisi yaitu suatu paham kejepangan atau paham nasionalisme masyarakat Jepang terhadap negara mereka sendiri yang melihat bahwa bangsa Jepang memiliki keunikan yang membedakannya dari bangsda-bangsa lain yang ada di dunia.

Akuntansi di Jepang, sangat dipengaruhi oleh adat-istiadat, serta budaya masyarakat Jepang, yang dikaitkan dengan filsafat di Jepang. Filsafat Jepang merupakan salah satu filasafat tertua ke dua di dunia, setelah China, selain filsafat India dan filsafat Barat, dan dipercaya menjadi salah satu filsafat dasar yang mempengaruhi sejarah perkembangan filsafat dunia. Filsafat Jepang sebagaimana filsafat lainnya dipengaruhi oleh kebudayaan yang berkembang dari masa ke masa.

Ada tiga tema pokok sepanjang sejarah filsafat Jepang, yakni harmoni, toleransi dan perikemanusiaan. Harmoni antara manusia dan sesama, manusia dengan alam, manusia dengan surga. Selalu dicari keseimbangan antara keduanya. Toleransi terlihat dalam keterbukaan terhadap pendapat-pendapat pribadi, suatu sikap perdamaian yang memungkinkan suatu pluriformitas yang luar biasa, juga dalam bidang agama. Perikemanusiaan, karena selalu manusia dan matahari yang merupakan pusat filsafat Jepang, manusia yang pada hakikatnya baik dan yang harus mencari kebahagiaannya di dunia ini dengan memperkembangkan dirinya sendiri dalam interaksi dengan alam dan sesama manusia, sedangkan matahari dipercayai sebagai sumber yang memberikan semangat hidup bagi manusia.

Akuntansi di Jepang tak lepas dari adanya suatu kepercayaan terhadap dewa matahari, yang memberikan semangat kehidupan bagi masyarakat Jepang untuk bekerja, karena sinar matahari telah memancarkan cahaya bagi kehidupan masyarakat Jepang, sehingga mereka menganut ajaran “TAO” atau Taoisme.

Taoisme diajarkan oleh Lao Tse (“guru tua”) yang hidup sekitar 550 S.M. Menurut Lao Tse/ Guru, bukan “jalan manusia” melainkan “jalan alam”lah yang merupakan Tao. Tao menurut Lao Tse adalah prinsip kenyataan objektif, substansi abadi yang bersifat tunggal, mutlak dan tak ternamai. Ajaran Lao Tse lebih-lebih metafisika, Puncak metafisika Taoisme adalah kesadaran bahwa kita tidak tahu apa-apa tentang Tao. Kesadaran ini juga dipentingkan di India (ajaran “neti”, “na-itu”: “tidak begitu”) dan dalam filsafat Barat (di mana kesadaran ini disebut “docta ignorantia”, “ketidaktahuan yang berilmu”).

  • Taoisme Dalam Filsafat Ilmu

 Mula-mula oleh Sima-Tan aliran ini disebut filsafat jalan dan kebajikan. Sebagai suatu ajaran filosofis, Taoisme terus berkembang sampai abad kedua sebelum Masehi. Filsafat Taoisme mengagung – agungkan matahari sebagai dewa orang Jepang sampai sekarang. Di dalam ajaran-ajaran awal tentang Taoisme ini, Tao dipandang sebagai sumber yang unik dari alam semesta dan menentukan semua hal :

  1. bahwa semua hal di dunia terdiri dari bagian yang positif dan bagian yang negative;
  2. bahwa semua yang berlawanan selalu mengubah satu sama lain;
  3. bahwa orang tidak boleh melakukan tindakan yang tidak alami tetapi mengikuti hukum kodratnya.
  4. bahwa tujuan setiap manusia adalah untuk mencapai keabadian, terutama keabadian tubuh fisik (physical immortality) yang dapat dicapai dengan hidup sehat, sehingga bisa berusia panjang.
  • Ajaran Tao dalam Akuntansi Jepang

Akuntansi di Jepang tak lepas dari perkembangan awal filsafat Jepang. Dalam memahami asal mula Filsafat Jepang, ada 3 hal yang perlu diketahui. Pertama, filsafat adalah sebuah usaha sadar untuk memformulasikan pandangan-pandangan dan nilai-nilai sebagai ekspresi dari keyakinan fundamental sekelompok orang. Karenanya filsafat tidak dapat dilepaskan dari latar belakang budaya dan tradisi kelompok tersebut. Dalam hal ini adalah :

  1. bahasa, seni, literatur, dan agama.
  2. akuntansi sebagai sebuah aktivitas yang berkelanjutan haruslah dipandang sebagai sesuatu yang muncul dari aktivitas praktis kehidupan yang berfokus pada pemecahan masalah tentang pengetahuan yang benar, pemahaman asli, dan penghargaan yang wajar atas berbagai masalah kehidupan, entah secara individu ataupun sosial.
  3. lebih berupa konstruksi-konstruksi teoretis sebagai hasil pemikiran filosofis ataupun kegiatan kultural dari suatu kelompok orang/masyarakat.

Aspek Ilmu akuntansi di Jepang, terkandung beberapa hal :

Aspek Epistimologi

Dalam aspek epistimologi ilmu akuntasi menggunakan berbagai metode sesuai kebutuhannya.

Contoh :

Metode induktif digunakan pada saat pengambilan keputusan dengan melihat laporan tersebut, pihak berwenang akan menyimpulkan langkah apa yang akan di ambil. Metode positivism digunakan ketika akan membuat sebuah laporan keuangan harus menggunakan data yang ada atau yang telah di ketahui dengas bukti yang akurat berupa nota, dan lain – lain. (Jadi tradisi di Jepang, lebih mengutamakan keakuratan material daripada hanya sekedar laporan, nota dan sebagainya, sehingga perlu intensif melihat catatan – catatan kecil yang selalu dibuat).

Aspek Aksiologi

Dalam ilmu akuntansi, Hal yang menjadi alasan etika menjadi salah satu konsep bisnis yang mendasar, yaitu karena Etika adalah standar perilaku yang menjadi penilaian benar atau salahnya suatu tindakan. Sehingga tiap individu dapat melakukan aktivitasnya secara efektif dan menghindari penyimpangan yang terjadi dalam suatu bisnis perusahaan tersebut. Jepang sangat menekankan pada suatu etika dalam segala tindakan.

Aspek Ontologi

Hal yang di telaah atau yang menjadi isi dari ilmu akuntansi sebagai salah satu aspek ontology dalam ilmu akuntansi adalah prinsip akuntansi yang dikembangkan oleh asumsi dasar bagi proses akuntansi, prinsip akuntansi yang di jadikan standar universal, unsur dasar persamaan akuntansi dalam suatu laporan keuangan, dan jenis jenis laporan keuangan yang umum.

 

  1. Filosofi Akuntansi di Negara China

Para peneliti akuntansi menegaskan bahwa sejarah akuntansi Cina mungkin mulai hampir tiga ribu tahun yang lalu dan telah setua Mesir kuno akuntansi di Mesopotamia. Selama periode masa lalu, akuntansi Cina telah dimulai dengan aset yang dirancang pada tingkat lanjutan dan tingkat ini telah menjadi basis dasar dari tradisi akuntansi dan audit.

  1. Buku Akuntansi Cina
  • Sebelum tahun 1850-an tiga buku rekening telah membentuk struktur dasar dari sistem akuntansi China :
  1. Cao liu (memorandum)
  2. Xiliu (jurnal)
  3. Zongqing (ledger)
  • Praktek persiapan buku standar Cina adalah untuk menulis karakter di kolom vertikal dari atas ke bawah, dimulai dari sisi kanan halaman.
  • Sebuah keganjilan dari akuntansi periode Ming-Qing (1368-1911) adalah penggunaan paralel tiga jenis angka: angka caoma (bentuk komersial), angka hanti (bentuk standar) dan kuaji angka ti (bentuk akuntansi) , yang digunakan dalam buku-buku rekening masing-masing.
  1. Tahapan Metode Pembukuan Cina
  • Pembukuan berkembang sangat lambat di China kuno karena rendahnya tingkat kegiatan komersial.
  • Berasal dari ideologi Konfusianisme, perdagangan merupakan kegiatan yang sangat dibenci di Cina kuno, dan pedagang yang peringkat di antara yang terendah di society.
  • Tidaklah mengherankan selama berabad-abad setelah penemuan, sistem single-entry tetap metode pembukuan yang cukup baik untuk pemerintah dan swasta akuntansi.
  • Ada lima tahap tradisional untuk metodologi akuntansi pembukuan di Cina.
  1. ‘Ru-Chu’ (Metode Balancing Tiga Kolom). Pertama kali diterapkan pada masa dinasti Tang (AD 618-907) dan itu adalah sistem single-entry.
  2. Shizhufa (metode balancing empat kolom). Metode balancing Empat Kolom populer pada usia Song (AD 960-1279), Ming (AD 1368-1644) dan Qing (AD 1644-1911), menjadi format pelaporan standar akuntansi yang baik bagi pemerintah dan non-pemerintah.
  3. Sanjiao zhang (Pembukuan Tiga Kaki). Dieksplorasi Abad Pertengahan.
  4. Longmen zhang (dragon-gate pembukuan). Dipromosikan selama Dinasti Ming akhir dan awal Dinasti Qing
  5. Shijiao zhang (empat kaki pembukuan).

Perkembangan penting lainnya dalam kemajuan akuntansi Cina adalah munculnya empat kaki pembukuan pada abad kedelapan belas. Itu sistem yang lebih maju daripada metode pembukuan sebelumnya untuk pengklasifikasian akun. Metode pembukuan empat kaki mencatat semua transaksi dalam bentuk double-entry; baik tunai dan non tunai, dalam dua rekening yang sesuai di jurnal atau buku besar. Produk akhir terdiri dari dua laporan akuntansi yaitu :

  1. Laporan Caixiang (laporan laba rugi)
  2. Laporan cungai (neraca)

Namun bentuk double-entry  tidak banyak digunakan di China sampai abad kesembilan belas.

  • Akuntansi pada Dinasti Qing atau Setelah Perang Opium Pertama (1840)

Bagian dari reformasi sistem akuntansi dan audit adalah untuk menggantikan Departemen Pendapatan oleh Departemen Keuangan dan Belanja, yang bertanggung jawab untuk transportasi dari biji-bijian, perpajakan, manajemen pasar, bisnis dan transportasi, penyimpanan, gaji resmi, dana militer , manajemen pengeluaran, dan akuntansi. Juga akuntansi pemerintah mengadopsi debit dan kredit pembukuan untuk mencapai kontrol anggaran. Oleh karena itu, laporan dan rekening akhir tahunan dengan dokumen penerimaan dan pencairan harus diserahkan setiap bulan ke kantor audit untuk verification. Sebagai hasil dari perubahan besar-besaran dalam sifat, skala dan kecanggihan kegiatan ekonomi di China pada paruh kedua abad kesembilan belas, metode pembukuan Cina menjadi tidak cukup dan kehilangan efisiensi mereka.

Upaya perlawanan awal China pada adalah tentang modernisasi sistem akuntansi. Program modernisasi direncanakan untuk mengasimilasi metode Barat pembukuan melalui kode dalam Hukum Dagang, yang baru didirikan lembaga pendidikan, penerbitan buku teks, dan aplikasi metode dalam sektor publik dan swasta dalam rangka untuk melawan terhadap kekuatan asing dalam perang komersial dan industri.

Sampai pengenalan metode akuntansi Barat di paruh kedua abad kesembilan belas, Pembukuan di dinasti Qing ini berbentuk mode dasar:

  1. Sebagian besar lembaga komersial kecil dan menengah dan gaya bank lama digunakan sistem single-entry berdasarkan shizhufa, sementara minoritas dipekerjakan sanjiazhang tersebut.
  2. Sejumlah kecil perusahaan komersial skala besar mempekerjakan longmenzhang atau versi perbaikan dari itu.

 

Pengembangan Akuntansi China dan Profesi Akuntansi Pada Awal abad ke-20

Evolusi profesi akuntansi di Cina dipengaruhi oleh lingkungan ekonomi, politik, budaya dan sosial. Setelah Dinasti Qing digulingkan oleh revolusi pada tahun 1911, sistem ekonomi feodal mulai hancur. Investor asing datang ke Cina dan kegiatan usaha dengan munculnya barat. pembangunan tersebut menarik akuntan publik asing bersertifikat ke Cina, dan pada tahun 1918 pemerintah China mengeluarkan Peraturan Sementara untuk Akuntan. akuntan publik profesional pertama kali muncul di Cina pada tahun 1918 ketika pemerintah Northern Warlord mengeluarkan Ketentuan Akuntan, yang menyatakan bahwa siapa pun yang memenuhi syarat sesuai dengan ketentuan yang berlaku bisa mengajukan permohonan sertifikat kepada pemerintah. Pendidikan akuntansi modern di tingkat universitas, dan teks akuntansi kontemporer diperkenalkan dengan mendirikan double-entry pembukuan. Undang-undang di bidang keuangan dan akuntansi juga diperbaiki oleh beberapa undang-undang.

  • Era Mao dan Sistem Akuntansi Komunis

Pengembangan akuntansi Cina berhenti dan berubah menjadi arah baru pada tahun 1949, ketika Partai Komunis China didirikan Republik Rakyat China. Ini adalah fase baru akuntansi Cina. Cina terutama mengadopsi contoh dari Uni Soviet pada awalnya dan menyusun peraturan akuntansi untuk berbagai tingkat departemen ekonomi. China mendirikan sebuah sistem akuntansi terpadu dengan characteristics budaya Cina secara spesifik.

Mao Zhedong memprakarsai Revolusi Kebudayaan pada tahun 1966, setelah lima tahun bencana alam di mana ekonomi Cina mengalami kerugian yang sangat besar dan pertanian dan manufaktur hampir benar-benar runtuh. Tujuan lain dari Revolusi Kebudayaan adalah untuk menghilangkan semua budaya tradisional Cina; tujuan sebenarnya, namun adalah untuk membersihkan Partai Komunis semua lawan politik Ketua Mao. Revolusi ini benar-benar menghancurkan perekonomian Cina yang lemah. Produksi barang dan jasa, urusan pemerintahan, dan pendidikan semua terhenti. Pengembangan sistem akuntansi adalah suspended.

  • Kebijakan ‘Open Door’: Era Akuntansi Baru dengan Deng

Transformasi China di era Deng disebut sebagai ‘ekonomi pasar sosialis dengan characteristics Cina. Di bawah struktur komando, harga yang ditetapkan oleh dewan harga sentral mengandalkan data biaya yang disediakan oleh sistem akuntansi yang dirancang untuk melaporkan statistik agregat mengenai rencana pemenuhan. Oleh karena itu perhitungan biaya relatif akurat dan tunduk pada manipulasi politik. Sebagai transformasi ke ekonomi pasar berkembang, menetapkan harga yang berarti mengharuskan akuntansi biaya dikembangkan menjadi disiplin independen dan bukan hanya embel-embel dari system pelaporan keuangan kaku.

  • Perbandingan Antara Pra-Reformasi dan Pasca-Reformasi 1992.

Hal ini dapat diringkas dalam empat poin: penggantian pernyataan saldo dana dengan neraca sesuai model Barat; pengenalan laporan perubahan dalam posisi keuangan; pengurangan jumlah laporan, termasuk penghapusan pernyataan biaya dan biaya struktur; inklusi wajib catatan dan rasio analysis.

  • Sebelum Tahun 2005

Seluruh perusahaan milik Negara akan diwajibkan untuk mengadopsi ASBE dan selanjutnya akan diperluas kepada seluruh perusahaan berukuran menengah dan besar.

  • 15 Februari 2006

Ministry of Finance (MOF): Bertanggung jawab merumuskan, menyebarkan, dan mengelola standard akuntansi. Pada 15 Februari 2006 MOF Cina memperkenalkan Accounting Standards for Business Enterprises (ASBEs) yang juga telah mengkover aspek-aspek yang ada pada IFRS.

Perbedaan lain antara China dan negara-negara Barat terletak pada pengguna informasi akuntansi yang berbeda. Kualitas akuntan profesional China ‘perlu ditingkatkan karena mereka memiliki kualitas keseluruhan miskin dan kekurangan dalam hal kemampuan penilaian profesional. Selain itu, dengan perubahan konstan dalam standar akuntansi dan sistem dalam beberapa tahun terakhir, mereka tidak memiliki cukup waktu untuk menyerap dan memahami ini pengetahuan baru, menyebabkan kesulitan selama pelaksanaan standar akuntansi. Upaya yang lebih besar harus dilakukan China untuk berpartisipasi aktif dalam koordinasi internasional standar akuntansi untuk memperluas pengaruh kekuasaan China dalam pembentukan standar akuntansi internasional, untuk mendapatkan hak untuk berbicara dalam IASB dan untuk mendapatkan manfaat yang lebih besar.

Konvergensi internasional standar akuntansi telah menjadi tren historis tak tertahankan. Penerbitan standar akuntansi bisnis baru China telah mencapai konvergensi substantif dengan IFRS. Terlepas dari beberapa perbedaan kecil, China telah dikhususkan untuk pembangunan standar akuntansi konvergen dengan IFRS dengan upaya pemerintah Cina dalam banyak aspek dan dukungan pengalaman dari asing yang relevan.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Akuntansi China

  • Konfucianisme

Konfucianisme dikembangkan pertama kali oleh Confucius. Siapa Confucius? Akuntan atau Philosopher di Timur Bagian dari Paradise. Konfusius dibesarkan dalam kemiskinan. Sebagai seorang remaja, ia melakukan pekerjaan akuntansi di negaranya. Konfusius belajar secara mandiri. Konfusius bepergian dari negara ke negara di Cina untuk mendorong para pemimpin untuk mengejar filosofinya, untuk alasan ini, ia mendirikan sebuah sekolah untuk melatih para pemimpin, juga mengajarkan mereka sejarah Cina dan sastra klasik.

Confucianisme bukanlah suatu agama, tetapi lebih kepada pengajaran falsafah untuk mempertingkatkan moral dan menjaga etika manusia, salah satunya terkait falsafah dan etika yang mengajarkan bagaimana manusia bertingkah laku, seperti nilai kemanusiaan-kebajikan, kebenaran, kepatuhan, kebijaksanaan dan kejujuran.

Memasuki abad modern, ajaran-ajaran itu mulai dianalisis, dikembangkan, dan diterapkan pada berbagai bidang kehidupan masyarakat modern. Etika budaya tradisional China tidak mendukung motif keuntungan dan hasrat. Gagasan moral Konfusianisme berfokus pada Yi (keadilan) sementara kebanyakan orang-orang berpikir tentang Li (profit) adalah suatu etika yang mengarahkan perilaku masyarakat dalam sejarah Cina selama ribuan tahun. Dalam budaya tradisional Cina, Yi dan Li yang berlawanan. Keinginan untuk keuntungan diterima sebagai suatu kejahatan bagi masyarakat. Konfusianisme Wu Lun mengutuk setiap link pembuatan keuntungan dan kegiatan komersial dengan nobleman.

Filsafat Konfusianisme membentuk dasar dari sikap kognitif Cina, yang juga telah mempengaruhi perkembangan pembukuan dan praktek akuntansi Cina. Konservatisme menekankan kesesuaian dengan perlindungan status tatanan sosial yang lebih besar. Konservatisme juga menarik kemajuan. Selama evolusi akuntansi Cina, kemajuan yang lambat dan perubahan dipandang sebagai ciri utama dari accounting.

  • Feng Shui

Feng Shui adalah adalah ilmu topografi kuno dari Cina yang mempercayai bagaimana manusia dan surga (astronomi), serta bumi (geografi) dapat hidup dalam harmoni untuk membantu memperbaiki kehidupan dengan menerima Qi positif. Qi terdapat di alam sebagai energi yang tidak terlihat.

  1. Pengaruh terhadap Akuntansi:

Penamaan Double Entry Accounting “Longmen Zhang Bookeeping” yang artinya matching bookeeping system, menggunakan unsur Feng shui à Long men (Gerbang Naga) & Zhang (sistem akuntansi).

  • Yin Yang

Yin Yang memiliki 2 arti yaitu:

  1. Konsep Yin-Yang telah ada ribuan tahun yang lalu, bersumber dari kitab perubahan (I-ching).
  2. Yin and Yang adalah konsep dalam filosofi China yang biasanya digunakan untuk mendeskripsikan sifat kekuatan yang saling berhubungan dan berlawanan di dunia ini dan bagaimana mereka saling membangun satu sama.

Yin Yang dan Akuntansi :

  • Melambangkan Keseimbangan. Dalam sistem pencatatan akuntansi double declining mencatat kedalam dua kolom, yaitu debet dan kredit atau dalam bahasa cina “shou” dan “fu” yang berarti uang masuk sama dengan uang keluar.
  • Realistas Dualisme. Informasi yang terkandung dalam akuntansi, bagaimana investor dapat menentukan investasinya dengan melihat laporan keuangan suatu perusahaan atau bagaimana cara perusahaan menekan biaya produksi sehingga menjadi low cost leadership dipasar.
  • Roda yang terus berputar. Senada dengan akuntasi yang dalam proses akuntansi memiliki siklus yang di mulai dari jurnal – buku besar – jurnal penyesuain – laporan keuangan – jurnal penutup dan kembali lagi ke jurnal.
  • Tidak ada kesempurnaan. laporan keuangan wajar bukan benar karena dalam akuntansi terdapat akun akun yang mengandung estimasi.

Dengan cara berpikir tradisional Cina, Yin & Yang dinyatakan sebagai satu aspek dan akhirnya sistem yang sama, (yaitu roh atau tubuh, dll) dan hilangnya salah satu dari mereka akan hancur sistem. Di bawah pengaruh ini, akuntansi Cina dikembangkan dengan jelas perbedaan antara rekening, namun sangat menekankan keseimbanga. Seperti yang diamati pada metode pembukuan Longmen, pembukuan double-entry paling maju dalam sejarah akuntansi mencerminkan kurangnya pemisahan khas antara kewajiban dan pendapatan modal. Prinsip dasar pembukuan Cina adalah bahwa arus kas masuk harus sama dengan uang tunai yang keluar.

  • Buddhism

Siddhartha Gautama merupakan figur utama dalam Agama Budha.  Pada waktu Pangeran Siddharta meninggalkan kehidupan duniawi, ia telah mengikrarkan Empat Prasetya yang berdasarkan Cinta Kasih dan Kasih Sayang yang tidak terbatas, yaitu

  1. Berusaha menolong semua makhluk.
  2. Menolak semua keinginan nafsu keduniawian.
  3. Mempelajari, menghayati dan mengamalkan Dharma.
  4. Berusaha mencapai Pencerahan Sempurna.

Faktor-faktor Budaya yang Mempengaruhi Akuntansi China

  1. Nilai Sosial Cina di Akuntansi (Analisis Teori Hofstede)

Hofstede mengevaluasi nilai-nilai sosial Akuntansi Cina dari Teori Dimensi Budaya seperti tabel berikut :

Power Distance : Large

Tingginya power distance ini disebabkan oleh struktur masyarakat China yang hierarkis (pengaruh kerajaan). Dampaknya: konservatisme dalam perhitungan dan disclosure rendah.

Individualism vs Colectivism

Kolektivisme didefinisikan sebagai subordinasi tujuan pribadi dengan tujuan dari kelompok kerja dengan penekanan pada berbagi dan harmoni kelompok. Oleh karena itu, budaya Cina didefinisikan sebagai dinamika Konghucu yang melambangkan nilai-sistem Timur, khususnya value. Budaya Cina pada dasarnya ditandai dengan kolektivisme yang sangat kelompok atau berorientasi massa.

China cenderung pada hidup secara kolektif. Kondisi ini dipengaruhi oleh ajaran ajaran Budha, Konfusianisme, dan ajaran lain yang mengajarkan harmonisasi dan kerja sama. Akibatnya mereka mudah berkomitmen dan profesionalisme juga meningkat. Namun secrecy menjadi tinggi. Contoh: related party transaction tidak banyak didisclosure. (Zhang and Liu, 2010)

Maskulinity vs Feminity

China cenderung feminim dimana mengutamakan hubungan sosial, kesopanan, dan perhatian. Terlihat dari hirarkis yang tinggi dan cara China bersosialisasi. Akibatnya menjadi kurangnya transparansi sebagai akibat dari kurangnya kompetisi.

Uncertainty Avoidance

Kebanyakan negara Asia seperti China, Jepang, dan Indonesia termasuk ke dalam negara-negara yang menghindari ketidakpastian. Akibatnya mereka cenderung konservatif. Contoh: Dalam ASBEs penilaian aset hanya diperbolehkan menggunakan historical cost.

Long Term Orientation

Sebagai akibat dari ajaran-ajaran yang banyak berkembang di China, masyarakat China cenderung berorientasi jangka panjang. Salah satu tandanya adalah kebanyakan masyarakat China lebih suka hemat, hidup sederhana dan harmonis.

Dalam penelitian terbaru, kebanyakan peneliti mengklaim bahwa ‘budaya’ adalah faktor dominan di antara pengaruh lingkungan di yang mempengaruhi Evolusi China Akuntansi di China. Menurut beberapa peneliti: “Chinese akuntansi sangat tergantung pada budaya”. Dalam argumen berikut, peneliti mengklasifikasikan budaya Cina menjadi dua bagian :

  • budaya tradisional Cina (berakar pada Konfusianisme dan filsafat Buddha dan diturunkan dari generasi ke generasi)
  • budaya modern Cina (dienkripsi dan dibuat dalam terang struktur sosialis)

3. Filosofi Akuntansi di Negara Korea

Aspek Ilmu akuntansi di Jepang, terkandung beberapa hal :

Proses adopsi IFRS di Korea cukup bergelombang naik : ada masalah yang berkaitan dengan biaya tambahan yang tak terduga, kurangnya profesional akuntansi, sentimen publik unwelcoming, dll. Ketika mencoba untuk mengatasi hambatan-hambatan tersebut, negara  Korea menyadari bahwa sangat penting dalam mempromosikan keberhasilan implementasi IFRS di negara manapun untuk melakukan diskusi tentang IFRS antara konstituen di dalam dan di luar negeri; mencegah stres psikologis stakeholder dengan memberikan pendidikan dan promosi IFRS yang cukup; dan menerima lebih banyak dukungan yang kuat dari IFRS Foundation. Mengadopsi IFRS berarti mengubah bahasa pelaporan keuangan suatu negara. Dengan demikian, seperti peristiwa penting akan dilakukan dengan lancar hanya jika disertai dengan kemauan yang teguh dari negara yang mengadopsi, reorganisasi sistem terkait, dan dukungan yang kuat dari Yayasan. Pembahasan ini juga melihat mengenai fakto yang mempengaruhi perkembangan akuntansi di korea yang dapat dilihat dari berbagai aspek.

  1. Aspek Epistimologi

Pada umumnya sumber pendanaan di Korea sama dengan di negara-negara berkembang, seperti Indonesia, Cina, dan Filipina. akuntansi memiliki focus atas seberapa baik manajemen menjalankan perusahaan (profitabilitas) dan dirancang untuk membantu investor menganalisis arus kas masa depan dan resiko terkait. Pengungkapan dilakukan sangat lengkap untuk memenuhi ketentuan kepemilikan public yang luas. Sebaliknya, dalam sistem berbasis kredit di mana bank merupakan sumber utama pendanaan, akuntansi memiliki focus pada perlindungan kreditor melalui pengukuran akuntansi yang konservatif dalam meminimumkan pembayaran dividen dan menjaga pendanaan yang mencukupi dalam rangka perlindungan bagi para peminjam.

SISTEM HUKUM

Dalam hukum pidana Indonesia dan sistem hukum pidana Korea pada prinsipnya menganut 3 (tiga) teori pemidanaan yaitu teori absolut (teori pembalasan), teori relatif (tujuan) dan teori gabungan(prinsip dasar pelaksanaan penjatuhan pidana karena semata-mata taat pada aturan hukum). Berdasarkan sistem pidana tersebut, pemidanaan adalah upaya akhir (ultimum remedium) dalam menangani setiap tindak pidana dengan menyingkirkan pelaku tindak pidana dengan pidana mati ataupun penjara. Dan diharapkan dengan adanya hukuman tersebut dapat menyadarkan semua masyarakat untuk berbuat baik sehingga terpelihara ketentraman hidup dan kelangsungan hidup masyarakat. Elaborasi serius dari berbagai sumber.

PERPAJAKAN

Di korea atau beberapa negara lainnya ada istilah ‘earmarked taxes’, pajak pusat yang penerimaannya sudah jelas ditujukan utk bidang2 tertentu. Contoh earmarked taxes di Indonesia adalah iuran yang ditarik pemegang HPH utk dana reboisasi pada era Soeharto.

Di Korea salah satu bidang yang mendapat dana dari earmarked taxes adalah pendidikan, jd disebut ‘education tax’. Bidang lainnya adalah transportasi-energy-environment dan rural development. Bisa salah paham dengan istilah ‘education tax’, seolah2 pajak yang dikenakan atas jasa pendidikan. ‘Special Tax for Rural Development’ bisa salah diartikan sebagai pajak yang dikenakan terhadap Wajib Pajak di daerah terpencil. Padahal maksudnya adl pajak yang penerimaannya dijamin UU utk tujuan pendidikan atau pengembangan daerah terpencil.

Education tax di Korea dikenakan terhadap Wajib Pajak bank dan asuransi, manufaktur/importir, penjual brg2 mewah seperti berlian, operator pacuan kuda, lapangan golf, produsen BBM, minuman keras. Tarif education tax utk bank dan asuransi adl 0,5% dari omset bruto atau Rp. 5 juta untuk setiap Rp 1 M omset.

INFLASI

Korea akan memberlakukan pengenaan pajak untuk utang dalam mata uang asing yang dimiliki oleh bank domestik maupun swasta. Langkah ini dimaksudkan untuk mempertahankan Korea dari banjirnya modal yang dikhawatirkan akan memperburuk perekonomian mereka. Pengumuman yang dikeluarkan Minggu (19/12) di Seoul itu dilakukan setelah terlihat ada kenaikan pesat permodalan dari luar negeri yang sering disebut sebagai hot money. Masuknya aliran dana ini menyebabkan kurs won menguat dan menyebabkan pasar mereka menjadi tidak stabil. Para investor asing mencari imbal hasil yang lebih tinggi di negara-negara berkembang. Korea telah mengumumkan pembatasan investasi yang dapat dilakukan oleh bank domestik dan asing pada perdagangan derivatif valuta asing. Juga telah diberlakukan adanya pajak untuk investasi asing pada obligasi pemerintah sebagai salah satu cara melindungi diri mereka dari instabilitas finansial.

TINGKAT PERKEMBANGAN EKONOMI

Pada tahun 1950-an Korea adalah salah satu negara termiskin di dunia. Sama miskinnya dengan negara-negara termiskin di Afrika dan Asia. Ekonominya hanya bersandar pada pertanian, belum lagi sempat hancur gara-gara pendudukan Jepang dan Perang Korea. Pada tahun 1960-an Perekonomian Korea telah mencatat rekor perkembangan yang luar biasa. Perkembangan ini terutama ditentukan lewat integrasi negara ini kepada perekonomian dunia yang modern dan berteknologi tinggi. Selama kurun waktu 1980-an pendapatan perkapita Korea telah setara dengan pendapatan negara-negara Uni Eropa, Korea mengadopsi sistem kedekatan antara sektor pemerintahan dan bisnis yang termasuk juga kredit yang terarah, pembatasan impor, dan pensponsoran industri-industri khusus. Pemerintah Korea mendorong impor bahan-bahan baku mentah dan teknologi dengan mengorbankan barang konsumtif serta mendorong masyarakat untuk menabung dan melakukan investasi.

Namun demikian, seiring dengan gelombang krisis ekonomi yang melanda Asia, Korea tidak terkecualikan sebagai salah satu negara yang terkena krisis. Rasio hutang yang tinggi, pinjaman yang tinggi, serta ketidakdisiplinan sektor ekonomi telah menjatuhkan perekonomian Korea pada tahun 1998. Setelah empat tahun berada dalam pengobatan yang dilakukan oleh IMF, perlahan perekonomian Korea meningkat kembali secara gradual. Dituntun oleh pengeluaran konsumsi serta peningkatan ekspor yang signifikan, pada tahun 2002 Korea mencatat perkembangan perekonomian yang ditandakan oleh peningkatan GDP sebesar 7 persen yang juga menandakan kelulusannya dari program dan pengawasan IMF. Korea telah membayar kembali sisa pinjamannya sebesar US$ 19,5 milyar, dua tahun lebih cepat dari perkiraan semula. Antara tahun 2003 – 2005, pertumbuhan ekonomi berada pada kisaran 4 persen.

Pada tahun 2005, pemerintah membuat proposal tentang pengesahan reformasi kaum buruh dan skema dana pensiun perusahaan untuk membuat pasar tenaga kerja lebih fleksibel. Pemerintah juga memperkenalkan kebijakan real-estate untuk mendinginkan spekulasi yang dibuat oleh sektor properti. Perkembangan yang positif ini dibarengi dengan berbagai upaya restrukturisasi di sektor keuangan, korporasi dan publik. Pemulihan ekonomi Korsel yang berlangsung cepat tersebut sebagian besar juga didukung dengan penerapan kebijakan suku bunga yang rendah dan stabilisasi pasar domestik. Kebijakan ini pada gilirannya mendorong iklim investasi dan permintaan domestik.

Menurut Kementerian Ekonomi dan Keuangan Korea, pada tahun 2006 perekonomian Korea akan terus berkembang walaupun ancaman kondisi eksternal seperti harga minyak dunia tetap membayangi. Pada tahun 2006 ini, Korea telah mereformasi sektor perpajakan yang sejalan dengan arah kebijakan ekonomi makro Korea pada paruh kedua tahun 2006. Komposisi perekonomian dilihat dari pendapatan per kapita Korea adalah sebesar 3.3 persen untuk sektor pertanian, 40.3 persen untuk sektor industri, dan 56.3 persen untuk sektor Jasa.

 PENDIDIKAN

Menurut teks-teks kuno, pendidikan di Korea telah ada semenjak jaman Tiga Kerajaan (57 SM – 668 M) dibawah pengaruh sistem pendidikan Cina yang memang sangat maju pada jaman itu.

Pada tahun 372 institusi pendidikan tinggi dengan nama T’aehak (Akademi Konfusius Nasional) didirikan oleh Kerajaan Koguryo (37 SM – 668 SM). Institusi serupa dengan nama Kukh’ak (Universitas Konfusius Nasional) juga didirikan pada tahun 682 ketika masa pemerintahan Kerajaan Shilla (57 SM – 935 M). Kerajaan Shilla juga menciptakan sistem pelatihan unik yang dinamakan hwarangdo, untuk melatih pemuda-pemudia dari kalangan bangsawan.

Pada masa kerajaan-kerajaan ini hingga abad ke-19, pendidikan di Korea memfokuskan pada mempelajari literatur-literatur Cina dan Konfusianisme. Hingga pada akhir abad ke-19, ketika Korea membuka diri terhadap barat dan mulai mengadopsi pendidikan gaya barat.

BUDAYA

Ada sebuah tradisi / kebiasaan yang cukup terkenal di Korea. Tradisi ini dinamakan “Sesi Custom”. Tradisi sesi dilaksanakan sekali setiap tahun. Sesi adalah sebuah tradisi untuk mengakselerasikan ritme dari sebuah lingkaran kehidupan tahunan sehingga seseorang dapat lebih maju di lingkaran kehidupan tahun berikutnya. Tradisi Sesi dilaksanakan berdasarkan kalender bulan (Lunar Calender). Matahari, menurut adat Korea, tidak menunjukkan suatu karakteristik musiman. Akan tetapi, Bulan menunjukkan suatu perbedaan melalui perubahan fase bulan. Oleh karena itu, lebih mudah membedakan adanya perubahan musim atau waktu melalui fase bulan yang dilihat.

2. Aspek Aksiologi

Perekonomian yang maju dan teknologi yang semakin canggih salah satunya disebabkan oleh gaya manajemen perusahaan Korsel, baik yang berskala besar konglomerat “chaebol” maupun yang menengah dan kecil senantiasa mencerminkan nilai dan filosofi dasar yang mereka anut. Secara keseluruhan perusahaan memberi tekanan pada harmoni antar-manusia, rasa menyatu, kerjasama, pengabdian, sikap rajin kerja, orisinalitas dan kreativitas dan mengejar pembangunan pribadi. Selain itu, dalam ideologi dan sasaran bisnis, kejujuran, kredibilitas, efisiensi dan usaha meningkatkan mutu dan tanggung jawab menjadi acuan setiap karyawan mulai dari yang paling top sampai yang terendah.

Kesenian tradisional di Korea, dalam hal ini musik dan tarian, diperuntukkan khusus sebagai suatu bagian dalam penyembahan “ lima dewa”. Ada beberapa alat musik tradisional yang digunakan, misalnya hyeonhakgeum (sejenis alat musik berwarna hitam yang bentuknya seperti pipa dengan tujuh buah senar) dan gayageum (alat musik mirip hyeonhakgum tetapi bentuk, struktur, corak, dan cara memainkannya berbeda dan memiliki dua belas buah senar).

Musik di Korea dibedakan menjadi 2 macam, yaitu musik Jeongak dan musik Minsogak. Musik jeongak atau yang biasa disebut musik istana adalah musik yang dahulu hanya dimainkan atau dipentaskan oleh masyarakat kelas atas. Sedangkan musik minsogak adalah musik yang biasa dimainkan oleh kebanyakan rakyat Korea dan tidak memandang siapa yang memainkannya.

Tarian tradisional yang cukup terkenal di Korea antara lain cheoyongmu (tarian topeng), hakchum (tarian perang), dan chunaengjeon (tarian musim semi) yang ditarikan sebagai tanda terima kasih kepada dewa Irwolseongsin dan dewa Sancheonsin atas panen yang berhasil.

Rumah tradisional Korea disebut Hanok. Hanok biasanya terdiri dari bagian dalam (anchae), bagian untuk pria (sarangchae), ruang belajar (sarangbang), dan ruang pelayan (haengrangbang). Masyarakat tradisonal Korea memilih tempat tinggal berdasarkan geomansi. Masyarakat Korea pun meyakini konsep Eum dan Yang (baik dan buruk) yang harus diseimbangkan untuk memilih suatu tempat tinggal. Selain itu, rumah yang dibuat harus berlawanan arah dengan gunung dan menghadap ke arah selatan. Rumah-rumah di Korea mepunyai alat penghangat bawah tanah yang disebut Ondol.

Bahasa yang digunakan di Korea adalah bahasa Korea. Penulisan bahasa Korea dinamakan Hangeul. Hangeul diciptakan oleh Raja Sejong pada abad ke 15. Hangeul terdiri dari 10 huruf vokal dan 14 konsonan yang bisa dikombinasikan menjadi banyak sekali huruf-huruf dalam bahasa Korea. Hangeul sangat mudah dibaca dan dipelajari. Hangeul juga dianggap sebagai bahasa tulisan yang paling sistematik dan scientific di dunia

 3. Aspek Ontologi

Korea Accounting Standards Board (KASB) telah merilis sebuah laporan pada pelajaran dari adopsi Korea dari International Financial Reporting Standards (IFRS). Laporan ini menguraikan sejarah adopsi Korea IFRS, langkah-langkah yang dilakukan dalam persiapan untuk dan selama transisi ke IFRS, dan rekomendasi bagi negara-negara lain mempertimbangkan mengadopsi IFRS.

Korea mengumumkan ‘roadmap’ untuk adopsi setara Korea International Financial Reporting Standards (K-IFRS) pada tahun 2007. Berdasarkan peta jalan, semua perusahaan yang terdaftar diminta untuk menyiapkan laporan keuangan tahunan mereka di bawah K-SAK dari 2011. Selain itu, perusahaan yang terdaftar selain lembaga keuangan yang diizinkan untuk menerapkan K-IFRS mulai tahun 2009.

Laporan ini memberikan ringkasan jumlah entitas menerapkan IFRS di Korea:

IFRS 14 entitas awal diadopsi pada tahun 2009

IFRS 59 entitas awal diadopsi pada tahun 2010

Sebanyak 3.126 entitas, termasuk 1.783 entitas yang terdaftar, 201 lembaga keuangan non-terdaftar dan 1.142 entitas non-terdaftar, mulai menerapkan IFRS pada tahun 2011. Laporan itu menyatakan bahwa adopsi Korea berhasil karena “pihak yang berkepentingan telah benar-benar siap untuk adopsi IFRS secara multilateral sejak pengumuman Roadmap”, termasuk terjemahan cepat dari IFRS ke dalam bahasa Korea, perubahan yang efektif undang-undang dan peraturan pemerintah, dan dukungan akuntansi profesional dan organisasi bisnis, dan persiapan entitas.

Laporan ini berisi bab yang ditujukan untuk masalah-masalah yang dihadapi dalam proses transisi Korea, termasuk:

  • Langkah dari lebih “persyaratan khusus dan rinci tentang berbagai transaksi dan kejadian yang berbeda” di bawah Korea GAAP untuk lebih “berdasarkan prinsip” rezim berdasarkan IFRS yang memerlukan pertimbangan profesional, dan akuntan profesional cukup terlatih
  • Penekanan pada pelaporan substansi ekonomi transaksi, yang memiliki dampak di berbagai bidang seperti klasifikasi saham preferen, pengukuran cadangan dan securitisations kerugian pinjaman
  • Perubahan dari praktek Korea masa lalu pada saat konsolidasi, perubahan batas-batas entitas pelapor.
  • Perluasan penggunaan akuntansi nilai wajar, memberikan informasi yang lebih relevan tetapi memperkenalkan volatilitas lebih dalam laporan keuangan dan membutuhkan pengukuran yang dapat dipercaya.

Beberapa efek langsung adopsi dicatat dalam laporan tersebut meliputi penghapusan kebutuhan untuk perusahaan-perusahaan Korea penggalangan dana di pasar luar negeri untuk mempersiapkan beberapa set laporan keuangan dengan berbagai GAAPs, meningkatkan transparansi, dan status internasional ditingkatkan dan peran Korea.

Ringkasan eksekutif laporan catatan berikut:

Proses adopsi IFRS di Korea agak bergelombang naik: ada masalah yang berkaitan dengan biaya tak terduga tambahan, kurangnya profesional akuntansi, sentimen publik unwelcoming, dll. Ketika mencoba untuk mengatasi hambatan-hambatan, bagaimanapun, Korea menyadari bahwa berikut sangat penting dalam mempromosikan keberhasilan implementasi IFRS di negara manapun. Mengadopsi IFRS berarti mengubah bahasa pelaporan keuangan suatu negara.

 

REFRENSI

Auyeung, P. K. (2002). “A comparative study of accounting adaptation: China and Japan during the nineteenth century.” The Accounting Historians Journal: 1-30. Diambil di : http://www.accountingin.com/accounting-historians-journal/volume-29-number-2/a-comparative-study-of-accounting-adaptation-china-and-japan-during-the-nineteeth-century/

Gordon, W. D. (1999). A critical evaluation of Japanese accounting changes since 1997, University of Sheffield.

Solaş, Ç. and S. Ayhan (2007). “The historical evolution of accounting in China: the effects of culture.”

Suzuki, T. (2007). “A history of Japanese accounting reforms as a microfoundation of the democratic socio-economy: Accountics Part II.” Accounting, Organizations and Society 32(6): 543-575.

Zhang, H. and X. Liu (2010). “On the Construction of China’s Accounting Standard System with International Convergence in Accounting Standards.” International Journal of Business and Management 5(4): 200.

https://n2cs.wordpress.com/2013/03/12/filsafat-ilmu-akuntansi/

http://einstein09.blogspot.com/2011/05/kebudayaan-jepang.html/

https://putrijulaiha.wordpress.com/2014/06/13/sistem-akuntansi-negara-jepang/

https://n2cs.wordpress.com/2013/03/12/filsafat-ilmu-akuntansi/

http://einstein09.blogspot.com/2011/05/kebudayaan-jepang.html/

https://putrijulaiha.wordpress.com/2014/06/13/sistem-akuntansi-negara-jepang/

http://dananggwijaya.blogspot.co.id/2014/04/standar-akuntansi-keuangan-di-korea.htm

http://www.iasplus.com/en/news/2013/06/jurisdiction-profiles

https://putrijulaiha.wordpress.com/2014/06/13/sistem-akuntansi-negara-jepang/

https://yuyunchelsea.wordpress.com/2014/04/27/standar-akuntansi-ifrs-di-negara-jepang/

Rizal Mawardi About Rizal Mawardi

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *